Merangkai Eksotika lewat Warna Tenun
Kain tenun ikat di NTT beraneka warna. Masing-masing juga mempunyai motif tersendiri. Tenun ikat menjadi salah satu andalan UMKM di provinsi itu Mince Ledoh (55) asyik menenun di Rumah Tenun Ina Ndao, Kota Kupang, Rabu (21/6/2023). Ia tengah menenun kain dengan motif yang berasal dari Kabupaten Rote Ndao. Saat ini, rumah tenun itu melibatkan lima perajin. Hasil karya tangan Mince dan ribuan perajin dari seluruh NTT terpajang di galeri Ina Ndao, yang berdiri pada 1991. Berawal dari ruangan berukuran 3 meter x 3meter, kini menjadi 40 meter x 40 meter. Rumah Tenun Ina Ndao (RTIN) merupakan pusat tenun pertama dan terlengkap di NTT. Hari itu, Mince menenun sendirian. Empat perajin lain sedang liburan ke kampung asal. Mereka adalah mahasiswi di sejumlah perguruan tinggi di Kupang. Mince sekaligus instruktur tenun di situ. Ia bisa menenun satu lembar kain berukuran 275 sentimeter x 80 sentimeter dalam satu pekan. RTIN juga menjadi pusat pelatihan kelompok perajin dari seluruh NTT. Kehadiran mereka di Kupang atas kerja sama dengan pemda setempat.
RTIN juga menjadi tempat studi banding siswa sekolah kejuruan menengah di NTT. Pemilik RTIN Kupang, Dorce Lusi Ina Ndao, mengatakan, sedikitnya 5.000 lembar kain tenun dipajang di galeri tenun. Tidak semuanya dihasilkan oleh perajin Ina Ndao. Sebagian besar datang dari kelompok binaan dan mitra tenun Ina Ndao di Rote Ndao, Timor, Sumba, Sabu, dan Flores. Para perajin mengirim tenunan ke Ina Ndao lalu menerima sejumlah uang sesuai kesepakatan, termasuk ongkos kirim. ”Perajin butuh modal usaha dan membiayai kebutuhan hidup lain. Kami saling menopang,” katanya. Rata-rata 200 lembar sarung per bulan dikirim ke Kupang. Harga kain tenun bervariasi mulai dari Rp 50.000 per lembar selendang sampai Rp 5 juta per lembar kain sarung. Kain tenun yang mahal pun ada peminatnya karena begitu indah untuk dijadikan cendera mata tamu, baik oleh instansi pemerintah maupun para pengusaha di NTT. Hendrika Uly, penenun di RTS (55) mengatakan, Mereka piawai menenun beraneka motif dan warna sesuai selera pembeli. Beberapa motif yang pernah mereka buat adalah gambar cicak, ikan, tulang ikan, ayam, burung, perahu, panah, parang, dan burung garuda. Terkadang, konsumen dating membawa contoh kain dan motif dari rumah. ”Konsumen bilang, warna yang kami hasilkan sangat eksotik. Mirip dari surga,” ujar Hendrika sambil tersenyum. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023