;
Tags

Telekomunikasi

( 286 )

Persaingan di Bisnis Telekomunikasi Memang Ketat

KT1 16 Dec 2024 Tempo
PEMAIN jaringan seluler di dalam negeri bakal makin berkurang tahun depan. PT XL Axiata Tbk serta PT Smartfren Telecom Tbk dan PT Smart Telecom memutuskan bergabung menjadi satu perusahaan pada 11 Desember 2024. Jika tak ada aral melintang, perusahaan gabungan mereka yang diberi nama PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk itu bakal beroperasi pada paruh pertama 2025. Langkah itu menyebabkan industri layanan seluler di Indonesia hanya akan dikuasai tiga perusahaan, yaitu PT Telekomunikasi Selular, PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk, dan PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk. Makin berkurangnya perusahaan yang menguasai pasar bisnis seluler ini menimbulkan kekhawatiran munculnya praktik oligopoli.

Persaingan di bisnis telekomunikasi memang ketat. Data pelanggan hingga kuartal III 2024 menunjukkan Telkomsel masih memimpin di sektor ini. Anak usaha Telkom Indonesia tersebut memiliki 158 juta pelanggan. Di posisi kedua ada Indosat dengan 98,7 juta pelanggan. Kondisi itu timpang dengan XL yang memiliki 58,6 juta pengguna dan Smartfren hanya 34,5 juta pengguna. Namun, setelah merger, jumlah pelanggan dua perusahaan itu bisa mendekati Indosat. 

Melihat komposisi tersebut, Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Fanshurullah Asa mengatakan pasar telekomunikasi akan dikendalikan tiga perusahaan saja. Dengan kata lain, kondisi itu bisa menciptakan struktur industri oligopoli. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, oligopoli bisa terjadi jika dua atau tiga pelaku usaha menguasai lebih dari 75 persen pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu. "Keberadaan struktur tentu saja tidak salah karena yang diawasi adalah perilaku," kata Ifan—sapaan Fanshurullah—kepada Tempo, Ahad, 15 Desember 2024. (Yetede)

Ini Peran Menkomdigi dalam Merger XL-Smartfren

KT1 16 Dec 2024 Tempo
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan, pihaknya belum menerima permohonan resmi ihwal merger operator seluler antara XL Axiata dan Smartfren. “Jadi, kami belum tahu karena belum melapor secara resmi keduanya. Jadi kami sifatnya menunggu sebagai penghulu untuk mempersatukan. Kurang lebih seperti itu peran Kemkomdigi,” ujar Meutya di Yogyakarta pada Rabu, 11 Desember 2024 seperti dilansir dari Antara. Meski begitu, dirinya mengatakan bahwa Komdigi tetap mendukung apabila kedua perusahaan ingin melakukan merger untuk menjaga iklim kompetisi industri telekomunikasi sehat. “Tapi saat ini belum ada secara resmi menyampaikan bahwa akan ada pernikahan di antara keduanya secara resmi,” ungkapnya.

Sebelumnya, terkait merger XL Axiata dan Smartfren diumumkan bahwa PT XL Axiata Tbk (XL Axiata), PT Smartfren Telecom Tbk (Smartfren), dan PT Smart Telcom (SmartTel) telah mencapai kesepakatan definitif untuk melakukan merger dengan nilai gabungan pra-sinergi mencapai lebih dari Rp104 triliun atau 6,5 miliar dolar AS. Dalam keterangan resmi pernyataan bersama, Rabu, merger tersebut menggabungkan dua entitas yang akan saling melengkapi dalam melayani pangsa pasar telekomunikasi Indonesia. XLSmart akan memiliki skala, kekuatan finansial, dan keahlian yang mampu mendorong investasi infrastruktur digital, memperluas jangkauan layanan, dan mendorong inovasi bagi pelanggan, sekaligus menciptakan pasar yang lebih sehat dan kompetitif.

