;
Tags

Bursa

( 805 )

IHSG Menguat Terbatas

KT1 10 Jun 2025 Investor Daily (H)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi menguat terbatas untuk menguji level resistance 7.223 pada perdagangan minggu ini, setelah pekan lalu melemah 0,87% ke level 7.113,425. Sementara di pasar surat utang, minat investor terhadap intrusmen  investasi ini kian meningkat. dengan peluang kelebihan permintaan (oversubscribed) pada lelang tujuh seri SBSN pekan ini. "Untuk sepekan ke depan, kami memperkirkan IHSG menguat dengan kecenderungana terbatas. Adapun area support berada di 6.970n dan reistance di 7.223," kata Head of Research Retail MNC Sekuritas Herdita Wicaksana kepada Investor Daily. Didit mengungkapkan, pergerakan IHSG pada minggu ini akan dipengaruhi oleh  rilis data ekonomi China, dimana akan ada neraca dagang dan inflasi AS, dimana menurut konsesus cenderung sedikit menguat. "Selain itu,  investor  masih akan mencermati  memanasnya kembali konflik geopolitik Israel ke daerah Suriah, serta Rusia dan Ukraina," tutur dia. Untuk saham, Didit merekomondasikan Investor untuk mencermati saham MEDC dengan target Rp1.290-1.330, BBTN di target harga Rp1.790-1.850. (Yetede)                            

Strategi Emiten: Naikkan Harga, Hadirkan Inovasi

HR1 10 Jun 2025 Kontan
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) menerapkan strategi kenaikan harga, inovasi produk, dan ekspansi ekspor untuk menjaga pertumbuhan kinerja di tengah risiko pelemahan daya beli masyarakat. Sejak Februari 2025, ICBP menaikkan harga Indomie sebesar Rp 100 per bungkus guna meningkatkan pendapatan dari segmen mi instan yang menyumbang 71,9% dari total pendapatan kuartal I-2025.

Namun, efek kenaikan harga ini belum tercermin signifikan dalam laporan kuartal I, dengan pertumbuhan volume penjualan hanya 1% yoy. Jessica Leonardy, analis OCBC Sekuritas, memperkirakan dampak positif baru akan terlihat pada kuartal II-2025. Ia menyebut strategi harga ini, didukung efisiensi manufaktur dan pengurangan pengeluaran operasional, akan menjaga stabilitas margin. Jessica memperkirakan segmen mi instan dapat tumbuh hingga 8% yoy di 2025.

Selain strategi harga, ICBP juga meluncurkan enam produk baru di awal tahun, termasuk varian baru mi instan, yogurt, dan makanan ringan. Menurut Catherine Florencia dari MNC Sekuritas, inovasi produk ini memperkuat posisi ICBP dalam persaingan, karena menunjukkan kemampuannya merespons perubahan selera konsumen. Catherine memproyeksikan pertumbuhan segmen makanan ringan, bumbu, dan nutrisi antara 6%–7% yoy, meski segmen susu dan minuman diprediksi melemah karena persaingan ketat.

Di pasar ekspor, ICBP menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dibanding pasar domestik, yaitu 3,6% yoy menjadi Rp 5,5 triliun. Jessica memproyeksikan pertumbuhan ekspor akan terus kuat di Asia, Timur Tengah, dan Afrika, dengan kontribusi ekspor bisa mencapai 24% dari total pendapatan. Salah satu pendorongnya adalah ekspansi melalui jaringan ritel global seperti Walmart di AS.

Namun, Indy Naila dari Edvisor Profina Visindo mengingatkan adanya risiko fluktuasi nilai tukar dalam ekspor. Meski begitu, ia tetap merekomendasikan buy untuk saham ICBP dengan target harga Rp 11.875, didukung pula oleh Jessica (Rp 14.600) dan Catherine (Rp 13.800).

Industri Otomotif Masih Terjebak Perlambatan

HR1 09 Jun 2025 Kontan
Sektor otomotif nasional masih menghadapi tekanan berat akibat kondisi makroekonomi domestik dan global yang belum stabil. Sepanjang kuartal I-2025, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penurunan penjualan mobil sebesar 4,8% dan roda dua sebesar 3% secara tahunan. Analis Jason Sebastian dari Samuel Sekuritas Indonesia menilai, prospek sektor ini hingga akhir 2025 masih suram, utamanya karena lemahnya daya beli masyarakat dan pertumbuhan PDB yang rendah.

Dampak perlambatan ini terasa pada emiten besar seperti PT Astra International Tbk (ASII). Tim riset Ajaib Sekuritas Asia memproyeksikan penurunan penjualan roda empat ASII sebesar 8,8% dan pertumbuhan roda dua yang hanya naik tipis 2%. Emiten komponen seperti PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) juga terdampak, dengan pendapatan turun 1,6% kuartalan pada kuartal I-2025. Jason menambahkan, depresiasi rupiah turut menekan margin DRMA karena 30% harga pokok penjualannya berbasis dolar AS.

Namun, PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) justru mendapat angin segar dari depresiasi rupiah karena 60%-70% pendapatannya berasal dari ekspor. Meski demikian, Tim Riset Sinarmas Sekuritas tetap mewaspadai gangguan perdagangan global yang bisa memukul pendapatan ekspor SMSM.

Sektor otomotif juga mulai tersentuh sentimen kendaraan listrik. Penjualan battery electric vehicle (BEV) tumbuh pesat 211% (Januari–April 2025). SMSM dinilai oleh Sinarmas sebagai salah satu emiten yang paling siap menyambut pertumbuhan EV karena memiliki 70 jenis komponen khusus EV dan fasilitas produksi yang bisa diadaptasi tanpa investasi besar. Sebaliknya, ASII menghadapi tantangan karena harus mengalokasikan belanja modal signifikan tanpa jaminan laba jangka pendek.

Di tengah tekanan ini, Miftahul Khaer dari Kiwoom Sekuritas tetap optimistis akan pemulihan di paruh kedua 2025 jika daya beli masyarakat membaik. Ia merekomendasikan trading buy untuk saham AUTO, sementara Jason menyarankan hold untuk saham DRMA.

Sektor otomotif Indonesia masih dalam tekanan akibat ekonomi lesu, namun peluang tetap ada lewat pertumbuhan EV dan potensi pemulihan daya beli. Tokoh-tokoh seperti Jason Sebastian, Miftahul Khaer, dan tim riset Sinarmas dan Ajaib Sekuritas menjadi penyorot utama dalam analisis kinerja dan prospek emiten sektor ini.

Meningkatkan Kepercayaan Investor Asing

HR1 09 Jun 2025 Kontan (H)

Pada paruh pertama tahun 2025, pasar saham Indonesia—terutama saham perbankan berkapitalisasi besar—mengalami tekanan dari aksi jual signifikan oleh sejumlah hedge fund global, seperti JP Morgan, Blackrock, Vanguard Group, dan FMR LLC. Total aksi jual bersih investor asing tercatat mencapai Rp 49,89 triliun, meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tumbuh tipis sebesar 0,47% secara YtD.

Penurunan peringkat saham Indonesia oleh Morgan Stanley (MSCI) dari equal weight menjadi underweight turut memperlemah kepercayaan investor asing terhadap prospek ekonomi Indonesia. Dampaknya terlihat jelas pada saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI), di mana JP Morgan mengurangi kepemilikannya sebesar 53% dan FMR LLC sebesar 43,14% dalam setahun terakhir. JP Morgan juga menurunkan rekomendasinya untuk BBRI menjadi netral, mengutip masalah kualitas aset akibat kredit Kupedes.

Namun demikian, manajemen BBRI yang dipimpin oleh Hery Gunardi bergerak aktif memulihkan kepercayaan investor global, termasuk dengan mengikuti acara US Investor Meeting di kantor pusat JP Morgan, New York. Hery memaparkan strategi lima tahun ke depan BBRI, yang meliputi transformasi dari sisi pendanaan, peningkatan dana murah dari segmen konsumer dan UKM, serta penguatan penghimpunan DPK dari sektor wholesale banking.

Dari sisi regulator, Direktur Utama BEI Iman Rachman juga proaktif menjumpai investor institusi di Hong Kong untuk menarik kembali minat investasi terhadap saham-saham domestik.

Sementara itu, Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information dari Mirae Asset Sekuritas, tetap optimis terhadap prospek jangka panjang sektor perbankan Indonesia. Ia merekomendasikan beli untuk saham BBRI, BBCA, BMRI, BBNI, dan akumulasi beli untuk BRIS.

Meskipun aksi jual hedge fund global memberi tekanan terhadap saham-saham perbankan Indonesia, langkah proaktif dari pihak regulator dan manajemen emiten seperti BBRI menunjukkan upaya nyata dalam mengembalikan kepercayaan pasar. Tokoh kunci dalam dinamika ini adalah Hery Gunardi (BBRI), Iman Rachman (BEI), dan Nafan Aji Gusta (Mirae Asset).

