;
Tags

Dividen

( 218 )

Bank Besar Royal Bagi Dividen

KT1 06 Feb 2025 Investor Daily (H)
Sejumlah bank besar telah mengumumkan perolehan laba bersih sepanjang tahun 2024. Dengan pencapaian kinerja yang solid, terdapat indikasi pembagian dividen dalam nominal jumbo kepada para pemegang saham. Seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbak (BMRI) dan entitas anak yang membukukan laba bersih yang dapat diartikulasikan kepada pemilik senilai Rp55,78 triliun pada 2024, tumbuh mini 1,31% secara tahunan (year on year/yoy). Perolehan tersebut didukung dari pertumbuhan kredit yang tinggi. Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi menjelaskan, Bank Mandiri terus memperkuat perannnya dalam mengoptimalkan ekosistem wholesale untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional yan berkelanjutan. "Hingga akhir tahun 2024, realisasi kredit Bank Mandiri secara konsolidadi mencapai Rp1.670,55 triliun naik 19,5% (yoy), dengan pertumbuhan yang tetap solid di beberapa segmen utama.  Kredit wholesale yang menjadi core business perseroan terus menjadi pendorong utama penyaluran kredit," tutur Darmawan. Pada kesempatan yang sama, Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Sigit Prastowo mengungkapkan bahwa perseroan selalu menjaga rasio pembayaran dividen di level 60% dari laba bersih. (Yetede)

Dividen Naik Imbal Hasil IHSG Turun

KT3 15 Jan 2025 Kompas
Penurunan harga saham mayoritas perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia hingga awal 2025 tidak selalu menjadi kabar buruk. Investor masih dapat menemukan peluang keuntungan melalui dividen saham dari berbagai sektor industri dengan kinerja fundamental yang solid. Head of Proprietary Investment Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Handika Soetoyo, dalam acara Media Day, di Jakarta, mengungkapkan, saat ini banyak saham di bawah harga wajar atau undervalued karena nilai fundamentalnya yang lebih baik. IHSG terus turun setelah mencetak rekor di level 7.900 pada September 2024. Pada Selasa (14/1/2024), IHSG bahkan kembali terjerumus ke bawah level 7.000, tepatnya 6.981 pada penutupan perdagangan sesi pertama. Situasi ini disebabkan keluarnya dana investor asing karena sentimen global, terutama dari Amerika Serikat. Penurunan harga saham, menurut data yang dipaparkan Handika, bahkan telah terjadi dalam lima tahun terakhir. Tren ini terbaca dari indikator price earning ratio (PER) dari rata-rata harga saham di IHSG yang sudah berada di angka 11, lebih rendah dari rasio wajar di 16.

Semakin rendah angka PER artinya harga saham semakin turun. Sebaliknya, indikator imbal hasil dividen atau dividend yield terus meningkat ke level sekitar 4 persen, atau dua kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir. Dividend yield mengukur keuntungan yang diterima investor melalui pembagian laba perusahaan. Indikator ini membagi nilai dividen per lembar saham dengan harga suatu saham. ”Kalau harga sahamnya naik, otomatis dividend yield-nya mengecil. Kalau harga sahamnya turun, otomatis dividend yield-nya besar,” kata Handika. Pada musim pembagian dividen 2024, perusahaan energi PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mencetak dividend yield sebesar 49,9 persen. Selain ADRO, besaran dividend yield saham di jajaran sepuluh besar beragam dari rentang 12,2-20,5 persen. Sektor energi menjadi mayoritas emiten yang memiliki dividend yield tertinggi.

Dengan memperhatikan besaran dividend yield suatu saham, investor bisa mendapatkan keuntungan dari pembagian dividen, selain daripada capital gain atau kenaikan hargasuatu saham. Investor akan mendapat dividen jika membeli saham maksimal saat cum dividend date (cum date) atau tanggal di mana seorang investor masih berhak mendapatkan dividen dari perusahaan. Cum date suatu saham biasanya akan diumumkan jelang masa rapat umum pemegang saham (RUPS). Pembagian dividen bisa dilakukan dua kali, yaitu dividen interim dan dividen tahunan. Tahun 2025 ini, musim pembagian dividen tahunan dari tahun buku 2024 akan dilakukan mulai sekitar Maret. Kemudian, pembagian dividen interim tahun buku 2025 akan menyusul jelang akhir tahun. Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Samsul Hidayat, pada konferensi penutupan bursa pada akhir 2024, juga melaporkan bahwa sektor energi menjadi penyumbang dividen terbesar dengan nilai Rp 75,60 triliun per 24 Desember 2024. (Yoga)