XL Axiata akan menjadi entitas yang bertahan, sedangkan Smartfren dan SmartTel akan menggabungkan diri menjadi bagian dari XLSmart. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menyebut langkah merger operator seluler XL Axiata dan Smartfren Telecom sebagai suatu keniscayaan. "Kita tahu kan industri telko ini makin saturated istilahnya, makin jenuh, ruang pertumbuhannya juga makin kecil, jadi saya kira tindakan merger itu sudah satu keniscayaan," kata Nezar di Yogyakarta pada Selasa 10 Desember 2024. Nezar mengemukakan bahwa langkah merger kedua operator seluler tersebut berpotensi mendatangkan iklim kompetisi yang lebih sehat dalam industri telekomunikasi. Kementerian Komunikasi dan Digital, dia mengatakan, akan memastikan semua operator seluler melakukan kegiatan operasional sesuai ketentuan dalam Undang-Undang (UU) Nomor 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi. (Yetede)

Ketatnya Persaingan Membayangi Kinerja Perusahaan

HR1 13 Dec 2024 Kontan
Merger antara PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), dan PT Smart Telecom diperkirakan akan mengubah lanskap industri telekomunikasi dan bisnis menara. Grup Sinarmas berinvestasi besar dalam merger ini dengan dana sebesar US$ 475 juta (Rp 7,52 triliun). Namun, konsolidasi ini juga menjadi tantangan bagi emiten menara seperti PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), yang menghadapi potensi pengurangan tenant karena tumpang tindih (overlapping) penyewa.

Menurut analis Mirae Asset Sekuritas, Daniel Widjaja, bisnis utama menara TBIG hanya tumbuh tipis, dengan pendapatan kumulatif dari layanan telko mencapai Rp 4,71 triliun hingga September 2024, meningkat 0,1% secara tahunan. Namun, segmen fiber TBIG justru menunjukkan pertumbuhan signifikan, dengan pendapatan melonjak 70,6% yoy menjadi Rp 411 miliar, didorong oleh perluasan layanan fiber to the tower (FTTT) dan fiber to the home (FTTH).

Analis Samuel Sekuritas, Jason Sebastian, menilai TBIG masih memiliki peluang untuk bertumbuh melalui persaingan operator telekomunikasi yang berupaya memperluas jaringan ke wilayah-wilayah terpencil. Ia menekankan bahwa kebijakan pemerintah untuk memperluas jaringan di Indonesia bagian Timur dapat mendukung pertumbuhan TBIG.

Di sisi lain, Analis Indo Premier Sekuritas, Jovent Muliadi, menyebut relokasi pasca merger Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) membuka peluang bagi TBIG untuk mempercepat kinerja. Jovent merekomendasikan pembelian saham TBIG dengan target harga Rp 2.300, sedangkan Daniel dan Jason lebih konservatif dengan rekomendasi "hold" pada harga Rp 1.900–Rp 1.920 per saham.

Meski demikian, TBIG menghadapi tantangan, termasuk perlambatan pertumbuhan operator telekomunikasi, risiko regulasi, dan tekanan harga, yang dapat memengaruhi kinerja jangka panjangnya.

Sinarmas Alokasikan Dana Investasi Besar

HR1 13 Dec 2024 Kontan
Merger antara PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), dan PT Smart Telecom memerlukan kontribusi besar dari Grup Sinarmas. Grup ini akan menginvestasikan US$ 475 juta (sekitar Rp 7,52 triliun) untuk membeli 13,1% saham Axiata di PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk, demi menyamakan porsi kepemilikan dengan Axiata sebesar 34,8%. Pembayaran akan dilakukan dalam dua tahap: US$ 400 juta saat penyelesaian penyertaan dan US$ 75 juta pada peringatan satu tahun XLSmart berdiri.

Menurut Indra Sentanu, dari Chairman’s Office Corporate Finance Sinarmas Telecommunication and Technology, pendanaan untuk akuisisi saham XLSmart akan berasal dari sumber internal Grup Sinarmas.

Paulus Jimmy, Deputy Head of Research Sucor Sekuritas, menilai akuisisi saham tambahan ini dilakukan dengan harga premium, yakni Rp 3.150 per saham EXCL, 39,38% lebih tinggi dari harga pasar saat ini (Rp 2.260). Jimmy optimis bahwa merger ini akan meningkatkan kinerja dan profitabilitas EXCL dalam jangka panjang, dengan rekomendasi beli saham EXCL dan target harga Rp 3.500 per saham.

