;
Tags

Dividen

( 218 )

Laba Turun, Mandiri Coal Bagikan Dividen Interim Jumbo

KT1 11 Nov 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL) atau Mandiri Coal akan membagikan dividen interim tahun buku 2023 sebesar Rp 250 per saham atau total Rp888,89 miliar kepada pemegang 3,55 miliar saham MCOL di 7 Desember 2023. Sejak mencatatkan sahamnya (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada September 2021, emiten batu bara ini konsisten membagikan dividen interim dan dividen final setiap tahunnya. "Sesuai dengan keputusan direksi yang telah disetujui dewan komisaris pada tanggal 9 November 2023, perseroan menyampaikan rencana pembagian dividen interim untuk periode tahun buku 2023, dengan total nilai dividen yang akan dibayar Rp 888.890.000.000," kata Head of Corporate Secretary Prima Andalan Mandiri Jeanny Pratiwi dalam keterangan resminya, Jumat (10/11/2023). Jeanny mengatakan, tanggal cum dividen di pasar reguler dan pasar negosiasi berlangsung pada 20 November 2023, disusul  tanggal ex dividen di pasar reguler dan pasar negosiasi pada 21 November 2023. "Pembayaran dividen akan dilakukan pada 7 Desember 2023," ujar dia. (Yetede)

Menjala Bonus Akhir Tahun dari Emiten

HR1 09 Nov 2023 Kontan
Menjelang tutup tahun, emiten yang memberi bonus akhir tahun berupa dividen interim masih semarak. Per Rabu (8/11),, paling tidak 10 emiten yang akan membagikan dividen interim. Teranyar, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) siap menebar dividen interim sebesar Rp 1,63 triliun. Setiap pemegang saham CPIN memperoleh Rp 100 setiap saham. Manajemen CPIN menjelaskan pembagian dividen ini merupakan keputusan sirkular direksi CPIN pada 3 November 2023 dan keputusan sirkular dewan komisaris pada 6 November 2023. Mayoritas para emiten pembagi dividen interim menawarkan dividend yield di bawah 2%. Saat ini, dividend yield terendah diberikan oleh PT Trisula International Tbk (TRIS). Kendati begitu, Direktur Utama Trisula International, Widjaya Djohan menyampaikan pembagian dividen ini mengacu pada pencapaian kinerja Grup Trisula per kuartal III-2023. Di sisi lain, dividend yield tertinggi diberikan oleh  PT Trans Power Marine Tbk (TPMA). Dengan harga penutupan Rabu (8/11) di Rp 30 per saham, dividend yield TPMA mencapai 4,44%. Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas mencermati, mayoritas emiten yang membagikan dividen berasal dari golongan small cap hingga mid cap. Ini akan mempengaruhi risiko investor. Equity Analyst Phintraco Sekuritas, Rio Febrian menyarankan bagi investor  orientasi jangka panjang, membeli atau menambah porsi saham saat ini bisa menjadi pilihan.

Berburu Dividen Jelang Akhir Tahun

HR1 06 Nov 2023 Kontan

Musim pembagian bonus akhir tahun telah tiba. Sejumlah emiten akan segera membagikan dividen interim dalam waktu dekat. Misalnya, PT Sigma Energy Compressindo Tbk (SICO) yang akan membagikan dividen interim  tahun buku 2023 sebesar Rp 2 per saham. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) juga akan membayarkan dividen interim untuk tahun buku 2023 sebesar Rp 15 per saham. Emiten farmasi lain,  PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) secara resmi juga akan membagikan dividen tengah tahun atau interim sebesar Rp 50 per saham. Tak mau ketinggalan, PT Budi Starch & Sweetener Tbk (BUDI) berencana untuk membagikan dividen interim kepada pemegang saham periode tahun buku 2023. Direktur Kiwoom Sekuritas Indonesia, Chang-kun Shin melihat, dampak pembagian dividen interim akan menyebabkan kinerja saham emiten tersebut berpeluang menguat. Khususnya menjelang cum date. Shin menilai  TSPC dan BUDI punya peluang melanjutkan tren pertumbuhan. Hal itu terlihat dari kinerja kedua emiten tersebut sampai bulan September 2023 yang menunjukkan pertumbuhan. Kepala Riset Praus Capital, Marolop Alfred Nainggolan menilai pembagian dividen dan dividen interim akan selalu menjadi katalis positif bagi performa saham emiten yang bersangkutan.

Bonus Akhir Tahun dari Dividen Interim

HR1 06 Oct 2023 Kontan
Pembagian dividen interim kembali datang di ujung tahun ini. Kendati tak berdampak signifikan bagi laju  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara umum, pembagian dividen interim ini seperti bonus akhir tahun. Pada penutupan perdagangan  saham, Kamis (5/10), IHSG terkoreksi 0,17% atau turun 11,75 poin ke level 6.874,82. Sepanjang tahun ini, IHSG menguat 0,35%. Roger MM, Head of Research Center Mirae Asset Sekuritas  menilai, saat ini pelaku pasar lebih fokus pada isu global, seperti data ekonomi Amerika Serikat (AS). Yang paling dekat akan ada rilis data ketengakerjaan dari Negeri Paman Sam itu yang akan dipublikasikan pada Jumat (6/10). Equity Analyst Kanaka Hita Solvera William Wibowo melihat bahwa pembagian dividen interim di sisa tahun ini merupakan pemanis bagi investor jangka panjang. Namun agenda tersebut bukan sentimen positif bagi IHSG secara umum. "Rata-rata dividend yield pembagian dividen interim saat ini di kisaran 1% hingga 3% sehingga tidak terlalu berdampak," jelas Roger. Dividend yield dari Grup Astra, misalnya, masih di bawah  5%. Jika menggunakan harga penutupan Kamis (10/5), dividend yield terbesar ada di PT United Tractor Tbk (UNTR) sebesar 2,68%. Equity Analyst Phintraco Sekuritas Rio Febrian menuturkan bagi investor yang berorientasi jangka panjang, membeli atau menambah porsi saham bisa menjadi pilihan.  Investor juga dapat fokus pada saham dengan dividend yield besar yang masuk IDX High Dividend 20.

Group Astra Sebar Dividen Interim Rp 6,67 Triliun

KT1 04 Oct 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-Group Astra akan membagikan dividen interim tahun buku 2023 senilai total Rp6,67 triliun pada akhir bulan ini. Pembagian dividen interim tersebut dilakukan oleh PT Astra International Tbk (ASII) sebesar Rp3,96 triliun, PT United Tractors Tbk (UNTR) Rp2,54 triliun, dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) Rp157,82 miliar. Corporate  Secretary Astra International Gita Tiffany Boer mengatakan, rencana pembagian dividen interim ASII untuk tahun buku yang berakhir 31 Desember 2023 telah diputuskan dalam rapat direksi perseroan yang diselenggarakan pada tanggal 18 September 2023, dan telah memperoleh persetujuan dewan komisaris perseroan pada tanggal 29 September 2023. "Jumlah dividen interim  yang akan dibayarkan sebesar Rp98 per saham dengan total nilai Rp3.967.388.207.720," kata Gita dalam keterbukaan informasi perseroan, Selasa (3/10/2023). (Yetede)

Tenang, Masih Ada Dividen yang Akan Lewat

HR1 06 Sep 2023 Kontan (H)

Bagi investor saham, keuntungan bukan cuma berasal dari kenaikan harga. Dividen juga sumber cuan yang menggiurkan bagi investor saham. Reuters menyebut, ada potensi perusahaan di seluruh dunia bakal membayar dividen ke investor hingga US$ 1,64 triliun di tahun ini. Jika dirupiahkan dengan kurs Rp 15.260 per dollar AS jumlahnya Rp 25.026 triliun. Terlebih, ada data dari fund manager Janus Henderson yang memperkirakan ada 88% perusahaan di seluruh dunia mengerek dividen atau mempertahankannya. Saat ini masih ada sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang akan membagikan dividen interim. Salah satu yang terbesar adalah PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG). Sebelumnya PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) juga telah membagikan dividen interim senilai Rp 986,8 miliar. Pengamat pasar modal dan Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat menilai, puncak pembagian dividen sudah terjadi tahun lalu. Kondisi ini tidak terlepas dari booming harga komoditas yang menyebabkan harga batubara pecah rekor. Kemudian mendorong kinerja emiten pertambangan dan bermuara pada kenaikan pembagian dividen. Namun ia melihat prospek pembagian dividen di sektor lain masih menjanjikan, misalkan perbankan. Laba bersih emiten perbankan di tahun ini masih akan bertumbuh sehingga ekspektasi dividen yang dibagikan pun masih tinggi. Di sektor konsumer, Teguh menduga kinerja yang dibukukan emiten akan bervariasi. Misal, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) yang laba bersihnya mulai rebound. Head of Business Development FAC Sekuritas Indonesia, Kenji Putera juga melihat pembagian dividen dari sektor pertambangan akan menyesuaikan dengan kondisi laba bersih. Kemudian dividend payout ratio di sektor keuangan khususnya perbankan juga masih cukup baik. Hitungan Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, dividen BBCA untuk kloter kedua biasanya lebih kecil dibanding kloter pertama. Hitungannya estimasi dividen interim BBCA di kloter kedua Rp 35 per saham. Estimasi dividen yield 0,4%.

STRUKTUR EKONOMI, Waspadai ”Penyakit” Lama Indonesia

KT3 29 Aug 2023 Kompas

Pemerintah perlu mewaspadai kambuhnya ”penyakit” lama struktur ekonomi Indonesia. Untuk mengurangi tekanan ”penyakit” lama itu, pemerintah perlu menggulirkan sejumlah langkah strategis yang tidak hanya berfokus pada hilirisasi. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara, Senin (28/8) mengatakan, selama ini, struktur ekonomi Indonesia masih bergantung pada komoditas primer atau yang diambil langsung dari alam. Selain itu, ketergantungan Indonesia terhadap investor asing masih sangat besar. Maka, tidak mengherankan jika harga komoditas ekspor utama turun, pendapatan dari ekspor turut turun. Begitu juga ketika banyak arus modal asing keluar dan waktu pembayaran imbal hasil investasi atau dividen perusahaan asing tiba, kondisi finansial bakal goyang.

”Kelemahan struktur ekonomi Indonesia itu mulai terlihat kembali dalam Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pascapandemi Covid-19,” ujarnya ketika dihubungi di Jakarta. Berdasarkan data NPI yang dirilis BI, neraca transaksi berjalan Indonesia pada triwulan II-2023 defisit 1,9 miliar USD atau 0,5 % dari PDB. Pada triwulan I-2023, neraca transaksi berjalan tersebut masih surplus 3 miliar USD atau 0,9 % dari PDB. Menurut Bhima, pemerintah tidak bisa menangkap ”durian runtuh” (windfall) secara optimal. Banyak perusahaan asing yang berinvestasi di sektor pertambangan dan perkebunan mengirimkan sebagian besar dividen ke perusahaan induknya di luar negeri. Di sisi lain, banyak investor asing yang memetik keuntungan besar atas imbal hasil portofolio pemerintah atau swasta akibat  kenaikan suku bunga acuan BI. (Yoga)


Aturan untuk Cegah Obral Dividen, OJK Segera Rilis Aturan bagi Bank

KT1 10 Aug 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA,ID-Otoritas Jasa keuangan (OJK) dalam waktu dekat akan menerbitkan pengaturan upaya dalam  memperketat penetapan tata kelola bank umum. Salah satu aspek pengaturan tersebut adalah terkait dividen bank. Sebelumnya, OJK menilai rasio dividen bank ditebar, khusunya oleh bank-bank kelas kakap terlalu jumbo. Dikhawatirkan dengan rasio yang besar tersebut akan menguras rasio kecukupan modal (Capital adequacy ratio/CAR) bank. "OJK Berpandangan bahwa pengaturan terkait dividen bank ini perlu dilakukan sehubungan dengan fungsi pengawasan OJK, agar alokasi laba yang diperoleh  bank juga diprioritaskan  untuk memperkuat permodalan bank," jelas Pengawas Eksekutif Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam keterangannya, Rabu (9/8/2023). Selain itu alokasi laba juga bisa digunakan sebagai sumber dana untuk kebutuhan investasi, khususnya dalam infrastruktur dan teknologi agar mampu bersaing di era digital saat ini. "Sehingga bank memiliki kinerja yang terus meningkat dari waktu ke waktu, yang akhirnya juga berdampak pada peningkatan shareholder's value," imbuh Dian. (Yetede)

Salah Kaprah Pembagian Dividen Bank

KT1 10 Aug 2023 Tempo

Rencana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatur mekanisme distribusi laba dan pembagian dividen bank merupakan langkah tepat. Selama ini, rasio pembagian dividen yang diberikan industri perbankan nasional kepada pemegang saham dianggap terlalu besar. Distribusi laba semestinya diprioritaskan guna memperkuat permodalan bank, terutama untuk pengembangan sistem digitalisasi perbankan. OJK akan menerbitkan aturan tersebut dalam waktu dekat. Lembaga ini akan mewajibkan bank membuat kebijakan pembagian dividen yang proporsional dalam rangka memperkuat tata kelola perbankan nasional yang sehat, terutama di era digital yang berkembang pesat. OJK sebagai otoritas pengawasan akan mengevaluasi kebijakan yang dibuat bank dan pelaksanaannya. Ketika pemberian dividen tidak hati-hati atau membahayakan keberlangsungan usaha sebuah bank, OJK berwenang untuk mengambil tindakan guna memastikan tindakan penguatan bank terpenuhi. Sejumlah ahli perbankan menyebutkan bahwa rasio pembayaran dividen di rentang 35-55 persen masih tergolong sehat. Adapun rasio di atas 55 persen dianggap tinggi. Contohnya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk yang menggelontorkan dividen Rp 43,5 triliun atau 85 persen dari total laba bersih pada 2022. Ada pula PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang membagikan dividen tunai Rp 25,3 triliun atau 62 persen dari laba bersih. (Yetede)

Setoran Dividen BUMN Berpeluang Turun

HR1 09 Aug 2023 Kontan

Setoran dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ditargetkan sebesar Rp 80,2 triliun pada tahun depan dinilai terlalu tinggi. Sejumlah kondisi yang dihadapi BUMN bisa memangkas setoran dividen perusahaan pelat merah ke negara. Kondisi yang dimaksud, pertama, harga komoditas yang relatif turun dibanding tahun lalu. Hal ini akan mempengaruhi kinerja pelat merah yang selama ini ketiban durian runtuh dari harga tambang maupun perkebunan. Misalnya, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang pada tahun ini akan menyetorkan dividen sebesar Rp 1,24 triliun ke negara. Lalu, setoran dividen PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sebesar Rp 596,2 miliar dan PT Timah Tbk (TINS) sebesar Rp 381,6 miliar. Kedua, rencana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengatur perhitungan dividen perbankan karena dividen perbankan dinilai terlalu tinggi. OJK ingin, nantinya bank tidak secara terus-menerus menarik dividen yang besar. Sehingga laba bisa dialokasikan untuk investasi di bidang lainnya, seperti infrastruktur. Untuk tahun ini, setoran dividen BUMN ke negara secara umum, masih moncer. Bahkan telah melampaui angka yang ditargetkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023 sebesar Rp 49,1 triliun. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios Bhima Yudhistira melihat, ke depan, setoran dividen BUMN makin turun. Selain harga komoditas turun, kinerja BUMN juga akan terdampak BUMN bermasalah. Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto optimistis, target dividen tahun depan bisa tercapai sejalan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. Namun, masih ada tantangan, terutama dari BUMN karya yang tumbang.