Tekstil
( 223 )Pakaian Buatan Lokal atau Impor?
Kualitas pakaian buatan lokal tak kalah dengan buatan asing. Namun, dalam hal harga, sejumlah produk impor lebih murah dari harga lokal. Pilih mana? Berikut respons sejumlah warga. “Untuk pakaian, saya pilih produk lokal berkualitas tinggi. Pakaian lokal yang dibuat dengan baik biasanya lebih tahan lama sehingga bisa dipakai dalam jangka panjang, mengurangi kebutuhan untuk sering membeli pakaian baru. Produk lokal memiliki jejak karbon yang lebih kecil dibanding pakaian impor karena tidak memerlukan perjalanan jarak jauh. Banjirnya produk impor, terutama dari China, menjadi tantangan sekaligus peluang. Produk impor sering kali ditawarkan dengan harga murah. Namun, banyak yang tidak bertahan lama sehingga konsumen akhirnya harus membeli lebih sering,” kata Kurniawati Hasjanah (29) pekerja swasta di Jakarta.
”Untuk saya pribadi, dalam memilih pakaian tidak fanatik pada satu merek tertentu. Saya lebih fokus pada model atau desain, corak, bahan, ukuran, dan harga. Kebetulan, akhir-akhir ini ada produk lokal yang saya beli karena desain dan corak yang bagus, di mana kebanyakan coraknya mengambarkan nuansa Indonesia, ukuran yang sesuai, dan harga yang masuk akal. Semoga ke depannya semakin banyak pakaian/produk karya anak bangsa yang diapreasi oleh masyarakat Indonesia dengan kualitas yang dapat bersaing dengan produk luar negeri,” ujar Emanuella Jessirianty (29) wiraswasta di Jakarta.
Sebenarnya saya tidak terlalu memperhatikan merek lokal atau buatan luar negeri dalam membeli produk mode. Namun, memang kebanyakan outfit yang saya beli produk lokal dan dibeli via e-dagang. Alasan utama karena merek lokal lebih memahami kebutuhan tubuh orang Indonesia, terutama yang berukuran besar. Mode merek internasional kebanyakan memiliki ukuran yang lebih kecil. Selain itu, dari sisi harga juga ada beberapa merek lokal yang harganya lebih murah dibandingkan dengan merek buatan luar negeri dengan kualitas bahan yang sama atau bahkan lebih bagus. Dari sisi desain, banyak merek lokal yang desainnya unik dan khas, bisa dibilang lumayan berharga untuk membelinya,” kata Yani, profesional public relations di Jakarta. (Yoga)
Irfania Ramadhani Lubis Melestarikan Songket Melayi Deli
Beberapa tahun lalu, kebudayaan songket Melayu Deli mati suri. Tak ada lagi yang menenun, menjual, atau memakai songket Deli. Irfania Ramadhani Lubis (31) tak tinggal diam. Dia melatih orang menenun, menggali motif, membangun pasar, dan menghidupkan lagi budaya memakai songket Deli di tengah masyarakat. Irfania, Jumat (25/10) memakai Songket Melayu Deli berwarna emas dengan motif daun tembakau Deli di bahu. ”Motif tembakau Deli ini digali kembali oleh ibu saya, lalu kami kembangkan melalui desain digital. Ini salah satu motif songket Deli yang sangat disukai,” kata Irfania, lulusan Jurusan Animasi Universitas Binus, Jakarta, pada 2014. Irfania awalnya ragu menuruti permintaan ibunya, menghidupkan songket Deli. Namun, setelah mendengar songket Deli mati suri, dia berkomitmen ikut merevitalisasinya, terlebih, Ia keturunan Kesultanan Deli dari garis ibu.
Irfania dan sang ibu awalnya kesulitan karena tak ada lagi petenun songket Deli. Mereka lalu mulai mengumpulkan apa pun yang tersisa dari kebudayaan songket Deli. Mereka menemukan foto-foto sultan terdahulu mengenakan songket Deli, yang penting untuk menggali motif klasik. Irfania juga menemukan literatur tentang tenun di Kesultanan Deli dalam buku Mission to The East Coast of Sumatra karya John Anderson pada 1826. ”Dari sejarah itu, kami percaya, dulu Kesultanan Deli mempunyai kebudayaan tenun kain songket yang maju,” kata Irfania. Irfania lalu membangun IR Songket. Dia berhasil mengumpulkan beberapa motif klasik songket Deli dan mengembangkannya menjadi motif-motif baru yang lebih modern melalui ilmu animasi digital yang diperolehnya dari kuliah. Dia juga merekrut dan melatih beberapa orang untuk bertenun. Banyak yang mengikuti pelatihan, tetapi sedikit yang bertahan.
Irfania pun membangun pasar songket yang menghargai petenun dengan upah lebih layak. Dengan memanfaatkan teknologi digital media sosial, pemasarannya berkembang pesat. Irfania mengembangkan songket Deli setelah mendapat dukungan pemerintah, BI dan PT Astra Internasional. Dia mendapat penghargaan Satu Indonesia Awards dari Astra pada 2017. Pengembangan songket Deli juga mendapat dukungan dari program Desa Sejahtera Astra pada 2019 sampai 2022. Dengan itu, dia mengembangkan rumah produksi serta mendirikan lembaga kursus dan pelatihan menenun di Desa Bandar Khalipah, Percut Sei Tuan, Deli Serdang. Di rumah produksi IR Songket di Bandar Khalipah, Kamis (24/10) para petenun songket Deli sudah sibuk sejak pagi. Suasana ramai dengan suara kletak-kletuk alat tenun bukan mesin (ATBM) yang sedang digunakan untuk membuat songket Deli motif batik kotak catur.
Ada pula yang masih memakai gedokan, alat tenun yang lebih konvensional. Di rumah produksi itu juga dipajang beberapa pakaian siap pakai berbahan kain songket Deli, khususnya busana luaran (outer). Irfania menyebut, hal yang paling penting dalam menghidupkan kembali songket Deli adalah melatih dan meregenerasi petenun. Mereka harus menempatkan petenun sebagai artisan, yakni sebagai pekerja seni dengan upah yang layak. IR Songket membangun pasar yang bisa menghargai songket Deli sebagai karya seni. Mereka menjual kain songket Deli dengan harga Rp 800.000 hingga Rp 7 juta per lembar. Ia yakin, songket Deli akan terus berkembang dan kembali dihidupi masyarakatnya. Kini, sedikitnya 12 petenun di Deli Serdang dan 10 petenun di Kabupaten Batubara memproduksi songket Melayu Deli setiap hari. (Yoga)
Industri Tekstil Masih Kontraksi
Ditengah kondisi tekstil yang masih terpuruk seperti pailitinya PT Sri Rezeki Isman Tbk (Sritex), industri tersebut malah menunjukkan kinerja yang positif berdasarkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Oktober 2024. Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arif mengatakan, subsektor tekstil di IKI berada pada level ekspansif. Hal ini tentu saja kontras dengan kondisi Sritex. Perihal tersebut, dia mengatakan, para pelaku industri belum melihat pengaruhnya dari pailit Sritex saat pengisian kuesioner IKI Oktober ini. Febri menjelaskan, kinerja industri tekstil memang sempat mengalami kontraksi atau merosot direntang Mei-Agustus 2024 lantaran penerapan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 8 Tahun 2024 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor. Namun dalam dua bulan terakhir, kinerja industri telah membaik. "Baru pada September-Oktober ini ekspansi. Di bulan Oktober sedikit naik, lebih tinggi dari kami menilai itu sebagai peningkatan optimisme kawan-kawan industri atas pemerintahan baru," ujar dia. Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin Adie Rochmanto Pandiangan menambahkan industri tekstil masih akan eskpansi sampai dengan Desember 2024. Hal ini karena ada momen natal dan tahun baru (Nataru). (Yetede)
Kemenaker menyatakan dukungan terhadap Sritex bukan dana talangan
Kemenaker menyatakan dukungan pemerintah terhadap PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex bukan berbentuk dana talangan, tapi memastikan kasasi kasus pailit Sritex berjalan optimal melalui bantuan kurator dan mengkaji ulang regulasi ekspor-impor. Menaker Yassierli menyampaikan hal tersebut dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IX DPR, Rabu (30/10) di Jakarta. ”Kami menyampaikan kepada Sritex agar tidak ada PHK sambil menunggu proses kasasi. Kami menyadari ada (pengaruh) isu regulasi ekspor-impor sehingga isu ini pun sudah kami sounding ke Kemenperin,” kata Yassierli. Dia menekankan, maksud pemerintah membantu Sritex tidak dimaknai bahwa pemerintah akan memberi dana talangan.
