Ruang BI Pangkas Suku Bunga Acuan Menyempit Akibat Perkembangan Geopolitik dan Ekonomi Global
Di tengah terjaganya laju inflasi dan pertumbuhan ekonomi domestik, ruang BI memangkas suku bunga acuan justru kian menyempit akibat perkembangan geopolitik dan ekonomi global yang dinamis. Kebijakan ini berpotensi membuat beban kredit masyarakat, seperti kredit kendaraan, tidak berubah. Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan, dinamika global berubah cepat seiring hasil pemilu AS, fragmentasi perdagangan, dan perkembangan geopolitik. Perkembangan politik AS diperkirakan menuju ke arah strategi ekonomi berorientasi domestik dan kebijakan fiskal ekspansif. Kondisi tersebut berpotensi mengakibatkan penurunan laju inflasi AS makin sulit, ditambah indeks USD terhadap seluruh mata uang menguat seiring meningkatnya imbal hasil obligasi Pemerintah AS akibat kebutuhan pembiayaan defisit fiscal yang lebih besar.
Sementara, fundamental ekonomi domestik masih terjaga, tecermin dari inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Oktober 2024 yang tercatat 1,71 % secara tahunan atau berada dalam kisaran target 1,5-3,5 %. Di sisi lain, ekonomi nasional pada triwulan III-2024 tumbuh 4,95 % secara tahunan dan diperkirakan tumbuh 4,7-5,5 % pada 2024. ”Jadi, masih terbuka (ruang penurunan suku bunga), tetapi tentu saja akan sangat bergantung pada situasi tadi (perkembangan ekonomi global dan domestik). Ruangnya (penurunan) yang dulu agak lebar sekarang lebih terbatas,” kata Perry dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Gubernur BI November 2024, di Jakarta, Rabu (20/11). Karena itu, BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan sebesar 6 %, sebagai langkah memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari rambatan dampak ketidakpastian geopolitik dan perekonomian global. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023