Moneter
( 122 )WAIT AND SEE SUKU BUNGA BI
Bank sentral menunjukkan gelagat dilematik. Ruang pelonggaran suku bunga acuan yang menjanjikan rupanya tidak terlalu leluasa dilakukan karena adanya gejolak global dan risiko di dalam negeri. Dari global, bayangan gelap muncul dari The Federal Reserve (The Fed) yang menganulir sinyal percepatan penurunan suku bunga acuan dari level 5,25%—5,5% pada awal paruh kedua 2024 karena inflasi Amerika Serikat (AS) yang kembali tinggi. Belum lagi resesi di Jepang dan Inggris, yang akan mempengaruhi prospek perekonomian dunia, tidak terkecuali Indonesia. Situasinya pun masih diperparah dengan belum adanya tanda-tanda merenggangnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur. Sejumlah faktor global yang berisiko melahirkan krisis energi dan pangan, pelemahan rupiah, serta penurunan inflasi barang impor. Apalagi menjelang Ramadhan, permintaan selalu meningkat dan secara historis mendorong inflasi, salah satu tolok ukur Bank Indonesia (BI) dalam mendorong arah bunga acuan.
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) kemarin, Rabu (21/2), Gubernur BI Perry Warjiyo, tak memungkiri adanya dinamika baru dari eksternal yang turut mempengaruhi kebijakan domestik. Untuk saat ini, otoritas moneter mempertahankan BI-Rate sebesar 6,00%, dan memberikan sinyal pelonggaran baru akan dilakukan pada semester II/2024. Perry menambahkan, yang ditayangkan di pasar keuangan dunia saat ini masih cenderung tinggi, akibat berlanjutnya eskalasi ketegangan geopolitik. Hal itu kemudian mempengaruhi rantai pasok global yang kemudian memicu peningkatan harga komoditas pangan dan energi, serta menahan laju penurunan inflasi. Berbagai kondisi itulah yang pada akhirnya mendorong bank sentral untuk 'wait and see' soal acuan suku bunga, setidaknya hingga ancaman dari sisi inflasi, The Fed, serta stabilitas rupiah tetap terjaga. Dalam kaitan rupiah, bank sentral akan mengoptimalkan instrumen moneter yang telah tersedia. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, mengatakan dampak dari suku bunga tinggi pun cukup menyakitkan ekonomi, terefleksi dari resesi yang terjadi di Inggris dan Jepang. "Ini tantangan untuk lingkungan global kita semuanya," katanya. Stagnasi suku bunga acuan di level 6% memang memberikan ruang bagi pemerintah dan BI untuk melakukan manuver guna menciptakan stabilitas harga dan ekspektasi inflasi.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani, mengatakan kalangan berusaha bahkan tidak lagi memiliki ekspektasi soal relaksasi suku bunga. Shinta menjelaskan, suku bunga di level 6% menjadi tidak ideal bagi pengusaha karena menjadi beban pembiayaan yang tinggi. Dampaknya, pertumbuhan kinerja usaha menjadi tidak kondusif. Fakultas Ekonomi dan Asosiasi Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia Ryan Kiryanto, memandang keputusan BI merupakan langkah preemptive sekaligus antisipatif untuk mendukung stabilitas guna mengendalikan inflasi dan rupiah. Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David Sumual, menambahkan sejatinya pemerintah dan BI telah mengeluarkan banyak stimulus untuk merangsang perekonomian.
Dolar AS Makin Perkasa, Mata Uang Global Tertekan
BI Kembali Pertahankan Suku Bunga Acuan
Peluang Bunga Acuan Turun di Semester II-2024
BI Diperkirakan Tahan Suku Bunga Acuan di Akhir 2023
Suku Bunga 6% Dukung Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan
Ruang Perubahan Suku Bunga Masih Sempit
Ruang perubahan kebijakan suku bunga Bank Indonesia 7-
Day Reverse Repo Rate
(BI7DRR) tetap ada, meski menyempit. Bank sentral terus memantau data-data yang menjadi pertimbangan kebijakan tersebut.
Bank Indonesia (BI) mempertahankan bunga acuannya di level 6% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) November 2023, setelah kenaikan 25 basis poin (bps) pada Oktober 2023. Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, penetapan bunga acuan ini seiring upaya mengantisipasi dampak ketidakpastian global.
Dia bilang hal ini merupakan langkah
pre-emptive
dan
forward looking
untuk memitigasi dampak terhadap inflasi barang impor (imported inflation). Terutama karena lonjakan harga energi dan pangan global, juga koreksi nilai tukar rupiah. Alhasil, inflasi akan tetap terkendali di kisaran 3% plus minus 1% pada 2023 dan 2,5% plus minus 1% pada 2024.
Ia menambahkan, bank sentral turut mencermati kondisi global. Terutama kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada bulan depan, meski probabilitasnya semakin menipis dari sebelumnya 40% menjadi hanya 10%.
Namun, dia memastikan respons kebijakan dari BI terkait suku bunga akan konsisten secara forward looking dan pre-emptive. Juga memastikan untuk menjangkar inflasi ke depan.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menilai, suku bunga acuan saat ini sudah memadai untuk mempertahankan daya tarik aset rupiah sekaligus menarik modal asing untuk mengalir masuk. Dengan demikian, "Suku bunga acuan akan tetap sebesar 6% pada akhir tahun 2023" ungkap dia kepada KONTAN, Kamis (23/11).
Ekonom Bank UOB Enrico Tanuwidjaja juga meyakini tak akan ada lagi kenaikan suku bunga acuan pada tahun 2023. "Secara retorika, nampaknya meyakinkan bahwa tidak ada lagi kenaikan suku bunga setidaknya pada bulan Desember 2023," terang Enrico dalam keterangannya, Kamis (23/11).
Walaupun juga ada pernyataan dari Gubernur BI bahwa langkah BI masih akan sangat bergantung dengan perkembangan data terakhir.
MEMPERTEBAL KETAHANAN EKSTERNAL
Ketahanan eksternal berada dalam kerentanan yang disebabkan oleh defisitnya transaksi aktivitas ekonomi yang menjadi indikator ketangguhan Indonesia. Di antaranya adalah neraca transaksi berjalan serta neraca transaksi modal dan finansial yang masih saja berkutat di teritorial negatif. Tak pelak, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pun masih defisit. Bank Indonesia (BI) mencatat, defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal III/2023 sebesar US$0,9 miliar atau 0,2% dari produk domestik bruto (PDB), sedangkan transaksi modal dan finansial defisit US$0,3 miliar (0,1% dari PDB), sehingga NPI defisit US$1,5 miliar. Memang, jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, defisit tersebut lebih rendah. Namun, data terbaru ini mengindikasikan dampak ketidakpastian global terhadap stabilitas di Indonesia masih amat besar. Buktinya, pada saat bersamaan cadangan devisa juga tergerus, yakni dari US$134,9 miliar pada September 2023 menjadi US$133,1 miliar pada Oktober 2023. Masih defisitnya neraca transaksi berjalan serta transaksi modal dan finansial masing-masing dipicu oleh menipisnya surplus neraca perdagangan dan terbatasnya aliran investasi langsung. Alhasil, pemerintah pun wajib memacu ekspor dan menguatkan aliran modal agar NPI surplus dan ketahanan eksternal makin kokoh. Jika tidak, kondisi itu akan memaksa BI mengetatkan suku bunga acuan yang saat ini di level 6%. Dari sisi penguatan neraca transaksi berjalan, pemangku kebijakan terus memperluas kemitraan dagang sehingga aktivitas ekspor lebih trengginas. Adapun untuk menarik aliran modal, BI telah meluncurkan dua instrumen anyar yakni Sekuritas Valuta Asing BI (SVBI) dan Sukuk Valuta Asing BI (SUVBI).
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, mengatakan selain mengoptimalkan instrumen yang ada, bank sentral juga mencermati dinamika perekonomian global yang dapat memengaruhi NPI. Dalam kesempatan terpisah, Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Abdurohman, mengatakan pemerintah terus memantu kondisi ekonomi China yang terus melemah dan dampaknya terhadap ekspor nasional. Di sisi lain, pemerintah juga mengantisipasi dan menjaga pertumbuhan ekonomi 2023 tetap di atas 5%. Salah satunya, dengan meningkatkan daya saing produk ekspor nasional, serta diversifikasi mitra dagang utama. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, menegaskan ketahanan ekonomi masih amat kuat, tecermin dari realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal III/2023 sebesar 4,94%, inflasi terkendali, dan utang negara yang berada di bawah 40% terhadap PDB. Sementara itu, sejumlah ekonom memproyeksikan NPI sepanjang tahun ini akan berakhir di zona defisit lantaran masih belum adanya tanda-tanda pemulihan stabilitas global. Utamanya neraca transaksi berjalan yang diprediksi defisit 0,27%—0,4% dari PDB. International Monetary Fund (IMF) dalam IMF Executive Board Concludes 2023 Article IV Consultation with Indonesia, mengestimasi transaksi berjalan 2023 defisit US$3,8 miliar, defisit US$11,2 miliar pada 2024, dan defisit US$17,1 miliar pada 2025. Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Sarman Simanjorang, jika defisit neraca pembayaran berlanjut, akan menguras cadangan devisa negara dan meningkatkan risiko ketidakmampuan negara untuk memenuhi kewajiban pembayaran luar negeri. Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet, mengatakan efektivitas instrumen operasi moneter yang dirilis BI butuh waktu untuk dapat menopang ketahanan eksternal.
Bank Indonesia Terbitkan Aturan tentang SVBI dan SUVBI
Instrumen Baru Memperdalam 'Danau' Pasar Keuangan Domestik
Pilihan Editor
-
Credit Suisse Tepis Krisis Perbankan
17 Mar 2023 -
Tren Thrifting Matikan Industri TPT
13 Mar 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023