Namun, bagi pemegang saham FREN, merger ini membawa dampak signifikan karena saham FREN akan delisting dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Antony Susilo, Direktur Keuangan Smartfren Telecom, menjelaskan bahwa pemegang saham FREN memiliki dua opsi:

1. Mengonversi saham FREN ke saham EXCL dengan rasio 94 saham FREN untuk 1 saham EXCL.
2. Menjual saham FREN kepada entitas merger dengan harga Rp 25 per saham.

Bagi pemegang saham EXCL yang tidak setuju dengan merger, saham mereka akan dibeli di harga Rp 2.350 per saham. Proses konversi dan pembelian saham akan dilakukan setelah mendapatkan persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan pemegang saham.

Merger Jumbo XL Axiata, Smartfren, dan SmartTel Ditargetkan Tuntas Semester I-2025

KT3 12 Dec 2024 Kompas

Operator telekomunikasi PT XL Axiata Tbk, PT Smartfren Telecom Tbk, dan PT Smart Telecom mengumumkan tercapainya kesepakatan definitif untuk merger. Nilai gabungan pra-sinergi mencapai lebih dari 6,5 miliar USD atau Rp 104 triliun. Penggabungan ini akan membentuk entitas telekomunikasi baru bernama PT XLSmart Telecom Sejahtera (XLSmart) yang diharapkan selesai semester I-2025. Penandatanganan kesepakatan definitif merger berlangsung Selasa (10/12) di Jakarta. Dalam merger ini, XL Axiata akan menjadi entitas yang bertahan, sedangkan Smartfren Telecom (Smartfren) dan Smart Telecom (SmartTel) akan menggabungkan diri menjadi bagian dari XLSmart. Axiata Group Berhard (selaku pemegang saham utama XL Axiata) dan Sinar Mas (selaku pemegang saham pengendali di Smartfren) tetap menjadi pemegang saham pengendali bersama di entitas XLSmart.

Masing-masing akan memegang 34,8 % saham XLSmart dengan pengaruh yang sama untuk arah dan keputusan strategis perusahaan. Sebagai bagian dari penggabungan, Sinar Mas akan menerima 21,7 % saham di XLSmart, sedangkan saham Axiata akan menjadi 47,9 %. Pada saat selesainya transaksi, Axiata akan menerima saham hingga senilai 475 juta USD. Setelah transaksi ditutup, Axiata akan menerima 400 juta USD beserta tambahan 75 juta USD pada akhir tahun pertama, bergantung pada pemenuhan syarat-syarat tertentu. Estimasi sinergi sebelum pajak tahunan mencapai 300 juta USD-400 juta USD setelah penyelesaian integrasi. Hingga triwulan III-2024, jumlah pelanggan XL Axiata mencapai lebih kurang 58,6 juta dan Smartfren 35,9 juta.

Estimasi total pelanggan setelah merger menjadi 94,5 juta. Pada periode yang sama, total pendapatan XL Axiata tercatat Rp 33,8 triliun dan Smartfren Rp 11,6 triliun. Proyeksi pendapatan setelah merger adalah Rp 45,4 triliun atau 2,8 miliar USD. Dalam sesi konferensi pers, Rabu (11/12), di Jakarta, Group CEO dan Managing Director Axiata Vivek Sood mengatakan, merger akan membawahi efisiensi operasional. Berkisar 20-30 % titik infrastruktur jaringan yang tumpang tindih bisa dikurangi. XLSmart juga bisa berinvestasi secara selektif di beberapa kota dengan fokus pada profitabilitas, bisa menyamakan harga buku untuk mendapatkan harga terbaik, optimalisasi biaya akuisisi pelanggan, dan menyediakan pengalaman digital yang superior di era 5G. (Yoga)  


