Moneter
( 122 )Kebijakan Moneter Bank Indonesia, Suku Bunga Acuan Ditahan Tetap 6 Persen
Pelonggaran Kebijakan Moneter Yang Berimbas Pada Menguatnya Rupiah
Pelonggaran kebijakan moneter yang berimbas pada menguatnya rupiah bisa menjadi ”angin segar” yang mengerek kinerja manufaktur setelah terkontraksi dua bulan berturut-turut. Namun, itu saja tidak cukup. Industri pengolahan tetap membutuhkan kebijakan suportif yang bisa melindungi pasar domestik dari serbuan impor Era suku bunga tinggi (higher for longer) yang terjadi selama dua tahun terakhir mulai menunjukkan tanda-tanda melandai. Bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), pada 18 September 2024 menurunkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) dari 5,25-5,5 persen menjadi 4,75-5,25 bps. Sebelum keputusan The Fed itu, Bank Indonesia (BI) juga telah terlebih dulu memangkas suku bunga acuannya 25 bps menjadi 6 persen. Keputusan itu diambil BI setelah mencermati adanya kejelasan tentang arah penurunan suku bunga acuan The Fed.
Sesuai ekspektasi, pelonggaran kebijakan moneter tersebut pun berimbas pada menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Pada Rabu (25/9/2024), rupiah bahkan menyentuhRp 15.090per dollar AS alias posisi terkuat sejak 31 Juli 2023. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meyakini, kondisi penurunan suku bunga dan penguatan rupiah itu bisa mengerek kinerja industri manufaktur yang belakangan ini melemah. Berdasarkan data S&P Global, Indeks Manajer Pembelian atau Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia terkontraksi selama dua bulan berturut-turut, yakni Juli 2024 di level 49,3 dan Agustus 2024 di level 48,9. Airlangga menilai, tekanan eksternal secara moneter itulah yang menyebabkan persepsi kinerja industri manufaktur melemah hingga terkontraksi selama dua bulan terakhir. Kenaikan suku bunga dan pelemahan rupiah terhadap dollar AS membuat biaya produksi yang ditanggung industri membengkak akibat mahalnya harga bahan baku impor dan tingginya beban bunga pinjaman. (Yoga)
Penurunan Suku Bunga Acuan, BI-Rate, Sebesar 25 bps Berita Baik untuk Perbankan
Bank-bank Sentral Utama Dunia Menggelar Pertemuan Kebijakan Moneter
Rupiah Kuat, Menanti Langkah The Fed
Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan BI Rate di level 6,25% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulan Agustus 2024. Di saat yang sama, nilai tukar rupiah bergerak dalam tren menurun. Rupiah kemarin di posisi Rp 15.456 per dolar AS, atau menguat 0,16% dibandingkan sehari sebelumnya. Dalam dua bulan terakhir, rupiah sudah menguat 6%. Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, keputusan menahan BI Rate dalam upaya memperkuat rupiah. "Kebijakan ini [menahan bunga acuan] untuk penguatan lebih lanjut rupiah," tutur dia dalam konferensi pers, Kamis (20/6). Perry mencatat, rupiah selama tiga pekan terakhir menguat menguat 5,34%. Kenaikan ini lebih tinggi dibandingkan penguatan mata uang regional seperti baht Thailand, yen Jepang, peso Filipina dan won Korea, yang masing-masing sebesar 4,22%, 3,25%, 3,20% dan 3,04%.
Meski rupiah belakangan ini berotot, kondisi itu tak sejalan dengan target yang dipatok pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025, yang sebesar Rp 16.100 per dolar AS. Angka ini lebih rendah daripada outlook 2024 yang senilai Rp 16.000.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu menjelaskan, target nilai tukar rupiah dalam RAPBN 2025 mencerminkan antisipasi pemerintah. Ia mengatakan pemerintah juga masih terus memantau kondisi global.
Ekonom Senior Bank Permata Faisal Rachman meramal, Bank Indonesia akan menurunkan suku bunga dengan total 50 basis poin (bps) pada 2024 menjadi 5,75%, dan 75 bps pada 2025 menjadi 5%.
Tahun depan inflasi diharapkan terjaga meskipun ada potensi kenaikan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 12% dan penerapan bea cukai untuk Minuman Berpemanis dalam Kemasan (MBDK). Sejalan dengan ekspektasi pasar saat ini terhadap penurunan suku bunga The Fed dan daya tarik negara berkembang, menurut Faisal, investor asing berpotensi mengalihkan aset mereka ke negara-negara tersebut, termasuk Indonesia.
Kurangi SRBI Hadapi Pemangkasan Bunga
Suku bunga yang lebih menarik yang Bank Indonesia (BI) tawarkan dalam menerbitkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) membuat instrumen moneter ini lebih investor lirik dibandingkan dengan instrumen penempatan dana lainnya. Baik itu obligasi yang pemerintah terbitkan berupa surat berharga negara (SBN) maupun obligasi yang korporasi rilis. Menurut data yang KONTAN himpun dari situs resmi, total penerbitan SRBI mencapai Rp 918,48 triliun, sejak bank sentral terbitkan pada 15 September 2023 hingga 19 Juli 2024. Kepala Grup Departemen Pengelolaan moneter dan Aset Sekuritas BI Ramdan Denny Prakoso menyebutkan, penerbitan SRBI per 19 Juli 2024 senilai Rp 796 triliun, dengan 29% di antaranya dimiliki asing. SRBI menawarkan imbal hasil yang menarik, di atas 7%. Pada lelang 19 Juli 2024 lalu, bunga SRBI tenor enam bulan tercatat sebesar 7,23%, tenor sembilan bulan 7,31%, dan tenor 12 bulan 7,36%.
Walaupun, level ini lebih rendah dibanding lelang akhir Mei lalu untuk tenor enam, sembilan, dan 12 bulan masing-masing sebesar 7,32%, 7,43%, dan 7,53%.
Menurut Denny, SRBI merupakan instrumen yang lebih likuid dibanding RR SBN, sehingga memudahkan perbankan mengelola likuiditasnya saat permintaan kredit melemah. Hal ini pula yang menjadi alasan mengapa perbankan lebih tertarik menempatkan dananya pada SRBI.
Dukungan BI tersebut,
pertama, rutin menjadi peserta lelang di pasar primer Surat Utang Negara (SUN) maupun surat berharga syariah negara (SBSN) tenor pendek.
Kedua,
BI memastikan untuk masuk ke pasar sekunder SBN saat imbal hasil obligasi ini bergerak naik signifikan.
Ketiga,
bank sentral mengupayakan jatuh tempo dana-dana pada instrumen moneter pada hari Kamis, sesuai dengan jadwal settlement lelang SBN oleh Kementerian Keuangan (Kemkeu) yang jatuh pada hari itu.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mencatat, kepemilikan perbankan pada SBN sejak awal tahun hingga Juli 2024 turun menjadi Rp 262 triliun. Di saat yang sama, ekses likuiditas perbankan yang lembaga keuangan ini tempatkan pada SRBI cenderung meningkat jadi Rp 520,5 triliun sejak awal tahun hingga 18 Juli 2024.
Waspada Beban Bunga Utang Masih berat
Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan BI Rate di level 6,25% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI edisi Juli 2024, kemarin. Namun bank sentral melihat adanya peluang pemangkasan BI Rate di kuartal IV-2024 jika terjadi penurunan Fed Funds Rate yang lebih cepat. Namun BI membuka peluang memangkas BI Rate pada kuartal IV-2024. Hal ini sejalan dengan inflasi yang masih terkendali dan pertumbuhan ekonomi yang terjaga. Inflasi pada Juni 2024 turun menjadi 2,51% secara tahunan. "Kami masih melihat ruang arah suku bunga BI Rate akan turun, kemungkinan pada kuartal empat," ujar Gubernur BI, Perry Warjiyo, Rabu (17/7).
Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Chandra Wahjudi menilai keputusan BI menahan bunga acuan masih wajar. Kendati begitu, dia berharap bunga acuan bisa turun hingga di bawah level 5%. Hal ini demi mengurangi beban dunia usaha.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mewanti-wanti dampak peningkatan BI Rate di level 6,25% terhadap kinerja fiskal. Khususnya berkaitan dengan imbal hasil
(yield)
surat utang yang harus dibayarkan pemerintah.
Head of Macroeconomic & Financial Market Research,
Bank Permata Faisal Rachman mengatakan, pemicu naiknya beban pembayaran bunga utang pada tahun ini adalah pelemahan nilai tukar rupiah yang sudah berada di atas Rp 16.000 per dolar AS. Ini sudah di atas asumsi makro APBN 2024 yang sebesar Rp 15.000 per dolar AS.
