Dividen
( 218 )Bank Besar Royal Bagi Dividen
Dividen Naik Imbal Hasil IHSG Turun
Dividen Berlimpah Menanti Pemegang Saham
Musim pembagian dividen untuk tahun buku 2024 yang akan dilakukan pada 2025 diperkirakan akan mengalami penurunan, meskipun tetap menarik untuk dicermati oleh investor. Pembagian dividen pada 2024 diperkirakan mencapai Rp322,4 triliun, turun 11,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini terutama disebabkan oleh tidak adanya dividen spesial seperti yang terjadi pada PT Alamtraya Resources Indonesia (ADRO) di 2024.
Namun, sektor finansial dan energi, terutama emiten besar seperti ADRO, Bank BRI (BBRI), Bank BCA (BBCA), dan Bank Mandiri (BMRI), masih diperkirakan akan memberikan dividen yang cukup menarik. Selain itu, perusahaan BUMN juga tetap diharapkan memberikan dividen besar, mengingat kontribusinya yang signifikan terhadap kas negara.
Felix Darmawan, Equity Research Analyst dari Panin Sekuritas, menambahkan bahwa dividen dapat menjadi faktor yang menggairahkan pasar modal, terutama dalam kondisi ketidakpastian global, karena memberikan pengembalian langsung kepada investor. Investor disarankan untuk memilih emiten dengan fundamental yang kuat dan arus kas yang stabil, yang menjamin pembagian dividen berkelanjutan.
Rekomendasi saham dividen tinggi dari Mirae Asset Sekuritas dan Panin Sekuritas mencakup emiten-emiten seperti BBRI, BMRI, PTBA, PGAS, dan TPMA, yang diperkirakan dapat menjadi pilihan menarik di musim pembagian dividen ini.
Dividen Jadi Daya Tarik Saat Pasar Stagnan
PT Timah Tbk TINS Mengisyaratkan Siap untuk Menebarkan Dividen
PT Timah Tbk (TINS) mengisyaratkan siap untuk menebarkan dividen pada tahun buku 2024, setelah berhasil mengukir sebesar Rp 908,78 miliar dibanding FY23 yang menderita rugi sebesar Rp 449,67 miliar. Dari sini, TINS memproyeksikan kinerja akhir 2024 akan melampaui target. Direktur Keuangan dan manajemen Risiko PT Timah Tbk Fina Erliani memastikan, pencapaian kinerja TINS pada kuartal akhir 2024 akan lebih tinggi ketimbang kuartal sebelumnya. Begitu juga dengan kinerja 2025 yang ditargetkan tumbuh baik dari sisi produksi maupun labanya. Hanya saja, untuk rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025 masih dalam proses penyusunan.
“Yang jelas kami pastikan pencapaian akhir 2024 akan lebih tinggi daripada kuartal ketiga dan kemungkinan besar akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan target RKAB 2024,” ucap Fina. Mengacu pada RKAB 2024, PT Timah menargetkan produksi timah di kisaran 19.000-20.000 ton. Sebagai kabar baik, pada kuartal sama tahun sebelumnya. Kemudian dari sisi efisiensi, Fina mengungkapkan, TINS juga berhasil melakukan efisiensi dari hulu hingga hilir, termasuk mampu mengendalikan arus kas dengan selektif terhadap penggunaan belanja modal (capital ekspenditure/capex). “Hal-hal tersebut yang kami lakukan sehingga dari sisi bottom line, kami mampu membukukan laba di kisaran Rp 909 miliar dan harga jual yang kami terima pada tahun ini naik US$ 4.000 jika disbanding tahun sebelumnya,” ujar dia. (Yetede)
PT Adaro Energy Indonesia Tbk Bagikan Dividen Rp 41,7 Triliun ke Para Pemegang Saham Sebesar US$ 2.62 Miliar
Waktunya Menerima Cuan hasil Dividen Interim
PT Bank Central Asia Tbk Memutuskan Pembagian Dividen Interim Tunai
Dividen Jadi Andalan di Tengah Ketidakpastian Bursa
Musim pembagian dividen interim bergulir usai rilis laporan keuangan periode sembilan bulan 2024. Aksi ini bisa menjadi pemanis di tengah bursa saham yang sedang menukik cukup dalam. Terbaru, ada tiga emiten yang mengumumkan pembayaran dividen interim. Pertama, PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) yang akan membagikan dividen sebesar Rp 20 per saham. Selanjutnya, PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) yang akan membayar dividen interim Rp 5 per saham. Selain itu, ada PT MPX Logistics International Tbk (MPXL) dengan dividen interim senilai Rp 0,75 per saham. Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi untuk ketiga emiten itu dijadwalkan pada 14 November 2024. Selain deretan deviden interim tersebut, ada PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) yang akan menebar tambahan dividen tunai final dengan jumlah jumbo. Totalnya mencapai US$ 2,63 miliar atau sekitar Rp 41,42 triliun. Selanjutnya ada PT Pelayaran Kurnia Lautan Semesta Tbk (KLAS) yang akan membagikan dividen saham dengan rasio 12:1. Artinya, setiap 12 saham lama akan mendapat 1 saham baru. Praktisi Pasar Modal & Founder Warkop Saham, Raden Bagus Bima mengatakan, pembagian dividen maupun dividen saham umumnya bakal menjadi sentimen positif yang bisa mendongkrak harga saham emiten tersebut. Hanya saja, dampak saat ini kemungkinan tidak akan langsung terasa. Bima menambahkan, pelaku pasar akan lebih memperhatikan pembagian dividen sekaligus aksi korporasi yang dilakukan ADRO.