Dividen Berlimpah Menanti Pemegang Saham

HR1 15 Jan 2025 Bisnis Indonesia (H)

Musim pembagian dividen untuk tahun buku 2024 yang akan dilakukan pada 2025 diperkirakan akan mengalami penurunan, meskipun tetap menarik untuk dicermati oleh investor. Pembagian dividen pada 2024 diperkirakan mencapai Rp322,4 triliun, turun 11,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini terutama disebabkan oleh tidak adanya dividen spesial seperti yang terjadi pada PT Alamtraya Resources Indonesia (ADRO) di 2024.

Namun, sektor finansial dan energi, terutama emiten besar seperti ADRO, Bank BRI (BBRI), Bank BCA (BBCA), dan Bank Mandiri (BMRI), masih diperkirakan akan memberikan dividen yang cukup menarik. Selain itu, perusahaan BUMN juga tetap diharapkan memberikan dividen besar, mengingat kontribusinya yang signifikan terhadap kas negara.

Felix Darmawan, Equity Research Analyst dari Panin Sekuritas, menambahkan bahwa dividen dapat menjadi faktor yang menggairahkan pasar modal, terutama dalam kondisi ketidakpastian global, karena memberikan pengembalian langsung kepada investor. Investor disarankan untuk memilih emiten dengan fundamental yang kuat dan arus kas yang stabil, yang menjamin pembagian dividen berkelanjutan.

Rekomendasi saham dividen tinggi dari Mirae Asset Sekuritas dan Panin Sekuritas mencakup emiten-emiten seperti BBRI, BMRI, PTBA, PGAS, dan TPMA, yang diperkirakan dapat menjadi pilihan menarik di musim pembagian dividen ini.




Dividen Jadi Daya Tarik Saat Pasar Stagnan

HR1 25 Nov 2024 Kontan
Pembagian dividen emiten besar terus menjadi sorotan di pasar saham pekan ini, dengan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) sebagai salah satu yang paling menarik perhatian.

ADRO, yang dimiliki oleh konglomerat Garibaldi Thohir, akan membagikan dividen tunai tambahan senilai US$ 2,62 miliar atau sekitar Rp 1.355 per saham, berdasarkan kurs Rp 15.875 per dolar AS. Jadwal cum dividen ADRO di pasar reguler dan negosiasi jatuh pada 26 November 2024. Dengan dividend yield mendekati 37% dan likuiditas saham yang baik, ADRO dinilai sangat menarik bagi investor, terutama yang fokus pada pendapatan pasif dan potensi capital gain.

Hendra Wardana, Founder Stocknow.id, menyarankan trading buy untuk saham ADRO dengan target harga Rp 3.900 per saham. Sementara itu, William Hartanto, Founder WH Project, memprediksi harga ADRO bisa mencapai Rp 4.200. Keduanya merekomendasikan saham ADRO sebagai pilihan utama di tengah momentum dividen.

Selain ADRO, empat emiten lain yang masuk dalam cum date pekan ini adalah PT Pinago Utama Tbk (PNGO), PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL), PT Idea Indonesia Akademi Tbk (IDEA), dan PT Graha Mitra Asia Tbk (RELF). Namun, saham-saham ini dinilai kurang menarik karena dividend yield yang kecil dan likuiditas rendah.

William Hartanto juga merekomendasikan saham MCOL dengan target harga Rp 5.600–Rp 5.800 per saham, meski daya tariknya lebih rendah dibanding ADRO.

Momentum pembagian dividen ini menjadi peluang strategis bagi investor untuk meraih pendapatan pasif sambil mengejar potensi kenaikan harga saham, terutama di emiten seperti ADRO yang menawarkan dividend yield tinggi.

PT Timah Tbk TINS Mengisyaratkan Siap untuk Menebarkan Dividen

KT1 23 Nov 2024 Investor Daily (H)

PT Timah Tbk (TINS) mengisyaratkan siap untuk menebarkan dividen pada tahun buku 2024, setelah berhasil mengukir sebesar Rp 908,78 miliar dibanding FY23 yang menderita rugi sebesar Rp 449,67 miliar. Dari sini, TINS memproyeksikan kinerja akhir 2024 akan melampaui target. Direktur Keuangan dan manajemen Risiko PT Timah Tbk Fina Erliani memastikan, pencapaian kinerja TINS pada kuartal akhir 2024 akan lebih tinggi ketimbang kuartal sebelumnya. Begitu juga dengan kinerja 2025 yang ditargetkan tumbuh baik dari sisi produksi maupun labanya. Hanya saja, untuk rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025 masih dalam proses penyusunan.

“Yang jelas kami pastikan pencapaian akhir 2024 akan lebih tinggi daripada kuartal ketiga dan kemungkinan besar akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan target RKAB 2024,” ucap Fina. Mengacu pada RKAB 2024, PT Timah menargetkan produksi timah di kisaran 19.000-20.000 ton. Sebagai kabar baik, pada kuartal sama tahun sebelumnya. Kemudian dari sisi efisiensi, Fina mengungkapkan, TINS juga berhasil melakukan efisiensi dari hulu hingga hilir, termasuk mampu mengendalikan arus kas dengan selektif terhadap penggunaan belanja modal (capital ekspenditure/capex). “Hal-hal tersebut yang kami lakukan sehingga dari sisi bottom line, kami mampu membukukan laba di kisaran Rp 909 miliar dan harga jual yang kami terima pada tahun ini naik US$ 4.000 jika disbanding tahun sebelumnya,” ujar dia. (Yetede)

PT Adaro Energy Indonesia Tbk Bagikan Dividen Rp 41,7 Triliun ke Para Pemegang Saham Sebesar US$ 2.62 Miliar

KT1 20 Nov 2024 Tempo
Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) perusahaan milik Garibaldi Thohir alias Boy Thohir, PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO), menyetujui perseroan akan membagikan dividen tunai kepada seluruh pemegang saham sebesar US$ 2.62 miliar atau sekitar Rp 41,7 triliun (kurs: Rp 15,916). Deviden ini berasal dari sebagian saldo laba belum dicadangkan perseroan per 31 Desember 2023.  “Menyetujui penetapan dan penggunaan sebagian dari saldo laba belum dicadangkan,” kata manajemen Adaro dalam keterbukaan informasi di situs Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Rabu, 20 November 2024.  Selain itu, RUPSLB juga menyetujui untuk merubah nama Perseroan dari sebelumnya PT Adaro Energy Indonesia Tbk menjadi PT Alamtri Resources Indonesia Tbk.  “Dengan demikian mengubah Pasal 1 ayat (1) anggaran dasar Perseroan mengenai nama Perseroan,” kata manajemen. 

Dalam pembagian dividen ini, manajemen juga sudah menjadwalkan sebagai berikut.:
1. Pengumuman jadwal dan tata cara pembagian tambahan dividen tunai final di situs web Bursa Efek Indonesia dan situs web Perseroan 20 November 2024
2. Tanggal pencatatan Pemegang Saham Perseroan yang berhak atas tambahan dividen tunai final (“record date”) 29 November 2024
3. Pengumuman Kurs Konversi (dengan menggunakan Kurs Tengah Bank Indonesia) dan informasi nilai dividen per lembar saham di situs web Bursa Efek Indonesia dan situs web Perseroan 29 November 2024 
4. Pasar reguler dan negosiasasi: Cum dividen pada 26 November 2024 dan Ex dividen pada 28 November 2024.
5. Pasar tunai: Cum dividen pada 29 November 2024 dan Ex dividen pada 2 Desember 2024 
6. Pembagian tambahan dividen tunai final 6 Desember 2024. (Yetede)

Waktunya Menerima Cuan hasil Dividen Interim

HR1 15 Nov 2024 Kontan
Volatilitas pasar saham masih tinggi, ditandai dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 1,29% ke level 7.214,56 pada 14 November 2024. Meski demikian, sejumlah emiten tetap membagikan dividen interim, mencerminkan komitmen untuk menarik minat investor, terutama menjelang akhir tahun.

Menurut Hendra Wardana, Founder Stocknow.id, pembagian dividen oleh emiten biasanya sesuai ekspektasi pasar, namun apresiasi harga saham belum merata. Mayoritas emiten yang membagikan dividen memiliki kinerja keuangan yang stabil, tetapi tren pelemahan IHSG memengaruhi respons pasar secara keseluruhan.

Sukarno Alatas, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, menjelaskan bahwa banyak pelaku pasar masih bersikap wait and see, mencari momentum terbaik untuk membeli saham menjelang cum date dividen. Meski demikian, saham seperti SKRN berhasil melonjak hingga auto rejection atas (ARA), meningkat 24,60% ke level Rp 466 per saham pada 14 November 2024, didorong oleh sentimen dividen.

