Tekstil
( 223 )Mengapa Industri Tekstil Ambruk
Pengawasan Ditjen Bea Cukai Dinilai Lemah
Kinerja Buruk Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (Kemkeu) dituding menjadi salah satu penyebab utama badai PHK dalam 2 tahun terakhir. Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta menyatakan bahwa hal ini dapat terlihat jelas dari data trade map, yang menunjukkan gap impor yang tidak tercatat dari China terus meningkat. Dari US$ 2,7 Miliar pada 2021, menjadi US$ 2,9 Miliar di 2022. "Pada 2023 diperkirakan mencapai US$ 4 Miliar," kata dia dalam keterangan tertulis, Jakarta, Kamis (20/6/2024). Hal ini diungkapkan Redma untuk menanggapi Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani yang menyatakan bahwa penyebab PHK adalah praktik dumping diluar negeri. Hal ini dipandang sebagai upaya pengalihan isu dan untuk menutupi kegagalannya dalam memberishkan DitJen Bea Cukai. Redma menyesalkan tindakan Menkeu Sri Mulyani yang membela Bea Cukai dan menyalahkan kementerian lain terkait penumpukan kontainer di pelabuhan. Hal itu membuat segala upaya usulan perbaikan sistim ditolak mentah-mentah. Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB) Nandi Herdiaman menyatakan bahwa banjir impor 2 tahun terakhir sangat keterlaluan, hingga 60% anggotanya yang merupakan industri kecil menengah sudah tidak lagi beroperasi, sedangkan sisanya hanya jalan dibawah 50%. "Kalau impor garmen resmikan ada PPN, bea masuk plus bea safeguard-nya, jadi tidak mungkin perpotongnya dijual di bawah harga Rp 50.000," jelas dia.
Dengan harga yang sangat murah ini, para pengusaha baik IKM maupun perusahaan besar tidak akan tak kuat menghadapi persaingan dengan produk-produk impor. Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor TPT pada Mei 2024 sebesar US$963,7 Juta atau turun 6,80% year-on-year (yoy) dibandingkan Mei 2023 senilai US$1,03 Miliar. Deputi Bidang Statistik Produksi BPS Habibullah mengatakan, meski meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, nilai ekspor kumulatif untuk TPT turun 0,80% pada Januari-Mei 2024 dibandingkan periode tahun lalu. BPS melihat tren impor barang jadi mengalami kenaikan. Dia mengucapkan, nilai impor pakaian dan aksesorisnya menunjukkan peningkatan mendekati hari raya. Dia mengungkapkan, ada 3 negara utama yang menjadi negara asal impor pakaian rajutan dan bukan rajutan (HS 61 dan 62) ke Indonesia. Itu terdiri dari China, Vietnam, dan Bangladesh. Secara rinci, BPS melaporkan, impor pakaian dan aksesoris dari rajutan (HS 61), paling banyak berasal dari China (38,76%). Kemudian disusul oleh impor dari Vietnam (13,99%), Bangladesh (10,36%), dan Turki (5,02%), serta negara-negara lainnya (31,86%). "Impor pakaian dan aksesoris, baik rajutan maupun bukan rajutan HS 61 dan 62, menunjukkan tren fluktuatif yang cenderung dipengaruhi oleh pola musiman, yairu hari raya nasional maupun keagamaan," tutur Habibullah.
Menjaga Napas Wastra Nusa Tenggara Barat
Pelaku usaha wastra tumbuh di Mataram, NTB. Mereka menjaga napas produk kreatif itu agar bisa tembus pasar global. Selepas istirahat, Selasa (11/6) Putri Yani (23) kembali bergelut dengan tugasnya, mengambil foto dan video deretan kain songket di pajangan dengan kamera ponsel. Dari kain songket yang menonjolkan sulaman benang emas atau perak, ia beralih ke tenun ikat. Sesekali, ia meminta rekan kerjanya, Citra Ermawati (21) berperan sebagai model. Motif tenun yang jadi kontennya beragam, seperti subahnale yang tersohor. Motif ini memiliki filosofi tentang ketaatan kepada Sang Pencipta. Ada juga motif sundawa khas Pringgasela, Lombok Timur, dengan ciri khas garis-garis, terinspirasi dari sungai besar di Pringgasela. Dari Sumbawa ada songket krealang, tenun yang menonjolkan sulaman benang emas atau perak pada kain katun ini telah ada sejak abad ke-14 dan disebut motif tertua.
