Target Dividen dan Kredit yang Tak Optimal
Kontribusi perbankan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional tergolong
minim dan bahkan cenderung menurun dari waktu ke waktu. Namun, laba yang diperoleh
perbankan terus meroket dengan pertumbuhan yang fantastis. Contohnya, tahun
2023 diperlukan dana investasi sekitar Rp 9.800 triliun untuk membiayai
pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,05 % secara tahunan (yoy) dengan
penambahan produk domestik bruto (PDB) atas harga berlaku sekitar Rp 1.558 triliun.
Dana untuk membiayai pertumbuhan tersebut memang jumbo karena rasio modal yang
dibutuhkan untuk menambah output (incremental capital output ratio/ICOR) Indonesia
saat ini tergolong besar, yakni 6,3. Ternyata kontribusi industri perbankan yang
berasal dari penyaluran kredit investasi dan modal kerja hanya di bawah 10 %.
Pada 2023, Bank Mandiri meraih laba bersih Rp 55,1 triliun
atau tumbuh 33,7 % dibanding tahun sebelumnya. BRI meraup laba Rp 60,4 triliun,
tumbuh 17,5 %. Laba BNI Rp 20,9 triliun, tumbuh 14,2 %. BTN meraih laba Rp 3,5
triliun, tumbuh 15 %, dan laba BSI Rp 5,7 triliun atau tumbuh 33,9 %. Sedang pertumbuhan
penyaluran kreditnya, Bank Mandiri sebesar 16,3 %, BRI 11,2 %, BNI 7,6 %, BTN
11,9 %, dan BSI 16 %, berarti pertumbuhan laba bank-bank BUMN jauh di atas
pertumbuhan kreditnya. Dengan laba jumbo tersebut, bank-bank BUMN pun bisa
menyalurkan dividen tahun buku 2023 kepada pemegang saham dalam jumlah fantastis.
Karena itu, tatkala target dividen tahun buku 2024 dinaikkan oleh Menteri BUMN
Erick Thohir menjadi Rp 85,8 triliun, tentu saja dividen dari bank-bank BUMN
juga harus ditingkatkan.
Agar bisa menyetor dividen lebih besar, bank-bank BUMN
otomatis harus meningkatkan labanya pada tahun 2024. Di sinilah para bankir
diduga akan kembali memainkan paradoksnya, yakni bagaimana di tengah penyaluran
kredit yang tidak optimal, bank tetap bisa meningkatkan labanya. Untuk
meningkatkan laba, bank biasanya akan memperbesar margin keuntungan (profit
margin) dengan memperlebar spread antara suku bunga kredit dan suku bunga dana.
Jika terjadi tren penurunan suku bunga pada semester II-2024, bank akan
menurunkan bunga dana secepat mungkin mengikuti suku bunga acuan, tetapi akan
memperlambat penurunan suku bunga kredit. Bagi bank, strategi ini akan
menguntungkan. Namun, bagi sektor riil dan perekonomian secara keseluruhan, ini
jelas merugikan. Sektor riil, yang sudah dalam kondisi sulit, akan makin
terbebani dengan suku bunga kredit yang masih tinggi. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023