Episode Baru XLSmart Telecom Mencapai Kesepakatan Menuju Merger

KT1 12 Dec 2024 Investor Daily (H)
PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), dan PT Smart Telcom (SmartTel) mencapai kesepakatan difinitif untuk melakukan merger menjadi entitas baru bernama PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (XLSmart) dengan nilai gabungan pra-sinergi mencapai lebih dari Rp104 triliun. Perusahaan yang dikendalikan Axiata Group Berhad dan Sinar Mas ini, akan menjadi kekuatan baru di sektor telekomunikasi di Tanah Air, dengan potensi pendapatan  hingga Rp 45 triliun. "Merger ini adalah upaya penting yang kami lakukan untuk memberikan nilai tambah besar kepada seluruh pemangku kepentingan melalui layanan yang prima, konektivitas digital, dan inovasi, termasuk untuk mendukung upaya pemerintah Indonesia dalam mendorong  transformasi digital," kata Chairman Sinar Mas Telecommunication and Technology Franky Oesman Widjaja. Penggabungan menjadi entitas baru ini ditargetkan rampung pada semester I-2024. Di mana XLSmart akan menjadi perusahaan telekomunikasi papan atas dengan jumlah pelanggan seluler mencapai 94,51 juta pengguna, dan memiliki pangsa pasar 27%1. XLSmart akan menghasilkan pendapatan proforma sebesar Rp45,4 triliun (US$ 2,8 miliar) dan EBITDA senilai lebih dari Rp22,4 triliun (US$ 1,4 miliar). 

Persaingan Industri Telekomunikasi Makin Sengit

HR1 12 Dec 2024 Kontan (H)

Industri telekomunikasi Indonesia akan mengalami perubahan signifikan dengan merger antara PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), dan PT Smart Telecom (SmarTel) menjadi entitas baru bernama PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (XLSmart). Merger ini akan mengurangi jumlah operator telekomunikasi utama menjadi tiga: XLSmart, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Indosat Tbk (ISAT).

Vivek Sood, Grup CEO & Managing Director Axiata, menyatakan merger ini akan memperkuat skala bisnis dan kekuatan komersial EXCL. XLSmart diproyeksikan memiliki sekitar 94,5 juta pelanggan, setara dengan 27% pangsa pasar. Langkah ini juga bertujuan mentransformasi sektor telekomunikasi Indonesia menjadi pasar dengan tiga pemain besar.

Menurut Niko Margaronis, Equity Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas, merger ini dapat memberikan manfaat skala ekonomi, seperti efisiensi biaya operasional dan pengeluaran modal, serupa dengan hasil merger Indosat Ooredoo Hutchinson sebelumnya, yang meningkatkan margin EBITDA ISAT hingga 733 basis poin sejak kuartal IV-2021.

Paulus Jimmy, Deputi Head of Research Sucor Sekuritas, menilai konsolidasi ini akan memperbaiki iklim persaingan industri telekomunikasi, dengan XLSmart berfokus pada pertumbuhan yang menguntungkan. Namun, Sukarno Alatas, Head of Research Kiwoom Sekuritas, mencatat bahwa XLSmart masih belum mampu menyaingi TLKM dalam hal pendapatan, laba, jumlah menara, dan pelanggan, meskipun jumlah pelanggan XLSmart hampir mendekati ISAT.

Bagi investor, merger ini membuka peluang investasi menarik. Sukarno merekomendasikan saham TLKM dan EXCL untuk pembelian, dengan target harga masing-masing Rp 3.200 dan Rp 2.600. Sementara Jimmy memilih ISAT dan EXCL untuk potensi pertumbuhan jangka panjang, sedangkan TLKM direkomendasikan untuk mereka yang mencari dividen.

