;
Tags

Moneter

( 122 )

Kebijakan Moneter Bank Indonesia, Suku Bunga Acuan Ditahan Tetap 6 Persen

KT3 17 Oct 2024 Kompas

Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di angka 6 persen. Langkah ini diambil guna mengantisipasi potensi risiko dari ketidakpastian pasar keuangan global akibat konflik geopolitik, memperkuat stabilitas nilai tukar, dan menjaga inflasi dalam sasaran yang telah ditetapkan. Keputusan tersebut diumumkan oleh Gubernur BI Perry Warjiyo pada Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (16/10/2024). BI juga mempertahankan suku bunga deposit facility 5,25 persen dan lending facility di 6,75 persen. Perry menjelaskan, kebijakan ini konsisten dengan tujuan menjaga inflasi dalam kisaran 1,5-3,5 persen pada 2024 dan 2025 serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Perry menambahkan, kebijakan makroprudensial longgar tetap diterapkan untuk mendorong penyaluran kredit di sektor-sektor prioritas demi mendukung pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Sistem pembayaran pun diarahkan untuk mempercepat digitalisasi dan memperluas akseptasi di berbagai lapisan masyarakat.

”Fokus kebijakan moneter jangka pendek adalah stabilitas nilai tukar rupiah akibat ketidakpastian pasar keuangan global,” ujar Perry. Ia menyoroti ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menambah ketidakpastian, sementara pertumbuhan ekonomi global diperkirakan melambat pada 2024 dengan proyeksi 3,2 persen. Meski demikian, tren penurunan inflasi global telah memicu konvergensi pelonggaran kebijakan moneter di negara maju. Penurunan suku bunga negara-negara maju, terutama Amerika Serikat (AS), diperkirakan terus berlanjut meskipun ketegang geopolitik perlu terus diwaspadai. Dalam merespons dinamika global ini, Perry menekankan pentingnya kebijakan yang berhati-hati untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan aliran modal asing guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Di dalam negeri, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September 2024 tercatat 1,84 persen secara tahunan dengan inflasi inti mencapai 2,09 persen. Inflasi harga bergejolak berada pada 1,43 persen. Semua masih dalam rentang sasaran BI sebesar 1,5-3,5 persen.

Nilai tukar rupiah pada 15 Oktober 2024 mencapai Rp 15.555 per dollar AS, terdepresiasi 2,82 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Hal ini dipicu oleh ketidakpastian global akibat ketegangan di Timur Tengah. Jika dibandingkan dengan posisi akhir Desember 2023, depresiasi rupiah 1,17 persen.  BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2024 berada di kisaran 4,7-5,5 persen dengan proyeksi peningkatan pada 2025. Untuk mencapai target tersebut diperlukan berbagai langkah strategis, salah satunya dengan memperkuat bauran kebijakan moneter ”BI akan terus mencermati potensi penurunan suku bunga dengan tetap memperhatikan prospek inflasi, nilai tukar, dan pertumbuhan ekonomi,” kata Perry. Kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran juga terus diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil dan berkelanjutan. Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesi (LPEM FEB UI), Teuku Riefki berpendapat, stabilitas nilai tukar yang memberikan sinyal positif terhadap kebijakan moneter. Menurut dia, BI bisa saja memangkas suku bunga acuan di akhir tahun guna mendorong permintaan di sektor riil, terutama jika tren deflasi berlanjut. (Yoga)

Pelonggaran Kebijakan Moneter Yang Berimbas Pada Menguatnya Rupiah

KT3 27 Sep 2024 Kompas

Pelonggaran kebijakan moneter yang berimbas pada menguatnya rupiah bisa menjadi ”angin segar” yang mengerek kinerja manufaktur setelah terkontraksi dua bulan berturut-turut. Namun, itu saja tidak cukup. Industri pengolahan tetap membutuhkan kebijakan suportif yang bisa melindungi pasar domestik dari serbuan impor Era suku bunga tinggi (higher for longer) yang terjadi selama dua tahun terakhir mulai menunjukkan tanda-tanda melandai. Bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), pada 18 September 2024 menurunkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) dari 5,25-5,5 persen menjadi 4,75-5,25 bps. Sebelum keputusan The Fed itu, Bank Indonesia (BI) juga telah terlebih dulu memangkas suku bunga acuannya 25 bps menjadi 6 persen. Keputusan itu diambil BI setelah mencermati adanya kejelasan tentang arah penurunan suku bunga acuan The Fed. 

