Bisnis Perdagangan secara Elektronik Semakin Ketat
Bisnis perdagangan secara elektronik atau e-dagang di Indonesia semakin ketat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Sejumlah lokapasar, baik yang di Indonesia maupun global, memberhentikan sebagian karyawannya. Namun, diperkirakan konsumen e-dagang di Indonesia tetap tumbuh. Bisnis terkait e-dagang, yakni JDL Express Indonesia yang merupakan bagian dari lokapasar JD.ID, resmi berhenti beroperasi sejak Minggu (22/1). Penutupan bisnis JDL Express Indonesia semakin menguatkan rumor JD.ID akan berhenti beroperasi di Indonesia. Sebelumnya, JD.com selaku pemegang saham utama JD.ID dikabarkan akan hengkang sebagai pemegang modal di JD Indonesia dan Thailand. Praktisi bisnis digital Ignatius Untung, saat dihubungi Selasa (24/1), berpendapat, konteks yang dialami JD.ID berbeda dengan Rakuten, lokapasar asal Jepang, yang memutuskan menutup operasionalisasinya di Indonesia per 1 maret 2016. Kala itu, pasar e-dagang di Indonesia sedang berkembang dan sudah ada 10 pemain lokapasar berskala besar.
”Kondisi saat ini, semua perusahaan teknologi sedang berhitung. Dengan ketidakpastian makroekonomi global yang berdampak ke aliran investasi sektor teknologi lesu, mereka tentunya mengkaji ulang bisnis di luar negeri yang sudah menghasilkan laba, balik modal, atau punya prospek untung,” katanya. Konsumen e-dagang di Indonesia masih tetap tumbuh. Namun, ada sejumlah konsumen baru yang mengadopsi cara berbelanja selama pandemi Covid-19, lalu memutuskan berhenti dan kembali belanja luring. Dosen Universitas Prasetiya Mulya, Muhammad Setiawan Kusmulyono, menduga ada beberapa penyebab di balik kejadian yang dialami JDL Express Indonesia. Pertama, sebagai bisnis logistic vertikal JD.ID, pendapatan utama JDL Express Indonesia bergantung dari JD.ID. Jika transaksi perdagangan JD.ID menurun, pendapatan JDL Express Indonesia turut terdampak. Padahal, bisnis logistik biasanya butuh minimal ongkos untuk menutup pembiayaan pegawai dan kendaraan. Faktor kedua, persaingan dengan sesama lokapasar. Sejumlah pemain lokapasar lain makin banyak menggaet jenama besar dan membuka gerai resmi di platform mereka sehingga barang yang ditawarkan kepada konsumen tentunya orisinal. Cara ini diduga untuk menyaingi kampanye #DijaminOri yang diusung JD.ID. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023