;

Target Dividen dan Kredit yang Tak Optimal

Ekonomi Yoga 27 Mar 2024 Kompas
Target Dividen dan Kredit
yang Tak Optimal

Kontribusi perbankan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional tergolong minim dan bahkan cenderung menurun dari waktu ke waktu. Namun, laba yang diperoleh perbankan terus meroket dengan pertumbuhan yang fantastis. Contohnya, tahun 2023 diperlukan dana investasi sekitar Rp 9.800 triliun untuk membiayai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,05 % secara tahunan (yoy) dengan penambahan produk domestik bruto (PDB) atas harga berlaku sekitar Rp 1.558 triliun. Dana untuk membiayai pertumbuhan tersebut memang jumbo karena rasio modal yang dibutuhkan untuk menambah output (incremental capital output ratio/ICOR) Indonesia saat ini tergolong besar, yakni 6,3. Ternyata kontribusi industri perbankan yang berasal dari penyaluran kredit investasi dan modal kerja hanya di bawah 10 %.

Pada 2023, Bank Mandiri meraih laba bersih Rp 55,1 triliun atau tumbuh 33,7 % dibanding tahun sebelumnya. BRI meraup laba Rp 60,4 triliun, tumbuh 17,5 %. Laba BNI Rp 20,9 triliun, tumbuh 14,2 %. BTN meraih laba Rp 3,5 triliun, tumbuh 15 %, dan laba BSI Rp 5,7 triliun atau tumbuh 33,9 %. Sedang pertumbuhan penyaluran kreditnya, Bank Mandiri sebesar 16,3 %, BRI 11,2 %, BNI 7,6 %, BTN 11,9 %, dan BSI 16 %, berarti pertumbuhan laba bank-bank BUMN jauh di atas pertumbuhan kreditnya. Dengan laba jumbo tersebut, bank-bank BUMN pun bisa menyalurkan dividen tahun buku 2023 kepada pemegang saham dalam jumlah fantastis. Karena itu, tatkala target dividen tahun buku 2024 dinaikkan oleh Menteri BUMN Erick Thohir menjadi Rp 85,8 triliun, tentu saja dividen dari bank-bank BUMN juga harus ditingkatkan.

Agar bisa menyetor dividen lebih besar, bank-bank BUMN otomatis harus meningkatkan labanya pada tahun 2024. Di sinilah para bankir diduga akan kembali memainkan paradoksnya, yakni bagaimana di tengah penyaluran kredit yang tidak optimal, bank tetap bisa meningkatkan labanya. Untuk meningkatkan laba, bank biasanya akan memperbesar margin keuntungan (profit margin) dengan memperlebar spread antara suku bunga kredit dan suku bunga dana. Jika terjadi tren penurunan suku bunga pada semester II-2024, bank akan menurunkan bunga dana secepat mungkin mengikuti suku bunga acuan, tetapi akan memperlambat penurunan suku bunga kredit. Bagi bank, strategi ini akan menguntungkan. Namun, bagi sektor riil dan perekonomian secara keseluruhan, ini jelas merugikan. Sektor riil, yang sudah dalam kondisi sulit, akan makin terbebani dengan suku bunga kredit yang masih tinggi. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :