;
Tags

Dividen

( 218 )

Dividen Jumbo Kekang Ekspansi BUMN

KT1 21 Jul 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA,ID-Peningkatan setoran dividen BUMN ke kas negara patut diapresiasi, karena turut berkontribusi menutup difisit  APBN. Di sisi lain, penetapan dividen payout ratio BUMN perlu mempertimbangkan kebutuhan ekspansi perusahaan, agar mampu meningkatkan profitabilitasnya di masa mendatang. Dahaga para pemburu dividen terpuaskan dengan dividen jumbo yang ditebar sejumlah perusahaan pelat merah dan afiliasi yang listing di pasar saham. Bukan kaleng-kaleng, dividen payout ratio PT Bukit Asam Tbk (PTBA) bahkan mencapai 100%, seluruh laba bersih sebesar Rp12,6 triliun yang diperoleh perusahaan tahun buku 2022 dialokasikan untuk dividen. Pelaku pasar pemburu dividen biasanya aktif mengakumulasi saham emiten yang rutin  menebar dividen jumbo sebelum cum date dividen. Tak heran, sebelum cum date harga saham melesat, sebaliknya sejak ex date harga saham merosot. Saham PTBA bahkan sempat mengalami auto rejection bawah (ARB)  saat ex data dividen  dan hingga kini PTBA belum menunjukkan indikasi rebound. Begitu pula saham TLKM, tak bertenaga menggapai level psikologis Rp 4.000 setelah ex data. Umumnya saham dengan  dividen payout ratio tinggi akan terhempas setelah menebar dividen, setelah dahaga pemburu dividen  telah terpuaskan. (Yetede)

Dividen Batubara Tak Lagi Membara

HR1 12 Jul 2023 Kontan

Pesta dividen jumbo emiten tambang batubara diproyeksi akan berakhir. Hal ini seiring estimasi loyonya kinerja keuangan emiten batubara. Maklum, di sepanjang tahun 2023, harga komoditas batubara terus melandai. Analis MNC Sekuritas, Alif Ihsanario mencermati, di sepanjang tahun berjalan ini, harga batubara di Bursa Newcastle telah menukik 68%. Sementara itu, harga batubara acuan (HBA) China dan Indonesia telah melemah masing-masing 38% dan 37%. Seiring itu, Alif menganalisa, besaran dividen yang akan dibagikan emiten batubara untuk tahun buku 2023 akan melorot dibanding 2022. Dia mengantisipasi adanya penurunan besaran dividend payout ratio. Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Richard Suherman memproyeksi, dengan posisi neraca solid dan rasio utang per modal bersih rendah, DPR dividen ADRO tahun ini bisa tembus 45% dari laba bersih.

OJK Sebut Dividen Bank Saat Ini Terlalu Tinggi

HR1 06 Jul 2023 Kontan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyoroti keputusan pembagian dividen perbankan tahun buku 2022. OJK menilai rasio pembayaran dividen sejumlah bank dinilai terlalu besar. Padahal, banyak hal krusial lain yang harus bank penuhi dengan kebutuhan anggaran yang nominalnya juga tidak sedikit. Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar mengatakan, ada sejumlah hal krusial yang harus ditingkatkan perbankan saat ini. Diantaranya, untuk penguatan sisi teknologi dan ketahanan siber, peningkatan manajemen risiko, serta peningkatan Sumber Daya Manusia. "Dividen pay out ratio berbagai bank yang terlalu besar ini dapat membatasi kemampuan bank untuk berinvestasi untuk mendukung transformasi dan inovasi digital," terang Mahendra, Selasa (4/7). Rasio pembayaran sejumlah bank di Tanah Air memang terbilang cukup tinggi. Bank Rakyat Indonesia (BRI) misalnya, mengalokasikan 85% dari laba tahun 2022 sebagai dividen. Lalu Bank Central Asia (BCA) mencapai 62%, Bank Mandiri 60% dan Bank Negara Indonesia (BNI) 40%. Tak ketinggalan, bank pembangunan daerah (BPD) juga membagikan dividen dengan rasio yang cukup tinggi. Bank Jatim menetapkan dividend pay out ratio 51,67% dan Bank BJB 49,47%. Sekretaris Perusahaan BRI, Aestika Oryza Gunarto mengatakan, penentuan penetapan dividen pay out ratio selalu memperhatikan faktor permodalan. Artinya, manajemen bank sudah mendahulukan kebutuhan internal sebelum memenuhi kewajibannya kepada pemegang saham.

