Simpul Lokal-Global Produk Berbasis Budaya
Sejumlah industri produk berbasis budaya Indonesia terus bergerak merajut simpul lokal-global. Wastra merajut simpul dengan pelajar diaspora, sedangkan pangan atau kuliner dengan chef atau koki. Beberapa produk berbasis budaya telah diakui sebagai warisan dunia oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) seperti batik, wayang, keris, angklung, noken, rendang, nasi goreng, jamu, lumpia, dan tempe. Selain itu, banyak produk khas Indonesia yang berlabel indikasi geografis, label yang menunjukkan daerah asal sebuah produk yang mencerminkan reputasi, kualitas, dan karakteristik tertentu.
Berdasarkan data Ditjen Kekayaan Intelektual Kemenkumham, pada 2023, Indonesia memiliki 148 produk indikasi geografis, di antaranya songket silungkang, batik tulis nitik, tenun doyo, tenun ikay ngada, hingga genteng sokka. Gerakan-gerakan membumikan dan mempromosikan produk-produk berbasis buda-ya Nusantara itu semakin marak, baik secara mandiri maupun kolaborasi para pemangku kepentingan terkait. Pemilik Kekean Wastra Gallery Achmad Nurhasim, yang kerap disapa Aam, mampu membawa sejumlah kain Nusantara ke kancah dunia. Produk wastra yang dikembangkan Aam bernapaskan tekstil berkelanjutan. Konsep berkelanjutan produk itu tidak hanya sebatas menggunakan pewarna kain berbahan alami.
Ia memakai bahan baku 100 % lokal, menggunakan air secara terukur, serta mengusung kesetaraan perdagangan. Aam yang menjalankan bisnisnya sejak 2014, telah menjadi pemasok kain dan kulit sejumlah jenama ternama dunia, seperti Christian Dior, Elvi, Gucci, dan Prada. Saat ini, ia sedang berupaya mengegolkan nota kesepahaman bisnis dengan jenama ternama AS. Direktur Penggunaan dan Pemasaran Produk Dalam Negeri Ditjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Krisna Ariza mengatakan, pelajar di Indonesia atau diaspora Indonesia bisa menjadi eksportir produk-produk berbasis budaya Nusantara.
Mereka bisa mempromosikan produk-produk itu lewat media sosial atau menjualnya melalui e-dagang. Namun, mereka harus mempertimbangkan sejumlah hal, antara lain kualitas dan keberlanjutan produk serta standardisasi produk dari negara lain. Kemendag juga memfasilitasi promosi produk Nusantara, baik di dalam maupun luar negeri. ”Para pelaku usaha juga bisa bekerja sama dengan Indonesian Trade Promotion Centre dan atase perdagangan Indonesia di luar negeri. Mereka bisa mendapatkan informasi pasar ekspor atau membidik peluang mempromosikan produk di luar negeri,” katanya. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023