;

”Guremisasi” dan ”Miskinisasi”

Ekonomi Yoga 15 Mar 2024 Kompas
”Guremisasi” dan ”Miskinisasi”

BPS merilis hasil Sensus Pertanian 2023 (ST2023) mengenai jumlah usaha pertanian tahun 2023 yang sebanyak 29,36 juta unit. Berkurang 2,35 juta unit atau 7,42 % dibandingkan dengan hasil Sensus Pertanian 2013 (ST2013) yang 31,71 juta. Dampak langsung dari penurunan jumlah usaha pertanian adalah menurunnya penyerapan tenaga kerja di sektor ini. BPS mencatat, tahun 2013, sektor pertanian menyerap 39.220.261 tenaga kerja atau berkontribusi 34,78 % terhadap total penyerapan tenaga kerja nasional. Angka ini menurun di 2022 menjadi 38.703.996 tenaga kerja atau 28,61 % dari total penyerapan tenaga kerja nasional. Menurunnya jumlah usaha pertanian yang berdampak pada menurunnya penyerapan tenaga kerja disebabkan oleh banyaknya petani yang mengganti profesinya ke bidang usaha lain atau ”pensiun” dan relatif sedikitnya muncul ”petani baru”.

Mayoritas petani di Indonesia adalah petani yang melakukan usaha pertanian dengan penguasaan lahan pertanian kurang dari 0,5 hektar atau dikenal sebagai petani gurem. Pada 2013, terdapat 14,25 juta rumah tangga petani gurem. Proporsi rumah tangga petani gurem terhadap total rumah tangga petani di Indonesia tahun 2013 sebesar 55,33 %. Kondisi ini memburuk pada 2023, di mana jumlah rumah tangga petani gurem naik 18,49 % menjadi 16,89 juta rumah tangga. Akibatnya, proporsi rumah tangga petani gurem juga meningkat menjadi 60,84 % pada 2023. Dengan jumlah petani gurem yang sangat besar, maka transformasi usaha pertanian ke nonpertanian hanya menunggu waktu. Apalagi, di 2023, ketika jumlah petani gurem semakin meningkat.

Di Indonesia, pengangguran bukanlah kelompok terbesar dari penduduk miskin, melainkan petani. BPS mencatat, pada 2023 sebesar 48,86 % rumah tangga miskin mempunyai sumber penghasilan utama dari bertani, sementara yang tidak bekerja hanya 12,07 %. Artinya, mayoritas orang miskin di Indonesia merupakan pekerja keras, yang sekaligus merupakan elemen penting tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) 2-4, tetapi berusaha dalam sistem bisnis yang tak mendukung. Para petani gurem merupakan cerminan dari kemiskinan tersebut. Pemerintah perlu mengkaji kriteria kemiskinan ini karena bisa menyebabkan bansos jadi salah sasaran. Kenyataan menunjukkan bahwa pertanian bukan sektor yang menarik untuk digeluti oleh anak muda karena menjadi petani hanya akan menjadi miskin dan kelak melahirkan generasi-generasi miskin. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :