;

Wahai Petani, Musim Tanam Sudah Bergeser Jauh

Ekonomi Yoga 15 Apr 2024 Kompas
Wahai Petani, Musim Tanam Sudah Bergeser Jauh

Goris Takene (48) memetik satu per satu buah jagung di kebun miliknya di Kelurahan Bello, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, NTT, Senin (8/4) pagi. Jagung yang ia panen di lahan seluas 4.000 meter persegi itu lolos dari bencana gagal tanam yang menimpa ribuan petani di NTT. Jagung yang baru dipanen itu ditanam oleh Goris pada 16 Januari 2024 atau mundur jauh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Saat menanam, ia seperti berjudi sebab hanya memanfaatkan hari hujan yang tersisa. Setelah membeli benih Rp 95.000 per kg, ia coba menanam di tanah yang disesaki hamparan batu karang itu. Ia tak berharap banyak karena sudah banyak petani yang mengalami gagal tanam. Petani mulai menanam pada awal Desember ketika hujan hampir seminggu.

Mereka mengira musim hujan tiba. Sayangnya, setelah jagung atau padi mulai tumbuh beberapa sentimeter, hujan berhenti. Panas datang mematikan tanaman. Akhir Desember hujan kembali turun. Petani berpikir itu saat tepat menanam. Ketika tanaman mulai tumbuh, datang terik dan menyapu semua tanaman. Banyak petani putus asa, lalu meninggalkan kebun. Mereka merasa seakan dikecoh oleh alam yang tidak menurunkan hujan seperti dulu lagi. ”Biasanya, petani lahan tadah hujan itu sudah mulai menanam pada awal Desember. Sejak 20 tahun terakhir, terus mundur sampai Januari. Musim tanam sudah bergeser,” ucap Goris. Ia tak lagi berpatokan pada pola lama, tapi mengikuti perkembangan cuaca dan iklim dari BMKG.

”Saatnya petani menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang ternyata banyak membantu,” ujar Goris. Kelurahan Bello merupakan salah satu sentra pangan di Kota Kupang, khususnya untuk padi, jagung, dan hortikultura. Daerah itu punya cadangan air yang banyak. Belakangan, debit air terus menurun sehingga petani mengandalkan hujan. Tak jauh dari kebun Goris terdapat hamparan sawah yang kini baru mulai ditanam padi. Petani menunggu debit air bertambah setelah hujan satu bulan terakhir. Sekitar 20 tahun sebelumnya, sawah di Bello sudah panen pertama di awal April, kemudian persiapan untuk musim tanam berikutnya. ”Sekarang tanam padi pertama sudah bergeser ke April dan tidak mungkin tanam kedua karena musim hujan sudah selesai. Satu kali tanam saja sudah bersyukur,” ujar Rino (27), warga. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :