Moneter
( 122 )Upaya Ekstra untuk Menahan Rupiah
Merespons Ketidakpastian Global, BI Naikkan Suku Bunga Acuan
Sebagai langkah penyesuaian atas ketidakpastian global, BI memutuskan menaikkan tingkat suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 6 %. Keputusan ini diambil sebagai upaya stabilisasi nilai tukar rupiah dan mitigasi inflasi barang impor di tengah sentimen ketidakpastian global yang meningkat. Dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Oktober 2023 di Jakarta, Kamis (19/10) BI turut menaikkan suku bunga deposit facility dan suku bunga lending facility sebesar 25 basis poin (bps) sehingga masing-masing menjadi 5,25 % dan 6,75 %. Dengan demikian, kenaikan suku bunga acuan BI-7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) terjadi setelah BI mempertahankannya selama 10 bulan berturut-turut.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, situasi perekonomian global saat ini bergerak begitu cepat dan penuh dengan ketidakpastian. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penyesuaian kebijakan moneter untuk melindungi perekonomian domestik dari ketidakpastian global yang terus meningkat. ”Kenaikan ini untuk memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya ketidakpastian global serta sebagai langkah pre-emptive (penangkalan) dan forward looking (prediksi di masa depan) untuk memitigasi dampaknya terhadap inflasi barang impor (imported inflation) sehingga inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2-4 % pada 2023 dan 1,5-2,5 % pada 2024,” katanya. (Yoga)
The Fed Menegaskan Suku Bunga Akan Tetap Tinggi
Asing Masih Akan Hati-Hati di Pasar Obligasi Negara
SRBI Belum Mampu Memompa Rupiah
BI Akan Menahan Suku Bunga Acuan
Jalan Tengah Penguatan Rupiah
JAKARTA - Kehadiran Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) diharapkan dapat membawa angin segar penguatan nilai tukar rupiah. Instrumen moneter baru ini memiliki salah satu tujuan utama, yakni menarik aliran modal asing tetap deras masuk ke pasar keuangan dalam negeri dalam bentuk investasi portofolio, seperti saham dan surat berharga. Merujuk pada neraca pembayaran Indonesia, hingga kuartal II 2023, kinerja investasi portofolio mencatat defisit US$ 2,6 miliar, berbalik arah dari kuartal I 2023 yang mencatatkan surplus US$ 3 miliar. Walhasil, instrumen ini pada akhirnya diharapkan dapat menarik aliran modal masuk (capital inflow), memperkuat upaya pendalaman pasar uang, dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, berujar, SRBI merupakan instrumen moneter untuk mendukung pengembangan pasar uang dan pasar valuta asing. Surat berharga yang diterbitkan dalam mata uang rupiah oleh bank sentral ini sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek menggunakan underlying asset atau jaminan berupa Surat Berharga Negara (SBN) milik Bank Indonesia. “Penerbitan SRBI dilakukan bank sentral untuk menyerap likuiditas rupiah di pasar uang,” ujarnya kepada Tempo, kemarin. (Yetede)
PENGUAT FONDASI RUPIAH
Sambung-menyambung upaya Bank Indonesia (BI) dalam memagari gerak rupiah agar tetap eksis di zona aman. Setelah meluncurkan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) pada Term Deposit (TD) Valuta Asing di sektor komoditas sumber daya alam (SDA), bank sentral hari ini, Jumat (15/9), resmi memulai lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Instrumen itu adalah surat berharga dalam mata uang rupiah yang diterbitkan BI sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek, dengan menggunakan underlying asset Surat Berharga Negara (SBN) yang dimiliki BI. SRBI merupakan alat operasi moneter untuk mengelola likuiditas yang sekaligus mendukung pengembangan pasar uang dan stabilitas rupiah karena dapat ditransaksikan dan dimiliki oleh nonbank di pasar sekunder. Produk ini pun membawa keuntungan yang besar bagi ketahanan eksternal Indonesia. Di antaranya menjaga mata uang Garuda tetap stabil di tengah ketidakpastian dunia akibat pengetatan moneter bank sentral negara maju. Corporate Secretary PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Rudi As Aturridha, mengatakan kehadiran SRBI bisa menjadi alternatif instrumen operasi moneter kontraksi likuiditas yang sudah ada saat ini seperti reverse repo SBN dan term deposit rupiah. "SRBI memiliki daya tarik tersendiri yang berbeda dari instrumen lainnya, yaitu tradable dan dapat dimiliki oleh penduduk maupun bukan penduduk," kata Rudi kepada Bisnis, Kamis (14/9). Senada, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan, mengatakan perseroan menganalisis berbagai kemungkinan untuk menyerap instrumen tersebut. Namun demikian, dia memastikan bahwa CIMB Niaga saat ini memiliki likuiditas yang cukup solid, ditandai dengan current account saving account (CASA) dan dana pihak ketiga (DPK) yang terus tumbuh, dengan loan to deposit ratio (LDR) yang terjaga baik. "Sedang kami periksa [kemungkinan menyerap SRBI]," katanya. Kalangan ekonom pun optimistis SRBI memiliki daya pikat yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan suku bunga reverse repo SBN ataupun Surat Perbendaharaan Negara (SPN) karena keuntungan yang ditawarkan lebih menarik. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, mengatakan bank yang memiliki akses ke pasar primer, mempunyai keleluasaan penuh untuk menjual SRBI kepada lembaga nonbank, seperti perusahaan pengelola aset, investor luar negeri, dan investor ritel.
