;
Tags

Bursa

( 805 )

IHSG Berpotensi Menguat

KT1 19 May 2025 Investor Daily (H)
IHSG dan BEI berpotensi melanjutkan penguatan pada pekan ini, setelah naik 4,01% sepanjang minggu lalu ke posisi 7.106. Arus modal asing yang terus masuk (foreign inflow), optimisme investor terhadap perekonomian Indonesia, dan tekanan beli yang tetap kuat, membuat pergerakan IHSG di pekan ini akan dinaungi  banyak sentimen positif.  "Kami melihat IHSG memiliki peluang cukup besar untuk mengalami kenaikan dan konsistensi berada di atas 7.000. IHSG untuk bermain di level 7.000-7.120," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus kepada Investor Daily. Niko melihat, asing mulai percaya dan yakin untuk masuk ke emerging market, tidak terkecuali Indonesia. Perlahan tapi pasti,  stabilnya  pasar global juga telah mendorong IHSG untuk bisa terus mengalami penguatan, meski bukan berarti  ketidakpastian sudah berkurang. Dari dalam negeri, lanjut dia, pertemuan BI pada 21 Mei mendatang, memberikan peluang untuk pemangkasan tingkat suku bunga cukup terbuka, di tengah mulai timbulnya optimisme pelaku pasar dan investor terhadap perekonomian Indonesia. (Yetede)

Potensi Keuntungan dari Dividen BSI

HR1 17 May 2025 Kontan
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) atau BRIS memutuskan untuk membagikan dividen sebesar Rp 1,05 triliun, atau 15% dari laba bersih tahun 2024 yang mencapai Rp 7 triliun, dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) baru-baru ini. Dividen per saham meningkat tajam menjadi Rp 22,7 dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp 9,24 per saham.

Bob Tyasika Ananta, Wakil Direktur Utama BSI, menyatakan bahwa pembagian dividen ini merupakan bentuk apresiasi kepada para pemegang saham atas dukungan mereka terhadap pertumbuhan BSI. Ia juga menekankan bahwa ke depan BSI akan terus mengembangkan bisnis dan layanan agar sesuai ekspektasi seluruh pemangku kepentingan.

Namun, analis pasar seperti Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas menilai yield dividen BRIS masih tergolong rendah, sehingga respons pasar terhadap keputusan ini cukup moderat. Menurutnya, harga saham BRIS cenderung bergerak sideways di kisaran Rp 2.800–3.000.

Sementara itu, Ekky Topan dari Infovesta Kapital Advisori mengakui bahwa meski yield dividen kurang maksimal, secara fundamental BSI masih menunjukkan kinerja yang solid dan berpotensi menguat hingga Rp 3.350 per saham.

Selain membagikan dividen, RUPS juga memutuskan melakukan perubahan jajaran direksi dan komisaris, dengan Anggoro Eko Cahyo ditunjuk sebagai direktur utama menggantikan Hery Gunardi.

Kebijakan dividen BSI mencerminkan kehati-hatian dalam menjaga keseimbangan antara memberikan imbal hasil kepada pemegang saham dan mempertahankan cadangan untuk pertumbuhan jangka panjang.

Tembus 7.000 IHSG Kembali Masuki Tren Bullish

KT1 16 May 2025 Investor Daily (H)
Indeks Bursa Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali memasuki trend bullish  setelah berhasil menembus level 7.000 pada penutupan perdagangan Kamis (15/5/2025). Penguatan IHSG pun diyakini  bakal terus berlanjut menuju 7.195, dengan posisi asing yang mulai mencatatkan aksi beli bersih (ney buy)) di pasar saham Indonesia. Meski, dalam perjalananya, IHSG akan diwarnai aksi ambil untung (profit taking) di akhir pekan ini. Pada perdagangan Kamis (15/5/2025), IHSG tutup menguat 0,86% ke level 7.040,16. Sebanyak 345 saham terpantau naik 257 saham turun, dan 208 saham stagnan. Adapun total nilai transaksi di bursa mencapai Rp16,94 triliun, volume perdagangan sebanyak 36,5 miliar saham, jumlah saham berpindah tangan 1,5 juta kali, dan net buy asing sebesar Rp 1,68 triliun. "Secara teknikal, posisi IHSG sedang berada di fase uptrend-nya, dan masih didominasi oleh volume pembelian," kata Head of Research Retail MNC Sekuritas Herditya Wicksana  kepada Investor Daily. Didit menjelaskan, IHSG sudah mampu break dari MA200 pada timeframe weekly. "Kami perkirakan, IHSG masih berpeluang untuk melanjutkan penguatannya, paling tidak untuk menguji 7.107-7.195. Meski, perlu dicermati akan potensi pullback dalam jangka pendek di rentang 7.013-7.037," tutur dia. (Yetede)

