;
Tags

Dividen

( 218 )

ICBP–INDF Tebar Dividen Besar

HR1 21 Jun 2025 Bisnis Indonesia

Dua emiten besar Grup Salim, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF), menunjukkan performa keuangan yang solid sepanjang tahun buku 2024 dengan keputusan membagikan dividen jumbo kepada pemegang saham. ICBP menetapkan dividen sebesar Rp2,91 triliun atau Rp250 per saham, sedangkan INDF membagikan Rp2,45 triliun atau Rp280 per saham, yang menjadi dividen per saham tertinggi sejak 2019.

Direktur Utama ICBP Anthoni Salim mengapresiasi kepercayaan para pemegang saham serta menegaskan komitmen untuk mempertahankan profitabilitas dan neraca keuangan yang sehat di tengah tantangan ketidakpastian global 2025. Penjualan bersih ICBP tumbuh 6,90% YoY menjadi Rp72,59 triliun, dengan mi instan sebagai kontributor utama sebesar Rp53,87 triliun.

Di sisi lain, INDF terus menunjukkan konsistensi dalam membagikan dividen sejak 2019. RUPST 2024 juga memutuskan pengangkatan Notariza Taher sebagai Komisaris Independen menggantikan Bambang Brodjonegoro, menandakan penyegaran dalam struktur pengawasan perseroan.

Keputusan pembagian dividen besar ini mencerminkan keberlanjutan kinerja kuat Indofood Group sekaligus menjadi sinyal optimisme kepada investor dalam menghadapi dinamika ekonomi global ke depan.


Danantara Panen Besar dari Dividen BUMN

HR1 16 Jun 2025 Kontan (H)
Menjelang akhir kuartal II-2025, mayoritas emiten BUMN di Bursa Efek Indonesia telah menyelesaikan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) untuk tahun buku 2024, dengan salah satu agenda utamanya adalah pembagian dividen. Dari 27 emiten BUMN, sebanyak 19 perusahaan menyetujui pembagian laba sebagai dividen.

Yang membedakan tahun ini adalah, dividen tidak lagi langsung disetorkan ke Kementerian BUMN, melainkan ke Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, lembaga sovereign wealth fund yang baru dibentuk pada Februari 2025. Danantara kini menjadi pemegang konsolidasi BUMN dan berwenang mengelola dana investasi negara, termasuk dari dividen BUMN.

Total dividen dari emiten BUMN yang masuk ke Danantara diperkirakan mencapai Rp 81,09 triliun, belum termasuk dari BUMN non-Tbk seperti PLN dan Pertamina. Ini menjadi kontribusi besar terhadap target pendapatan negara dari kekayaan dipisahkan dalam APBN 2025, yakni sebesar Rp 90 triliun, naik dari Rp 86 triliun tahun sebelumnya.

Untuk memenuhi target ini, emiten BUMN seperti Bank Mandiri (BMRI) dan Telkom Indonesia (TLKM) menaikkan dividend payout ratio mereka masing-masing ke 85% dan 89%. Namun, pengamat pasar modal Budi Frensidy dari Universitas Indonesia mengingatkan adanya risiko bahwa pembagian dividen besar ini dapat mengorbankan dana ekspansi perusahaan (capex), seperti terjadi pada ANTM yang dua tahun berturut-turut membagikan 100% laba bersihnya sebagai dividen.

Senada, Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas menyebutkan bahwa meski ekspansi bisa tertahan, namun aliran investasi dari Danantara diharapkan mampu menstimulasi ekonomi nasional dan membantu emiten BUMN yang sedang membutuhkan dana seperti Garuda Indonesia (GIAA).

Maximilianus Nico Demus dari Pilarmas Investindo Sekuritas menambahkan bahwa keberhasilan Danantara akan bergantung pada kapasitas pengelolaan dan pengaruh politik, namun dia optimistis emiten sudah mempersiapkan rencana bisnisnya dengan matang di tengah transisi sistem pengelolaan dividen ini.

Pembagian dividen besar kepada Danantara menandai pergeseran strategi pengelolaan kekayaan negara, yang bisa menjadi peluang bagi investasi jangka panjang, namun tetap menyisakan tantangan bagi likuiditas dan ekspansi emiten BUMN dalam jangka pendek.

Dividen Tambang Masih Menggiurkan Investor

HR1 10 Jun 2025 Kontan
Pekan ini menjadi momentum penting bagi investor yang ingin meraih keuntungan dari dividen saham emiten sektor pertambangan dan energi, karena sejumlah emiten sedang memasuki periode cum dividen—hari terakhir pembelian saham agar berhak menerima dividen.

Beberapa emiten yang tercatat membagikan dividen minggu ini antara lain PT Mitrabara Adiperdana Tbk (MBAP), PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO). MBAP akan membagikan Rp 38 per saham, ADMR sekitar Rp 47,27 per saham, dan PGEO naik dari Rp 47,77 menjadi Rp 53 per saham. Sementara itu, ADMR dan ADRO menunjukkan dividend yield yang menarik masing-masing sebesar 4,6% dan 7,4%.

Oktavianus Audi, VP di Kiwoom Sekuritas, menyatakan bahwa saham pertambangan seperti ADMR dan ADRO sangat menarik karena menawarkan yield tinggi. Namun, ia juga mengingatkan adanya potensi koreksi harga saham setelah cum date, terutama pada saham dengan yield di atas 5%, akibat aksi profit taking.

Ekky Topan, analis dari Infovesta Utama, menyoroti bahwa PGAS bahkan memberikan yield hingga 10%, mencerminkan stabilitas keuangan dan komitmen emiten dalam membagikan dividen. Ia juga menyarankan investor berburu dividen masuk setelah ex date, saat harga saham mulai stabil, khususnya pada saham seperti ADRO dan ADMR yang dianggap punya kombinasi baik antara yield, valuasi, dan kesehatan keuangan.

Praska Putrantyo, CEO Edvisor Provina Visindo, melihat fundamental ADRO menjanjikan, apalagi dengan arah transformasi menuju energi hijau. Ia juga menyarankan agar investor jangka panjang yang masuk saat musim dividen tetap meninjau prospek harga komoditas, karena itu akan memengaruhi performa emiten di sisa tahun 2025.

Pembagian dividen sektor pertambangan pekan ini menjadi peluang strategis bagi investor jangka pendek dan panjang. Namun, tokoh-tokoh seperti Oktavianus Audi, Ekky Topan, dan Praska Putrantyo menekankan pentingnya strategi masuk—baik sebelum maupun setelah ex date—dengan mempertimbangkan fundamental emiten, volatilitas harga saham, dan prospek sektor komoditas.

Musim Dividen Jadi Magnet Investor Saham

HR1 04 Jun 2025 Kontan (H)
Pasar saham Indonesia akan menerima suntikan dana dari pembagian dividen sejumlah emiten besar senilai total Rp 51,47 triliun pada Juni 2025. Emiten seperti PT Telkom Indonesia (TLKM) dan PGAS menjadi penyumbang terbesar, dengan yield dividen menarik hingga mendekati 10%. Likuiditas bursa diperkirakan akan meningkat sementara waktu, namun para analis menilai dampak ini bersifat jangka pendek dan tidak cukup kuat untuk membalik arah pasar secara keseluruhan.

Menurut Rully Arya Wisnubroto, Head of Research Mirae Asset, pembagian dividen hanya akan menjadi pemanis sesaat, karena ketidakpastian global dan lemahnya fundamental domestik masih akan menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ia memperkirakan IHSG akan bergerak di kisaran 6.925–7.150. Rully juga mengingatkan potensi capital outflow akibat perlambatan ekonomi dan ketidakpastian kebijakan pemerintah.

Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas juga sependapat bahwa dividen tinggi dapat mendorong minat beli, terutama pada saham big caps strategis dengan valuasi menarik. Namun, dia menegaskan bahwa arus dana asing tidak serta-merta masuk, dan IHSG akan bergerak mixed di rentang 7.000–7.250.

Sementara itu, Muhammad Wafi dari Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) mengingatkan akan adanya aksi jual setelah tanggal ex-dividen, terutama pada saham yang fundamentalnya lemah. Ia juga menyoroti bahwa dividen dengan payout ratio sangat tinggi bisa menjadi tanda kurangnya rencana pertumbuhan jangka panjang perusahaan.