Perkuat Modal Inovasi Digital

HR1 06 Jul 2023 Bisnis Indonesia

Keputusan sejumlah bank untuk meningkatkan alokasi dividen dari laba yang dibayarkan ke pemegang saham patut menjadi perhatian di tengah kondisi dan tantangan industri perbankan saat ini. Tak sedikit pihak yang khawatir bahwa langkah ini berisiko membatasi kemampuan bank mengakselerasi rencana investasi di sistem digital. Seperti diketahui, empat bank penghuni kelompok modal inti lebih dari Rp70 triliun atau KBMI 4 yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk./BMRI, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk./BBRI, PT Bank Central Asia Tbk./BBCA, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk./BBNI, kompak mengguyur dividen jumbo kepada pemegang sahamnya. BMRI melalui rapat umum pemegang saham tahunan atau RUPST pada Maret lalu telah menetapkan pembagian dividen sebesar 60% dari laba bersih konsolidasian yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tahun buku 2022 senilai Rp41,1 triliun. Artinya, BMRI membagikan dividen tunai kepada para pemegang saham sebanyak Rp24,7 triliun. Besaran dividen per saham yang dibagikan Bank Mandiri mencapai Rp529,34 per lembar. Dengan begitu, nilai dividen per saham BMRI meningkat 46,8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp360,64 per saham. Dividend payout ratio BBRI lebih besar lagi. Bank pelat merah yang fokus ke segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ini bahkan mengalokasikan 85% atau sekurang-kurangnya sebesar Rp43,4 triliun sebagai dividen tunai yang dibagikan kepada pemegang saham. BBNI dalam RUPST pertengahan Maret lalu telah menyetujui pembagian dividen senilai total Rp7,32 triliun yang diambil dari capaian laba bersih perseroan sepanjang tahun lalu yang mencapai Rp18,3 triliun. Aksi serupa juga dilakukan oleh BBCA yang meningkatkan nilai dan rasio dividen. Tahun lalu, bank yang terafiliasi dengan Grup Djarum itu menebar dividen tunai senilai total Rp17,9 triliun atau 56,9% dari laba bersih untuk tahun buku 2021. Secara nilai, dividen tunai yang dibayarkan perusahaan kepada pemegang saham pada tahun ini tumbuh 41,4%. Adapun secara rasio juga naik menjadi 62,1%. BBCA membayarkan dividen tunai senilai total Rp25,3 triliun yang dialokasikan dari laba bersih tahun buku 2022 sebesar Rp40,7 triliun.

Geliat Emiten BUMN

HR1 05 Jul 2023 Bisnis Indonesia

Di tengah kondisi perekonomian yang belum pulih sepenuhnya, badan usaha milik negara (BUMN) dituntut berkinerja bagus agar mampu berkontribusi besar bagi pemasukan negara baik dalam bentuk dividen maupun pajak. Strategi jitu dibutuhkan untuk bisa bertahan dan terus bertumbuh dalam kondisi saat ini. Langkah Kementerian BUMN yang melakukan transformasi dan pembenahan di tubuh BUMN sejak beberapa tahun lalu, tampaknya mulai menunjukkan hasil, setidaknya terlihat dari kenaikan setoran ke negara dalam bentuk dividen. Dari catatan Bisnis, tahun ini total dividen yang berasal dari BUMN ditargetkan mencapai Rp80,2 triliun. Angka itu diyakini dapat tercapai mengingat sampai dengan Mei 2023, total dividen yang telah disetorkan mencapai Rp41,7 triliun, melonjak signifikan bila dibandingkan dengan raihan pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp25,1 triliun. Secara tahunan, target penerimaan dividen pada tahun ini tergolong tinggi. Pada 2020, dividen yang disetorkan BUMN mencapai Rp43,9 triliun, menurun menjadi Rp29,5 triliun pada 2021 ketika awal pandemi Covid-19. Target tersebut kembali dinaikkan pada tahun ini karena optimisme pemerintah terhadap perbaikan kinerja BUMN, mengingat konsumsi masyarakat mulai menguat seiring dengan tingginya mobilitas masyarakat. Tak hanya itu, bangkitnya harga komoditas seperti batu bara juga turut mendorong kinerja BUMN di sektor tersebut seperti PT Bukit Asam Tbk. Kontribusi BUMN terhadap perekonomian nasional tentunya harus terus ditingkatkan meski di sisi lain, pemerintah sebagai pemegang saham terbesar juga dituntut untuk menjaga pertumbuhan kinerja dengan memberikan ruang ekspansi pada badan usaha tersebut.