Kebijakan KRIS Masih Tunggu Kejelasan Pemerintah

HR1 05 Jun 2025 Kontan
Kinerja PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) pada kuartal I-2025 mencatat hasil kurang memuaskan, dengan pendapatan turun 0,58% menjadi Rp 1,69 triliun dan laba bersih anjlok 34,68% menjadi Rp 124,72 miliar. Penurunan ini dipicu oleh berkurangnya hari kerja, sehingga jumlah pasien menurun, menurut Ahmad Iqbal Suyudi, Investment Analyst Edvisor Profina Visindo.

Selain itu, tekanan jangka pendek dan menengah diperkirakan masih akan berlanjut karena adanya ketidakpastian tarif BPJS Kesehatan dan implementasi Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) per Juli 2025. Hal ini terutama memengaruhi pendapatan dari peserta JKN, yang saat ini menyumbang lebih dari 70% pendapatan HEAL.

Meski demikian, prospek jangka panjang HEAL tetap positif. Rizal Rafly, Analis Ajaib Sekuritas, menyebut bahwa strategi ekspansi rumah sakit di Badung dan Salatiga serta peningkatan porsi pasien non-JKN menjadi katalis utama pertumbuhan. Ia memperkirakan pendapatan HEAL akan tumbuh 9,38% pada 2025 menjadi Rp 7,34 triliun, meskipun margin laba bersih sedikit tertekan menjadi 7,8%.

Dari sisi analisis saham, Rizal merekomendasikan beli (buy) dengan target harga Rp 1.670, sedangkan Ahmad menyarankan tahan (hold) di Rp 1.600. Sementara itu, James Stanley Widjaja dari Buana Capital justru menurunkan rekomendasi dari buy menjadi hold, dengan target harga baru Rp 1.430, karena proyeksi penurunan laba bersih HEAL sebesar 4,7% menjadi Rp 558 miliar.

Walau HEAL menghadapi tantangan dari sisi regulasi dan tekanan margin dalam jangka pendek, para analis seperti Ahmad Iqbal Suyudi, Rizal Rafly, dan James Stanley Widjaja tetap melihat peluang pertumbuhan jangka panjang dari strategi ekspansi dan peningkatan porsi pasien non-JKN.

Kinerja Emiten Membaik, Pasar Punya Tenaga Baru

HR1 04 Jun 2025 Kontan
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menunjukkan perbaikan kinerja signifikan pada kuartal I-2025 dengan peningkatan pendapatan bersih 40,4% yoy menjadi Rp 4,3 triliun, dan EBITDA yang disesuaikan positif Rp 393 miliar, naik tajam 489,1% yoy. Rugi bersih juga berhasil ditekan hingga turun 67% menjadi Rp 283 miliar. Hal ini menjadikan kuartal awal 2025 sebagai awal yang kuat, menurut Christopher Rusli, analis Ciptadana Sekuritas.

GOTO menargetkan EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp 1,4–1,6 triliun pada tahun 2025, yang didorong oleh penguatan segmen on-demand dan fintech. Layanan pengiriman dan mobilitas masing-masing tumbuh di atas 16%, sementara pendapatan dari segmen fintech melonjak 90% menjadi Rp 1,2 triliun, didominasi oleh pertumbuhan portofolio pinjaman.

Namun, Miftahul Khaer dari Kiwoom Sekuritas mengingatkan bahwa ekspansi agresif di sektor pinjaman harus dijalankan dengan hati-hati, mengingat naiknya kredit bermasalah di industri pembiayaan. Ia menilai target EBITDA realistis, tetapi menyarankan pendekatan "wait and see" terhadap saham GOTO sambil menunggu kejelasan strategi ekspansi dan potensi merger dengan Grab.

Peter Milliken, analis Deutsche Bank, melihat potensi merger GOTO dan Grab sebagai transformasi positif yang dapat meningkatkan valuasi perusahaan. Ia memberikan rekomendasi "buy" dengan target harga Rp 115 per saham. Christopher Rusli juga tetap optimistis dengan memberikan rekomendasi "buy" dan target harga Rp 100 per saham.

GOTO berhasil menunjukkan perbaikan fundamental, terutama lewat efisiensi dan pertumbuhan pendapatan di segmen strategis. Namun, risiko kredit macet, persaingan pasar, dan ketidakpastian makroekonomi tetap menjadi tantangan, sementara sentimen merger dengan Grab menjadi faktor penting yang dapat menentukan arah saham GOTO ke depan.

Stimulus Konsumsi Dinilai Masih Kurang Atraktif

HR1 04 Jun 2025 Kontan
Pemerintah telah mengucurkan stimulus senilai Rp 24,4 triliun untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik. Namun, menurut sejumlah ekonom, daya dorong stimulus ini terhadap konsumsi rumah tangga dan pertumbuhan ekonomi akan sangat terbatas.

Syafruddin Karimi, ekonom dari Universitas Andalas, menilai stimulus ini tidak signifikan karena hanya setara 0,2% dari PDB Indonesia yang mencapai Rp 22.000 triliun. Menurutnya, stimulus ini hanya bersifat simbolik dan lebih bertujuan meredam pelemahan konsumsi, bukan mendorong pertumbuhan baru. Ia menyoroti bahwa kenaikan konsumsi rumah tangga kuartal I-2025 yang hanya 4,89% menunjukkan lemahnya daya beli di tengah tekanan global dan inflasi pangan.

Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, juga menyebut stimulus ini hanya 0,1% dari PDB, bahkan lebih kecil dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 40 triliun. Ia menegaskan, meski mencakup 39 juta penerima manfaat, bantuan per individu terlalu kecil untuk memberikan dampak konsumsi yang berarti. Selain itu, pembatalan program diskon listrik senilai Rp 10,9 triliun dinilai mempersempit dampak stimulus yang bersifat luas dan jangka pendek.

Sementara itu, Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios, memperkirakan tidak ada efek signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dari stimulus ini. Ia memproyeksikan pertumbuhan PDB kuartal II-2025 akan stagnan di kisaran 4,7%-4,8%, sama dengan kuartal I.

Meskipun pemerintah menggelontorkan stimulus besar yang dipimpin oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani, para tokoh ekonomi seperti Syafruddin Karimi, Josua Pardede, dan Bhima Yudhistira sepakat bahwa dampaknya terhadap konsumsi dan pertumbuhan ekonomi sangat terbatas, hanya bersifat penahan laju pelemahan, bukan pendorong pertumbuhan struktural.

Musim Dividen Jadi Magnet Investor Saham

HR1 04 Jun 2025 Kontan (H)
Pasar saham Indonesia akan menerima suntikan dana dari pembagian dividen sejumlah emiten besar senilai total Rp 51,47 triliun pada Juni 2025. Emiten seperti PT Telkom Indonesia (TLKM) dan PGAS menjadi penyumbang terbesar, dengan yield dividen menarik hingga mendekati 10%. Likuiditas bursa diperkirakan akan meningkat sementara waktu, namun para analis menilai dampak ini bersifat jangka pendek dan tidak cukup kuat untuk membalik arah pasar secara keseluruhan.

Menurut Rully Arya Wisnubroto, Head of Research Mirae Asset, pembagian dividen hanya akan menjadi pemanis sesaat, karena ketidakpastian global dan lemahnya fundamental domestik masih akan menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ia memperkirakan IHSG akan bergerak di kisaran 6.925–7.150. Rully juga mengingatkan potensi capital outflow akibat perlambatan ekonomi dan ketidakpastian kebijakan pemerintah.

Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas juga sependapat bahwa dividen tinggi dapat mendorong minat beli, terutama pada saham big caps strategis dengan valuasi menarik. Namun, dia menegaskan bahwa arus dana asing tidak serta-merta masuk, dan IHSG akan bergerak mixed di rentang 7.000–7.250.

Sementara itu, Muhammad Wafi dari Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) mengingatkan akan adanya aksi jual setelah tanggal ex-dividen, terutama pada saham yang fundamentalnya lemah. Ia juga menyoroti bahwa dividen dengan payout ratio sangat tinggi bisa menjadi tanda kurangnya rencana pertumbuhan jangka panjang perusahaan.

Di sisi lain, arus keluar dana asing tetap menjadi ancaman, karena sebagian besar dividen juga mengalir ke investor asing, seperti Unilever Indonesia, di mana 84,99% dividen akan dikirim ke pengendali asingnya. Selain itu, kebijakan tarif impor baja dan tren global menuju aset safe haven seperti emas menambah tekanan pada pasar saham domestik.

Meskipun musim dividen memberi harapan pada peningkatan likuiditas dan minat investor, para tokoh seperti Rully Arya Wisnubroto, Oktavianus Audi, dan Muhammad Wafi sepakat bahwa dividen bukan katalis jangka panjang yang cukup kuat, dan ketidakpastian makroekonomi serta arus keluar dana asing tetap mendominasi arah pasar saham ke depan.

Musim Dividen Jadi Magnet Investor Saham

HR1 04 Jun 2025 Kontan (H)
Pasar saham Indonesia akan menerima suntikan dana dari pembagian dividen sejumlah emiten besar senilai total Rp 51,47 triliun pada Juni 2025. Emiten seperti PT Telkom Indonesia (TLKM) dan PGAS menjadi penyumbang terbesar, dengan yield dividen menarik hingga mendekati 10%. Likuiditas bursa diperkirakan akan meningkat sementara waktu, namun para analis menilai dampak ini bersifat jangka pendek dan tidak cukup kuat untuk membalik arah pasar secara keseluruhan.

Menurut Rully Arya Wisnubroto, Head of Research Mirae Asset, pembagian dividen hanya akan menjadi pemanis sesaat, karena ketidakpastian global dan lemahnya fundamental domestik masih akan menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ia memperkirakan IHSG akan bergerak di kisaran 6.925–7.150. Rully juga mengingatkan potensi capital outflow akibat perlambatan ekonomi dan ketidakpastian kebijakan pemerintah.

Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas juga sependapat bahwa dividen tinggi dapat mendorong minat beli, terutama pada saham big caps strategis dengan valuasi menarik. Namun, dia menegaskan bahwa arus dana asing tidak serta-merta masuk, dan IHSG akan bergerak mixed di rentang 7.000–7.250.

Sementara itu, Muhammad Wafi dari Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) mengingatkan akan adanya aksi jual setelah tanggal ex-dividen, terutama pada saham yang fundamentalnya lemah. Ia juga menyoroti bahwa dividen dengan payout ratio sangat tinggi bisa menjadi tanda kurangnya rencana pertumbuhan jangka panjang perusahaan.

Di sisi lain, arus keluar dana asing tetap menjadi ancaman, karena sebagian besar dividen juga mengalir ke investor asing, seperti Unilever Indonesia, di mana 84,99% dividen akan dikirim ke pengendali asingnya. Selain itu, kebijakan tarif impor baja dan tren global menuju aset safe haven seperti emas menambah tekanan pada pasar saham domestik.

Meskipun musim dividen memberi harapan pada peningkatan likuiditas dan minat investor, para tokoh seperti Rully Arya Wisnubroto, Oktavianus Audi, dan Muhammad Wafi sepakat bahwa dividen bukan katalis jangka panjang yang cukup kuat, dan ketidakpastian makroekonomi serta arus keluar dana asing tetap mendominasi arah pasar saham ke depan.

Saham Perbankan Masih Menyimpan Potensi Cuan

HR1 03 Jun 2025 Kontan
Investor saham perbankan disarankan tidak hanya terpaku pada bank-bank besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI, melainkan juga mulai melirik bank menengah yang menunjukkan kinerja kuat. Beberapa di antaranya mencatat pertumbuhan laba yang lebih tinggi dibanding bank besar sepanjang empat bulan pertama 2025. Misalnya Bank Syariah Indonesia (BRIS) tumbuh laba 6,2% menjadi Rp 2,38 triliun, Bank Permata (BNLI) tumbuh 9,17%, Bank OCBC NISP naik 11,5%, CIMB Niaga (BNGA) naik 3,57%.


Sebaliknya, beberapa bank besar seperti BMRI hanya naik 0,7%, BBNI naik tipis 0,15%, dan BBRI malah turun 15,8%.

Menurut Ekky Topan, analis dari Infovesta Utama, bank-bank menengah ini punya fleksibilitas lebih besar dan fokus pada segmen khusus, seperti BRIS di sektor syariah, serta BNGA dan NISP yang dikenal konservatif. Ia menilai bank-bank tersebut cocok untuk diversifikasi portofolio, terutama bagi investor jangka menengah hingga panjang. Ia menyarankan akumulasi saat harga koreksi tanpa penurunan fundamental.

Oktavianus Audi, VP dari Kiwoom Sekuritas, juga memandang positif prospek bank menengah, didukung pertumbuhan kredit dan pendapatan bunga yang solid. Ia merekomendasikan buy BRIS dengan target harga Rp 3.660, dan memperkirakan labanya bisa tumbuh hingga 17% tahun ini.

Sementara itu, Maximilianus Nicodemus, Associate Director dari Pilarmas Investindo Sekuritas, mengunggulkan BNGA berkat strategi digital yang kuat, yang diyakini dapat memberikan dampak positif dalam jangka menengah hingga panjang. Ia memberikan rekomendasi buy BNGA dengan target harga Rp 2.150.

Bank-bank menengah seperti BRIS, BNLI, NISP, dan BNGA menjadi alternatif menjanjikan di sektor perbankan, khususnya untuk diversifikasi dan peluang pertumbuhan jangka panjang, menurut para analis yang dikutip.