Omzet Lebaran Tidak Setinggi Satu Dekade Lalu
Kenaikan omzet industri alas kaki dan tekstil serta produk
tekstil pada momentum Lebaran terus merosot dalam 10-20 tahun terakhir. Jika
dulu lonjakan omzet bisa berkali-kali lipat dibanding bulan biasa, kini
lonjakan maksimal hanya 50 %. Penyebabnya beragam, mulai dari impor yang makin
marak hingga daya beli masyarakat yang menurun. ”Ada kenaikan omzet karena momentum
Lebaran, tetapi tidak seramai zaman dulu,” ujar Eddy Widjanarko, Ketua Umum
Asosiasi Persepatuan Indonesia, saat dihubungi, Minggu (7/4). Eddy menjelaskan,
kenaikan omzet penjualan sepatu pada momentum Lebaran tahun ini tidak sebesar 10-20
tahun lalu. Sekitar 20 tahun lalu atau awal 2000-an, momentum Lebaran bisa meningkatkan
omzet hingga tujuh kali lipat dibanding bulan biasanya.
Sampai 10 tahun lalu pun, meski menurun, momen Lebaran tetap
bisa meningkatkan omzet tiga kali lipat dibanding bulan biasa. Namun, pada
Lebaran 2024, kenaikan omzet hasil penjualan industri alas kaki atau sepatu
paling besar mencapai 50 % disbanding bulan biasa. Penyebabnya, menurut Eddy,
adalah kenaikan biaya hidup yang ditandai dengan inflasi pangan. Daya beli
masyarakat juga menurun. Akhirnya, masyarakat lebih memprioritaskan belanja
barang primer, seperti pangan, dibandingkan sepatu. Selain itu, kini makin
marak sepatu impor, baik yang legal maupun ilegal, yang dipasarkan dengan harga
lebih murah. Penjualan industri sepatu lokal pun tergerus. Ditambah lagi, telah
terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat. Kini masyarakat lebih mengedepankan
pakaian rapi, tanpa harus membeli sepatu baru dan pakaian baru. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023