Rojai, Petani dan Peternak Unggul
Di tangan Rojai (49), urine dan kotoran sapi disulap menjadi
uang jutaan rupiah. Petani sekaligus peternak ini mengembangkan pupuk dan
pestisida organik. Ia tidak hanya menerapkan pertanian ramah lingkungan, tetapi
juga berjuang memandirikan petani. ”Alhamdulillah, dapat pesanan (pupuk kompos)
lagi dari dinas (pertanian), 9-10 ton,” ucap Rojai, Selasa (16/4). Dengan harga
Rp 2.000 per kg, ia meraup Rp 18 juta dari permintaan itu. Uang jutaan rupiah
itu berasal dari kandang sapi miliknya di Desa Tegalkarang, Palimanan, Cirebon,
Jabar. Di kandang itu, terdapat 10 sapi yang memproduksi kotoran dan urine. Akhir
Februari lalu, misalnya, ia menunjukkan drum biru berisi 100 liter urine sapi
yang telah difermentasi di kandang itu.
Saat tutupnya dibuka, aroma urine yang menyengat menguar
dengan gelembung di atasnya. ”Ini kalau dijual, harganya Rp 2 juta,” ucap Rojai
tersenyum. Urine itu menjadi bahan utama pupuk organik cair (POC) yang dapat
membantu pertumbuhan tanaman. Sawah yang disemprot POC, batang dan daun padinya
hijau. Tanahnya mudah ditanami. Sehektar butuh minimal 5 liter POC. Harga POC
Rp 20.000 per liter, lebih murah dari pupuk cair kimia yang berkisar Rp
60.000-Rp 90.000 per liter. ”Urine sapi mengandung pestisida. Jadi, enggak usah
beli obat (pestisida kimia),” katanya. Perjumpaan Rojai dengan pertanian
organik bermula tahun 2016, pemilik 120 sapi dan 50 kambing ini menjadi
peternak terbaik tingkat Kabupaten Cirebon.
Ia mendapat program unit pengelolaan pupuk organik dari dinas
pertanian dan mulai mengolah limbah ternak menjadi pupuk dan pestisida organik.
”Saya pelatihan di Bogor habis Rp 5 juta, diketawain orang dinas (karena ikut
pelatihan berbayar),” kenangnya. Pupuk kompos sangat membantu ditengah
berkurangnya alokasi pupuk bersubsidi pemerintah. Petani hanya dijatah 70 kg
per satu jenis pupuk per satu hektar sawah. Padahal, biasanya 1 kuintal per
jenis pupuk bersubsidi. Petani pun membeli pupuk nonsubsidi dengan harga Rp 1
juta per kuintal. ”Dari 2017, saya enggak pernah bergantung sama pupuk dan pestisida
kimia,” katanya. Setelah bertahun-tahun menggunakan bahan organik, padinya subur.
”Hasil pH-nya normal, 7. Padahal, di mana-mana, pH-nya paling 5,” kata Rojai.
Ia mengklaim hasil panen musim gadu (tanam kedua) tahun lalu
mencapai 10,3 ton gabah basah per hektar. Padahal, petani biasanya hanya memanen
6-7 ton gabah per hektar. Rendemennya juga lebih tinggi. ”Padi biasanya rendemennya
saat digiling jadi beras 62-65 %, hasil panen saya, rendemennya 70 %,”
ungkapnya. Pupuk buatannya sudah dikemas dengan merek Supersonik dan digunakan petani
setempat. Dinas pertanian bahkan pernah memesan 18 ton pupuk dan 160 liter POC
untuk menjadi bahan pelatihan pertanian organik di Cirebon. Tidak hanya dalam
pertanian, sistem organik juga ia terapkan di peternakan. Pakan sapi, misalnya,
berasal dari jerami sisa panen di sawah hingga ampas tebu. Jamu untuk sapi
bikin sendiri. Ia tidak pernah pakai antibiotik dan vitamin dari pabrik.
Bahannya, dari aneka rempah. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023