;

Sudah Jatuh Tertimbun Beras

Ekonomi Yoga 15 Apr 2024 Kompas
Sudah Jatuh Tertimbun Beras

Sore itu, Senin (8/4) Herianto (48) mengendarai sepeda motor menuju Balai Desa Belanti Siam, Pulang Pisau, Kalteng, untuk berbuka puasa bersama petani lain. Setelah berbuka, semua berencana tarawih bersama. Saat melihat sawahnya yang berisi jerami pascapanen berserakan, Herianto menghentikan sepeda motornya. Ia bahkan sujud syukur di pematang sawah atas hasil panen yang diberikan tahun ini. Sawah seluas 2 hektar miliknya itu mampu menghasilkan 10 ton gabah kering giling (GKG). Dari tiap hektar ia bisa mendapatkan 4 ton lebih GKG, dua kali lipat panen normalnya selama ini. Ungkapan syukur juga diutarakan petani-petani lain, termasuk Kelompok Tani Sido Mekar, tempat Herianto bernaung. Semuanya punya cerita sukses panen luar biasa.

Ada yang menghasilkan 5 ton per hektar, ada yang 5,5 ton per hektar, bahkan ada sawah yang dikunjungi para pejabat daerah untuk menjadi penanda kesuksesan mereka. Panen raya dihadiri Wagub Kalteng Edy Pratowo, Senin (1/4). Bangganya mereka, sawah yang berjarak 150 km dari Palangkaraya itu didatangi pejabat, tapi ada yang mengganjal di hati mereka. ”Sebenarnya kasihan petani, pas panen lagi bagus gini harga gabah malah anjlok,” ujar Herianto. Harga gabah anjlok, bahkan dua kali. Pertengahan Maret, harga gabah kering turun dari Rp 8.500 per kg menjadi Rp 7.200 per kg. Kini harga gabah tersungkur menjadi Rp 5.500 per kg. Sudah mendekati Lebaran, lanjut Herianto, harga gabah tak kunjung merangkak naik.

Bagi dia, hasil panen yang baik sudah cukup untuk menambah kegembiraan Ramadhan. ”Meski anjlok, gabahnya, ya, tetap saya jual, mau enggak mau. Berapa saja harganya, itu untuk kebutuhan hidup, sekolah, dan lain-lain. Kalau Lebaran, ya, gini-gini aja udah alhamdulillah,” kata Herianto. Pujiaman dari Kelompok Sido Mekar juga demikian. Ia tak marah, apalagi mengeluh, saat harga gabah anjlok. ”Pasti harganya enggak pernah stabil,” ucapnya. Pujiaman menyebutkan, ”Kalau belum rugi dan gagal panen, belum petani Indonesia.” Dengan harga yang anjlok kerugian tidak bisa dihindari. Apalagi Herianto dan Pujiaman tidak mendapat jatah pupuk bersubsidi. Mereka mengeluarkan uang Rp 340.000 per 100 kg pupuk.

Untuk 1 hektar lahan ia membutuhkan empat sampai enam kali pemupukan dengan total lima sampai enam karung pupuk berukuran 100 kg tersebut. Ia menghabiskan Rp 10 juta hanya untuk pupuk, belum termasuk biaya lain. Herianto dan Pujiaman bahkan harus meminjam uang di bank untuk bisa menanam padi dan menyiapkan lahan. Untuk membeli pupuk, obat-obatan, dan benih padi yang ia inginkan. ”Semoga bisa untuk nyaur utang dan nabung kuliah anak,” kata Pujiaman. Ironisnya, saat harga gabah anjlok, harga beras justru mahal. Di Pulang Pisau, beras berjenama Pangkoh dijual Rp 18.000 per liter dari yang sebelumnya Rp 13.000. Lalu, harga beras Mayang Super Rp 22.000 per liter naik pada awal Februari menjadi Rp 25.000 per liter sampai saat ini. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :