Menjaga Napas Wastra Nusa Tenggara Barat
Pelaku usaha wastra tumbuh di Mataram, NTB. Mereka menjaga napas produk kreatif itu agar bisa tembus pasar global. Selepas istirahat, Selasa (11/6) Putri Yani (23) kembali bergelut dengan tugasnya, mengambil foto dan video deretan kain songket di pajangan dengan kamera ponsel. Dari kain songket yang menonjolkan sulaman benang emas atau perak, ia beralih ke tenun ikat. Sesekali, ia meminta rekan kerjanya, Citra Ermawati (21) berperan sebagai model. Motif tenun yang jadi kontennya beragam, seperti subahnale yang tersohor. Motif ini memiliki filosofi tentang ketaatan kepada Sang Pencipta. Ada juga motif sundawa khas Pringgasela, Lombok Timur, dengan ciri khas garis-garis, terinspirasi dari sungai besar di Pringgasela. Dari Sumbawa ada songket krealang, tenun yang menonjolkan sulaman benang emas atau perak pada kain katun ini telah ada sejak abad ke-14 dan disebut motif tertua.
Memotret dan memvideokan tenun rutin dilakukan Putri di Galeri Riles Lestari, di Jalan Jenderal Sudirman, Rembiga, Mataram, NTB. Ia bertugas pada bagian pemasaran digital sekaligus admin akun media sosial. ”Media sosial jadi strategi promosi kami. Nanti konten-konten ini diunggah ke Instagram dan Tiktok yang lagi digandrungi,” kata Putri. Riles Lestari adalah salah satu usaha tenun di Mataram. Pemiliknya, Sri Lestari (37) Sabtu (8/6) mengatakan, usahanya berawal dari membantu perajin yang terdampak Covid-19 di Sukarara, Lombok Tengah, agar produknya terjual. Dari jualan kain biasa, usaha ini berkembang ke berbagai produk turunan. Selain menjual songket produksi Desa Wisata Sentra Tenun Sukarara di Lombok Tengah, Riles punya koleksi tenun dari berbagai daerah di Pulau Lombok hingga Pulau Sumbawa, sejalan dengan visinya membawa tenun NTB mendunia atau go global.
Baiq Anita Satiya Reni (39) pendiri dan pemilik Anita Reni Fashion and Design di kawasan Ampenan, Mataram, berpendapat, NTB bisa punya ikon produk yang diakui laiknya jenama kelas dunia seperti Louis Vuitton atau Gucci. Optimisme itu, kata Anita, juga karena banyak pengakuan terhadap wastra NTB. ”Di Lombok International Modest Festival 2023, misalnya, banyak desainer kelas dunia datang. Mereka memborong tenun NTB dan menggunakannya pada peragaan busana di New York hingga Perancis,” tutur Anita. Ismail Saleh (36), pendiri dan pemilik usaha Allea Galeri Etnik Indonesia di kawasan Swasembada, Sekarbale, mengatakan, meski punya mimpi besar, para pelaku usaha tenun di Mataram sadar perlu proses panjang untuk mewujudkannya. ”Kami ingin memasyarakatkan tenun. Caranya, kami membikin banyak produk tenun, baik untuk kantor, sehari-hari seperti kaus, jaket, itu kami bikin dengan melihat tren yang berkembang,” ucap Ismail. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023