;
Tags

Tekstil

( 223 )

Pasar Tekstil Tanah Abang

KT3 25 Mar 2024 Kompas
Pasar Tekstil Tanah Abang, Jakarta, mulai dipadati warga yang hendak berbelanja pakaian untuk dikenakan saat hari raya, pada hari Minggu (24/3/2024). Adanya tradisi mengenakan pakaian baru saat Lebaran menjadikan  Pasar Tekstil Tanah Abang selalu diserbu pengunjung saat puasa hingga menjelang Lebaran, terutama di hari libur dan di hari Minggu. (Yoga)

DAMPAK IMPOR ILEGAL : Cuan Lebaran Industri Tekstil Melayang

HR1 19 Mar 2024 Bisnis Indonesia

Pelaku industri tekstil dan produk tekstil atau TPT harus gigit jari pada momentum Ramadan dan Idul fitri kali ini.  Maraknya produk pakaian jadi impor di pasar dalam negeri mengganjal cuan pengusaha. Ketua Umum Asosiasi produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan, kebijakan larangan dan pembatasan impor melalui Peraturan Menteri Perdagangan No. 3/2024 tidak bisa langsung memulihkan pasar dalam negeri dari gempuran produk impor.“Momentum Lebaran ini [diprediksi] tidak ada pengaruhnya. Stok barang-barang impor, baik dalam bentuk kain maupun pakaian jadi sudah menumpuk di pasar,” katanya, dikutip Senin (18/3).Terlebih, APSyFI mencatat setidaknya ada 37.000 kontainer produk tekstil impor ilegal yang masuk ke Tanah Air sepanjang 2023. Produk ilegal itu termasuk pakaian bekas yang disortir dan diperjualbelikan di pasar lokal. “Berdasarkan perhitungan dengan metode supply, diperkirakan impor ilegal TPT pada 2023 mencapai 749.000 ton, setara dengan 37.000 kontainer,” jelasnya.Redma menjelaskan, angka impor ilegal tersebut dihitung dengan melihat volume ketersediaan pasokan TPT dari hulu sampai dengan hilir, termasuk data ekspor-impor dari Badan Pusat Statistik (BPS). Senada, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa berharap Peraturan Menteri Perdagangan No. 3/2024 yang baru diterapkan mampu memulihkan roda industri TPT.“Sehingga event Lebaran 2024 yang biasanya masyarakat Indonesia membeli pakaian baru bisa dinikmati oleh UMKM/IKM, dan industri TPT nasional,” tuturnya.

Penggiat Kreatif Bandung, Beraksi dengan Digitalisasi

KT3 01 Mar 2024 Kompas (H)

Kawasan Tekstil Cigondewah Bandung, Jabar, Kamis (29/2) siang itu sepi. Hanya ada beberapa pekerja yang mengangkat gulungan kain, sisanya duduk menunggu pembeli di Kampung Wisata Kreatif atau KWK itu. Namun, di sudut pasar terdengar riuh suara karyawan menjajakan dagangan. Bukan karena ada pembeli, dua pegawai Toko Queen Textile itu tengah memamerkan produk yang dijual melalui media sosial. ”Ayo kakak silakan di check out keranjang kuningnya. Kita mau tutup empat menit lagi!” teriak pegawai toko yang bertugas menjajakan barang, sementara satu petugas lain mengarahkan kamera ponselnya ke kain yang dijajakan untuk melihat detailnya.

Irwan Harifullah (23) karyawan toko, mengamati kedua rekannya siaran langsung di salah satu aplikasi jual beli. Dari toko virtual itu ribuan pesanan datang dan memberi keuntungan hingga separuh pemasukan toko. ”Rata-rata sebulan pendapatan kotor ratusan juta (rupiah). Hampir setengahnya dari online (daring),” ujar Irwan. Toko ini mulai aktif berjualan daring sejak setahun lalu. Berkreasi dengan membuat video dan siaran adalah cara toko ini bertahan ketika kondisi Pasar Kreatif Cigondewah cenderung sepi. Dian (50) pedagang yang memiliki toko di dekat pintu masuk pasar, hanya bisa bertopang dagu menatap area parkir yang sepi.