Analis Investindo Nusantara Sekuritas, Pandhu Dewanto, menekankan pentingnya selektivitas di tengah volatilitas pasar. Ia merekomendasikan saham dengan prospek pertumbuhan kuat dan yield dividen menarik, seperti SPTO, TOTO, dan SKRN. Saham dengan yield dividen di atas 5% menjadi daya tarik bagi investor jangka panjang. Pandhu merekomendasikan beli SPTO dengan target harga Rp 760 per saham.

Sementara itu, Sukarno menyarankan trading buy untuk SKRN, SPTO, dan TOTO dengan target harga masing-masing Rp 500, Rp 685–Rp 695, dan Rp 246–Rp 250 per saham. Meski kondisi pasar masih menantang, dividen tetap menjadi faktor penting yang diperhitungkan dalam strategi investasi, terutama bagi investor jangka panjang.

PT Bank Central Asia Tbk Memutuskan Pembagian Dividen Interim Tunai

KT1 13 Nov 2024 Investor Daily (H)
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memutuskan pembagian dividen interim tunai yang lebih tinggi seiring dengan komitmen perseroan untuk senantiasa memberikan nilai tambah kepada segenap pemegang saham. Keputusan tersebut ditopang oleh tren pertumbuhan kinerja yang  berkelanjutan hingga triwulan III-2024. Perseroan akan melaksanakan pembagian dividen interim tunai sebesar Rp 50 per saham untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2024, sehingga total dividen interim tunai yang akan dibayarkan sebesar Rp6.163.752.500.000 atau Rp 6,16 triliun.

Nilai total dividen interim tunai tersebut meningkat 17,78% dibandingkan dividen interin yang dibayarkan untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2023 senilai Rp5,23 triliun. Selain itu, pembagian dividen interim tunai juga telah mempertimbangkan posisi  permodalan yang kokoh, likuiditas yng memadai, pengembangan bisnis perseroan maupun entitas anak, serta investasi pada teknologi agar mampu bersaing pada era digital saat ini. Adapun rasio kecukupan modal (CAR) BCA per September 2024 di level 29,3%, dengan loan deposit ratio (LDR) masih sangat memadai 75,1%. Di sisi return on equity (ROE) juga tinggi 24,7% meningkat dari posisi tahun sebelumnya 23,5%. Kinerja yang positif ini yang akan membuat perseroan memberikan dividen interim yang lebih tinggi. (Yetede)

Dividen Jadi Andalan di Tengah Ketidakpastian Bursa

HR1 07 Nov 2024 Kontan

Musim pembagian dividen interim bergulir usai rilis laporan keuangan periode sembilan bulan 2024. Aksi ini bisa menjadi pemanis di tengah bursa saham yang sedang menukik cukup dalam. Terbaru, ada tiga emiten yang mengumumkan pembayaran dividen interim. Pertama, PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) yang akan membagikan dividen sebesar Rp 20 per saham. Selanjutnya, PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) yang akan membayar dividen interim Rp 5 per saham. Selain itu, ada PT MPX Logistics International Tbk (MPXL) dengan dividen interim senilai Rp 0,75 per saham. Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi untuk ketiga emiten itu dijadwalkan pada 14 November 2024. Selain deretan deviden interim tersebut, ada PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) yang akan menebar tambahan dividen tunai final dengan jumlah jumbo. Totalnya mencapai US$ 2,63 miliar atau sekitar Rp 41,42 triliun. Selanjutnya ada PT Pelayaran Kurnia Lautan Semesta Tbk (KLAS) yang akan membagikan dividen saham dengan rasio 12:1. Artinya, setiap 12 saham lama akan mendapat 1 saham baru. Praktisi Pasar Modal & Founder Warkop Saham, Raden Bagus Bima mengatakan, pembagian dividen maupun dividen saham umumnya bakal menjadi sentimen positif yang bisa mendongkrak harga saham emiten tersebut. Hanya saja, dampak saat ini kemungkinan tidak akan langsung terasa. Bima menambahkan, pelaku pasar akan lebih memperhatikan pembagian dividen sekaligus aksi korporasi yang dilakukan ADRO. 