Di sisi lain, arus keluar dana asing tetap menjadi ancaman, karena sebagian besar dividen juga mengalir ke investor asing, seperti Unilever Indonesia, di mana 84,99% dividen akan dikirim ke pengendali asingnya. Selain itu, kebijakan tarif impor baja dan tren global menuju aset safe haven seperti emas menambah tekanan pada pasar saham domestik.

Meskipun musim dividen memberi harapan pada peningkatan likuiditas dan minat investor, para tokoh seperti Rully Arya Wisnubroto, Oktavianus Audi, dan Muhammad Wafi sepakat bahwa dividen bukan katalis jangka panjang yang cukup kuat, dan ketidakpastian makroekonomi serta arus keluar dana asing tetap mendominasi arah pasar saham ke depan.

Musim Dividen Jadi Magnet Investor Saham

HR1 04 Jun 2025 Kontan (H)
Pasar saham Indonesia akan menerima suntikan dana dari pembagian dividen sejumlah emiten besar senilai total Rp 51,47 triliun pada Juni 2025. Emiten seperti PT Telkom Indonesia (TLKM) dan PGAS menjadi penyumbang terbesar, dengan yield dividen menarik hingga mendekati 10%. Likuiditas bursa diperkirakan akan meningkat sementara waktu, namun para analis menilai dampak ini bersifat jangka pendek dan tidak cukup kuat untuk membalik arah pasar secara keseluruhan.

Menurut Rully Arya Wisnubroto, Head of Research Mirae Asset, pembagian dividen hanya akan menjadi pemanis sesaat, karena ketidakpastian global dan lemahnya fundamental domestik masih akan menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ia memperkirakan IHSG akan bergerak di kisaran 6.925–7.150. Rully juga mengingatkan potensi capital outflow akibat perlambatan ekonomi dan ketidakpastian kebijakan pemerintah.

Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas juga sependapat bahwa dividen tinggi dapat mendorong minat beli, terutama pada saham big caps strategis dengan valuasi menarik. Namun, dia menegaskan bahwa arus dana asing tidak serta-merta masuk, dan IHSG akan bergerak mixed di rentang 7.000–7.250.

Sementara itu, Muhammad Wafi dari Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) mengingatkan akan adanya aksi jual setelah tanggal ex-dividen, terutama pada saham yang fundamentalnya lemah. Ia juga menyoroti bahwa dividen dengan payout ratio sangat tinggi bisa menjadi tanda kurangnya rencana pertumbuhan jangka panjang perusahaan.

Di sisi lain, arus keluar dana asing tetap menjadi ancaman, karena sebagian besar dividen juga mengalir ke investor asing, seperti Unilever Indonesia, di mana 84,99% dividen akan dikirim ke pengendali asingnya. Selain itu, kebijakan tarif impor baja dan tren global menuju aset safe haven seperti emas menambah tekanan pada pasar saham domestik.

Meskipun musim dividen memberi harapan pada peningkatan likuiditas dan minat investor, para tokoh seperti Rully Arya Wisnubroto, Oktavianus Audi, dan Muhammad Wafi sepakat bahwa dividen bukan katalis jangka panjang yang cukup kuat, dan ketidakpastian makroekonomi serta arus keluar dana asing tetap mendominasi arah pasar saham ke depan.

Dividen BUMN Jadi Mesin Pendorong Ekonomi

HR1 30 May 2025 Bisnis Indonesia (H)


Pembagian dividen jumbo oleh sejumlah emiten BUMN seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS), PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM), dan PT Semen Indonesia Tbk. (SMGR) menjadi sentimen kuat yang diperkirakan akan mendongkrak kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam jangka pendek serta membuka peluang cuan bagi investor.

Tokoh seperti Fath Aliansyah Budiman dari Maybank Sekuritas dan Felix Darmawan dari Panin Sekuritas menilai bahwa pembagian dividen tersebut mencerminkan kinerja keuangan yang sehat dan fundamental perusahaan yang solid. Hal ini juga memicu optimisme di kalangan investor, termasuk terhadap saham-saham BUMN perbankan seperti BBRI, BMRI, dan BBNI.

IDX BUMN20 pun tercatat tampil paling kinclong dibandingkan indeks utama lainnya, tumbuh 11,37% dalam sebulan terakhir, menandakan bahwa saham-saham BUMN saat ini semakin prospektif. Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset dan Indy Naila dari Provina Visindo juga menyoroti bahwa momentum ini memberi peluang besar tidak hanya dari capital gain, tetapi juga dari hasil dividen.

