Tekstil
( 223 )INDUSTRI TEKSTIL, Membangkitkan Raksasa yang Tertidur
Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) pernah begitu
berjaya karena menjadi salah satu kontributor terbesar ekspor Indonesia dan
mampu menyerap tenaga kerja jutaan orang. Hanya saja, kini terus merosot dan tertekan.
TPT, ibarat raksasa yang tersungkur dan kelimpungan. Pada dekade 80-an dan
90-an, industri tekstil Tanah Air sedang jaya-jayanya. Ekspor TPT Tanah Air
melanglang buana ke seluruh dunia. Saking melimpahnya omzet, bahkan salah satu
sentra TPT, yakni Majalaya, Kabupaten Bandung, dijuluki sebagai kota dollar.
Namun, kini industri TPT tengah terpuruk. Berita pabrik tekstil tutup dan
merumahkan karyawannya silih berganti mewarnai media masa. Pudar sudah kejayaan
kota dollar. Mengutip data BPS, produk industri tekstil dan pakaian jadi
triwulan III-2023 mencapai Rp 33,9 triliun, turun 2,69 % dari periode sama pada
2022. Kontribusinya industri terhadap PDB nasional pada triwulan ketiga 2023
sebesar 1,08 %, menurun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu di 1,17
%.
Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) memperkirakan jumlah
serapan tenaga kerja di industri ini terus menurun. Saat ini jumlahnya mendekati
3 juta orang, menurun dibandingkan dengan 2019 yang menyerap hingga 3,5 juta
orang. Melambatnya industri ini juga tecermin dari kinerja perusahaan tekstil
yang juga tengah tertekan. Salah satu raksasa perusahaan TPT, misalnya PT Sri
Rejeki Isman Tbk atau biasa dikenal Sritex, pun tengah tertekan. Pada Sembilan bulan
2023, penjualan neto perusahaan merosot 47,6 % dibandingkan dengan periode yang
sama tahun lalu. Akhirnya, perusahaan pun menanggung kerugian operasional
105,14 juta USD. Emiten berkode saham SRIL itu bahkan masuk dalam papan
pemantauan khusus lantaran berkategori ekuitas negatif dan likuiditas rendah.
Efek SRIL itu sudah disuspensi atau tidak diperdagangkan selama 30 bulan sejak
18 Mei 2021 (Kompas, 24/11).
Sejatinya, industri TPT ini sangat strategis dan punya potensi
yang sangat besar. Di tengah cita-cita Indonesia menjadi negara maju pada 2045,
industrialisasi harus bisa bertumbuh dan menyerap banyak tenaga kerja. Inilah
peran yang bisa dimainkan oleh industri TPT yang memang memiliki karakter padat
karya sehingga menyerap secara luas tenaga kerja. Untuk mendongkrak industri
ini, banyak yang perlu dibenahi. Pemerintah perlu melindungi pasar dalam negeri
dari gempuran impor. Pelaku industri mendambakan adanya proteksi pasar dengan
pagar tarif bea masuk impor. Tak hanya itu, aparatur juga perlu memperketat
pengawasan pelabuhan-pelabuhan tikus dari penyelundupan produk tekstil ilegal. Pemerintah
juga perlu aktif membuka pasar baru tujuan ekspor. Ini supaya ada alternatif
negara tujuan ekspor ketika permintaan
dari negara mitra dagang tradisional tengah melambat. Sudah saatnya industri
TPT ini direvitalisasi. (Yoga)
Industri Tekstil Makin Tertekan Geopolitik dan Impor Ilegal
Beberapa perusahaan tekstil dalam negeri yang terdaftar di pasar
modal kritis. Kondisi keuangan membuat mereka tersegel, bahkan nyaris didepak
dari daftar perusahaan terbuka. Fundamental industri tekstil tertekan ketidakpastian
global dan banjirnya produk impor ilegal. Menjelang akhir 2023, beberapa
perusahaan tekstil masuk dalam papan pemantauan khusus. Salah satunya PT Sri
Rejeki Isman Tbk. Emiten berkode SRIL itu masuk dalam kategori ekuitas negatif
dan likuiditas rendah. Efek SRIL sudah disuspensi atau tidak diperdagangkan
selama 30 bulan sejak 18 Mei 2021. Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek
Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna, dalam keterangannya yang dikutip Kamis
(23/11) mengatakan, dalam melakukan pemantauan atas perusahaan tercatat, bursa melakukan
beberapa upaya perlindungan investor ritel, salah satunya melalui pengenaan notasi
khusus dan penempatan pada papan pemantauan khusus.