Ekspansi Jadi Senjata Utama 2025

HR1 16 May 2025 Kontan
Meski laba bersih PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) turun 5% yoy menjadi Rp 565 miliar pada kuartal I-2025 karena faktor non-operasional seperti beban pajak dan kontribusi asosiasi yang menurun, prospek pertumbuhan perusahaan tetap kuat berkat ekspansi bisnis dan diversifikasi usaha.

Sukarno Alatas, Analis Senior Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai bahwa secara operasional AKRA masih tangguh dengan pendapatan naik 4,5% yoy menjadi Rp 10,26 triliun. Pertumbuhan ini ditopang oleh peningkatan volume distribusi serta lonjakan pendapatan utilitas dari Kawasan Ekonomi Khusus Gresik (JIIPE).

Indy Naila, Investment Analyst dari Provina Visindo, menyebut tantangan eksternal seperti lemahnya PMI manufaktur dan daya beli masyarakat dapat menjadi hambatan, namun ekspansi SPBU dan diversifikasi bisnis AKRA masih menjadi penopang kinerja. Target laba bersih Rp 2,5 triliun dinilai realistis tahun ini.

Hasan Barakwan, Analis Maybank Sekuritas Indonesia, memperkirakan bahwa distribusi bahan bakar dan kimia dasar akan tetap menjadi kontributor utama pendapatan, sementara JIIPE diproyeksikan menyumbang hingga 30% dari laba bersih AKRA pada 2025–2026.

Bank Korsel di RI Bukukan Laba Kompak

HR1 15 May 2025 Kontan
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, bank-bank milik investor Korea Selatan di Indonesia berhasil menunjukkan performa positif pada kuartal I-2025. Seluruh tujuh bank yang dimiliki investor Korsel mencatatkan laba bersih, menandakan ketahanan dan keberhasilan strategi mereka dalam menghadapi tantangan ekonomi.

Capaian paling mencolok ditorehkan oleh PT Bank KB Bukopin Tbk (BBKP) yang berhasil membalikkan kondisi dari rugi Rp 6,33 miliar pada kuartal I-2024 menjadi laba bersih Rp 351,92 miliar pada kuartal I-2025. Woo Yeul Lee, Direktur Utama KB Bank, menyatakan bahwa hasil ini merupakan buah dari transformasi menyeluruh sejak bergabung dengan KB Financial Group pada 2021. Ia menegaskan bahwa dukungan induk perusahaan dan komitmen jangka panjang menjadi kunci kebangkitan KB Bank.

PT Bank Oke Indonesia Tbk (OK Bank) juga mencetak pertumbuhan laba signifikan sebesar 606,36% yoy, mencapai Rp 30,4 miliar. Efdinal Alamsyah, Direktur Kepatuhan OK Bank, menyebut pencapaian ini ditopang oleh peningkatan pendapatan bunga bersih serta efisiensi operasional. Bank ini juga mencatat kenaikan kredit sebesar 15,2% dan menargetkan pertumbuhan kredit 10% sepanjang 2025, dengan fokus pada UMKM, konsumsi, dan korporasi.

Sementara itu, Bank Nobu membukukan pertumbuhan laba 115,76% yoy, mencapai Rp 110,10 miliar pada kuartal I-2025.

Di tengah gejolak global, bank-bank milik investor Korea Selatan di Indonesia mampu mencetak kinerja impresif berkat strategi efisiensi, dukungan grup induk, transformasi organisasi, serta ekspansi penyaluran kredit yang selektif. Tokoh-tokoh seperti Woo Yeul Lee dan Efdinal Alamsyah menegaskan pentingnya visi jangka panjang dan penguatan fundamental dalam menjaga momentum pertumbuhan.

Harga Produk Turun, Marjin Laba Terancam

HR1 15 May 2025 Kontan
Meski kinerja PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) melemah pada kuartal I-2025 akibat cuaca buruk dan gangguan logistik, para analis tetap optimistis perusahaan akan mencapai target produksi 6,8 juta ton dan penjualan 6,1 juta ton batubara hingga akhir tahun. Optimisme ini ditopang oleh pemulihan operasional, perbaikan infrastruktur logistik, dan meredanya tensi perang dagang global.