Di samping besaran dividen yang jumbo, investor kemungkinan akan tertarik mengikuti Penawaran Umum oleh Pemegang Saham (PUPS) dalam proses divestasi AAI.
Head Customer Literation and Education
Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi menilai, kemungkinan pelaku pasar akan lebih selektif. Di tengah musim pembagian dividen interim, ada sentimen eksternal yang perlu dicermati. Mulai efek Pemilihan Presiden Amerika Sertikat (AS) hingga harga komoditas.
Investor dapat memanfaatkan momentum pembagian dividen dan potensi penguatan harga pada saham-saham tersebut. Rekomendasinya
speculative buy
ASSA dan TAPG dengan target harga Rp 770 dan Rp 1.000. Kemudian
trading buy
MARK untuk target Rp 1.220.
Founder
WH Project, William Hartanto mengingatkan, pembagian dividen tidak selalu meningkatkan minat pelaku pasar. Apalagi jika
dividend yield
-nya mini. Ada beberapa saham yang harganya naik sesaat, seperti PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE). Ada juga yang sebelumnya sudah naik signifikan seperti KLAS. Kemudian, ada saham yang sedang melandai seperti SCMA. Nah, dengan adanya pembagian dividen, William melihat SCMA berpeluang naik hingga ke level Rp 145.
Keuangan BUMN Terancam Target Dividen Rp 90 Triliun
Pada periode akhir kepemimpinan Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir, pemerintah mencanangkan target tinggi setoran dividen perusahaan pelat merah ke kas negara pada tahun 2025 mencapai Rp 90 triliun. Angka ini lebih tinggi dari target setoran BUMN kekantong negara tahun ini sebesar Rp 85,4 triliun. Target setoran dividen BUMN sebesar Rp 90 triliun ini bahkan lebih tinggi dari pendapatan pos kekayaan negara dipisahkan yang berasal dari dividen BUMN yang sebelumnya tertera dalam Nota Keuangan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025 sebesar Rp 86 triliun. Dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR, Septembe lalu, Erick menyatakan, keputusan tersebut telah diresmikan oleh Badan Anggaran DPR. ”Saya baru dapat info, sudah diketuk oleh Banggar, untuk dividen 2025 kami ditargetkan Rp 90 triliun. Saya rasa ini angka yang fantastis,” ujarnya, dikutip dari kanal Youtube Komisi VI DPR.
Di balik upaya pemerintah mempertahankan pertumbuhan setoran dividen BUMN, kas keuangan perusahaan-perusahaan pelat merah berisiko menghadapi keterbatasan untuk melakukan aksi korporasi, baik itu ruang dalam melakukan ekspansi maupun investasi. Pengamat BUMN dari Datanesia Institute, Herry Gunawan, mengatakan, target dividen raksasa yang dipatok pemerintah tahun depan cukup berisiko menghadang laju keberlanjutan bisnis mereka di tengah tekanan ekonomi global. Terlebih, ada kecenderungan memaksa BUMN menyetorkan laba di ambang batas kewajaran. ”Ada sinyal pemaksaan ke BUMN untuk setoran laba di luar kebiasaannya. Kalau dilihat dari indikator yang ada, BUMN seolah dipaksa untuk menyetorkan dividen lebih besar,” ujar Herry saat dihubungi Kompas, Selasa (1/10/2024). Hal itu tecermin dari rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) tiga BUMN penyumbang dividen terbesar pada 2023, yaitu BRI, PT Pertamina (Persero), dan Bank Mandiri.
Tahun lalu, rasio pembayaran dividen rata-rata ketiganya mencapai 26 persen, melonjak dibandingkan 2022 dan 2021 yang masing-masing 17,1 persen dan 18 persen. Oleh karena itu, dia memandang target penerimaan negara dari dividen BUMN pada 2025 ini terlalu ambisius. Terlebih target ini dicanangkan pada saat ruang investasi perusahaan pelat merah dari perolehan laba bersih juga berisiko menyempit akibat perlambatan ekonomi global. Di sisi lain, tantangan ekonomi yang kemungkinan masih berat hingga akhir tahun ini menjadikan sangat sulit bagi BUMN untuk dapat mengerek kinerjanya secara signifikan. Sebagai gambaran, empat dari tujuh emiten BUMN penghuni indeks IDX High Dividend 20 mengalami penurunan laba pada semester I-2024. ”Target dividen tersebut tidak selaras dengan kenaikan kinerjanya, khususnya laba. Jadi, ada kecenderungan pemaksaan kepada BUMN untuk menyisihkan laba lebih besar dari biasanya sebagai dividen untuk pemerintah,” kata Herry. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Credit Suisse Tepis Krisis Perbankan
17 Mar 2023 -
Tren Thrifting Matikan Industri TPT
13 Mar 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023