Instrumen Investasi Baru Penyerap Likuiditas
Pekan ini, Bank Indonesia bakal meluncurkan instrumen operasi moneter baru bernama Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Ini instrumen dengan aset dasar surat berharga negara (SBN) milik BI dalam mata uang rupiah, sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek.
Menurut BI, instrumen ini jadi salah satu strategi untuk menggenjot aliran modal asing masuk ke pasar keuangan Indonesia serta untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional di tengah belum stabilnya perekonomian global. Tapi, instrumen ini juga bisa jadi sarana investasi, lo.
BI akan melelang SRBI pertama kali pada Jumat (15/9). Menurut kalender operasi moneter BI, selanjutnya BI akan kembali melelang instrumen ini pada Rabu (20/9). Dalam lelang perdana nanti, BI akan melepas SRBI dengan jangka waktu 6 bulan, 9 bulan serta 12 bulan.
Setelah lelang perdana, BI akan terus melakukan lelang setiap dua kali dalam sepekan, yakni pada hari Rabu dan Jumat. "Lelang dibuka pukul 13.30 dan berlangsung 30 menit,” papar Edi Susianto, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI kepada KONTAN, kemarin. Jadwal dan hasil lelang akan diumumkan melalui situs BI.
Besaran imbal hasil juga akan menyesuaikan tenor. Catatan saja, hasil lelang RR SBN pada Selasa kemarin untuk tenor 7 hari dengan jatuh tempo 19 September 2023, memberikan imbal hasil sebesar 5,75%.
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Erwindo Kolopaking menimpali, SRBI diharapkan bisa menarik modal asing masuk pasar keuangan Indonesia.
Sejumlah bank menyambut antusias atas peluncuran SRBI ini. Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja bilang, pihaknya tertarik menyerap SBRI. "Kami akan serap kalau ada kelebihan likuiditas," ujar dia.
Tarik Dollar AS, BI Terbitkan Instrumen Baru
BI menerbitkan instrumen moneter baru bernama Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI. Instrumen moneter ini diharapkan bisa mendorong pendalaman pasar uang dan menarik modal asing sehingga stabilitas nilai tukar rupiah terjaga. ”Situasi global diliputi ketidakpastian. Kami berpikir bagaimana agar ada instrumen operasi moneter yang bisa mendukung pendalaman pasar uang. Harapannya, bisa mendorong arus modal asing masuk sehingga nilai tukar rupiah bisa terjaga,” ujar Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Edi Susianto, Senin (28/8) di Jakarta.
Peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global menyebabkan nilai tukar rupiah sampai 23 Agustus 2023 melemah 1,41 % dibandingkan akhir Juli 2023. Mengutip kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Senin (28/8) berada di level Rp 15.294 per dollar AS. Tren menguatnya mata uang dollar AS belakangan ini mencuat karena adanya kemungkinan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), akan kembali menaikkan suku bunga acuannya pada September 2023. Hal inilah yang memicu arus modal keluar dari Indonesia sehingga mengurangi pasokan dollar AS pada sistem keuangan dalam negeri, yang akhirnya menggerus nilai tukar rupiah.
Menurut Edi, SRBI adalah surat berharga dalam mata uang rupiah sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek dengan menggunakan underlying asset berupa surat berharga negara (SBN) yang dipegang BI. Karakteristik SRBI diterbitkan tanpa warkat, diterbitkan dan diperdagangkan dengan sistem diskonto. Selain itu, dapat dipindah tangankan dan dapat dimiliki oleh penduduk atau bukan penduduk (nonresident/asing) di pasar sekunder. SRBI akan diimplementasikan mulai 15 September 2023. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Terus Dorong Mutu Investasi
25 Jan 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023