Di samping besaran dividen yang jumbo, investor kemungkinan akan tertarik mengikuti Penawaran Umum oleh Pemegang Saham (PUPS) dalam proses divestasi AAI. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi menilai, kemungkinan pelaku pasar akan lebih selektif. Di tengah musim pembagian dividen interim, ada sentimen eksternal yang perlu dicermati. Mulai efek Pemilihan Presiden Amerika Sertikat (AS) hingga harga komoditas. Investor dapat memanfaatkan momentum pembagian dividen dan potensi penguatan harga pada saham-saham tersebut. Rekomendasinya speculative buy ASSA dan TAPG dengan target harga Rp 770 dan Rp 1.000. Kemudian trading buy MARK untuk target Rp 1.220. Founder WH Project, William Hartanto mengingatkan, pembagian dividen tidak selalu meningkatkan minat pelaku pasar. Apalagi jika dividend yield -nya mini. Ada beberapa saham yang harganya naik sesaat, seperti PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE). Ada juga yang sebelumnya sudah naik signifikan seperti KLAS. Kemudian, ada saham yang sedang melandai seperti SCMA. Nah, dengan adanya pembagian dividen, William melihat SCMA berpeluang naik hingga ke level Rp 145.

Keuangan BUMN Terancam Target Dividen Rp 90 Triliun

KT3 02 Oct 2024 Kompas

Pada periode akhir kepemimpinan Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir, pemerintah mencanangkan target tinggi setoran dividen perusahaan pelat merah ke kas negara pada tahun 2025 mencapai Rp 90 triliun. Angka ini lebih tinggi dari target setoran BUMN kekantong negara tahun ini sebesar Rp 85,4 triliun. Target setoran dividen BUMN sebesar Rp 90 triliun ini bahkan lebih tinggi dari pendapatan pos kekayaan negara dipisahkan yang berasal dari dividen BUMN yang sebelumnya tertera dalam Nota Keuangan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025 sebesar Rp 86 triliun. Dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR, Septembe lalu, Erick menyatakan, keputusan tersebut telah diresmikan oleh Badan Anggaran DPR. ”Saya baru dapat info, sudah diketuk oleh Banggar, untuk dividen 2025 kami ditargetkan Rp 90 triliun. Saya rasa ini angka yang fantastis,” ujarnya, dikutip dari kanal Youtube Komisi VI DPR. 

Di balik upaya pemerintah mempertahankan pertumbuhan setoran dividen BUMN, kas keuangan perusahaan-perusahaan pelat merah berisiko menghadapi keterbatasan untuk melakukan aksi korporasi, baik itu ruang dalam melakukan ekspansi maupun investasi. Pengamat BUMN dari Datanesia Institute, Herry Gunawan, mengatakan, target dividen raksasa yang dipatok pemerintah tahun depan cukup berisiko menghadang laju keberlanjutan bisnis mereka di tengah tekanan ekonomi global. Terlebih, ada kecenderungan memaksa BUMN menyetorkan laba di ambang batas kewajaran. ”Ada sinyal pemaksaan ke BUMN untuk setoran laba di luar kebiasaannya. Kalau dilihat dari indikator yang ada, BUMN seolah dipaksa untuk menyetorkan dividen lebih besar,” ujar Herry saat dihubungi Kompas, Selasa (1/10/2024). Hal itu tecermin dari rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) tiga BUMN penyumbang dividen terbesar pada 2023, yaitu BRI, PT Pertamina (Persero), dan Bank Mandiri.

Tahun lalu, rasio pembayaran dividen rata-rata ketiganya mencapai 26 persen, melonjak dibandingkan 2022 dan 2021 yang masing-masing 17,1 persen dan 18 persen. Oleh karena itu, dia memandang target penerimaan negara dari dividen BUMN pada 2025 ini terlalu ambisius. Terlebih target ini dicanangkan pada saat ruang investasi perusahaan pelat merah dari perolehan laba bersih juga berisiko menyempit akibat perlambatan ekonomi global. Di sisi lain, tantangan ekonomi yang kemungkinan masih berat hingga akhir tahun ini menjadikan sangat sulit bagi BUMN untuk dapat mengerek kinerjanya secara signifikan. Sebagai gambaran, empat dari tujuh emiten BUMN penghuni indeks IDX High Dividend 20 mengalami penurunan laba pada semester I-2024. ”Target dividen tersebut tidak selaras dengan kenaikan kinerjanya, khususnya laba. Jadi, ada kecenderungan pemaksaan kepada BUMN untuk menyisihkan laba lebih besar dari biasanya sebagai dividen untuk pemerintah,” kata Herry. (Yoga)