Wastra Aceh Punya Cerita
Di tangan anak-anak muda, kain tradisional Aceh bertransformasi
dan menggeliat bersama industri mode Wastra Aceh bukan sekadar simbol kebudayaan.
Kain-kain tradisional Aceh menyimpan potensi ekonomi yang besar, apalagi jika
dikembangkan sepe nuhnya dari hulu ke hilir. Bunyi ketukan alat tenun bukan
mesin bersahut-sahutan dari lantai dua rumah produksi Tenun Kutaraja di Ulee Lheue,
Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, Sabtu (30/3). Pesanan 40 lembar kain dari BI
Kantor Perwakilan Aceh harus segera rampung. ”Untuk sementara, kami fokus
selesaikan pesanan BI. Pekerja kami hanya tiga orang, tak bisa terima banyak orderan,”
kata Zulhelmi (29) pemilik usaha Tenun Kutaraja. Dia memulai usaha itu pada
tahun 2022. Pada 2021, Helmi mengikuti program Muslim Fashion Collaboration
(MFC) yang digulirkan BI Perwakilan Aceh.
Seusai pelatihan, BI Perwakilan Aceh menawarkan kepada Helmi
untuk belajar menenun, ia menerimanya. ”Saya tertarik, pertama untuk merawat kebudayaan dan kedua ini peluang bisnis.
Sebab, perajinnya sedikit,” katanya. Motivasi yang tinggi membuat dia tidak
sulit menguasai tekniknya. Setelah pelatihan, Helmi diberi bantuan berupa alat produksi
tenun oleh BI Perwakilan Aceh. Dari situ, ia membuat tenun motif sederhana,
seperti pintu aceh reubong (rebung), dan awan berarak; hingga motif yang lebih rumit,
seperti ornamen pada batu nisan kuno dan simbol-simbol perjalanan Kerajaan Aceh
Darussalam. Dalam sebulan, Tenun Kutaraja hanya mampu memproduksi 40 lembar kain
tenun. Padahal, pesanan jauh lebih banyak. Terkadang, pemesan harus menunggu
sebulan baru pesanan rampung. Helmi masih kekurangan penenun. ”Aceh butuh
banyak penenun. Kain tenun Aceh mulai diminati, bahkan oleh perancang busana
nasional,” katanya.
Saat ini, jumlah penenun di provinsi itu bisa dihitung dengan
jari. Generasi muda tidak tertarik belajar tenun. Padahal, tenun memiliki
potensi bisnis yang besar. Harga per lembar kain tenun buatan Helmi berkisar Rp
700.000-Rp 1 juta. Terpaut 4 kilometer dari rumah produksi Tenun Kutaraja, di
sebuah rumah di Desa Lambung, Kecamatan Meuraxa, Suryani Marzuki (27), istri
Helmi, tengah memeriksa pakaian hasil jahitan dua karyawannya. Jika Helmi
bermain di hulu, Suryani, yang berprofesi sebagai perancang dan penjahit
pakaian, bermain di hilir. Tak jarang kain produksi Helmi menjadi bahan
pembuatan pakaian bagi Suryani. Pada bulan Ramadhan, pemesanan pakaian mengalir
deras. Tarif jasa membuat satu pakaian Rp 200.00 hingga Rp 300.000. Selama
Ramadhan, dia mampu menyelesaikan 200 potong pakaian.
Perancang mode kenamaan Wignyo Rahadi menuturkan, wastra
Aceh, baik tenun maupun songket, memiliki potensi untuk bersaing di panggung
nasional, bahkan internasional. Pada 2022, kain songket Aceh pernah tampil di
acara Paris Fashion Week. ”Motif wastra Aceh sangat menarik dan berkarakter
kuat, seperti motif pintu aceh. Di daerah lain tidak ada motif pintu Aceh,
bahkan yang mirip pun tidak ada,” kata Wignyo. Wignyo mendorong para pelaku
usaha di bidang mode, penenun, perancang, hingga pembuat pakaian berkolaborasi untuk
mengembangkan usaha mode dari hulu ke hilir. Kain tenun dan songket perlu
didekatkan dengan warga Aceh dalam bentuk pakaian jadi siap pakai. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023