Tekstil
( 223 )Pasar Tekstil Tanah Abang
DAMPAK IMPOR ILEGAL : Cuan Lebaran Industri Tekstil Melayang
Pelaku industri tekstil dan produk tekstil atau TPT harus gigit jari pada momentum Ramadan dan Idul fitri kali ini. Maraknya produk pakaian jadi impor di pasar dalam negeri mengganjal cuan pengusaha. Ketua Umum Asosiasi produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan, kebijakan larangan dan pembatasan impor melalui Peraturan Menteri Perdagangan No. 3/2024 tidak bisa langsung memulihkan pasar dalam negeri dari gempuran produk impor.“Momentum Lebaran ini [diprediksi] tidak ada pengaruhnya. Stok barang-barang impor, baik dalam bentuk kain maupun pakaian jadi sudah menumpuk di pasar,” katanya, dikutip Senin (18/3).Terlebih, APSyFI mencatat setidaknya ada 37.000 kontainer produk tekstil impor ilegal yang masuk ke Tanah Air sepanjang 2023. Produk ilegal itu termasuk pakaian bekas yang disortir dan diperjualbelikan di pasar lokal.
“Berdasarkan perhitungan dengan metode supply, diperkirakan impor ilegal TPT pada 2023 mencapai 749.000 ton, setara dengan 37.000 kontainer,” jelasnya.Redma menjelaskan, angka impor ilegal tersebut dihitung dengan melihat volume ketersediaan pasokan TPT dari hulu sampai dengan hilir, termasuk data ekspor-impor dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Senada, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa berharap Peraturan Menteri Perdagangan No. 3/2024 yang baru diterapkan mampu memulihkan roda industri TPT.“Sehingga event Lebaran 2024 yang biasanya masyarakat Indonesia membeli pakaian baru bisa dinikmati oleh UMKM/IKM, dan industri TPT nasional,” tuturnya.
Penggiat Kreatif Bandung, Beraksi dengan Digitalisasi
Kawasan Tekstil Cigondewah Bandung, Jabar, Kamis (29/2) siang
itu sepi. Hanya ada beberapa pekerja yang mengangkat gulungan kain, sisanya duduk
menunggu pembeli di Kampung Wisata Kreatif atau KWK itu. Namun, di sudut pasar
terdengar riuh suara karyawan menjajakan dagangan. Bukan karena ada pembeli, dua
pegawai Toko Queen Textile itu tengah memamerkan produk yang dijual melalui media
sosial. ”Ayo kakak silakan di check out keranjang kuningnya. Kita mau tutup
empat menit lagi!” teriak pegawai toko yang bertugas menjajakan barang, sementara
satu petugas lain mengarahkan kamera ponselnya ke kain yang dijajakan untuk
melihat detailnya.
Irwan Harifullah (23) karyawan toko, mengamati kedua rekannya
siaran langsung di salah satu aplikasi jual beli. Dari toko virtual itu ribuan
pesanan datang dan memberi keuntungan hingga separuh pemasukan toko. ”Rata-rata
sebulan pendapatan kotor ratusan juta (rupiah). Hampir setengahnya dari online
(daring),” ujar Irwan. Toko ini mulai aktif berjualan daring sejak setahun
lalu. Berkreasi dengan membuat video dan siaran adalah cara toko ini bertahan
ketika kondisi Pasar Kreatif Cigondewah cenderung sepi. Dian (50) pedagang yang
memiliki toko di dekat pintu masuk pasar, hanya bisa bertopang dagu menatap
area parkir yang sepi.
”Dulu, parkiran ini penuh mobil pembeli. Sekarang, sebagian
besar ini mobil penjual,” ujarnya. Padahal, Kawasan Tekstil Cigondewah (KTC)
didapuk menjadi kawasan wisata. Dekat dengan pabrik tekstil dan garmen yang
tumbuh di selatan Bandung, pasar ini menjajakan berbagai jenis kain berkualitas
dengan harga bersaing. KTC dibangun tahun 2007 dan diisi 110 toko. Selain kain
dan produk tekstil lain, pasar ini juga menyediakan potongan sisa produksi yang
layak jual dan berkualitas. Pada 2022 Pemkot Bandung memasukkan KTC menjadi kampung
wisata kelima di Kota Bandung.
Masuknya sejumlah sentra produksi UMKM untuk meramaikan KWK
ini dinilai mampu menggerakkan perekonomian masyarakat. Tapi, saat dihantam
pandemi tahun 2020, penjualan kain brokat miliknya belum pernah menyamai
tahun-tahun sebelumnya. ”Semenjak pandemi, pendapatan sebulan hanya Rp 15 juta.
Dulu, saya bisa dapat berpuluh-puluh juta, terutama sebelum Natal dan Lebaran,”
kenangnya. Seperti di KTC, pelaku usaha di Kampoeng Radjoet dan KWK lain di
Bandung terus berinovasi dan beradaptasi dengan digitalisasi agar bertahan. (Yoga)
Muhammad Redho, Komitmen Perajin Sasirangan
Muhammad Redho (62) konsisten mengembangkan wastra sasirangan
dengan pewarna alami. Tumbuhan untuk bahan pewarna alami kain khas suku Banjar
itu juga ia budidayakan. Satu demi satu perajin sasirangan mengikuti jejaknya. Aneka
tanaman menghijaukan Kampung Biru di tepian Sungai Martapura, Kota Banjarmasin,
Kalsel, Kamis (22/2). Redho menghijaukan lingkungan sekitar Pojok Kreatif
Wisata Kampung Biru di Kelurahan Melayu, sejak dipercaya sebagai Sekretaris Kelompok
Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Biru pada 2018. Di Kampung Biru semua rumah
bercat biru. ”Semua tanaman yang ada di sini adalah bahan pewarna alami kain
sasirangan,” katanya. Sasirangan berasal dari kata menyirang yang berarti
’menjelujur’ atau menjahit jarang-jarang.
Prosesnya dimulai dari pembuatan motif pada kain, dijelujur,
diikat dengan tali, dan dicelupkan ke pewarna. Setelah itu, ikatan dan jahitan
dilepas, dicuci, lalu dikeringkan.”Di Kampung Biru, pengunjung bisa belajar
membuat kain sasirangan pewarna alami dan belajar berkebun tanaman yang menghasilkan
pewarna alami,” kata Redho. Sejak 2009, ia konsisten memproduksi dan menjual
kain sasirangan berpewarna alami dengan jenama Assalam Sasirangan. Berbekal
ilmu dari pelatihan batik di Pulau Jawa oleh mentor dari Yogyakarta, ia
berupaya mengembangkan sasirangan berpewarna alami yang saat itu pangsa
pasarnya kurang menjanjikan. Waktu itu harga kain sasirangan berpewarna alami
minimal Rp 150.000 per potong, sedangkan sasirangan berpewarna sintetis seharga
Rp 100.000 per potong.
Dengan harga lebih murah dan warna lebih cerah, permintaan
pasar lokal untuk kain sasirangan berpewarna sintetis lebih besar. Bekerja sama
dengan Museum Lambung Mangkurat, Redho mendapat kesempatan mengikuti pameran dan
peragaan busana sasirangan berpewarna alami di Museum Serawak, Kuching,
Sarawak, Malaysia, pada 2011. Setelah itu, ia langsung memproduksi sasirangan
berpewarna alami dalam jumlah banyak untuk seragam para guru SMA Negeri 2
Banjarmasin. Lambatlaun, pesanan hampir tak pernah putus. ”Saya pernah dapat order
300 lembar sasirangan warna alam dan mengerjakannya dalam waktu tiga bulan.” Redho
rutin menjadi narasumber pelatihan sasirangan berpewarna alami di lingkungan
Dinas P&K Kalsel dan Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin. Ia juga beberapa kali
diminta menjadi instruktur pelatihan sasirangan berpewarna alam di sejumlah
kabupaten atau kota. (Yoga)
Dua Perusahaan Tekstil Pecat 5.300 Pekerja
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN)
Ristadi, Rabu (21/2) mengungkapkan, dua perusahaan tekstil yang berlokasi di
Semarang, Jateng, pada Januari-Februari ini total sudah melakukan PHK terhadap 5.300
pekerja. Satu perusahaan telah mem-PHK 5.000 karyawan dan perusahaan yang lain
300 karyawan. Ia menjelaskan, PHK itu dilakukan karena terjadinya penurunan
permintaan. Akibatnya, perusahaan tidak mampu lagi membiayai upah para pekerja.