Memotret dan memvideokan tenun rutin dilakukan Putri di Galeri Riles Lestari, di Jalan Jenderal Sudirman, Rembiga, Mataram, NTB. Ia bertugas pada bagian pemasaran digital sekaligus admin akun media sosial. ”Media sosial jadi strategi promosi kami. Nanti konten-konten ini diunggah ke Instagram dan Tiktok yang lagi digandrungi,” kata Putri. Riles Lestari adalah salah satu usaha tenun di Mataram. Pemiliknya, Sri Lestari (37) Sabtu (8/6) mengatakan, usahanya berawal dari membantu perajin yang terdampak Covid-19 di Sukarara, Lombok Tengah, agar produknya terjual. Dari jualan kain biasa, usaha ini berkembang ke berbagai produk turunan. Selain menjual songket produksi Desa Wisata Sentra Tenun Sukarara di Lombok Tengah, Riles punya koleksi tenun dari berbagai daerah di Pulau Lombok hingga Pulau Sumbawa, sejalan dengan visinya membawa tenun NTB mendunia atau go global.
Baiq Anita Satiya Reni (39) pendiri dan pemilik Anita Reni Fashion and Design di kawasan Ampenan, Mataram, berpendapat, NTB bisa punya ikon produk yang diakui laiknya jenama kelas dunia seperti Louis Vuitton atau Gucci. Optimisme itu, kata Anita, juga karena banyak pengakuan terhadap wastra NTB. ”Di Lombok International Modest Festival 2023, misalnya, banyak desainer kelas dunia datang. Mereka memborong tenun NTB dan menggunakannya pada peragaan busana di New York hingga Perancis,” tutur Anita. Ismail Saleh (36), pendiri dan pemilik usaha Allea Galeri Etnik Indonesia di kawasan Swasembada, Sekarbale, mengatakan, meski punya mimpi besar, para pelaku usaha tenun di Mataram sadar perlu proses panjang untuk mewujudkannya. ”Kami ingin memasyarakatkan tenun. Caranya, kami membikin banyak produk tenun, baik untuk kantor, sehari-hari seperti kaus, jaket, itu kami bikin dengan melihat tren yang berkembang,” ucap Ismail. (Yoga)
Gelombang PHK Didepan Mata
Rugikan Industri, Permendag 8/2024 Layak Dicabut
Jaket! Rata! Gelegar ”Thrifting” Tetap Menyala di Pasar Senen
Jaket! Rata! Teriak laki-laki berkaus oblong bercelana jins belel itu memekakkan telinga. Teriakan yang terus diulang tersebut sekaligus aba-aba untuk memulai perburuan mencari baju bekas pakai. Ingat saja untuk selalu sabar, teliti, waspada, tetapi tetap santai, demi menemukan barang sesuai minat di antara lautan pakaian bekas, itu ilmu dasar berburu pakaian bekas di Lantai 2 Pasar Senen Blok III, Jakarta Pusat, itu. Pengumuman petugas dari pengeras suara berulang kali meminta kewaspadaan pengunjung terhadap copet yang menyaru sebagai sesama pembeli. Para pemilik dan penjaga kios berupaya mempermudah calon pembeli dengan mengatur barang dagangan sesuai kategori. Ada yang memisahkan jaket laki-laki dan perempuan, hoodie, kaus, rok, dan lainnya.
Ada pula kios-kios yang secara khusus menjual satu jenis barang, seperti hanya memajang aneka jas, sepatu, tas, atau pakaian dalam. Pembeli tidak perlu pusing tawar-menawar dengan pedagang. Penjaga kios dengan lantang berkata, ”Rata!” yang artinya semua barang di kios itu dijual dengan harga sama. Biasa dijumpai tulisan pada sesobek kertas atau kardus yang menginformasikan harga jual di setiap kios. Tak ketinggalan pesan tertulis ”Nawar Dosa”, ”Jangan ditawar. Dosa!”, ”Murah. Jangan Ditawar”, atau ”Kalau nawar gua cekek”. Disinilah seninya berbelanja di Pasar Senen Blok III. Alih-alih merasa terintimidasi, pengunjung harus tetap tenang dan fokus dengan tujuannya di tengah hawa yang panas.
Jika beruntung, bisa mendapat barang baru, tapi lama yang masih ada price tag dari toko di negeri asalnya. Tinggal telaten mencari dan bertanya. Nanti juga menemukan yang diidamkan meski tak menjamin selalu tersedia ukuran yang pas. Harga per helai pakaian paling murah Rp 10.000. Hoodie dan jaket dijual mulai Rp 50.000. Jaket untuk musim dingin dan kegiatan luar ruang paling murah Rp 150.000. Ada North Face, Salomon, Patagonia, dan merek ternama lain yang produknya dalam kondisi sangat baik. Pencinta tas kulit, sneakers, dan pernak-pernik pakaian lainnya juga berpeluang besar menemukan apa yang dicari.
Aktivitas di Blok III Pasar Senen menunjukkan jual beli pakaian bekas impor tak pernah mati. Kondisi yang tak terbayangkan, mengingat gencarnya penertiban impor pakaian bekas tahun lalu. Penertiban kala itu menjalankan Permendag No 40 Tahun 2022 tentang Barang Dilarang Ekspor dan Barang Dilarang Impor, demi melindungi pelaku UMKM yang bergerak di bidang produk tekstil. Pada 2023 itu, perekonomian beranjak pulih setelah pandemi Covid-19 mereda. Impor baju bekas dan penjualannya di berbagai kota di Indonesia meningkat, mencapai 26,2 ton pada 2022. Di sisi lain, nge-thrift makin menjadi gaya hidup kekinian, yaitu frugal atau hemat dan ramah lingkungan. Selain murah, membeli pakaian seken berarti menjalankan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle). Saat ekonomi tak menentu seperti sekarang, baju seken bisa semakin menjadi pilihan. (Yoga)
Harga Mahal Batik Pewarna Alam
Pekerja terlihat sedang merendam kain batik dalam proses pewarnaan dengan pewarna alami di Sentra Batik Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (8/6/2024). Penggunaan bahan alami memberi nilai tambah batik tulis. Batik tulis dengan warna alami ini dijual dari ratusan ribu hingga belasan juta rupiah. Bahan alami yang digunakan, antara lain, jalawe, tingi, secang, tegeran, jambal, mahoni, dan ketapang. (Yoga)
Simpul Lokal-Global Produk Berbasis Budaya
Sejumlah industri produk berbasis budaya Indonesia terus bergerak merajut simpul lokal-global. Wastra merajut simpul dengan pelajar diaspora, sedangkan pangan atau kuliner dengan chef atau koki. Beberapa produk berbasis budaya telah diakui sebagai warisan dunia oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) seperti batik, wayang, keris, angklung, noken, rendang, nasi goreng, jamu, lumpia, dan tempe. Selain itu, banyak produk khas Indonesia yang berlabel indikasi geografis, label yang menunjukkan daerah asal sebuah produk yang mencerminkan reputasi, kualitas, dan karakteristik tertentu.
Berdasarkan data Ditjen Kekayaan Intelektual Kemenkumham, pada 2023, Indonesia memiliki 148 produk indikasi geografis, di antaranya songket silungkang, batik tulis nitik, tenun doyo, tenun ikay ngada, hingga genteng sokka. Gerakan-gerakan membumikan dan mempromosikan produk-produk berbasis buda-ya Nusantara itu semakin marak, baik secara mandiri maupun kolaborasi para pemangku kepentingan terkait. Pemilik Kekean Wastra Gallery Achmad Nurhasim, yang kerap disapa Aam, mampu membawa sejumlah kain Nusantara ke kancah dunia. Produk wastra yang dikembangkan Aam bernapaskan tekstil berkelanjutan. Konsep berkelanjutan produk itu tidak hanya sebatas menggunakan pewarna kain berbahan alami.
Ia memakai bahan baku 100 % lokal, menggunakan air secara terukur, serta mengusung kesetaraan perdagangan. Aam yang menjalankan bisnisnya sejak 2014, telah menjadi pemasok kain dan kulit sejumlah jenama ternama dunia, seperti Christian Dior, Elvi, Gucci, dan Prada. Saat ini, ia sedang berupaya mengegolkan nota kesepahaman bisnis dengan jenama ternama AS. Direktur Penggunaan dan Pemasaran Produk Dalam Negeri Ditjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Krisna Ariza mengatakan, pelajar di Indonesia atau diaspora Indonesia bisa menjadi eksportir produk-produk berbasis budaya Nusantara.
Mereka bisa mempromosikan produk-produk itu lewat media sosial atau menjualnya melalui e-dagang. Namun, mereka harus mempertimbangkan sejumlah hal, antara lain kualitas dan keberlanjutan produk serta standardisasi produk dari negara lain. Kemendag juga memfasilitasi promosi produk Nusantara, baik di dalam maupun luar negeri. ”Para pelaku usaha juga bisa bekerja sama dengan Indonesian Trade Promotion Centre dan atase perdagangan Indonesia di luar negeri. Mereka bisa mendapatkan informasi pasar ekspor atau membidik peluang mempromosikan produk di luar negeri,” katanya. (Yoga)
RI Bidik Pasar Timur Tengah
RI Bidik Pasar Timur Tengah
Pilihan Editor
-
Startup Bukan Pilihan Utama
24 Jan 2023 -
Mendag Pastikan Minyak Kita Tetap Diproduksi
30 Jan 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023 -
Terus Dorong Mutu Investasi
25 Jan 2023 -
Emiten Baja Terpapar Pembangunan IKN
24 Jan 2023








