Moneter
( 122 )Diapresiasi Keputusan BI Mempertahankan Suku Bunga
Berbeda dengan kebijakan Bank Sentral AS yang agresif menaikkan suku bunga acuan, Bank Indonesia (BI), Kamis (23/06) mempertahankan BI 7-Day reverse Repo Rate (BI7DRR) di level 3,5%. Dengan demikian, sudah 16 bulan berturut-turut BI mempertahankan bunga acuan di level terendah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Kebijakan bank sentral mendapat apresiasi dari berbagai pihak, khususnya para bankir, pelaku pasar modal, dan pengusaha. Keputusan BI mempertahankan suku bunga tidak menimbulkan instabilitas di pasar valuta asing. Nilai tukar rupiah menguat tipis, 0,25%, ke level Rp 14.826 per dolar AS. Indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat 0,20% ke level 6.998. Meski di investasi portofolio terjadi sedikit capital outflow, secara umum aliran modal asing yang masuk Indonesia jauh lebih besar akibat tingginya foreign direct investment (FDI). (Yetede)
BI Menyedot Likuiditas Perbankan Rp 300 Triliun
Bank Indonesia (BI) memutuskan menormalisasi kebijakan moneter tahun ini. Normalisasi dengan mengurangi likuiditas di perbankan yang kini berlebih.
Kepala Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Mandiri Dian Ayu Yustina memperkirakan, sekitar Rp 260 triliun hingga Rp 300 triliun likuiditas disedot oleh BI
"Namun, upaya BI ini tidak akan mengganggu likuiditas di perbankan. Mengingat saat ini likuiditas masih sangat besar," kata Dian, Rabu (22/6). Bahkan perbankan masih mampu menyalurkan kredit maupun membeli surat berharga negara (SBN) untuk pembiayaan APBN.
BI Beri Sinyal Tahan Suku Bunga
Bank Indonesia memberi sinyal menahan suku bunga acuan BI-7 Day Reserve Repo Rate (BI7DRR) di level 3,6% pada pekan ini. Arah kebijakan suku bunga masih tertuju pada upaya untuk mendorong pemulihan ekonomi. "Kebijakan moneter akan terus pro-stability. Dengan inflasi yang rendah , kita tidak perlu terburu-buru untuk menaikkan suku bunga sampai ada tekanan fundamental pada inflasi," kata Gubernur BI Perry Warjiyo. Dia mengatakan, realisasi inflasi hingga Mei 2022 masih rendah, dibandingkan negara lain. Hal ini tercermin pada indeks harga konsumen (IHK) pada Mei 2022 yang mengalami inflasi 0,4% (month to month/mtm), 3,55% secara tahunan (year on year/yoy), dan inflasi inti 2,58% (yoy). "Saya yakin, koordinasi yang kuat antara pemerintah dan bank sentral dapat mengelola stabilitas harga. Tahun ini, perkiraan inflasi kami akan berada di atas target kami, 4%, mungkin sekitar 4,2%. Ini masih sangat rendah, dibandingkan negara lain. Tahun depan kami yakin, inflasi kami akan kembali ke level target kami 3% plus minus 1%." ucap dia. (Yetede)
BI Dalam Posisi Sulit untuk Mempertahankan Bunga Acuan
Bank Indonesia (BI) saat ini dalam posisi sulit untuk terus mempertahankan suku bunga acuan BI-7 Day Reserve Repo Rate (BI7DRR)) dilevel 3,5% guna menjaga momentum pemulihan ekonomi dari tekanan akibat pandemi. Tren kebijakan moneter ketat yang dilakukan negara-negara maju, terutama oleh The Fed yang pekan lalu menaikkan Fade Fun rate (FFR) hingga 75 habis poin (bps) menjadi 1,5%-1,75%, telah menggerus cukup tebal nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah yang pada 3 Juni 2022 masih berada di level Rp 14.431 per dolar AS, pada Senin (20/6) tercatat diposisi Rp14.836 atau mengalami depresiasi hingga 2,8%. Namun, bila pelemahan rupiah itu terus berlanjut dan tak terkendali hingga menembus Rp15.000 per dolar AS karena BI telat meresponsnya dengan menaikkan B17DRR, hal itu bisa menjadi tekanan bagi perekonomian nasional dari sisi eksternal. (Yetede)
Tantangan Moneter dan Fiskal
Langkah BI mempertahankan bunga acuan 3,5 % pekan ini menunjukkan optimisme perekonomian domestik, di tengah situasi global yang tak kondusif. Situasi tak kondusif ini ditandai kian meningkatnya risiko global. Saat ini terjadi lonjakan inflasi dunia yang mendorong kenaikan suku bunga negara maju, ancaman stagflasi di AS dan Uni Eropa, kian meningkatnya disrupsi rantai pasok global akibat lockdown di China, pelemahan prospek pertumbuhan global, dan berkepanjangannya perang Rusia-Ukraina yang memperparah krisis energi dan pangan dunia. Ada beberapa faktor yang memungkinkan Indonesia melakukan hal ini. Posisi sebagai eksportir komoditas membuat Indonesia diuntungkan oleh lonjakan harga komoditas global kendati Indonesia juga sangat terdampak oleh kenaikan harga energi dan pangan karena masih tergantung impor.
