;

Wastra Aceh Punya Cerita

Ekonomi Yoga 12 Apr 2024 Kompas (H)
Wastra Aceh Punya Cerita

Di tangan anak-anak muda, kain tradisional Aceh bertransformasi dan menggeliat bersama industri mode Wastra Aceh bukan sekadar simbol kebudayaan. Kain-kain tradisional Aceh menyimpan potensi ekonomi yang besar, apalagi jika dikembangkan sepe nuhnya dari hulu ke hilir. Bunyi ketukan alat tenun bukan mesin bersahut-sahutan dari lantai dua rumah produksi Tenun Kutaraja di Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, Sabtu (30/3). Pesanan 40 lembar kain dari BI Kantor Perwakilan Aceh harus segera rampung. ”Untuk sementara, kami fokus selesaikan pesanan BI. Pekerja kami hanya tiga orang, tak bisa terima banyak orderan,” kata Zulhelmi (29) pemilik usaha Tenun Kutaraja. Dia memulai usaha itu pada tahun 2022. Pada 2021, Helmi mengikuti program Muslim Fashion Collaboration (MFC) yang digulirkan BI Perwakilan Aceh. 

Seusai pelatihan, BI Perwakilan Aceh menawarkan kepada Helmi untuk belajar menenun, ia menerimanya. ”Saya tertarik, pertama untuk merawat  kebudayaan dan kedua ini peluang bisnis. Sebab, perajinnya sedikit,” katanya. Motivasi yang tinggi membuat dia tidak sulit menguasai tekniknya. Setelah pelatihan, Helmi diberi bantuan berupa alat produksi tenun oleh BI Perwakilan Aceh. Dari situ, ia membuat tenun motif sederhana, seperti pintu aceh reubong (rebung), dan awan berarak; hingga motif yang lebih rumit, seperti ornamen pada batu nisan kuno dan simbol-simbol perjalanan Kerajaan Aceh Darussalam. Dalam sebulan, Tenun Kutaraja hanya mampu memproduksi 40 lembar kain tenun. Padahal, pesanan jauh lebih banyak. Terkadang, pemesan harus menunggu sebulan baru pesanan rampung. Helmi masih kekurangan penenun. ”Aceh butuh banyak penenun. Kain tenun Aceh mulai diminati, bahkan oleh perancang busana nasional,” katanya.

Saat ini, jumlah penenun di provinsi itu bisa dihitung dengan jari. Generasi muda tidak tertarik belajar tenun. Padahal, tenun memiliki potensi bisnis yang besar. Harga per lembar kain tenun buatan Helmi berkisar Rp 700.000-Rp 1 juta. Terpaut 4 kilometer dari rumah produksi Tenun Kutaraja, di sebuah rumah di Desa Lambung, Kecamatan Meuraxa, Suryani Marzuki (27), istri Helmi, tengah memeriksa pakaian hasil jahitan dua karyawannya. Jika Helmi bermain di hulu, Suryani, yang berprofesi sebagai perancang dan penjahit pakaian, bermain di hilir. Tak jarang kain produksi Helmi menjadi bahan pembuatan pakaian bagi Suryani. Pada bulan Ramadhan, pemesanan pakaian mengalir deras. Tarif jasa membuat satu pakaian Rp 200.00 hingga Rp 300.000. Selama Ramadhan, dia mampu menyelesaikan 200 potong pakaian.

Perancang mode kenamaan Wignyo Rahadi menuturkan, wastra Aceh, baik tenun maupun songket, memiliki potensi untuk bersaing di panggung nasional, bahkan internasional. Pada 2022, kain songket Aceh pernah tampil di acara Paris Fashion Week. ”Motif wastra Aceh sangat menarik dan berkarakter kuat, seperti motif pintu aceh. Di daerah lain tidak ada motif pintu Aceh, bahkan yang mirip pun tidak ada,” kata Wignyo. Wignyo mendorong para pelaku usaha di bidang mode, penenun, perancang, hingga pembuat pakaian berkolaborasi untuk mengembangkan usaha mode dari hulu ke hilir. Kain tenun dan songket perlu didekatkan dengan warga Aceh dalam bentuk pakaian jadi siap pakai. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :