Melambatnya Peredaran Uang, Tanda Konsumsi Melemah
Perlambatan pertumbuhan likuiditas ekonomi Indonesia di akhir tahun 2024 menjadi lampu kuning bagi pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Data BI menunjukkan, jumlah uang beredar (M2) pada Oktober 2024 mencapai Rp 9.078,6 triliun, tumbuh 6,7% year-on-year (yoy). Namun, pertumbuhan ini melambat dibandingkan bulan sebelumnya, yang mencatatkan pertumbuhan 7,2% yoy. Menurut Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, penurunan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan kredit yang stabil (10,4% yoy) dan kontraksi tagihan bersih kepada pemerintah pusat sebesar 0,1% yoy.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengingatkan bahwa perlambatan ini bisa menurunkan konsumsi, investasi, dan pertumbuhan ekonomi jika sektor riil tidak mampu menyerap likuiditas. Ia juga menyoroti risiko tekanan likuiditas perbankan jika dana pihak ketiga (DPK) tumbuh lebih lambat dari kredit, yang dapat mengganggu efisiensi intermediasi perbankan.
Awalil Rizky, Ekonom Senior Bright Institute, menambahkan bahwa pertumbuhan M2 sepanjang 2024 diperkirakan hanya bertahan di kisaran 7% yoy, jauh di bawah pertumbuhan pada 2020-2022. Ia juga mencatat bahwa kredit UMKM tumbuh lebih lambat dibanding kredit korporasi, sementara simpanan nasabah besar (di atas Rp 1 miliar) mendominasi pertumbuhan DPK.
Ke depan, Awalil menyarankan pemerintah, BI, dan OJK untuk mendorong aliran likuiditas ke sektor riil dan masyarakat bawah, terutama melalui peningkatan kredit UMKM. Langkah ini penting untuk menjaga stabilitas ekonomi, meningkatkan konsumsi, dan mendukung pertumbuhan yang inklusif di tengah tekanan likuiditas yang mengering.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023