Dalam laporan keuangan SRIL periode sembilan bulan pada
2023, penjualan neto perusahaan merosot 47,6 % dibandingkan penjualan per
September 2022, dari angka 474,17 juta USD menjadi 248,50 juta USD. Perusahaan
itu menanggung rugi operasional senilai 105,14 juta USD. Kerugian itu menurun
27,39 % dari kerugian tahun lalu 144,80 juta USD. PT Sejahtera Bintang Abadi Textile
Tbk (SBAT) juga masuk pemantauan khusus karena tidak ada pendapatan usaha dalam
laporan keuangan terakhir. Efek SBAT tidak lagi ditransak- sikan sejak
pertengahan 2021. Melihat laporan keuangan terakhir mereka di semester I-2023,
keuntungan anjlok 82,25 % secara tahunan menjadi Rp 11,09 miliar. Penurunan
kinerja juga dialami PT Asia Pacific Fibers Tbk. Emiten berkode POLY itu kini
dipantau khusus karena laporan keuangan terakhirnya menunjukkan ekuitas
negatif.
Sampai 30 September 2023, pendapatan POLY turun 27,72 %
secara tahunan ke angka 228,49 juta USD, dibandingkan dengan 316,14 juta USD
pada tahun lalu. Mereka juga mengalami kerugian komprehensif tahun berjalan
sebesar 16,05 juta USD dan defisiensi modal sebesar 960,49 juta USD. ”Industri
poliester terus menghadapi ketidakpastian dan volatilitas selama Januari hing
ga 23 September karena ketegangan geopolitik yang berkepanjangan, perang Rusia
dan Ukraina, perlambatan pertumbuhan ekonomi global, inflasi yang tinggi, dan
kenaikan biaya bunga,” kata perusahaan dalam laporan keuangannya. Seluruh
rantai poliester berada di bawah tekanan berat dengan permintaan yang lesu dan
tantangan pasokan yang berlebihan. Banyak produsen yang mengurangi produksi dan
beberapa di antaranya tutup karena tren penurunan ini. (Yoga)
Hidup Tak Layak Para Pekerja Pabrik Pembuat Baju Mahal
Setidaknya dua buruh
perempuan tewas dan beberapa orang cedera pada Rabu (8/11). Korban jatuh setelah
polisi melepas tembakan ke arah pekerja industri garmen yang berunjuk rasa di
Gazipur, Bangladesh. Pabrik-pabrik di Bangladesh memasok banyak jenama terkemuka,
seperti H&M, Gap Inc, Levi’s, Walmart, Zara, Marks and Spencer, Primark,
Aldi Inditex, Bestseller, Hugo Boss, dan Lululemon. Meski jenama itu mendapat
omzet besar, para pembuatnya hidup tak layak di Bangladesh. Karena itu, sepekan
terakhir ada pemogokan dan unjuk rasa. Pekerja minta naik gaji. Sejak 2019,
gaji pekerja industri garmen Bangladesh tidak naik. Pekan lalu, puluhan pabrik dijarah
para pekerja dan ratusan pabrik lain ditutup pemilik untuk menghindari
perusakan.