Bukukan Laba, Bumi Serpong Damai Tidak Bagikan Dividen

KT3 01 Jul 2023 Kompas

Meskipun membukukan laba bersih, emiten properti PT Bumi Serpong Damai Tbk memutuskan tidak membagikan dividen kepada para pemegang saham. Laba akan digunakan sepenuhnya untuk memperkuat modal. Sepanjang 2022, Bumi Serpong Damai membukukan laba besih Rp 2,43 triliun. ”Bumi Serpong Damai mencatatkan seluruh laba setelah dikurangi dana cadangan ke dalam saldo ekuitas untuk memperkuat struktur modal dan sebagai modal kerja,” kata Direktur Bumi Serpong Damai Hermawan Wijaya, Jumat (30/6). (Yoga)

PERUSAHAAN PEMBIAYAAN : Dividen Tak Ganggu Ekspansi

HR1 01 Jul 2023 Bisnis Indonesia

Sejumlah perusahaan pembiayaan menyatakan alokasi belanja modal tahun ini aman meskipun mereka royal membagikan dividen kepada pemegang saham. PT Clipan Finance Indonesia Tbk., misalnya, memastikan pembagian dividennya himgga 128% dari laba bersih tahun buku 2022 tidak akan mengganggu rencana ekspansi. Emiten berkode saham CFIN ini membagikan dividen tunai Rp398,4 miliar atau Rp100 per saham. Jumlah ini setara dengan 128% dari laba bersih tahun lalu Rp310,72 miliar. “Enggak masalah karena ekuitas atau laba ditahan Clipan masih besar,” kata Di­rektur Utama Clipan Finance Harjanto Tjitohardjojo kepada Bisnis, Jumat (30/6). Posisi laba ditahan Clipan Finance mencapai Rp3,7 trilliun. Dengan jumlah itu, menurut Harjanto, perusahaan masih dapat melaksanakan ekspansi dan proyek-proyek perbaikan proses kerja. Laba bersih Clipan tahun lalu melesat 571,02% dari tahun sebelumnya yang hanya Rp46,3 miliar. Harjanto berharap lonjakan laba dapat mengerek naik return on equity (ROE). PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk., yang membagikan dividen 50% dari laba bersih 2022, juga menyatakan tetap dapat mengalokasikan sebagian profit untuk belanja modal. Emiten pembiayaan berkode saham ADMF itu membagikan dividen Rp803 miliar atau separuh dari laba bersih tahun lalu senilai Rp1,6 triliun. Chief Financial Officer Adira Finance Sylvanus Gani Mendrofa mengatakan sisa yang tidak dibagikan sebagai dividen masih cukup untuk investasi dan ekspansi bisnis sebagai eksekusi inisiatif nonjangka pendek.

AKSI KORPORASI : LUBER DIVIDEN EMITEN KONSUMER

HR1 23 Jun 2023 Bisnis Indonesia

Emiten-emiten di sektor barang konsumer masih royal menebar dividen tahun buku 2022 kepada para pemegang sahamnya. Prospek margin laba yang lebih tebal pada 2023 membuka peluang peningkatan dividen. Dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) yang digelar pada Kamis (22/6), PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) memutuskan untuk membagikan dividen final dengan nilai Rp2,70 triliun untuk tahun buku 2022. Apabila ditambah dengan dividen interim, total dividen tahun buku 2022 yang dibagikan UNVR mencapai Rp5,34 triliun. Dengan total saham UNVR mencapai 38,15 miliar saham, maka dividen final per saham sebesar Rp71. Unilever telah membagikan dividen interim sebesar Rp69 per saham pada 15 Desember 2022 sehingga total dividen UNVR mencapai Rp140 per saham. Jumlah itu turun tipis dari dividen per saham tahun buku 2021 senilai Rp141. Presiden Direktur Unilever Indonesia Ira Noviarti mengatakan pangsa pasar UNVR cenderung tetap meningkat di tengah kontraksi pasar.   

Di sektor konsumer, PT Multi Bintang Indonesia Tbk. (MLBI), PT Mayora Indah Tbk. (MYOR), PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. (ROTI), dan PT Ultra­­jaya Milk Industry Tbk. (ULTJ) juga menebar dividen bernilai ratusan miliar rupiah. (Lihat infografis) Bahkan, ROTI mengalokasikan hampir seluruh laba bersih 2022 Rp430,22 miliar ditambah saldo laba ditahan yang belum ditentukan penggunaanya sebesar Rp177,47 miliar sebagai dividen. Alhasil dividen per saham ROTI untuk tahun buku 2022 mencapai Rp106,55. Pada Jumat (23/6), emiten konsumer Grup Salim juga mengagendakan RUPST untuk penetapan penggunaan laba bersih tahun buku 2022. Berdasarkan laporan keuangan 2022, PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) meraih laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp6,35 triliun dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) mengantongi laba bersih Rp4,58 triliun. Putu Chantika Putri, analis Ciptadana Sekuritas Asia, mempertahankan peringkat overweight untuk sektor konsumer. Peringkat itu sejalan dengan ekspektasi menguatnya daya beli. Analis Buana Capital James Stanley Widjaja memberikan rekomendasi beli untuk CMRY dengan target harga Rp5.400 per saham dalam 12 bulan ke depan.

Waspada Jebakan Cuan Dividen Jumbo

HR1 19 Jun 2023 Kontan

Guyuran dividen terus membanjiri investor saham di dalam negeri. Menjelang tutup kuartal II-2023, sejumlah emiten yang tergabung dalam kumpulan indeks LQ45 mulai mengumumkan rencana pembagian dividen kepada para pemegang saham. Tak tanggung-tanggung, beberapa emiten LQ45 siap menyebar dividen dengan nilai jumbo. Terbaru, pekan lalu, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengumumkan bakal membagikan dividen dengan total nilai Rp 12,56 triliun. Tak mau kalah dengan saudaranya, BUMN pelat merah lain juga siap menebar dividen jumbo adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Antam siap mengalokasikan 50% laba bersih tahun buku 2022 sebagai dividen, setara Rp 1,91 triliun. Meski menggiurkan, analis mengingatkan investor untuk mencermati pergerakan saham emiten. Pasalnya, ada potensi pembalikan harga yang menghantui pergerakan saham emiten tersebut. Apalagi, saat ini Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah memberlakukan batas auto rejection bawah (ARB) 15%. Equity Analyst Kanaka Hita Solvera, William Wibowo menilai, ketentuan ARB 15%, berpotensi membalikkan harga saham lebih tinggi. Research & Consulting Manager Infovesta Utama Nicomidus Kristiantoro menimpali, secara historis, saham emiten dengan dividen payout ratio tinggi akan mengalami pembalikan harga pada tanggal ex date.

Musim Dividen, Simpanan Kakap Melambat

KT1 17 Jun 2023 Investor Daily

JAKARTA,ID-Industri perbangkan mencatatkan simpanan dengan tiering nominal jumbo atau lebih dari Rp 5 miliar mencapai Rp4.240 triliun pada April 2023, atau terkontraksi 1% secara bulanan (month to month/mtm). Perlambatan simpanan kelas kakap tersebut dinilai karena musim pembagian dividen,  sehingga terjadi  penarikan dana. Menanggapi hal tersebut, Direktur Center of economic and Law Studies (Cellios) Bhima Yudhistira mengatakan, kalau dilihat bulan April adalah moment  seasonal. Sehingga, simpanan terutama pada golongan  lebih dari Rp 5 miliar. "Itu April banyak perusahaan bagi-bagi dividen, jadi dikeluarkan simpanan dari bank, dikasih ke investor. Biasanya invesor asing yang terima dividen langsung di transfer ke negara asal," ujar Bhima kepada Investor Daily, dikutip Jumat, (16/6/2023). Berdasarkan data distribusi simpanan  yang dirilis Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) per April 2023, menunjukkan bahwa simpanan dengan tiering nominal jumbo atau lebih dari Rp5 miliar sebesar Rp 4.240 triliun. Nilai tersebut apabila  dibandingkan dengan akhir 2022, simpanan nasabah tajir per April 2023 juga terkoreksi 3,2% (ytd). Meskipun secara tahunan (year on year/yoy) masih menunjukkan pertumbuhan 10,4%. (Yetede)