”Dulu, parkiran ini penuh mobil pembeli. Sekarang, sebagian besar ini mobil penjual,” ujarnya. Padahal, Kawasan Tekstil Cigondewah (KTC) didapuk menjadi kawasan wisata. Dekat dengan pabrik tekstil dan garmen yang tumbuh di selatan Bandung, pasar ini menjajakan berbagai jenis kain berkualitas dengan harga bersaing. KTC dibangun tahun 2007 dan diisi 110 toko. Selain kain dan produk tekstil lain, pasar ini juga menyediakan potongan sisa produksi yang layak jual dan berkualitas. Pada 2022 Pemkot Bandung memasukkan KTC menjadi kampung wisata kelima di Kota Bandung.

Masuknya sejumlah sentra produksi UMKM untuk meramaikan KWK ini dinilai mampu menggerakkan perekonomian masyarakat. Tapi, saat dihantam pandemi tahun 2020, penjualan kain brokat miliknya belum pernah menyamai tahun-tahun sebelumnya. ”Semenjak pandemi, pendapatan sebulan hanya Rp 15 juta. Dulu, saya bisa dapat berpuluh-puluh juta, terutama sebelum Natal dan Lebaran,” kenangnya. Seperti di KTC, pelaku usaha di Kampoeng Radjoet dan KWK lain di Bandung terus berinovasi dan beradaptasi dengan digitalisasi agar bertahan. (Yoga) 

Muhammad Redho, Komitmen Perajin Sasirangan

KT3 26 Feb 2024 Kompas (H)

Muhammad Redho (62) konsisten mengembangkan wastra sasirangan dengan pewarna alami. Tumbuhan untuk bahan pewarna alami kain khas suku Banjar itu juga ia budidayakan. Satu demi satu perajin sasirangan mengikuti jejaknya. Aneka tanaman menghijaukan Kampung Biru di tepian Sungai Martapura, Kota Banjarmasin, Kalsel, Kamis (22/2). Redho menghijaukan lingkungan sekitar Pojok Kreatif Wisata Kampung Biru di Kelurahan Melayu, sejak dipercaya sebagai Sekretaris Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Biru pada 2018. Di Kampung Biru semua rumah bercat biru. ”Semua tanaman yang ada di sini adalah bahan pewarna alami kain sasirangan,” katanya. Sasirangan berasal dari kata menyirang yang berarti ’menjelujur’ atau menjahit jarang-jarang.

Prosesnya dimulai dari pembuatan motif pada kain, dijelujur, diikat dengan tali, dan dicelupkan ke pewarna. Setelah itu, ikatan dan jahitan dilepas, dicuci, lalu dikeringkan.”Di Kampung Biru, pengunjung bisa belajar membuat kain sasirangan pewarna alami dan belajar berkebun tanaman yang menghasilkan pewarna alami,” kata Redho. Sejak 2009, ia konsisten memproduksi dan menjual kain sasirangan berpewarna alami dengan jenama Assalam Sasirangan. Berbekal ilmu dari pelatihan batik di Pulau Jawa oleh mentor dari Yogyakarta, ia berupaya mengembangkan sasirangan berpewarna alami yang saat itu pangsa pasarnya kurang menjanjikan. Waktu itu harga kain sasirangan berpewarna alami minimal Rp 150.000 per potong, sedangkan sasirangan berpewarna sintetis seharga Rp 100.000 per potong.

Dengan harga lebih murah dan warna lebih cerah, permintaan pasar lokal untuk kain sasirangan berpewarna sintetis lebih besar. Bekerja sama dengan Museum Lambung Mangkurat, Redho mendapat kesempatan mengikuti pameran dan peragaan busana sasirangan berpewarna alami di Museum Serawak, Kuching, Sarawak, Malaysia, pada 2011. Setelah itu, ia langsung memproduksi sasirangan berpewarna alami dalam jumlah banyak untuk seragam para guru SMA Negeri 2 Banjarmasin. Lambatlaun, pesanan hampir tak pernah putus. ”Saya pernah dapat order 300 lembar sasirangan warna alam dan mengerjakannya dalam waktu tiga bulan.” Redho rutin menjadi narasumber pelatihan sasirangan berpewarna alami di lingkungan Dinas P&K Kalsel dan Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin. Ia juga beberapa kali diminta menjadi instruktur pelatihan sasirangan berpewarna alam di sejumlah kabupaten atau kota. (Yoga) 