Selain menguntungkan investor, kebijakan dividen jumbo ini turut memperkuat peran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) sebagai sovereign wealth fund baru yang akan mengelola dan menginvestasikan kembali dana dari dividen BUMN, menciptakan siklus positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Tokoh dari kalangan emiten, seperti Arsal Ismail (Direktur Utama PTBA) dan Nicolas D. Kanter (Direktur Utama ANTM), juga menegaskan bahwa pembagian dividen merupakan bentuk tanggung jawab kepada pemegang saham sekaligus strategi berkelanjutan yang mempertimbangkan tantangan jangka panjang seperti net zero emission dan perubahan iklim ekonomi global.

Dengan demikian, dividen jumbo BUMN saat ini bukan sekadar distribusi laba, tetapi menjadi instrumen strategis yang memperkuat pasar modal domestik, mendukung fiskal negara melalui Danantara, serta menjadi daya tarik investasi, baik bagi investor lokal maupun asing.


Kolaborasi BUMN dan Fiskal Kunci Pemulihan

HR1 30 May 2025 Bisnis Indonesia

Musim dividen tahun ini menampilkan semangat baru, terutama dari emiten BUMN, dengan pembagian dividen jumbo yang mencerminkan soliditas fundamental dan kesehatan arus kas perusahaan. PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) menjadi sorotan utama setelah mengumumkan dividen besar, masing-masing sebesar Rp21,04 triliun (89% dari laba bersih) dan Rp4,4 triliun (80%), menyusul tren serupa dari bank-bank Himbara.

Kebijakan dividen ini langsung berdampak positif terhadap pasar saham, dengan kenaikan signifikan pada saham-saham BUMN seperti BBRI, BBNI, TLKM, dan PGAS. Menurut artikel ini, pasar merespons dengan optimisme karena melihat sinyal keberlanjutan bisnis dan tata kelola yang sehat.

Lebih jauh, pemerintah memanfaatkan sebagian dana dividen untuk memperkuat modal awal Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), sebuah sovereign wealth fund baru. Hal ini, menurut pandangan media dan pelaku pasar, menunjukkan adanya sinergi antara strategi korporasi BUMN dan kebijakan fiskal nasional, yang berpotensi menjadi motor penggerak reformasi korporasi sekaligus memperkuat struktur pasar keuangan domestik.

Kebijakan ini mendapat dukungan dari tokoh Agus Harimurti Yudhoyono selaku pejabat pemerintah di bidang infrastruktur dan pengelolaan aset strategis negara, serta sinyal dukungan dari Presiden Prabowo Subianto dalam konteks pembangunan nasional jangka panjang melalui penguatan institusi keuangan negara.

Namun, tantangan seperti fluktuasi harga komoditas, risiko geopolitik, dan kebutuhan transformasi energi tetap harus diantisipasi. Oleh karena itu, strategi dividen yang berkelanjutan harus disertai dengan penguatan fundamental perusahaan—baik melalui efisiensi, digitalisasi, maupun diversifikasi.

Dengan tata kelola yang transparan dan kebijakan yang konsisten, dividen bukan hanya menjadi sarana distribusi keuntungan, tetapi instrumen strategis untuk membangun kepercayaan pasar dan daya saing ekonomi Indonesia di mata investor, baik lokal maupun global.


Dividen Jumbo Perusahaan Gas Negara

KT1 30 May 2025 Investor Daily (H)
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN kembali melanjutkan tradisi pembiayaan dividen jumbo, dengan menetapkan  dividen tahun buku 2024 sebesar US$ 271,5 juta atau setara Rp4,44 triliun. Dividen yang mencapai 80% dari perolehan laba bersih 2024 ynag senilai US$ kepada seluruh 339,4 juta tersebut, akan didistribusikan kepada seluruh pemegang 24,24 miliar saham PGN. Secara historis, anak usaha PT Pertamina ini konsisten membagikan dividen dalam jumlah besar. Tahun ini, emiten gas ini membagikan dividen tahun buku 2023 sebesar US$ 222,43 juta atau 80% dari perolehan laba bersih yang mencapai US$ 278,09 juta. Setahun sebelumnya, PGN juga membagikan dividen jumbo sebesar US$ 228,36 juta atau 70% dari laba bersih 2022 yang senilai US$ 326,2 juta. Dan pada 2022, perseroan membagikan dividen tahun buku 2021 sebesar US$ 205,95 juta atau 67,8% dari laba bersih US$ 303,82 juta. Saat ini, sebanyak 13,81 miliar saham atau 59,96% saham PGAS dikuasai oleh PT Pertamina dan sisanya 10,43 miliar saham atau 43,04% dimiliki publik. Sementara ini, di lantai bursa, saham PGAS telah menguat Rp4,3% dalam satu pekan terakhir ke level Rp 1.820. Sekretaris Perusahaan PGN Fajriyah Usman mengatakan, rencana pembagian dividen tahun buku 2024 telah disetujui dalam RUPST perseroan pada rabu, (28/05/2025). (Yetede)

Musim Dividen, Investor Panen Cuan

HR1 27 May 2025 Bisnis Indonesia

Sedikitnya 26 emiten dijadwalkan membayarkan dividen final pada pekan ini, yakni periode 26–30 Mei 2025, dengan beberapa perusahaan menyiapkan dana dividen dalam jumlah besar serta yield yang menarik bagi para investor. PT United Tractors Tbk. (UNTR), bagian dari Grup Astra, menjadi emiten dengan pembagian dividen final terbesar pekan ini, yaitu sebesar Rp5,38 triliun. Presiden Direktur UNTR mencatat bahwa dividen ini didukung oleh kinerja sektor alat berat dan pertambangan yang solid, dengan laba bersih tahun lalu mencapai Rp19,53 triliun. Dividen per saham UNTR sebesar Rp1.487 menghasilkan yield sekitar 6,84%.

PT Surya Citra Media Tbk. (SCMA) juga akan membagikan dividen final senilai Rp1,14 triliun atau Rp18 per saham, dengan yield mencapai 10,71% berdasarkan harga saham terakhir. SCMA mencatat kenaikan laba bersih hingga 77,7% dan membagikan dividen tambahan dari laba ditahan, yang menegaskan performa keuangan perusahaan yang kuat.

Selain itu, tiga emiten lain yang akan membagikan dividen final besar adalah PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) dengan total dividen Rp1,77 triliun, PT Cita Mineral Investindo Tbk. (CITA) dengan Rp1,29 triliun, serta PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) yang menyiapkan dana dividen final sebesar Rp1,05 triliun, dengan pembayaran dijadwalkan pada 19 Juni 2025.

Momentum pembagian dividen yang menarik ini diharapkan menjadi stimulus positif bagi pasar saham dan mencerminkan bahwa kinerja emiten-emiten tersebut tetap dalam kondisi prima. Para investor pun memanfaatkan periode cum dividen yang padat untuk mengakumulasi saham dengan potensi imbal hasil yang menggiurkan.


BSI Bagikan Dividen

KT1 19 May 2025 Investor Daily (H)
PT Bank Syariah Indonesia Tbk )BSI) baru saja menggelar Rapat Umum Saham Tahunan (RUPST) yang menghasilkan beberapa keputusan penting. Salah satunya adalah penunjukkan Anggoro Eko Cahyo sebagai Direktur Utama Perseroan. Selain itu para pemegang saham juga menyetujui pembagian dividen tunai dengan total nilai mencapai Rp 1,05 triliun, yang setara dengan 15% dari keseluruhan laba bersih perusahaan. Jika dihitung per lembar saham, dividen yang akan diterima oleh para pemilik saham bank berkode BRIS ini adalah sekitar  Rp 22,78. Angka ini menunjukkan peningkatan  yang cukup signifikan, yaitu sebesar 22,86% dibandingkan dengan dividen tahun buku 2024 yang tercatat sebesar Rp 18.,54 per lembar saham. Kenaikan ini menjadikan indikasi kuat atas kinerja keuangan BSI yang solid sepanjang tahun 2024. Wakil Direktur Utama BSI Bob Tyasika Ananta mengatakan pembagian dividen tersebut sebagai bentuk komitmen dan apresiasi perseroan terhadao para pemegang saham yang telah senantiasa mendukung pertumbuhan dan perkembangan BSI, di tengah berbagai dinamika kondisi ekonomi dan bisnis. (Yetede)