;

Harga Beras Mahal, Desa Dapat Apa?

Lingkungan Hidup Yoga 16 Apr 2024 Kompas (H)
Harga Beras Mahal,
Desa Dapat Apa?

Jenis kapital yang tersedia di perdesaan dan jarang ditemukan di perkotaan adalah lahan pertanian. Ini membuat sektor pertanian, termasuk pertanian tanaman pangan, khususnya padi, sebagian besar ada di perdesaan. Maka, ketika harga beras melambung, muncul pertanyaan, seberapa banyak kenaikan harga dinikmati para petani padi sebagai produsen utama beras di Indonesia, yang sebagian besar tinggal di perdesaan. Tapi, alih-alih menikmati rezeki karena kenaikan harga produknya, petani padi sebagaimana yang diberitakan malah ikut antre beras murah program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) pemerintah.

Liputan Kompas mendapati petani padi di Cirebon tak punya simpanan beras hasil panen masa tanam sebelumnya karena panen mundur akibat kekeringan sebagai dampak El Nino. Tapi lain cerita dengan petani padi organik, simpanan beras mereka masih aman, tidak terjadi kekurangan, mereka masih makan nasi hasil panen sebelumnya. Sejak lama, petani padi organik selalu membiasakan menggunakan hasil panen mereka untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka terlebih dulu. Jika ada sisa, barulah itu dijual. Kebiasaan menempatkan pemenuhan kebutuhan pangan keluarga sebagai prioritas utama dalam pemanfaatan hasil panen memang selalu disampaikan para pendamping petani organik.

Adapun beras dengan harga yang mahal itu, awalnya, begitu selesai panen, sebagian besar petani menjual beras kepada para penampung. Sebagian dari mereka ini bermodal raksasa, dengan fasilitas gudang yang sangat besar. Walau petani padi menyimpan beras hasil sawah mereka untuk kebutuhan pangan keluarga, uang hasil penjualan sebagian gabah juga sangat diharapkan sebagai modal tanam pada masa tanam berikutnya. Karena hasil bertani padi di Indonesia tidak cukup untuk modal di musim tanam berikutnya, tekanan untuk menjual hasil panen menjadi semakin tinggi. Situasi ini jarang terjadi pada para petani padi sehat atau organik. Sebab, sarana produksi untuk padi jenis ini sebagian besar adalah hasil produksi sendiri.

Banyak bukti di lapangan, pertanian padi organik memiliki produktivitas di atas produktivitas padi konvensional. Jika produktivitas sawah konvensional adalah 5,5 ton per hektar (ha), sawah padi sehat di Tasikmalaya bisa menghasilkan 8 ton per ha, di Wonogiri bisa 13 ton per ha. Para petani padi organik ini sudah lama tidak lagi merasakan kerepotan berburu pupuk bersubsidi. Sebab, pupuk kompos bisa mereka produksi sendiri. Di sisi sarana produksi pertanian, para petani padi organik adalah tuan bagi dirinya sendiri. Terlebih, hasil produksi mereka jika dijual di toko ritel akan masuk ke kelompok beras premium. Ada baiknya pemerintah mulai mendalami dan mendorong penerapan pertanian padi organik secara lebih luas. Ketahanan pangan hanya dapat dicapai lewat kedaulatan para petani tanaman pangan, yang sebagian besar tinggal di desa. (Yoga) 

Download Aplikasi Labirin :