”Banyak pabrik besar memproduksi pakaian untuk hampir semua
jenama dan pengecer besar Barat,” kata Presiden Federasi Pekerja Garmen dan Industri
Bangladesh Kalpona Akter. Asosiasi Produsen dan Eksportir Garmen Bangladesh hanya
menawarkan kenaikan upah 25 %. Adapun Pemerintah Bangladesh setuju upah minimum
naik 56,25 % menjadi 114 % atau Rp 1,8 juta per bulan. Kenaikan berlaku mulai 1
Desember 2023. Pemerintahan PM Sheikh Hasina juga berjanji, gaji bisa naik 5 % setiap
tahun. Buruh menolak, sebab inflasi saja 9,5 %. Mereka minta upah minimum
menjadi 209 % per bulan. Sekarang, upah minimum industri itu hanya 75 dollar
AS. Studi biaya hidup komprehensif yang dilakukan Institut Studi Perburuhan
Bangladesh menunjukkan, pekerja membutuhkan minimum 23.000 taka atau Rp 4,3
juta untuk bisa hidup di atas garis kemiskinan. Sementara dalam laporan Center
for Policy Dialogue, sebagaimana dikutip Deutsche Welle (DW), disimpulkan bahwa
pekerja garmen Bangladesh mendapatkan upah paling rendah dibandingkan pekerja
industri sejenis di China, Kamboja, India, dan Vietnam. (Yoga)
Marak PHK Akibat Seret Pesanan
JAKARTA – Langkah pemerintah memperketat perdagangan lintas barang dinilai belum cukup membendung barang-barang impor masuk ke Tanah Air. Pemerintah diminta mencari jalan keluar atas kelesuan di industri tekstil dan produk tekstil akibat tekanan banjirnya barang impor, yang menyebabkan maraknya perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) ataupun merumahkan pekerjanya. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara Ristadi mencatat setidaknya ada 5.044 pekerja dari enam perusahaan tekstil dan produk tekstil yang dikenai PHK pada semester I 2023. "Ada ratusan anggota kami yang masuk dalam PHK tersebut," katanya kepada Tempo kemarin.
Turunnya jumlah pesanan menjadi alasan utama perusahaan-perusahaan tekstil akhirnya tutup dan memberhentikan karyawannya. Kebanyakan perusahaan tekstil dan produk tekstil selama ini memasarkan produknya untuk pasar ekspor. Namun belakangan pesanan tersebut merosot karena pelemahan ekonomi yang terjadi di negara tujuan ekspor, seperti Eropa dan Amerika Serikat. Di sisi lain, produk-produk dari pabrik tersebut sulit bersaing di dalam negeri karena pembeli lebih memilih barang-barang dengan harga murah, yang kebanyakan berasal dari impor. "Akibatnya, produksi berhenti dan pekerja di-PHK ataupun dirumahkan," ujarnya. (Yetede)
Pengawasan Impor TPT Ilegal DIperketat
Babak Belur di Pasar Domestik
BI Perwakilan NTT Gelar Exotic Tenun Fest
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur menggelar Exotic Tenun Fest 2023 di Kota Kupang, Jumat-Minggu (25-27/8/2023). Sejumlah penenun binaan BI diundang dalam acara yang juga didukung Dewan Kerajinan Nasional Daerah NTT itu. Kepala Perwakilan BI Provinsi NTT Donny Heatubun mengatakan, karya tenun NTT banyak disukai pasar karena memiliki motif yang kaya. Sebanyak 22 kabupaten/kota di NTT pun memiliki motif tenun yang berbeda-beda. Dalam acara promosi produk tenun ini juga digelar pelatihan bagi para perajin. (Yoga)
Merangkai Eksotika lewat Warna Tenun
Kain tenun ikat di NTT beraneka warna. Masing-masing juga mempunyai motif tersendiri. Tenun ikat menjadi salah satu andalan UMKM di provinsi itu Mince Ledoh (55) asyik menenun di Rumah Tenun Ina Ndao, Kota Kupang, Rabu (21/6/2023). Ia tengah menenun kain dengan motif yang berasal dari Kabupaten Rote Ndao. Saat ini, rumah tenun itu melibatkan lima perajin. Hasil karya tangan Mince dan ribuan perajin dari seluruh NTT terpajang di galeri Ina Ndao, yang berdiri pada 1991. Berawal dari ruangan berukuran 3 meter x 3meter, kini menjadi 40 meter x 40 meter. Rumah Tenun Ina Ndao (RTIN) merupakan pusat tenun pertama dan terlengkap di NTT. Hari itu, Mince menenun sendirian. Empat perajin lain sedang liburan ke kampung asal. Mereka adalah mahasiswi di sejumlah perguruan tinggi di Kupang. Mince sekaligus instruktur tenun di situ. Ia bisa menenun satu lembar kain berukuran 275 sentimeter x 80 sentimeter dalam satu pekan. RTIN juga menjadi pusat pelatihan kelompok perajin dari seluruh NTT. Kehadiran mereka di Kupang atas kerja sama dengan pemda setempat.
RTIN juga menjadi tempat studi banding siswa sekolah kejuruan menengah di NTT. Pemilik RTIN Kupang, Dorce Lusi Ina Ndao, mengatakan, sedikitnya 5.000 lembar kain tenun dipajang di galeri tenun. Tidak semuanya dihasilkan oleh perajin Ina Ndao. Sebagian besar datang dari kelompok binaan dan mitra tenun Ina Ndao di Rote Ndao, Timor, Sumba, Sabu, dan Flores. Para perajin mengirim tenunan ke Ina Ndao lalu menerima sejumlah uang sesuai kesepakatan, termasuk ongkos kirim. ”Perajin butuh modal usaha dan membiayai kebutuhan hidup lain. Kami saling menopang,” katanya. Rata-rata 200 lembar sarung per bulan dikirim ke Kupang. Harga kain tenun bervariasi mulai dari Rp 50.000 per lembar selendang sampai Rp 5 juta per lembar kain sarung. Kain tenun yang mahal pun ada peminatnya karena begitu indah untuk dijadikan cendera mata tamu, baik oleh instansi pemerintah maupun para pengusaha di NTT. Hendrika Uly, penenun di RTS (55) mengatakan, Mereka piawai menenun beraneka motif dan warna sesuai selera pembeli. Beberapa motif yang pernah mereka buat adalah gambar cicak, ikan, tulang ikan, ayam, burung, perahu, panah, parang, dan burung garuda. Terkadang, konsumen dating membawa contoh kain dan motif dari rumah. ”Konsumen bilang, warna yang kami hasilkan sangat eksotik. Mirip dari surga,” ujar Hendrika sambil tersenyum. (Yoga)
Industri Tekstil Masih Menderita
Kendati Indeks Manajer Pembelian (PMI) Indonesia pada Juni 2023 tercatat ekspansif di level 52,5, industri tekstil dan produk tekstil dalam negeri masih terkontraksi. ”Industri tekstil masih menderita karena pasar domestik dibanjiri produk impor, terutama yang masuk melalui Pusat Logistik Berikat atau PLB,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Senin (3/7/2023), di Jakarta. Pada Mei lalu, PMI Indonesia tercatat 50,3. (Yoga)
Pelaku Industri Usul Badan dan Regulasi Khusus
Pelaku industri tekstil dan produk tekstil (TPT) mengusulkan pembentukan badan dan peraturan perundang-undangan khusus sandang. Anggota Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Iwan Lukminto, dalam rapat dengar pendapat bersama Badan Legislasi DPR RI di Jakarta, Rabu (21/6/2023), menyatakan, gagasan itu akan mengatasi kompleksitas masalah daya saing TPT nasional. Selama ini, sektor TPT diatur oleh sembilan kementerian/lembaga. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Alarm Inflasi Mengancam Sektor Retail
11 Oct 2022