Analis Ciptadana Sekuritas, Thomas Radityo, menyatakan hambatan produksi bersifat sementara dan proyeksinya akan pulih mulai kuartal II 2025, seiring rampungnya pembangunan konveyor pemuatan tongkang kedua.

Sementara itu, Iqbal Suyudi dari Edvisor Profina menyoroti faktor eksternal seperti membaiknya cuaca dan potensi peningkatan permintaan dari China yang menjadi katalis positif bagi ADMR. Ia juga menyambut baik kontribusi tambahan dari proyek smelter aluminium baru milik anak usaha ADMR, PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI), yang dijadwalkan mulai beroperasi komersial di kuartal IV 2025.

Di sisi lain, Andhika Audrey dari Panin Sekuritas menjelaskan bahwa penurunan kinerja keuangan ADMR pada kuartal I disebabkan oleh jatuhnya harga jual rata-rata batubara metalurgi, meski volume penjualan naik. Ia menilai efisiensi yang dilakukan belum mampu menahan penurunan margin, namun tetap merekomendasikan buy untuk saham ADMR karena adanya diversifikasi ke energi hijau dan proyek smelter.

Dana Asing Tak Kunjung Deras Masuk

HR1 15 May 2025 Kontan (H)
Pengumuman rebalancing indeks oleh MSCI untuk periode Juni–September 2025 membawa dampak campuran bagi pasar saham Indonesia. Meski dua saham baru, yakni PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), masuk dalam MSCI Indonesia Small Cap Indexes, jumlah saham emiten Indonesia yang dikeluarkan dari indeks lebih banyak, menandakan eksposur Indonesia dalam portofolio global cenderung stagnan atau bahkan menurun.

Guntur Putra, CEO Pinnacle Investment Indonesia, menjelaskan bahwa masuknya saham ke indeks MSCI bisa menarik aliran dana asing, namun dominasi penghapusan saham dari indeks justru memberi sinyal negatif bagi investor global, terutama yang mengikuti MSCI secara ketat. Hal ini membatasi potensi foreign flow jangka pendek.

Parto Kawito, Direktur Infovesta Utama, menyoroti bahwa bobot saham Indonesia di MSCI masih kecil (sekitar 1,5%) karena faktor-faktor seperti likuiditas, prospek industri, dan regulasi. Hal ini menjadikan pasar Indonesia kurang menarik bagi investor asing.

Sementara itu, Budi Frensidy, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, mengkritik banyaknya saham besar seperti PT Barito Renewables Energy (BREN) dan PT Chandra Asri Pacific (TPIA) yang tidak masuk indeks MSCI meskipun memiliki kapitalisasi pasar besar. Ia menilai ketidakjelasan regulasi, seperti penggunaan UMA dan suspensi, menjadi hambatan.

Momentum positif dari penguatan IHSG dan arus masuk dana asing, efektivitas jangka panjang bergantung pada peningkatan bobot Indonesia dalam indeks global, perbaikan regulasi bursa, dan strategi aktif menarik investor asing.

Investor Kembali Memburu Aset Berisiko

KT1 14 May 2025 Investor Daily (H)
Investor kembali memburu aset berisiko  (risk on) seperti saham, seiring kesepakatan penurunan tarif Amerika Serikat (AS) dan China dalam negosiasi yang berlangsung di Jenewa, Swiss, akhir pekan lalu. Ini terlihat pada lonjakan bursa saham dunia, mulai dari Wall Street hingga Hang Seng Hong Kong. Indeks Dow Jones melejit 2,8% Nasdaq 4,3%, dan Hang Seng sekitar 3%, pada awal pekan ini, sedangkan Nikkei 1,4%, kemarin. Pada saat yang sama, investor mengurangi pembelian aset aman (safe haven) emas, selepas negosiasi tersebut. Harga emas di pasar spot sempat rontok 3%, sebelum ditutup di level US$ 3.235 per troy ounce (oz), terpangkas 2,67% pada perdagangan Senin pekan ini. Di pasar Forex, harga emas terhadap dolar AS (XAUUSD) juga sempat terkikis 3%. Namun, kemarin, harga emas perlahan bangkit, didorong kabar AS akan mengadaptasi peraturan perbankan Basel III, yang menetapkan emas sebagai aset tingkat 1. Ini artinya, bank-bank AS dapat menghitung emas fisik sebesar 100% dari nilai pasarnya sebagai bagian dari cadangan modal inti mereka. Dorongan ke pasarr saham bertambah  kuat, menyusul potensi The Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga acuan Federal Funds Rate (RRT) pada Juli 2025. Apalagi, tekanan inflasi AS ditaksir berkurang, setelah kesepakatan negara itu dengan China. (Yetede)

Penundaan Tarif Impor Bawa Dampak Tak Ringan

HR1 14 May 2025 Kontan (H)

Kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan China untuk menurunkan tarif impor menciptakan harapan meredanya ketegangan dagang global dan memicu penguatan di pasar saham dunia, termasuk peluang penguatan jangka pendek di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Namun, prospek jangka panjang IHSG masih dibayangi ketidakpastian dan sentimen negatif.