Dua Perusahaan Tekstil Pecat 5.300 Pekerja

KT3 22 Feb 2024 Kompas

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) Ristadi, Rabu (21/2) mengungkapkan, dua perusahaan tekstil yang berlokasi di Semarang, Jateng, pada Januari-Februari ini total sudah melakukan PHK terhadap 5.300 pekerja. Satu perusahaan telah mem-PHK 5.000 karyawan dan perusahaan yang lain 300 karyawan. Ia menjelaskan, PHK itu dilakukan karena terjadinya penurunan permintaan. Akibatnya, perusahaan tidak mampu lagi membiayai upah para pekerja. Kendati demikian, lanjut Ristadi, hak-hak dan pesangon dari karyawan yang di-PHK sudah diselesaikan sesuai ketentuan yang berlaku. Ristadi menambahkan, sejak 2020 hingga kini, pihaknya mencatat ada 62.000 pekerja industri tekstil dan produk tekstil yang mengalami PHK. Mereka tersebar di Banten, Jabar dan Jateng. Perusahaan yang melakukan PHK itu ada yang produknya berorientasi pasar ekspor dan ada pula yang memiliki pasar dalam negeri.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Bidang Ketenagakerjaan dan Pengembangan SDM Nurdin Setiawan mengatakan, pihaknya belum memperoleh laporan resmi mengenai PHK di dua perusahaan itu. Namun, dia tidak menampik bahwa pada 2024, yang belum genap berjalan dua bulan ini, memang sudah terjadi PHK di industri tekstil dan produk tekstil. ”Pada 2024 ada (PHK), tapi tidak masif seperti 2022 dan 2023,” ujar Nurdin, dihubungi pada Rabu. Ia menambahkan, kini utilitas produksi industri ini berkisar 60-70 %. Angka ini tidak banyak berubah dalam 2-3 tahun terakhir yang juga berkisar 65-75 %. Data Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) memperkirakan serapan tenaga kerja di industri initerus menurun. Saatini jumlahnya mendekati 3 juta orang, menurun dibandingkan 2019 yang pernah menyerap hingga 3,5 juta orang. Berkurangnya jumlah tenaga kerja itu disebabkan beberapa faktor, mulai dari langkah merumahkan sementara pekerja hingga PHK. (Yoga)

 

Kaum Milenial dan Gen Z Makin Gemari Pakaian Bekas

KT3 30 Jan 2024 Kompas

Didorong oleh kesadaran lingkungan dan berhemat, generasi milenial dan generasi Z semakin menggemari pakaian bekas. Survei terbaru oleh lembaga basis data e-dagang ECDB menemukan, 67 % generasi muda itu membeli pakaian bekas. Mengikuti selera ini, jenama-jenama terkenal pun mulai membuka layanan pakaian bekas. Chiara Menage, pendiri situs jual beli pakaian bekas, Menage Modern Vintage, mengatakan, sejak 2018 tren pakaian bekas telah menjadi arus utama. Dasarnya kesadaran akan keberlanjutan lingkungan. ”Hal ini berkontribusi besar terhadap alasan orang lebih menyukai barang bekas dan barang antik.

Tujuan saya menawarkan alternatif lebih baik yang 100 % ramah lingkungan dibandingkan dengan membeli barang-barang baru,” katanya seperti dikutip The Guardian, Minggu (28/1). Laporan Pasar Etis Bank Koperasi tahun 2023 mengungkapkan, di Inggris penjualan pakaian bekas meningkat 50 % dibanding tahun sebelumnya. Nilai transaksi mencapai 1,2 miliar pound sterling atau Rp 24,13 triliun. Pasar dalam jaringan, seperti Depop dan Vinted, mengalami lonjakan tertinggi dalam daftar penyedia barang bekas. Sementara itu, kunjungan ke toko amal menjadi lebih sering dibandingkan sebelumnya menyebabkan peningkatan penjualan sebesar 147 %. Kesadaran untuk berhemat dan kesadaran iklim merupakan alasan utama generasi muda dalam membeli pakaian bekas. Di luar itu, mereka menemukan hiburan saat memilih-milih pakaian bekas dan bertemu dengan komunitas sepemikiran.

”Berbelanja langsung terasa lebih menyenangkan dan datang ke tempat ini terasa istimewa. Dan, itu terjadi di komunitas kami,” kata Istara Morris (15), salah satu pelanggan pakaian bekas di Inggris. Berdasarkan laporan thredUP, toko daring konsinyasi dan barang bekas, menemukan bahwa tiga dari empat konsumen yang berbelanja barang bekas menyebut diri sebagai orang yang hemat. Mereka percaya pakaian bekas sekarang lebih dapat diterima secara sosial dibandingkan dengan lima tahun yang lalu. Menurut data threadUP, kalangan yang bangga berpakaian bekas mencapai 59 % dari responden. Para generasi muda ini menemukan pula peluang bisnis dalam pakaian bekas. Sebanyak 21 % dari mereka bahkan bersedia membayar lebih untuk pakaian yang dapat dijual kembali. (Yoga)

Diserang Impor, Industri PTP Kontraksi 1,45%

KT1 10 Jan 2024 Investor Daily
2023 menjadi tahun yang berat untuk para pelaku industri tekstil dan produk tekstil (TPT), serta diperkirakan kontraksi sebesar 1,45%. Impor ilegal yang tidak ditindak serius oleh pemerintah dan belum membaiknya pasar global menjadi penyebab utamanya.  Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta menerangkan, selain PHK ada juga perusahaan-perusahaan yang tutup pabriknya atau hanya berjalan 30% dari kapasitas yang ada. Meskipun ada yang sampai 70%, itu biasanya limpahan orderan dari perusahaan yang tutup. "Jadi 2023 ini kita memproyeksikan tekstil ini, kalau secara statistik kita proyeksinya itu kontraksi sekitar 1,45%. Untuk kuartal IV saya kira kontraksi bisa diatas 3%, antara minus 3 sampai minus 4%," ucap Redma.  Mengenai ekspor, Redma menerangkan, pihaknya memperkirakan kontraksinya sampai minus 13%. (Yetede)

JELANG PEMILU 2024 : Konveksi Perlu Rambah Digital

HR1 09 Jan 2024 Bisnis Indonesia

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah mendorong pelaku konveksi lokal memperluas akses pasar melalui sistem digital seiring dengan peningkatan permintaan selama tahun politik 2024. Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM) Yulius menyatakan digitalisasi pemasaran bisa menaikkan volume penjualan secara drastis. Dia juga menyatakan Kemenkop UKM berencana membentuk wadah pemasaran online terpadu.“UMKM [usaha, mikro, kecil dan menengah] kita ini belum memasarkan bahan bakunya ke sistem digital, maka mereka harus beradaptasi,” ucapnya, Senin (8/1). Yulius mendapati laporan dari pelaku konveksi di sejumlah pasar mengalami penurunan penjualan atribut kampanye. Bahkan, dia menambahkan penurunan penjualan pada periode Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 anjlok hingga 40%-90% dibandingkan penjualan atribut kampanye pada ajang Pemilu pada 2019.Yulius menduga salah satu penyebab anjloknya penjualan pelaku UMKM konveksi lantaran maraknya produk serupa yang lebih murah di e-commerce. “Misalnya barang dari China, mereka gambar Garuda distempel, gambar PDIP distempel. Sebagian besar larinya ke sana, makanya salah satu penyebab berkurangnya [penjualan konveksi lokal] dari itu,” tuturnya.Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Bandung (IPKB) Nandi Herdiaman mengatakan bahwa penjualan atribut kampanye pada tahun ini turun hingga 70% dibandingkan pemilu 2019. Pada kampanye pemilu 2019, dia menjelaskan usaha konveksinya bisa mendapati orderan atribut kampanye sekitar 4 juta item—15 juta item dari partai.

”Sek-sek”... Kami Hidup dan Berguru dari Tenun

KT3 24 Dec 2023 Kompas

Tenun tidak hanya menopang ekonomi, tetapi juga jadi pegangan hidup warga Pringgasela Selatan. Pada motif indahnya tersirat pesan kehidupan yang berharga. Tonggak budaya itu terus diwariskan secara turun-temurun dan dijaga bersama-sama. Kalimat ”Mun Ndek Ta Belajar Lekan Nengka, Punah Tenun Ta” (jika tidak belajar dari sekarang, punah tenun kita) tertulis pada spanduk di dinding rumah di Dusun Gubuk Lauk, Desa Pringgasela Selatan, Kabupaten Lombok Timur, NTB, Minggu (17/12). Di bawahnya, Halwa (10) dan belasan anak perempuan antusias belajar menenun. Suara ”sek-sek” yang terdengar saat Halwa mengentakkan belida bercampur riuh suara anak-anak. Ada yang berdiskusi dengan teman, bertanya kepada guru, hingga mencoba berbagai proses menenun. Para guru yang juga petenun senior dengan sabar mendampingi, jika ada kesalahan, mereka memberi solusi dan menunjukkan teknik yang benar. Sekolah tenun itu diinisiasi oleh Kelompok Nina Penenun (perempuan petenun) sejak 2017.