Sementara itu, Faisal memperkirakan pembayaran beban bunga utang tahun depan atau 2025 masih akan cukup tinggi. Ini imbas masih ada dampak dari penerbitan SBN yang tinggi dalam rangka penanganan pandemi Covid-19.
Sementara, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita juga memperkirakan beban bunga utang pada tahun depan akan lebih tinggi dibandingkan tahun ini.
BI Tak Kendurkan Fokus Penguatan Rupiah
Bank Indonesia (BI) memastikan, fokus kebijakan moneter bank sentral dalam jangka pendek terus diarahkan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar (kurs) rupiah dan menarik aliran masuk modal asing. Langkah itu diambil meski belakangan ini kurs rupiah terus menguat terhadap dolar AS, setelah pada akhir Juni lalu sempat melemah hingga level terendah dalam empat tahun terakhir. Kebijakan moneter tersebut dilakukan dengan penguatan strategi operasi moneter pro-market melalui pertama, struktur suku bunga di pasar uang rupiah dengan menjaga daya tarik imbal hasil (yield), terutama bagi portofolio asing.
Kedua optimalisasi penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan Valas bank Indonesia, dan Sukuk Valas BI. "Fokus kebijakan moneter dalam jangka pendek diarahkan untuk memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar rupiah dan menarik aliran masuk modal asing. Sedangkan kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap pro-growth untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," ujar Perry Warjiyo. (Yetede)
KAPAN SUKU BUNGA TURUN?
Bank Indonesia masih bergeming soal kebijakan suku bunga acuan. Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung 16-17 Juli, memutuskan BI Rate tetap 6,25%. BI baru membuka peluang penurunan BI Rate pada kuartal IV/2024. Sontak, dunia usaha pun bereaksi. Mereka berharap BI menurunkan BI Rate lebih cepat setelah selama dua tahun suku bunga acuan berada dalam tren kenaikan. Pasalnya, penurunan suku bunga akan membuat biaya dana alias cost of fund berkurang, yang pada gilirannya turut menurunkan suku bunga kredit penunjang ekspansi bisnis. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai keputusan BI yang kembali menahan BI Rate di level itu masih tidak ideal. “Kebijakan suku bunga acuan yang dipertahankan pada level 6,25% ini masih tidak ideal karena kurang affordabledari sisi financing cost usaha dan kurang kompetitif juga di Asean,” kata Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani, Rabu (17/7). Adapun, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Arsjad Rasjid mengatakan dunia usaha hanya dapat menyusun langkah antisipatif atas suku bunga acuan yang masih tinggi, di antaranya dengan menghitung ulang biaya operasional untuk mengurangi beban usaha. Selain itu, siasat lainnya yang dilakukan pelaku usaha kala suku bunga masih tinggi adalah dengan melakukan penundaan ekspansi atau investasi hingga mencari bahan baku alternatif lainnya untuk mengurangi ketergantungan.
Setali tiga uang, kalangan bankir turut menyerukan agar BI menurunkan suku bunga. Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) Lani Darmawan mengharapkan suku bunga acuan dapat turun untuk menekan biaya dana dan menaikkan animo permintaan pinjaman. Berdasarkan presentasi perusahaan, cost of fund deposit CIMB Niaga berada di level 3,41% pada Maret 2024, naik 62 basis poin dari periode yang sama tahun lalu 2,79%. Sementara secara kuartalan, biaya dana naik 24 basis poin. Hal ini pun diamini oleh Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu yang juga berharap biaya dana bisa turun. Nixon mengatakan BTN memilih tidak menetapkan target penyaluran kredit yang setara atau lebih tinggi dari pencapaian kuartal I/2024. Bank pelat merah ini menurunkan pertumbuhan target kredit ke level 10%-11% hingga akhir tahun karena likuiditas yang cukup mahal. Kepala Ekonom BCA David Sumual mengatakan waktu yang tepat untuk menurunkan BI Rate bergantung pada kondisi infl asi dan stabilitas rupiah. Namun, dia melihat BI kemungkinan akan tetap konservatif mengingat masih tingginya risiko capital outfl ow, selain masih minimnya katalis dalam negeri, termasuk ekspor komoditas yang cenderung stagnan.
Pengusaha dan Ekonom Harapkan BI Tahan BI Rate
Pilihan Editor
-
TRANSISI ENERGI : JURUS PAMUNGKAS AMANKAN EBT
26 Dec 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023









