;

Rojai, Petani dan Peternak Unggul

Ekonomi Yoga 18 Apr 2024 Kompas (H)
Rojai,
Petani dan Peternak Unggul

Di tangan Rojai (49), urine dan kotoran sapi disulap menjadi uang jutaan rupiah. Petani sekaligus peternak ini mengembangkan pupuk dan pestisida organik. Ia tidak hanya menerapkan pertanian ramah lingkungan, tetapi juga berjuang memandirikan petani. ”Alhamdulillah, dapat pesanan (pupuk kompos) lagi dari dinas (pertanian), 9-10 ton,” ucap Rojai, Selasa (16/4). Dengan harga Rp 2.000 per kg, ia meraup Rp 18 juta dari permintaan itu. Uang jutaan rupiah itu berasal dari kandang sapi miliknya di Desa Tegalkarang, Palimanan, Cirebon, Jabar. Di kandang itu, terdapat 10 sapi yang memproduksi kotoran dan urine. Akhir Februari lalu, misalnya, ia menunjukkan drum biru berisi 100 liter urine sapi yang telah difermentasi di kandang itu.

Saat tutupnya dibuka, aroma urine yang menyengat menguar dengan gelembung di atasnya. ”Ini kalau dijual, harganya Rp 2 juta,” ucap Rojai tersenyum. Urine itu menjadi bahan utama pupuk organik cair (POC) yang dapat membantu pertumbuhan tanaman. Sawah yang disemprot POC, batang dan daun padinya hijau. Tanahnya mudah ditanami. Sehektar butuh minimal 5 liter POC. Harga POC Rp 20.000 per liter, lebih murah dari pupuk cair kimia yang berkisar Rp 60.000-Rp 90.000 per liter. ”Urine sapi mengandung pestisida. Jadi, enggak usah beli obat (pestisida kimia),” katanya. Perjumpaan Rojai dengan pertanian organik bermula tahun 2016, pemilik 120 sapi dan 50 kambing ini menjadi peternak terbaik tingkat Kabupaten Cirebon.

Ia mendapat program unit pengelolaan pupuk organik dari dinas pertanian dan mulai mengolah limbah ternak menjadi pupuk dan pestisida organik. ”Saya pelatihan di Bogor habis Rp 5 juta, diketawain orang dinas (karena ikut pelatihan berbayar),” kenangnya. Pupuk kompos sangat membantu ditengah berkurangnya alokasi pupuk bersubsidi pemerintah. Petani hanya dijatah 70 kg per satu jenis pupuk per satu hektar sawah. Padahal, biasanya 1 kuintal per jenis pupuk bersubsidi. Petani pun membeli pupuk nonsubsidi dengan harga Rp 1 juta per kuintal. ”Dari 2017, saya enggak pernah bergantung sama pupuk dan pestisida kimia,” katanya. Setelah bertahun-tahun menggunakan bahan organik, padinya subur. ”Hasil pH-nya normal, 7. Padahal, di mana-mana, pH-nya paling 5,” kata Rojai.

Ia mengklaim hasil panen musim gadu (tanam kedua) tahun lalu mencapai 10,3 ton gabah basah per hektar. Padahal, petani biasanya hanya memanen 6-7 ton gabah per hektar. Rendemennya juga lebih tinggi. ”Padi biasanya rendemennya saat digiling jadi beras 62-65 %, hasil panen saya, rendemennya 70 %,” ungkapnya. Pupuk buatannya sudah dikemas dengan merek Supersonik dan digunakan petani setempat. Dinas pertanian bahkan pernah memesan 18 ton pupuk dan 160 liter POC untuk menjadi bahan pelatihan pertanian organik di Cirebon. Tidak hanya dalam pertanian, sistem organik juga ia terapkan di peternakan. Pakan sapi, misalnya, berasal dari jerami sisa panen di sawah hingga ampas tebu. Jamu untuk sapi bikin sendiri. Ia tidak pernah pakai antibiotik dan vitamin dari pabrik. Bahannya, dari aneka rempah. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :