Sudah Jatuh Tertimbun Beras
Sore itu, Senin (8/4) Herianto (48) mengendarai sepeda motor
menuju Balai Desa Belanti Siam, Pulang Pisau, Kalteng, untuk berbuka puasa
bersama petani lain. Setelah berbuka, semua berencana tarawih bersama. Saat
melihat sawahnya yang berisi jerami pascapanen berserakan, Herianto menghentikan
sepeda motornya. Ia bahkan sujud syukur di pematang sawah atas hasil panen yang
diberikan tahun ini. Sawah seluas 2 hektar miliknya itu mampu menghasilkan 10
ton gabah kering giling (GKG). Dari tiap hektar ia bisa mendapatkan 4 ton lebih
GKG, dua kali lipat panen normalnya selama ini. Ungkapan syukur juga diutarakan
petani-petani lain, termasuk Kelompok Tani Sido Mekar, tempat Herianto
bernaung. Semuanya punya cerita sukses panen luar biasa.
Ada yang menghasilkan 5 ton per hektar, ada yang 5,5 ton per
hektar, bahkan ada sawah yang dikunjungi para pejabat daerah untuk menjadi
penanda kesuksesan mereka. Panen raya dihadiri Wagub Kalteng Edy Pratowo, Senin
(1/4). Bangganya mereka, sawah yang berjarak 150 km dari Palangkaraya itu
didatangi pejabat, tapi ada yang mengganjal di hati mereka. ”Sebenarnya kasihan
petani, pas panen lagi bagus gini harga gabah malah anjlok,” ujar Herianto. Harga
gabah anjlok, bahkan dua kali. Pertengahan Maret, harga gabah kering turun dari
Rp 8.500 per kg menjadi Rp 7.200 per kg. Kini harga gabah tersungkur menjadi Rp
5.500 per kg. Sudah mendekati Lebaran, lanjut Herianto, harga gabah tak kunjung
merangkak naik.
Bagi dia, hasil panen yang baik sudah cukup untuk menambah kegembiraan Ramadhan. ”Meski anjlok, gabahnya, ya, tetap saya jual, mau enggak mau. Berapa saja harganya, itu untuk kebutuhan hidup, sekolah, dan lain-lain. Kalau Lebaran, ya, gini-gini aja udah alhamdulillah,” kata Herianto. Pujiaman dari Kelompok Sido Mekar juga demikian. Ia tak marah, apalagi mengeluh, saat harga gabah anjlok. ”Pasti harganya enggak pernah stabil,” ucapnya. Pujiaman menyebutkan, ”Kalau belum rugi dan gagal panen, belum petani Indonesia.” Dengan harga yang anjlok kerugian tidak bisa dihindari. Apalagi Herianto dan Pujiaman tidak mendapat jatah pupuk bersubsidi. Mereka mengeluarkan uang Rp 340.000 per 100 kg pupuk.
Untuk 1 hektar lahan ia membutuhkan empat sampai enam kali pemupukan dengan total lima sampai enam karung pupuk berukuran 100 kg tersebut. Ia menghabiskan Rp 10 juta hanya untuk pupuk, belum termasuk biaya lain. Herianto dan Pujiaman bahkan harus meminjam uang di bank untuk bisa menanam padi dan menyiapkan lahan. Untuk membeli pupuk, obat-obatan, dan benih padi yang ia inginkan. ”Semoga bisa untuk nyaur utang dan nabung kuliah anak,” kata Pujiaman. Ironisnya, saat harga gabah anjlok, harga beras justru mahal. Di Pulang Pisau, beras berjenama Pangkoh dijual Rp 18.000 per liter dari yang sebelumnya Rp 13.000. Lalu, harga beras Mayang Super Rp 22.000 per liter naik pada awal Februari menjadi Rp 25.000 per liter sampai saat ini. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023