Kendati demikian, lanjut Ristadi, hak-hak dan pesangon dari karyawan yang
di-PHK sudah diselesaikan sesuai ketentuan yang berlaku. Ristadi menambahkan,
sejak 2020 hingga kini, pihaknya mencatat ada 62.000 pekerja industri tekstil
dan produk tekstil yang mengalami PHK. Mereka tersebar di Banten, Jabar dan Jateng.
Perusahaan yang melakukan PHK itu ada yang produknya berorientasi pasar ekspor
dan ada pula yang memiliki pasar dalam negeri.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Bidang Ketenagakerjaan dan Pengembangan SDM Nurdin Setiawan mengatakan, pihaknya belum memperoleh laporan resmi mengenai PHK di dua perusahaan itu. Namun, dia tidak menampik bahwa pada 2024, yang belum genap berjalan dua bulan ini, memang sudah terjadi PHK di industri tekstil dan produk tekstil. ”Pada 2024 ada (PHK), tapi tidak masif seperti 2022 dan 2023,” ujar Nurdin, dihubungi pada Rabu. Ia menambahkan, kini utilitas produksi industri ini berkisar 60-70 %. Angka ini tidak banyak berubah dalam 2-3 tahun terakhir yang juga berkisar 65-75 %. Data Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) memperkirakan serapan tenaga kerja di industri initerus menurun. Saatini jumlahnya mendekati 3 juta orang, menurun dibandingkan 2019 yang pernah menyerap hingga 3,5 juta orang. Berkurangnya jumlah tenaga kerja itu disebabkan beberapa faktor, mulai dari langkah merumahkan sementara pekerja hingga PHK. (Yoga)
Kaum Milenial dan Gen Z Makin Gemari Pakaian Bekas
Didorong oleh kesadaran lingkungan dan berhemat, generasi
milenial dan generasi Z semakin menggemari pakaian bekas. Survei terbaru oleh
lembaga basis data e-dagang ECDB menemukan, 67 % generasi muda itu membeli
pakaian bekas. Mengikuti selera ini, jenama-jenama terkenal pun mulai membuka
layanan pakaian bekas. Chiara Menage, pendiri situs jual beli pakaian bekas,
Menage Modern Vintage, mengatakan, sejak 2018 tren pakaian bekas telah menjadi
arus utama. Dasarnya kesadaran akan keberlanjutan lingkungan. ”Hal ini
berkontribusi besar terhadap alasan orang lebih menyukai barang bekas dan
barang antik.
Tujuan saya menawarkan alternatif lebih baik yang 100 % ramah
lingkungan dibandingkan dengan membeli barang-barang baru,” katanya seperti
dikutip The Guardian, Minggu (28/1). Laporan Pasar Etis Bank Koperasi tahun
2023 mengungkapkan, di Inggris penjualan pakaian bekas meningkat 50 % dibanding
tahun sebelumnya. Nilai transaksi mencapai 1,2 miliar pound sterling atau Rp 24,13
triliun. Pasar dalam jaringan, seperti Depop dan Vinted, mengalami lonjakan
tertinggi dalam daftar penyedia barang bekas. Sementara itu, kunjungan ke toko
amal menjadi lebih sering dibandingkan sebelumnya menyebabkan peningkatan
penjualan sebesar 147 %. Kesadaran untuk berhemat dan kesadaran iklim merupakan
alasan utama generasi muda dalam membeli pakaian bekas. Di luar itu, mereka menemukan
hiburan saat memilih-milih pakaian bekas dan bertemu dengan komunitas sepemikiran.
”Berbelanja langsung terasa lebih menyenangkan dan
datang ke tempat ini terasa istimewa. Dan, itu terjadi di komunitas kami,” kata
Istara Morris (15), salah satu pelanggan pakaian bekas di Inggris. Berdasarkan
laporan thredUP, toko daring konsinyasi dan barang bekas, menemukan bahwa tiga
dari empat konsumen yang berbelanja barang bekas menyebut diri sebagai orang
yang hemat. Mereka percaya pakaian bekas sekarang lebih dapat diterima secara
sosial dibandingkan dengan lima tahun yang lalu. Menurut data threadUP,
kalangan yang bangga berpakaian bekas mencapai 59 % dari responden. Para
generasi muda ini menemukan pula peluang bisnis dalam pakaian bekas. Sebanyak
21 % dari mereka bahkan bersedia membayar lebih untuk pakaian yang dapat dijual
kembali. (Yoga)
Diserang Impor, Industri PTP Kontraksi 1,45%
JELANG PEMILU 2024 : Konveksi Perlu Rambah Digital
Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah mendorong pelaku konveksi lokal memperluas akses pasar melalui sistem digital seiring dengan peningkatan permintaan selama tahun politik 2024. Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM) Yulius menyatakan digitalisasi pemasaran bisa menaikkan volume penjualan secara drastis. Dia juga menyatakan Kemenkop UKM berencana membentuk wadah pemasaran online terpadu.“UMKM [usaha, mikro, kecil dan menengah] kita ini belum memasarkan bahan bakunya ke sistem digital, maka mereka harus beradaptasi,” ucapnya, Senin (8/1).
Yulius mendapati laporan dari pelaku konveksi di sejumlah pasar mengalami penurunan penjualan atribut kampanye. Bahkan, dia menambahkan penurunan penjualan pada periode Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 anjlok hingga 40%-90% dibandingkan penjualan atribut kampanye pada ajang Pemilu pada 2019.Yulius menduga salah satu penyebab anjloknya penjualan pelaku UMKM konveksi lantaran maraknya produk serupa yang lebih murah di e-commerce.
“Misalnya barang dari China, mereka gambar Garuda distempel, gambar PDIP distempel. Sebagian besar larinya ke sana, makanya salah satu penyebab berkurangnya [penjualan konveksi lokal] dari itu,” tuturnya.Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Bandung (IPKB) Nandi Herdiaman mengatakan bahwa penjualan atribut kampanye pada tahun ini turun hingga 70% dibandingkan pemilu 2019. Pada kampanye pemilu 2019, dia menjelaskan usaha konveksinya bisa mendapati orderan atribut kampanye sekitar 4 juta item—15 juta item dari partai.
”Sek-sek”... Kami Hidup dan Berguru dari Tenun
Tenun tidak hanya menopang ekonomi, tetapi juga jadi
pegangan hidup warga Pringgasela Selatan. Pada motif indahnya tersirat pesan
kehidupan yang berharga. Tonggak budaya itu terus diwariskan secara
turun-temurun dan dijaga bersama-sama. Kalimat ”Mun Ndek Ta Belajar Lekan
Nengka, Punah Tenun Ta” (jika tidak belajar dari sekarang, punah tenun kita)
tertulis pada spanduk di dinding rumah di Dusun Gubuk Lauk, Desa Pringgasela
Selatan, Kabupaten Lombok Timur, NTB, Minggu (17/12). Di bawahnya, Halwa (10) dan
belasan anak perempuan antusias belajar menenun. Suara ”sek-sek” yang terdengar
saat Halwa mengentakkan belida bercampur riuh suara anak-anak. Ada yang
berdiskusi dengan teman, bertanya kepada guru, hingga mencoba berbagai proses
menenun. Para guru yang juga petenun senior dengan sabar mendampingi, jika ada
kesalahan, mereka memberi solusi dan menunjukkan teknik yang benar. Sekolah
tenun itu diinisiasi oleh Kelompok Nina Penenun (perempuan petenun) sejak 2017.