Beberapa tokoh penting dalam artikel ini memberikan pandangan yang bernuansa hati-hati:

Liza Camelia Suryanata, Kepala Riset Kiwoom Sekuritas, menilai kesepakatan ini memang bisa mendorong investor global melirik pasar negara berkembang, tapi realokasi dana bisa saja justru terjadi ke pasar AS dan China, mengingat arus dana asing di Indonesia masih mencatat net sell hingga Rp 54 triliun sejak awal tahun. Liza juga memperingatkan bahwa IHSG berada di level resistance psikologis 6.970–7.000, yang rawan koreksi.

Ezaridho Ibnutama, Kepala Riset NH Korindo Sekuritas, menyatakan bahwa penguatan IHSG kemungkinan hanya bersifat sementara, karena fundamental ekonomi domestik masih lemah, tercermin dari pertumbuhan PDB kuartal I-2025 yang hanya 4,87% yoy. Ia juga menyoroti krisis likuiditas dan tekanan jual investor asing sebagai hambatan utama.

Budi Frensidy, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, melihat peluang bahwa investor domestik akan menjadi penopang pasar jika terjadi aksi jual asing, menyusul optimisme dari kesepakatan dagang tersebut.

Meskipun ada sinyal positif dari luar negeri, pasar saham Indonesia masih menghadapi tantangan besar dari sisi arus modal dan kondisi ekonomi dalam negeri, sehingga penguatan IHSG diperkirakan bersifat terbatas dan rentan koreksi dalam waktu dekat.

Beban Operasional Ancam Kinerja Perusahaan

HR1 14 May 2025 Kontan
PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) tengah mengandalkan strategi ekspansi ke luar Pulau Jawa dan rebranding toko menjadi AZKO untuk mendorong pertumbuhan penjualan pada 2025. Perseroan menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 5% yoy dan SSSG (same store sales growth) sebesar 1%.

Menurut Jocelyn Santoso, analis Maybank Sekuritas, strategi ekspansi ACES dengan pembukaan 25–30 toko baru, termasuk tiga toko di luar Jawa pada kuartal I-2025, berpotensi mendorong SSSG hingga 3%, lebih tinggi dari target internal perusahaan. Ia juga menilai ekspansi ke wilayah dengan kompetisi rendah dapat meningkatkan margin laba. Meski begitu, Jocelyn memperkirakan pertumbuhan penjualan ACES hanya akan mencapai 4,45% yoy pada akhir tahun.

Sementara itu, Indy Naila dari Edvisor Provina Visindo memperingatkan bahwa ekspansi bisa menjadi pedang bermata dua, karena dapat menaikkan beban operasional dan pemasaran. Ia menekankan pentingnya kontrol pengeluaran agar margin tetap terjaga.

ACES juga menghadapi tekanan dari proses rebranding toko menjadi AZKO. Jocelyn mencatat, beban operasional meningkat karena rebranding dan tunjangan Lebaran, yang menyebabkan penurunan laba bersih 31,1% yoy pada kuartal I-2025, meski penjualan naik 7,2% yoy menjadi Rp 2,14 triliun.

Namun, analis Kiwoom Sekuritas Abdul Azis tetap optimistis. Ia memproyeksikan pertumbuhan penjualan ACES dapat mencapai 5,6% yoy ke Rp 9,06 triliun di akhir 2025. Ia menilai valuasi saham ACES menarik, dengan sebagian besar risiko sudah tercermin dalam harga saham.

Dari sisi rekomendasi, Jocelyn dan Azis memberikan rating buy dengan target harga masing-masing Rp 750 dan Rp 645, sedangkan Indy merekomendasikan hold dengan target Rp 935.

Ekspansi dan rebranding ACES dinilai menjanjikan namun penuh tantangan. Keberhasilan strategi ini bergantung pada kemampuan perusahaan mengelola biaya dan mempertahankan margin di tengah tekanan operasional dan ketatnya persaingan ritel.