Sesuai ekspektasi, pelonggaran kebijakan moneter tersebut pun berimbas pada menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Pada Rabu (25/9/2024), rupiah bahkan menyentuhRp 15.090per dollar AS alias posisi terkuat sejak 31 Juli 2023. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meyakini, kondisi penurunan suku bunga dan penguatan rupiah itu bisa mengerek kinerja industri manufaktur yang belakangan ini melemah. Berdasarkan data S&P Global, Indeks Manajer Pembelian atau Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia terkontraksi selama dua bulan berturut-turut, yakni Juli 2024 di level 49,3 dan Agustus 2024 di level 48,9. Airlangga menilai, tekanan eksternal secara moneter itulah  yang menyebabkan persepsi kinerja industri manufaktur melemah hingga terkontraksi selama dua bulan terakhir. Kenaikan suku bunga dan pelemahan rupiah terhadap dollar AS membuat biaya produksi yang ditanggung industri membengkak akibat mahalnya harga bahan baku impor dan tingginya beban bunga pinjaman. (Yoga)

Penurunan Suku Bunga Acuan, BI-Rate, Sebesar 25 bps Berita Baik untuk Perbankan

KT1 20 Sep 2024 Investor Daily (H)
Penurunan suku bunga acuan, BI-Rate, sebesar 25 basis points (bps) menjadi 6% disambut gembira oleh perbankan. Sebab berakhirnya era suku bunga tinggi akan mendongkrak kinerja sektor ini. Jahja Setiaadmandja menilai, pemangkasan BI-Rate sejalan dengan manuver bank sentral AS The Fed yang memangkas Federal Fund rate (FFR) "The Fed sudah menurunkan Fed Rate, sehingga pemangkasan BI-Rate adalah hal positif. Apalagi, kurs rupiah terhadap dolar AS, kurs rupiah terhadap dolar AS juga sudah di bawah Rp16.000. Ini juga bagus untuk SBN, karena kupon turun dan menghemat biaya pemerintah," ucap Jahja. BCA juga mencatatkan total aset naik 5,45%, menjadi Rp1.400 triliun. Laba bersih BCA tumbuh 13,5% per Agustus 2024 menjadi Rp 36 triliun dari sebelumnya Rp31,71 triliun. "Kami usahakan kredit tumbuh lebih tinggi," sambung Jahja. Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI/BBNI) Royke Tumilaar mengatakan, BNI memproyeksikan penurunan BI-Rate dimulai pada Oktober atau setelah hasil FOMC. Dengan demikian, penurunan satu bulan lebih cepat. (Yetede)

Bank-bank Sentral Utama Dunia Menggelar Pertemuan Kebijakan Moneter

KT1 17 Sep 2024 Investor Daily (H)
Bank-bank sentral utama dunia menggelar pertemuan kebijakan moneter masing-masing pekan ini dengan norma memasuki pemangkasan suku bunga acuan. Salah satu yang sangat dinanti-nantikan adalah rapat dua hari The Federal Reserve dan para investor menunggu-nunggu kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat ini ke depan. Minggu-minggu ini sibuk nan padat itu diawali oleh pertemuan The Fed pada Selasa (17/09/2024) waktu setempat yang disusul pengumuman serta konferensi pers Gubernur The Fed Jerome Powell esok siangnya waktu setempat. Bank sentral Brasil yang juga dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan pada Selasa dan Rabu (18/09/2024). Adapun Bank Of England (BOE), Norway's Norges Bank, dan Reserve Bank of South Africa (19/09/2024). Bank sentral terakhir yang dijadwalkan memberikan keputusan tentang suku bunga terbarunya adalah Bank of Japan (BoJ) pada Jumat (20/9/2024), usai rapat dua hari. (Yetede)

Rupiah Kuat, Menanti Langkah The Fed

HR1 22 Aug 2024 Kontan

Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan BI Rate di level 6,25% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulan Agustus 2024. Di saat yang sama, nilai tukar rupiah bergerak dalam tren menurun. Rupiah kemarin di posisi Rp 15.456 per dolar AS, atau menguat 0,16% dibandingkan sehari sebelumnya. Dalam dua bulan terakhir, rupiah sudah menguat 6%. Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, keputusan menahan BI Rate dalam upaya memperkuat rupiah. "Kebijakan ini [menahan bunga acuan] untuk penguatan lebih lanjut rupiah," tutur dia dalam konferensi pers, Kamis (20/6). Perry mencatat, rupiah selama tiga pekan terakhir menguat menguat 5,34%. Kenaikan ini lebih tinggi dibandingkan penguatan mata uang regional seperti baht Thailand, yen Jepang, peso Filipina dan won Korea, yang masing-masing sebesar 4,22%, 3,25%, 3,20% dan 3,04%. 

Meski rupiah belakangan ini berotot, kondisi itu tak sejalan dengan target yang dipatok pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025, yang sebesar Rp 16.100 per dolar AS. Angka ini lebih rendah daripada outlook 2024 yang senilai Rp 16.000. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu menjelaskan, target nilai tukar rupiah dalam RAPBN 2025 mencerminkan antisipasi pemerintah. Ia mengatakan pemerintah juga masih terus memantau kondisi global. Ekonom Senior Bank Permata Faisal Rachman meramal, Bank Indonesia akan menurunkan suku bunga dengan total 50 basis poin (bps) pada 2024 menjadi 5,75%, dan 75 bps pada 2025 menjadi 5%. Tahun depan inflasi diharapkan terjaga meskipun ada potensi kenaikan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 12% dan penerapan bea cukai untuk Minuman Berpemanis dalam Kemasan (MBDK). Sejalan dengan ekspektasi pasar saat ini terhadap penurunan suku bunga The Fed dan daya tarik negara berkembang, menurut Faisal, investor asing berpotensi mengalihkan aset mereka ke negara-negara tersebut, termasuk Indonesia.

Kurangi SRBI Hadapi Pemangkasan Bunga

HR1 24 Jul 2024 Kontan

Suku bunga yang lebih menarik yang Bank Indonesia (BI) tawarkan dalam menerbitkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) membuat instrumen moneter ini lebih investor lirik dibandingkan dengan instrumen penempatan dana lainnya. Baik itu obligasi yang pemerintah terbitkan berupa surat berharga negara (SBN) maupun obligasi yang korporasi rilis. Menurut data yang KONTAN himpun dari situs resmi, total penerbitan SRBI mencapai Rp 918,48 triliun, sejak bank sentral terbitkan pada 15 September 2023 hingga 19 Juli 2024. Kepala Grup Departemen Pengelolaan moneter dan Aset Sekuritas BI Ramdan Denny Prakoso menyebutkan, penerbitan SRBI per 19 Juli 2024 senilai Rp 796 triliun, dengan 29% di antaranya dimiliki asing. SRBI menawarkan imbal hasil yang menarik, di atas 7%. Pada lelang 19 Juli 2024 lalu, bunga SRBI tenor enam bulan tercatat sebesar 7,23%, tenor sembilan bulan 7,31%, dan tenor 12 bulan 7,36%. 

Walaupun, level ini lebih rendah dibanding lelang akhir Mei lalu untuk tenor enam, sembilan, dan 12 bulan masing-masing sebesar 7,32%, 7,43%, dan 7,53%. Menurut Denny, SRBI merupakan instrumen yang lebih likuid dibanding RR SBN, sehingga memudahkan perbankan mengelola likuiditasnya saat permintaan kredit melemah. Hal ini pula yang menjadi alasan mengapa perbankan lebih tertarik menempatkan dananya pada SRBI. Dukungan BI tersebut, pertama, rutin menjadi peserta lelang di pasar primer Surat Utang Negara (SUN) maupun surat berharga syariah negara (SBSN) tenor pendek. Kedua, BI memastikan untuk masuk ke pasar sekunder SBN saat imbal hasil obligasi ini bergerak naik signifikan. Ketiga, bank sentral mengupayakan jatuh tempo dana-dana pada instrumen moneter pada hari Kamis, sesuai dengan jadwal settlement lelang SBN oleh Kementerian Keuangan (Kemkeu) yang jatuh pada hari itu. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mencatat, kepemilikan perbankan pada SBN sejak awal tahun hingga Juli 2024 turun menjadi Rp 262 triliun. Di saat yang sama, ekses likuiditas perbankan yang lembaga keuangan ini tempatkan pada SRBI cenderung meningkat jadi Rp 520,5 triliun sejak awal tahun hingga 18 Juli 2024.

Waspada Beban Bunga Utang Masih berat

HR1 18 Jul 2024 Kontan

Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan BI Rate di level 6,25% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI edisi Juli 2024, kemarin. Namun bank sentral melihat adanya peluang pemangkasan BI Rate di kuartal IV-2024 jika terjadi penurunan Fed Funds Rate   yang lebih cepat. Namun BI membuka peluang memangkas BI Rate pada kuartal IV-2024. Hal ini sejalan dengan inflasi yang masih terkendali dan pertumbuhan ekonomi yang terjaga. Inflasi pada Juni 2024 turun menjadi 2,51% secara tahunan. "Kami masih melihat ruang arah suku bunga BI Rate akan turun, kemungkinan pada kuartal empat," ujar Gubernur BI, Perry Warjiyo, Rabu (17/7). 

Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Chandra Wahjudi menilai keputusan BI menahan bunga acuan masih wajar. Kendati begitu, dia berharap bunga acuan bisa turun hingga di bawah level 5%. Hal ini demi mengurangi beban dunia usaha. Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mewanti-wanti dampak peningkatan BI Rate di level 6,25% terhadap kinerja fiskal. Khususnya berkaitan dengan imbal hasil (yield) surat utang yang harus dibayarkan pemerintah. Head of Macroeconomic & Financial Market Research, Bank Permata Faisal Rachman mengatakan, pemicu naiknya beban pembayaran bunga utang pada tahun ini adalah pelemahan nilai tukar rupiah yang sudah berada di atas Rp 16.000 per dolar AS. Ini sudah di atas asumsi makro APBN 2024 yang sebesar Rp 15.000 per dolar AS. Sementara itu, Faisal memperkirakan pembayaran beban bunga utang tahun depan atau 2025 masih akan cukup tinggi. Ini imbas masih ada dampak dari penerbitan SBN yang tinggi dalam rangka penanganan pandemi Covid-19. Sementara, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita juga memperkirakan beban bunga utang pada tahun depan akan lebih tinggi dibandingkan tahun ini.

BI Tak Kendurkan Fokus Penguatan Rupiah

KT1 18 Jul 2024 Investor Daily (H)

Bank Indonesia (BI) memastikan, fokus kebijakan moneter bank sentral dalam jangka pendek terus diarahkan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar (kurs) rupiah dan menarik aliran masuk modal asing. Langkah itu diambil meski belakangan ini kurs rupiah terus menguat terhadap dolar AS, setelah pada akhir Juni lalu sempat melemah hingga level terendah dalam empat tahun terakhir. Kebijakan moneter tersebut dilakukan dengan penguatan strategi operasi moneter pro-market melalui pertama, struktur suku bunga di pasar uang rupiah dengan menjaga daya tarik imbal hasil (yield), terutama bagi portofolio asing.