”Tak mungkin orang-orang tua yang umurnya sudah 60-70 tahun terus kita harapkan untuk menenun. Jadi, kalau bukan dari kita yang regenerasi, tenun ini tidak ada yang meneruskan, pasti akan punah,” kata Sri Hartini (45), Kepala Sekolah sekaligus Ketua Kelompok Nina Penenun Pringgasela Selatan. Saat ini, sudah ada 25 siswa di Sekolah Tenun Kelompok Nina Penenun. Mereka adalah anak-anak Pringgasela Selatan yang rata-rata masih duduk di bangku SD hingga SMP. Sekolah tenun berlangsung dua kali seminggu dari pukul 14.00 sampai 17.00. Saat ini, ada 700 petenun di desa yang berada 40 km timur Mataram, ibu kota NTB, itu. ”Saya sedang menenun ragi (motif) Bayanan,” kata Raehan (48), warga Gubuk Lauk, Pringgasela Selatan, Selasa siang.

Selain menenun sendiri, petenun di Pringgasela Selatan mulai tergabung dalam Kelompok Nina Penenun yang dibentuk sejak 2017. Berkat kelompok ini, mereka semakin mendapat akses ke pasar sehingga produk mereka semakin bernilai. Sebelumnya, mereka harus melepas tenunnya dengan harga murah karena kebutuhan hidup. Bahkan sampai terjerat rentenir. Harga tenun bisa jatuh hingga Rp 150.000 per lembar. Kini, tenun mereka bernilai Rp 400.000 hingga jutaan rupiah per lembar. Pesan kehidupan yang tergambar di motif tenun Pringgasela Selatan adalah warisan berharga yang harus dijaga, sama seperti menjaga tenun itu sendiri. Ini adalah ikhtiar agar tenun Pringgasela Selatan yang menjadi sumber ekonomi dan pegangan hidup tidak punah. Dari tenun, mereka hidup dan berguru. (Yoga)

PERFORMA INDUSTRI TEKSTIL : Dampak Minim Pelaksanaan Pemilu

HR1 09 Dec 2023 Bisnis Indonesia

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan, Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 tidak memberikan dampak signifikan terhadap industri tekstil. Pesanan yang masuk, kata dia, masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan gelaran Pemilu 2019. Padahal, biasanya Pemilu bisa mengungkit kinerja sektor tekstil dan produk tekstil, karena meningkatnya kebutuhan kaos, jaket, dan syal untuk kampanye. Lesunya permintaan tekstil dan produk tekstil pada masa kampanye Pemilu kali ini pun menambah beban pelaku industri yang memang sedang mengalami masa sulit akibat menurunnya permintaan dan maraknya produk impor di pasar dalam negeri. Banyaknya produk impor, khususnya yang ilegal memang masih menjadi problem yang belum bisa dituntaskan hingga kini. Padahal, pemerintah telah melakukan pengawasan lintas batas untuk menahan produk impor di pasar dalam negeri. Secara terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membeberkan bahwa pemerintah bakal memberikan insentif kepada pengusaha yang memiliki orientasi ekspor untuk penjualan barangnya dengan porsi hingga 50%, termasuk tekstil dan produk tekstil. Dengan begitu, kata Airlangga, ketika penjualan ekspor berada di bawah 50%, maka pengusaha akan diberikan surat rekomendasi dari Kementerian Perindustrian. Kemudahan yang diberikan kepada pelaku industri tekstil juga akan ditindak lanjuti oleh Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dan perbankan, di mana nantinya pengusaha akan diberikan restrukturisasi kredit agar bisa bersaing di dalam negeri. Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kementerian Perindustrian Andi Rizaldi mengatakan, peluang tersebut hadir dari peningkatan kebutuhan terhadap produk industri hijau, termasuk tekstil dan produk tekstil. Kementerian Perindustrian juga menyiapkan balai-balai sebagai mitra transformasi dari industri melalui penyediaan jasa industri sebagai infrastruktur mutu sekaligus infrastruktur sustainability.