Tekstil
( 223 )Mempertahankan Kelestarian Tenun Troso
Seoarang pemuda terlihat sedang menenun, ia merupakan pekerja pada salah satu usaha kerajinan tenun di Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Kebupaten Jepara, Jawa Tengah, Senin (20/5/2024). Sebagian perajin masih mempertahankan tradisi menenun di tengah gempuran beragam produk impor yang sangat berdampak pada usaha mereka. Mereka menyelesaikan satu helai kain dalam beberapa hari dan menjualnya dengan harga jual Rp 300.000 hingga Rp 2 juta. (Yoga)
Industri TPT Masih Menanti Keampuhan Lartas
Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) masih menanti keampuhan larangan terbatas (lartas) impor dari pemerintah yang tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan 36/2023 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor dengan perubahan terakhir melalui Permendag 7/2024. Sekretaris Eksekutif Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Farhan Aqil Syauqi menerangkan, ada perbaikan di Kuartal I-2024 dengan meningkatkan order UMKM/konveksi rumahan pasca terbitnya Permendag 36/2023. Dia mengatakan, 6-12 tahun pasca Permendag tahun 2023 ini di sahkan baru semua industri TPT bisa dapat pulih. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri PTP tumbuh 2,64% pada kuartal I-2024. Menanggapi data tersebut, Farhan mengatakan, pada kuartal IV-2023 industri TPT tertinggal minus 1,15% secara kuartal ke kuartal. "Jadi kalau pertumbuhan di kuartal I-2024 sudah psoitif, bisa jadi itu betul. namun memang efeknya belum sampai ke industri serat," kata dia. (Yetede)
Membatik dan Menghidupkan Ruang Seni Sobokartti
Para peserta pelatihan membatik saat proses membuat motif pada selembar kain di Gedung Sobokartti, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (3/5/2024). Pelatihan membatik tersebut diselenggarakan Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas bagi perwakilan kelurahan di Kota Semarang. Pelatihan tersebut diharapkan dapat menggerakkan ekonomi kreatif di daerah. Jawa Tengah, khususnya di Kota Semarang. (Yoga)
Menunggu Megamendung Cerah Kembali
Sentra batik di Desa Panembahan, Kecamatan Plered, Cirebon,
Jabar, Sabtu (30/3) siang, lengang. Tempat parkir sejumlah toko batik pun
tampak kosong. Padahal, hari itu adalah libur panjang akhir pekan. Di toko EB
Batik Traditional Cirebon, hanya ada dua pengunjung yang datang dalam satu jam.
Para karyawan terlihat hanya melipat kain. ”Memang sekarang enggak seramai seperti
sebelum pandemi,” ucap Nurniati, supervisor produksi EB Batik. Pandemi Covid-19
memukul usaha batik di wilayah itu. Nia, sapaan akrab Nurniati, tak menyebut
penurunan jumlah pengunjung atau angka penjualan. Namun, kelompok wisatawan
yang pelesir ke Cirebon tak sesering dulu, termasuk menjelang Idul Fitri saat
orang berbelanja baju Lebaran.
”Kalau Lebaran itu ramainya H plus karena orang cari (kain
batik) buat oleh-oleh,” ujarnya. Upaya mereka menarik perhatian konsumen sudah
maksimal. Tak Cuma menyediakan kain batik tulis dan cap aneka motif, EB Batik juga
memajang gamis, blus, hingga luaran batik model terkini untuk Lebaran. Inovasi
menggabungkan megamendung yang ikonik dengan motif lain pun dilakukan. ”Minat
pada megamendung sudah turun. Makanya, kami coba kombinasi dengan motif lain,”
kata Nia. Ia memperlihatkan contoh batik motif megamendung yang dipadu motif
parang liris, motif keraton seperti kereta paksi naga liman, dan motif khas
Tionghoa berlatar merah berupa angkin. Warna batiknya pun tak melulu cerah.
Adaptasi juga terlihat dari pilihan material kain. Tidak melulu
katun, ada juga dobi, sampai sutra. Perajin pun membuat kain yang sudah berpola
sehingga para pelanggan lebih mudah menjahitnya menjadi kemeja. Mulai tahun
ini, setiap kain yang dijual di EB Batik memiliki kode batang (barcode). Dengan
memindai kode itu, pengunjung terhubung dengan akun Instagram yang menampilkan
aneka produk jadi dari kain batik mulai dari kemeja, kaus, hingga jaket. EB
Batik adalah satu dari sekian banyak jenama batik di Cirebon yang tumbuh bak
cendawan di musim hujan sejak UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya Indonesia
sejak 2 Oktober 2009. Batik Cirebon, dengan motif megamendungnya yang ikonik,
termasuk di dalamnya.
Tahun 2012, megamendung tampil di halaman depan buku Batik
Design karya Pepin van Roojen (Belanda). Motif ini juga digunakan desainer Inggris,
Julien Macdonald, untuk busana rancangan koleksi musim seminya. Pengakuan pada
batik Cirebon pun terus meningkat. Sayang, popularitas batik Cirebon redup
akibat pukulan pandemi. Ketua Umum Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia
(APPBI) Komarudin Kudiya, mengungkapkan, saat ini pemasaran batik makin sepi. Tak
hanya di Cirebon, sentra batik lain seperti Pekalongan pun sama. ”Pascapandemi,
hampir 10-20 showroom tutup. Perajin batik turun 50 % dari kisaran 131.568
perajin. Kini, kalaupun sudah naik lagi, tetapi masih di bawah 75 % dari
kondisi awal,” tuturnya. Barang kali persoalan mendasar yang perlu ditelisik
adalah strategi pemasaran, terutama cara memanggil kembali pelanggan untuk
berbondong-bondong memborong batik motif megamendung. (Yoga)
Data Industri Tekstil dan Pakaian Bekas Impor
Mengapa Penjualan Pakaian Bekas Impor Tetap Marak
Mengapa Penjualan Pakaian Bekas Impor Tetap Marak
Wastra Aceh Punya Cerita
Di tangan anak-anak muda, kain tradisional Aceh bertransformasi
dan menggeliat bersama industri mode Wastra Aceh bukan sekadar simbol kebudayaan.
Kain-kain tradisional Aceh menyimpan potensi ekonomi yang besar, apalagi jika
dikembangkan sepe nuhnya dari hulu ke hilir. Bunyi ketukan alat tenun bukan
mesin bersahut-sahutan dari lantai dua rumah produksi Tenun Kutaraja di Ulee Lheue,
Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, Sabtu (30/3). Pesanan 40 lembar kain dari BI
Kantor Perwakilan Aceh harus segera rampung. ”Untuk sementara, kami fokus
selesaikan pesanan BI. Pekerja kami hanya tiga orang, tak bisa terima banyak orderan,”
kata Zulhelmi (29) pemilik usaha Tenun Kutaraja. Dia memulai usaha itu pada
tahun 2022. Pada 2021, Helmi mengikuti program Muslim Fashion Collaboration
(MFC) yang digulirkan BI Perwakilan Aceh.
Seusai pelatihan, BI Perwakilan Aceh menawarkan kepada Helmi
untuk belajar menenun, ia menerimanya. ”Saya tertarik, pertama untuk merawat kebudayaan dan kedua ini peluang bisnis.
Sebab, perajinnya sedikit,” katanya. Motivasi yang tinggi membuat dia tidak
sulit menguasai tekniknya. Setelah pelatihan, Helmi diberi bantuan berupa alat produksi
tenun oleh BI Perwakilan Aceh. Dari situ, ia membuat tenun motif sederhana,
seperti pintu aceh reubong (rebung), dan awan berarak; hingga motif yang lebih rumit,
seperti ornamen pada batu nisan kuno dan simbol-simbol perjalanan Kerajaan Aceh
Darussalam. Dalam sebulan, Tenun Kutaraja hanya mampu memproduksi 40 lembar kain
tenun. Padahal, pesanan jauh lebih banyak. Terkadang, pemesan harus menunggu
sebulan baru pesanan rampung. Helmi masih kekurangan penenun. ”Aceh butuh
banyak penenun. Kain tenun Aceh mulai diminati, bahkan oleh perancang busana
nasional,” katanya.
Saat ini, jumlah penenun di provinsi itu bisa dihitung dengan
jari. Generasi muda tidak tertarik belajar tenun. Padahal, tenun memiliki
potensi bisnis yang besar. Harga per lembar kain tenun buatan Helmi berkisar Rp
700.000-Rp 1 juta. Terpaut 4 kilometer dari rumah produksi Tenun Kutaraja, di
sebuah rumah di Desa Lambung, Kecamatan Meuraxa, Suryani Marzuki (27), istri
Helmi, tengah memeriksa pakaian hasil jahitan dua karyawannya. Jika Helmi
bermain di hulu, Suryani, yang berprofesi sebagai perancang dan penjahit
pakaian, bermain di hilir. Tak jarang kain produksi Helmi menjadi bahan
pembuatan pakaian bagi Suryani. Pada bulan Ramadhan, pemesanan pakaian mengalir
deras. Tarif jasa membuat satu pakaian Rp 200.00 hingga Rp 300.000. Selama
Ramadhan, dia mampu menyelesaikan 200 potong pakaian.
Perancang mode kenamaan Wignyo Rahadi menuturkan, wastra
Aceh, baik tenun maupun songket, memiliki potensi untuk bersaing di panggung
nasional, bahkan internasional. Pada 2022, kain songket Aceh pernah tampil di
acara Paris Fashion Week. ”Motif wastra Aceh sangat menarik dan berkarakter
kuat, seperti motif pintu aceh. Di daerah lain tidak ada motif pintu Aceh,
bahkan yang mirip pun tidak ada,” kata Wignyo. Wignyo mendorong para pelaku
usaha di bidang mode, penenun, perancang, hingga pembuat pakaian berkolaborasi untuk
mengembangkan usaha mode dari hulu ke hilir. Kain tenun dan songket perlu
didekatkan dengan warga Aceh dalam bentuk pakaian jadi siap pakai. (Yoga)
Omzet Lebaran Tidak Setinggi Satu Dekade Lalu
Kenaikan omzet industri alas kaki dan tekstil serta produk
tekstil pada momentum Lebaran terus merosot dalam 10-20 tahun terakhir. Jika
dulu lonjakan omzet bisa berkali-kali lipat dibanding bulan biasa, kini
lonjakan maksimal hanya 50 %. Penyebabnya beragam, mulai dari impor yang makin
marak hingga daya beli masyarakat yang menurun. ”Ada kenaikan omzet karena momentum
Lebaran, tetapi tidak seramai zaman dulu,” ujar Eddy Widjanarko, Ketua Umum
Asosiasi Persepatuan Indonesia, saat dihubungi, Minggu (7/4). Eddy menjelaskan,
kenaikan omzet penjualan sepatu pada momentum Lebaran tahun ini tidak sebesar 10-20
tahun lalu. Sekitar 20 tahun lalu atau awal 2000-an, momentum Lebaran bisa meningkatkan
omzet hingga tujuh kali lipat dibanding bulan biasanya.
Sampai 10 tahun lalu pun, meski menurun, momen Lebaran tetap
bisa meningkatkan omzet tiga kali lipat dibanding bulan biasa. Namun, pada
Lebaran 2024, kenaikan omzet hasil penjualan industri alas kaki atau sepatu
paling besar mencapai 50 % disbanding bulan biasa. Penyebabnya, menurut Eddy,
adalah kenaikan biaya hidup yang ditandai dengan inflasi pangan. Daya beli
masyarakat juga menurun. Akhirnya, masyarakat lebih memprioritaskan belanja
barang primer, seperti pangan, dibandingkan sepatu. Selain itu, kini makin
marak sepatu impor, baik yang legal maupun ilegal, yang dipasarkan dengan harga
lebih murah. Penjualan industri sepatu lokal pun tergerus. Ditambah lagi, telah
terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat. Kini masyarakat lebih mengedepankan
pakaian rapi, tanpa harus membeli sepatu baru dan pakaian baru. (Yoga)
INDUSTRI TEKSTIL & PRODUK TEKSTIL : ‘Banjir’ Pesanan Teradang SDM
Ketua Ikatan Pengusaha Konveksi Bandung Nandi Herdiaman mengatakan pesanan pakaian jadi mulai kembali bergairah setelah pemerintah memberlakukan kebijakan pengaturan importasi guna menjaga pasar domestik dari maraknya produk impor ilegal. “Pascaberlakunya Permendag ini, order yang masuk ke sentra-sentra IKM (industri kecil dan menengah) wilayah Jawa terjadi lonjakan yang sangat besar,” katanya, Senin (25/3). Bahkan, ada pengusaha konveksi yang mendapatkan kontrak besar dari jenama di lokapasar untuk memasok permintaan pakaian yang membeludak. Untuk itu, Nandi meminta agar pemerintah konsisten menjalankan peraturan tersebut agar bisa melindungi IKM dan UKM tekstil dari gempuran barang-barang impor. Sebelumnya, Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) melaporkan sebanyak 1 juta karyawan dirumahkan hingga terkena gelombang pemutusan hubungan kerja sejak akhir 2022—2023. Ketua Umum APSyFI Redma Gita Wirawasta mengatakan, angka PHK industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dihitung berdasarkan penurunan utilisasi kapasitas produksi yang terus susut di sejumlah pabrik. Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa mengatakan, perumahan karyawan dan PHK massal terjadi lantaran utilisasi produksi yang masih rendah, sehingga kebutuhan tenaga kerja minim. Di sisi lain, keberadaan Permendag No. 26/2023 dinilai sebagai salah satu pemicu pemulihan industri tekstil nasional. Beleid itu juga diyakini bakal mendongkrak utilisasi produksi industri hulu tekstil hingga 3—4 bulan ke depan.
Pilihan Editor
-
Emiten Baja Terpapar Pembangunan IKN
24 Jan 2023 -
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut Sepekan Lagi
10 Oct 2022