AI dan Digitalisasi Jadi Pendorong Pertumbuhan

HR1 09 Dec 2024 Kontan

Sektor telekomunikasi diproyeksi bisa memulihkan pertumbuhan kinerja pada tahun depan dengan sejumlah strategi bisnis. Ini termasuk fokus ke pita lebar tetap atau kerap dikenal dengan fixed broadband (BB). Analis BRI Danareksa Sekuritas, Niko Margonis dalam riset 2 Desember 2024 mengatakan, para emiten telekomunikasi seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT XL Axiata Tbk (EXCL), dan PT Indosat Tbk (ISAT) dapat memanfaatkan pasar captive dan infrastruktur yang ada untuk mengamankan trafik pengguna. Dengan strategi ini Niko bilang para emiten tersebut dapat menghasilkan pendapatan tambahan, dan memperoleh kenaikan pendapatan hingga 6% secara tahunan atau year on year (yoy). Sementara terkait penggabungan EXCL dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) diharapkan menciptakan situasi oligopoli yang dapat mendukung pertumbuhan ARPU seluler yang lebih baik. Sebab persaingan di sektor seluler menjadi lebih sempit. Niko memperkirakan penggunaan artificial intelligence (AI) juga akan semakin signifikan, sehingga memicu efek berantai seiring meningkatnya kesadaran terhadap produktivitas software as a service (SaaS) dari tahun anggaran 2024 hingga 2025. Saat ini ISAT mengambil posisi terdepan dalam teknologi AI. Emiten ini juga berkomitmen mengalokasikan belanja modal sebesar US$ 2 miliar- US$ 3 miliar melalui kemitraan dengan BDx. 

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengatakan, tren kenaikan produk fixed broadband dan margin yang tinggi menjadi katalis pendorong kinerja di sektor ini. Analis Ciptadana Sekuritas, Gani, dalam riset 19 November 2024 menjelaskan, sektor ini telah menghadapi tahun yang penuh tantangan pada 2024 dengan tren pendapatan seluler yang lemah di seluruh industri. "Karena daya beli yang lemah, dan persaingan yang lebih ketat," jelas Gani. Namun tahun depan diperkirakan sektor ini bakal pulih dengan sejumlah strategi. TLKM misalnya, menaikkan tarif Telkomsel di T-Lite dengan peningkatan tarif rata-rata 5%-6%. EXCL dan ISAT juga telah menaikkan harga di awal September sekitar 5%. Gani, Sukarno, dan Niko kompak mempertahankan peringkat overweight untuk sektor ini. Gani merekomendasikan ISAT sebagai pilihan utama dengan target harga Rp 2.240 per saham. Ia juga merekomendasikan EXCL dengan target harga Rp 2.150.

Merger Operator Seluler

KT1 09 Dec 2024 Investor Daily (H)
PT Dayamitra Telekominikasi Tbk (MTEL) alias Mitratel mempersiapkan amunisi untuk mengeruk keuntungan dari aksi penggabungan usaha alias merger antara operator telekomunikasi, PT XL Axiata Tbk (EXCL), dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN). Amunisi itu berupa 30 ribu menara yang berpotensi menjadi solusi EXCL dan FREN untuk merelokasi menara mereka yang tumpah tindih atau  setelah resmi merger. Konsolidasi  mobile network operator (MNO) antara EXCL dan FREN diestimasikan  memasuki babak akhir pada pengujung 2024 ini setelah melewati proses uji tuntas (due diligence). Penggabungan keduanya praktis akan merampingkan struktur operator telekomunikasi di Tanah Air menjadi tiga operator besar yaitu PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) yang merupakan entitas  Group Telkom, PT Indonesay Tbk (ISAT) atau Indoesay Ooderedoo Hutchinson (IOH), dan merger XL AXiata dan FREN yang disebut-sebut akan menghasilkan entitas baru bernama MergeCo. (Yetede)

Merger Operator Seluler

KT1 09 Dec 2024 Investor Daily (H)
PT Dayamitra Telekominikasi Tbk (MTEL) alias Mitratel mempersiapkan amunisi untuk mengeruk keuntungan dari aksi penggabungan usaha alias merger antara operator telekomunikasi, PT XL Axiata Tbk (EXCL), dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN). Amunisi itu berupa 30 ribu menara yang berpotensi menjadi solusi EXCL dan FREN untuk merelokasi menara mereka yang tumpah tindih atau  setelah resmi merger. Konsolidasi  mobile network operator (MNO) antara EXCL dan FREN diestimasikan  memasuki babak akhir pada pengujung 2024 ini setelah melewati proses uji tuntas (due diligence). Penggabungan keduanya praktis akan merampingkan struktur operator telekomunikasi di Tanah Air menjadi tiga operator besar yaitu PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) yang merupakan entitas  Group Telkom, PT Indonesay Tbk (ISAT) atau Indoesay Ooderedoo Hutchinson (IOH), dan merger XL AXiata dan FREN yang disebut-sebut akan menghasilkan entitas baru bernama MergeCo. (Yetede)