Kedua optimalisasi penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan Valas bank Indonesia, dan Sukuk Valas BI. "Fokus kebijakan moneter dalam jangka pendek diarahkan untuk memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar rupiah dan menarik aliran masuk modal asing. Sedangkan kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap pro-growth untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," ujar Perry Warjiyo. (Yetede)

KAPAN SUKU BUNGA TURUN?

HR1 18 Jul 2024 Bisnis Indonesia (H)

Bank Indonesia masih bergeming soal kebijakan suku bunga acuan. Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung 16-17 Juli, memutuskan BI Rate tetap 6,25%. BI baru membuka peluang penurunan BI Rate pada kuartal IV/2024. Sontak, dunia usaha pun bereaksi. Mereka berharap BI menurunkan BI Rate lebih cepat setelah selama dua tahun suku bunga acuan berada dalam tren kenaikan. Pasalnya, penurunan suku bunga akan membuat biaya dana alias cost of fund berkurang, yang pada gilirannya turut menurunkan suku bunga kredit penunjang ekspansi bisnis. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai keputusan BI yang kembali menahan BI Rate di level itu masih tidak ideal. “Kebijakan suku bunga acuan yang dipertahankan pada level 6,25% ini masih tidak ideal karena kurang affordabledari sisi financing cost usaha dan kurang kompetitif juga di Asean,” kata Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani, Rabu (17/7). Adapun, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Arsjad Rasjid mengatakan dunia usaha hanya dapat menyusun langkah antisipatif atas suku bunga acuan yang masih tinggi, di antaranya dengan menghitung ulang biaya operasional untuk mengurangi beban usaha. Selain itu, siasat lainnya yang dilakukan pelaku usaha kala suku bunga masih tinggi adalah dengan melakukan penundaan ekspansi atau investasi hingga mencari bahan baku alternatif lainnya untuk mengurangi ketergantungan. 

Setali tiga uang, kalangan bankir turut menyerukan agar BI menurunkan suku bunga. Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) Lani Darmawan mengharapkan suku bunga acuan dapat turun untuk menekan biaya dana dan menaikkan animo permintaan pinjaman. Berdasarkan presentasi perusahaan, cost of fund deposit CIMB Niaga berada di level 3,41% pada Maret 2024, naik 62 basis poin dari periode yang sama tahun lalu 2,79%. Sementara secara kuartalan, biaya dana naik 24 basis poin. Hal ini pun diamini oleh Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu yang juga berharap biaya dana bisa turun. Nixon mengatakan BTN memilih tidak menetapkan target penyaluran kredit yang setara atau lebih tinggi dari pencapaian kuartal I/2024. Bank pelat merah ini menurunkan pertumbuhan target kredit ke level 10%-11% hingga akhir tahun karena likuiditas yang cukup mahal. Kepala Ekonom BCA David Sumual mengatakan waktu yang tepat untuk menurunkan BI Rate bergantung pada kondisi infl asi dan stabilitas rupiah. Namun, dia melihat BI kemungkinan akan tetap konservatif mengingat masih tingginya risiko capital outfl ow, selain masih minimnya katalis dalam negeri, termasuk ekspor komoditas yang cenderung stagnan.

Pengusaha dan Ekonom Harapkan BI Tahan BI Rate

KT1 17 Jul 2024 Investor Daily (H)
Kalangan ekonom dan pengusaha memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di angka 6,25% dalam rapat Dewan Gubernur pada 16-17 Juli 2024. BI juga diharapkan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyarankan agar BI BI Rate di angka 6,25%. Meski demikian kalangan pengusaha juga memahami bahwa bank sentral juga harus mengantisipasi dampak gejolak perekonomian dunia ke perekonomian dalam negeri. "Kalau kami maunya BI Rate jangan dinaikkan lagi dengan kondisi yang seperti ini, memang tidak mudah ya untuk pemerintah. Merekakan (BI) harus tetap melakukan intervensi, terutama yang berkaitan dengan kondisi rupiah," kata Ketua Umum Apindo Shinta Widjaya Kamdani. (Yetede)