”Tak mungkin orang-orang tua yang umurnya sudah 60-70 tahun
terus kita harapkan untuk menenun. Jadi, kalau bukan dari kita yang regenerasi,
tenun ini tidak ada yang meneruskan, pasti akan punah,” kata Sri Hartini (45),
Kepala Sekolah sekaligus Ketua Kelompok Nina Penenun Pringgasela Selatan. Saat ini,
sudah ada 25 siswa di Sekolah Tenun Kelompok Nina Penenun. Mereka adalah
anak-anak Pringgasela Selatan yang rata-rata masih duduk di bangku SD hingga
SMP. Sekolah tenun berlangsung dua kali seminggu dari pukul 14.00 sampai 17.00.
Saat ini, ada 700 petenun di desa yang berada 40 km timur Mataram, ibu kota
NTB, itu. ”Saya sedang menenun ragi (motif) Bayanan,” kata Raehan (48), warga
Gubuk Lauk, Pringgasela Selatan, Selasa siang.
Selain menenun sendiri, petenun di Pringgasela Selatan mulai
tergabung dalam Kelompok Nina Penenun yang dibentuk sejak 2017. Berkat kelompok
ini, mereka semakin mendapat akses ke pasar sehingga produk mereka semakin
bernilai. Sebelumnya, mereka harus melepas tenunnya dengan harga murah karena
kebutuhan hidup. Bahkan sampai terjerat rentenir. Harga tenun bisa jatuh hingga
Rp 150.000 per lembar. Kini, tenun mereka bernilai Rp 400.000 hingga jutaan
rupiah per lembar. Pesan kehidupan yang tergambar di motif tenun Pringgasela
Selatan adalah warisan berharga yang harus dijaga, sama seperti menjaga tenun
itu sendiri. Ini adalah ikhtiar agar tenun Pringgasela Selatan yang menjadi
sumber ekonomi dan pegangan hidup tidak punah. Dari tenun, mereka hidup dan
berguru. (Yoga)
PERFORMA INDUSTRI TEKSTIL : Dampak Minim Pelaksanaan Pemilu
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan, Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 tidak memberikan dampak signifikan terhadap industri tekstil. Pesanan yang masuk, kata dia, masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan gelaran Pemilu 2019. Padahal, biasanya Pemilu bisa mengungkit kinerja sektor tekstil dan produk tekstil, karena meningkatnya kebutuhan kaos, jaket, dan syal untuk kampanye. Lesunya permintaan tekstil dan produk tekstil pada masa kampanye Pemilu kali ini pun menambah beban pelaku industri yang memang sedang mengalami masa sulit akibat menurunnya permintaan dan maraknya produk impor di pasar dalam negeri. Banyaknya produk impor, khususnya yang ilegal memang masih menjadi problem yang belum bisa dituntaskan hingga kini. Padahal, pemerintah telah melakukan pengawasan lintas batas untuk menahan produk impor di pasar dalam negeri. Secara terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membeberkan bahwa pemerintah bakal memberikan insentif kepada pengusaha yang memiliki orientasi ekspor untuk penjualan barangnya dengan porsi hingga 50%, termasuk tekstil dan produk tekstil. Dengan begitu, kata Airlangga, ketika penjualan ekspor berada di bawah 50%, maka pengusaha akan diberikan surat rekomendasi dari Kementerian Perindustrian. Kemudahan yang diberikan kepada pelaku industri tekstil juga akan ditindak lanjuti oleh Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dan perbankan, di mana nantinya pengusaha akan diberikan restrukturisasi kredit agar bisa bersaing di dalam negeri. Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kementerian Perindustrian Andi Rizaldi mengatakan, peluang tersebut hadir dari peningkatan kebutuhan terhadap produk industri hijau, termasuk tekstil dan produk tekstil. Kementerian Perindustrian juga menyiapkan balai-balai sebagai mitra transformasi dari industri melalui penyediaan jasa industri sebagai infrastruktur mutu sekaligus infrastruktur sustainability.
Pilihan Editor
-
Evaluasi Bantuan Langsung Tunai BBM
11 Oct 2022 -
Alarm Inflasi Mengancam Sektor Retail
11 Oct 2022 -
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut Sepekan Lagi
10 Oct 2022