Di tengah risiko global yang kian meningkat, kondisi ekonomi dalam negeri juga masih relatif baik, dengan perekonomian yang terus menunjukkan pemulihan dari dampak pandemi. Ekonomi triwulan I-2022 tumbuh 5,01 %, dengan hampir semua sektor dan mesin pertumbuhan mengalami ekspansi. Inflasi Indonesia memang meningkat ke 3,47 %, tetapi angka ini relatif moderat dibandingkan banyak negara berkembang lain ataupun negara maju. Perang Rusia-Ukraina memicu siklus globalisasi inflasi lewat lonjakan harga energi dan pangan, ditambah lockdown China yang memperparah disrupsi rantai pasok global. Hampir 80 negara maju dan berkembang mencatat inflasi di atas 5 %.Dengan negara maju relatif menahan diri untuk tidak terlalu agresif menaikkan suku bunga karena khawatir bisa memicu resesi, ada ruang bagi Indonesia untuk sementara menahan kenaikan bunga guna memacu pertumbuhan. (Yoga)
Kebijakan Moneter BI Makin Independen
Risiko kejatuhan nilai tukar rupiah akibat larinya dana asing yang dipicu oleh kebijakan bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) cenderung semakin kecil. Kondisi ini membuat kebijakan moneter BI menjadi lebih independen dari pengaruh The Fed. Karena itu, BI percaya diri tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5 % kendati The Fed telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak dua kali sebesar total 75 basis poin sejak Maret 2022. Dengan berkurangnya pengaruh The Fed terhadap stabilitas kurs, kebijakan moneter BI bisa lebih fokus dalam mengendalikan inflasi sembari tetap mendorong pemulihan ekonomi nasional. Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 23-24 Mei 2022 memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,5 %, suku bunga deposit facility 2,75 %, dan suku bunga lending facility 4,25 %. ”Keputusan ini sejalan dengan perlunya pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar, serta tetap mendorong pertumbuhan ekonomi, di tengah tingginya tekanan eksternal terkait dengan ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina serta percepatan normalisasi kebijakan moneter di sejumlah negara maju dan berkembang,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo pada jumpa pers hasil RDG secara virtual, Selasa (24/5).
Langkah BI tersebut membuat spread suku bunga acuan BI dengan suku bunga The Fed semakin mengecil. Target suku bunga The Fed saat ini adalah 0,75-1 %. Spread keduanya saat ini tergolong sangat rendah dibandingkan masa-masa sebelumnya. Perry meyakini, kebijakan The Fed menaikkan suku bunga tidak akan berdampak signifikan terhadap stabilitas kurs rupiah, karena jumlah dana asing yang keluar dar Indonesia (capital outflow) relatif minim. Kondisi itu terjadi seiring mengecilnya porsi kepemilikan asing pada surat berharga negara (SBN) dan saham di pasar modal. Berdasarkan data Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu per 12 Mei 2022, kepemilikan asing pada SBN hanya 16,70 %. Ini jauh menurun dibandingkan dengan sebelum pandemi Covid-19 yang pernah mencapai 40 %. Menurut Perry, kemampuan Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah dari tekanan eksternal juga relatif kuat saat ini. Salah satunya berkat surplus transaksi berjalan yang ditopang oleh surplus neraca perdagangan. Pada April 2022, neraca perdagangan mencatat surplus 7,6 miliar USD, lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 4,5 miliar USD . (Yoga)
Kebijakan Moneter Jadi Perhatian Pelaku Pasar
Saham-saham unggulan di bursa saham China, Senin(17/1/2022), naik tipis 0,4 % setelah Bank Sentral China (PBOC) menurunkan suku bunga pinjaman utama sebesar 10 basis poin. Data terbaru ekonomi China menunjukkan, angka penjualan ritel hanya naik 1,7 persen secara tahunan Desember lalu, meleset dari perkiraan sebesar 3,7 %. Tahun lalu, ekonomi China tumbuh 8,1 %. Perhatian pelaku pasar pekan ini juga tertuju pada kebijakan moneter Jepang. (Yoga)
Tiongkok Akan Longgarkan Lagi Kebijakan Moneter
Ahli Strategi investasi dari Independent Strategy David Roche mengatakan pada Senin (27/12) bahwa Pemerintah Tiongkok akan melonggarkan lagi kebijakan moneternya supaya dapat terus fokus pada stabilitas dan mencapai kesejahteraan bersama. "Untuk mencapai hal itu, Tiongkok kemungkinan akan memangkas tingkat suku bunga pinjaman lebih lanjut, menyuntikkan uang ke perbankan untuk dipinjamkan kepada usaha kecil dan menengah serta memasktikan bahwa para pengembang properti yang bermasalah menyelesaikan proyeknya. Itu adalah langkah-langkah yang saya harapkan dapat kita lihat lebih banyak. Menurut Roche, gangguan-gangguan yang relatif kecil seperti infeksi virus corona dapat menyebabkan konsekuensi ekonomi yang sangat besar diluar batas suatu negara. "Hal itu berdampak pada seluruh rantai pasokan dan kemudain permintaan, kepercayaan diri, dan yang lainnya," katanya. (Yetede)
Dampak Pengetatan Moneter AS "Kecil"
Pelaku pasar dan masyarakat jangan terlalu khawatir terhadap kemungkinan terjadinya kembali taper tantrum seperti 2013. Cadangan devisa Indonesia saat ini dalam posisi sangat baik untuk menciptakan stabilitas moneter. Bank Sentral Amerika Serikat juga mengomunikasikan rencana tapering sehingga pasar lebih siap mengantisipasi.Sebutan tapering merujuk pada pengetatan kembali kebijakan moneter, lewat kenaikan suku bunga dan pengurangan uang beredar. Saat Bank Sentral AS melakukan itu, banyak negara berkembang ketiban masalah akibat gejolak kurs.
Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Raden Pardede memperkirakan, dampak tapering tidak akan menimbulkan gejolak besar seperti pada 2013. ”Saya kira relatif kecil dampaknya,” ujarnya pada webinar ”What Will Happen in 2022 Economic Outlook” dalam rangkaian acara Wealth Wisdom, digelar Bank Permata, Sabtu (18/9/2021).Menurut dia, cadangan devisa Indonesia dalam posisi sangat baik untuk menjaga stabilitas kurs rupiah dan keuangan. Per 31 Agustus 2021, cadangan devisa Indonesia 144,78 miliar dollar AS. Jumlah ini termasuk tambahan alokasi Special Drawing Rights (SDR) senilai 4,46 miliar SDR yang setara 6,31miliar dollar AS dari Dana Moneter Internasional (IMF).
Efektivitas Utang Menentukan Situasi
Di negara berkembang, tingginya kebutuhan pembiayaan disiasati dengan monetisasi utang. Caranya, bank sentral membeli surat utang pemerintah dengan dibarengi penurunan suku bunga acuan. Kebijakan ini memang dibutuhkan sementara waktu, tetapi konsolidasi neraca pemerintah dan bank sentral tetap terbatas.
Monetisasi utang juga dilakukan Indonesia. Bank Indonesia (BI) membeli surat berharga negara (SBN) yang diterbitkan pemerintah senilai Rp 397,56 triliun berikut beban bunganya dengan mekanisme private placement. Indonesia tidak punya pilihan selain meningkatkan itang demi menahan kontraksi ekonomi agar tidak semakin dalam. Kementerian Keuangan memproyeksikan, rasio utang terhadap PDB melonjak dari kisaran 30 persen tahun 2019 menjadi 37-38 persen tahun 2020.
Menurut Wakil Direktur Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Eko Listiyanto, penyerapan anggaran pemulihan ekonomi nasional pada paruh kedua akan menentukan Indonesia, apakah akan mengalami resesi atau tidak. Survei konsumen oleh BI pada Juni 2020 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi mulai membaik, yakni naik tipis dari 77,8 pada Mei 2020 menjadi 83,8 pada Juni 2020.
Belanja pemerintah daerah, terutama terkait penanganan Covid-19, harus digenjot dalam enam bulan ke depan. Jangan sampai anggaran yang sudah disalurkan pemerintah pusat mengendap di rekening kas khusus daerah.
Pilihan Editor
-
Beban Bunga Utang
05 Aug 2022 -
The Fed Hantui Pasar Global
26 Jul 2022