Pemerintah mempertimbangkan membantu memastikan kasasi berjalan dengan optimal dan mengkaji ulang dari sisi regulasi, seperti regulasi ekspor-impor. Dia menambahkan, akan ada bantuan kurator dari pemerintah dalam kasus Sritex yang bertugas memastikan proses produksi tetap berjalan dan hak pekerja diberikan. Dirjen Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Kemenaker Indah Anggoro Putri menyebut, kurator biasanya hadir ketika perusahaan dinyatakan pailit. Perannya ialah menilai aset-aset dan kewajiban perusahaan. ”Kurator saat ini sedang bekerja sambil menunggu hasil putusan MA,” ucap Indah. (Yoga)
DPR dan pemerintah Berikan Perlindungan pada Industri Tekstil Lokal
DPR RI berkomitmen memberikan perlindungan pada industri tekstil lokal. Karenanya DPR mengajak pemerintah bersama-sama mencari solusi yang tepat untuk menyelematkan industri ini dari kepailitan. "Kami di Komisi VII akan segera melakukan RDP (rapat dengar pendapat) dengan menteri perlindungan menyelesaiakan permasalahan," kata Wakil Ketua Lomisi VII DPR Rahayu Saraswati. Menurut Saraswati, DPR selaras dengan pemerintah Presiden Prabowo Subianto yang ingin memberikan perlindungan pada industri lokal. Dia menilai, industri tekstil memang mendapatkan pukulan keras usai pandemi Covid-19. Terbaru, salah satu perusahaan tesktil; raksasa di Indonesia, yakni PT Sri rezeki Iman Tbk atau Sritex, dinyatakan pailit. Saraswati merinci ragam permasalahan di industri tekstil Indoneia. Tidak sedikit perusahaan tekstil yang melakukan PHK terhadap ribuan karyawannya. "Banyak perusahaan yang mau melakukan PHK, ini tentunya nasib ribuan, puluhan ribu rakyat Indonesia," kata dia. (Yetede)
Nola Marta, Menyejahterakan Perajin dengan Tapis
Nola Marta (43) terpincut dengan keindahan kain tapis Lampung. Desainer kelahiran Jakarta ini lantas mengembangkan pesona tapis yang elegan ke pasar dunia. Terlebih itu, ia menciptakan ekosistem yang berdampak positif pada kesejahteraan perempuan perajin lokal. Cerita bermula ketika Nola bergabung dalam program Inovatif dan Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara atau Ikkon inisiatif Badan Ekonomi Kreatif 2016. Dia dan sejumlah desainer lainnya ditempatkan di Lampung untuk residensi dengan pelaku kreatif lokal. Di sana, dia berkenalan dengan kain tapis. Menurut buku Tapis: Kain Tradisional Masyarakat Lampung (2012) kain tapis adalah jenis tenunan berbentuk seperti kain sarung yang dipakai kaum hawa.
Terbuat dari benang kapas dengan hiasan sulaman benang emas, benang perak, atau sutra pada bidang tertentu yang menggunakan sistem sulam. Di Lampung, Nola berkolaborasi dengan sembilan ibu perajin di Desa Negeri Katon, Pesawaran, 1 jam dari ibu kota provinsi. Bersama mereka, Nola membuat kain tapis dari bahan baru, seperti kain organza, sutra, dan kulit. Waktu itu, pembuatan tapis masih tradisional. ”Proyek di sana cuma 4 bulan. Saya kembali ke Lampung tahun berikutnya untuk mengembangkan tapis dengan sentuhan modern dan bisa untuk sehari-hari tanpa menghilangkan konteks budaya,” kata Nola, Rabu (23/10). Nola memperkenalkan kain tapis dengan inovasi baru itu dalam berbagai kesempatan.
Contohnya, koleksi bertajuk A Journey yang merupakan hasil kolaborasi dengan perajin di Desa Negeri Katon dalam acara Indonesia Fashion Week 2018 dan 2019. Lalu ke tingkat Internasional.Nola memperkenalkan kain tapis dalam koleksi A Season of Change berkolaborasi dengan dua desa di Lampung pada Couture Fashion Week New York 2019. ”Saya coba membawa tapis ke pasar internasional agar bisa diterima sama orang lokal. Pasar lokal itu biasanya mau lebih menerima ketika produk tersebut sudah mendapat eksposur di luar negeri. Hal ini untuk mendorong anak-anak muda di Lampung bangga meneruskan profesi ibu mereka,” ucap Nola.
Pengembangan tapis oleh Nola tak sebatas pakaian uniseks. Kain tapis disulap menjadi dompet, taplak meja, tatakan gelas, dan tatakan piring. Benang yang digunakan pun bervariasi, mulai dari benang katun, wol, kasur, kulit, sampai serat daun. Sekarang, Nola tengah menyiapkan koleksi tapis untuk Paris Fashion Week tahun depan sembari mengembangkan aplikasi mode bernama Et Voila! Seiring waktu, proyek Nola merambah ke perajin di desa-desa kabupaten lainnya, seperti Pringsewu, Tulang Bawang Barat, Tulang Bawang, Pesisir Barat, danTanggamus. Hingga kini dia telah berkolaborasi dengan 47 perajin. Nola melatih mereka cara membuat kain tapis sesuai tuntutan pasar. Ilmu ini juga sering dia bagikan. (Yoga)
Menyelamatkan Sritex untuk Mencegah PHK
Presiden Prabowo menggelar rapat terbatas dengan sejumlah menteri terkait perkembangan industri tekstil dalam negeri, termasuk upaya agar PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex bisa terus berjalan. Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, pemerintah berkomitmen menjaga kelangsungan industri tekstil dalam negeri yang tengah menghadapi tantangan. ”Beliau (Presiden) ingin update mengenai situasi terkini industri tekstil, salah satunya Sritex. Arahan beliau agar perusahaan tetap berjalan, nanti dicarikan jalan teknisnya,” ucap Airlangga seusai menghadiri rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo, di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (29/10).
Mengenai status pailit Sritex, Airlangga mengatakan, pemerintah akan berkoordinasi dengan kurator terlebih dahulu. Menurut Airlangga, kurator terdiri atas empat orang yang bukan dari kalangan pemerintah. Pemerintah juga belum memastikan apakah bakal memberikan dana talangan bagi Sritex. ”Nanti dilihat dulu karena sekarang statusnya ada kurator, tentu harus ada pembicaraan dengan kurator,” ujarnya saat menjawab pertanyaan kemungkinan adanya kucuran dana talangan pemerintah ke Sritex. Saat ini, pemerintah berada pada tahap melakukan pemantauan.
”Yang pertama, bea cukai sudah menyetujui bahwa impor ekspornya bisa terus berjalan dan ini pernah dilakukan di Kawasan Berikat di daerah Jabar. Jadi, akan diberlakukan sama sehingga impor ekspornya terus berjalan sehingga kondisi perusahaan tidak terhenti,” kata Airlangga. Dengan Sritex terus berproduksi, maka pemerintah memastikan tenaga kerjanya pun masih bekerja. Menaker, Yassierli menyebutkan, pemerintah memastikan PHK tidak akan terjadi. Ia mengatakan, pemerintah menginginkan agar industri tekstil dalam negeri tetap berproduksi. Pemerintah juga minta agar semua karyawan tetap tenang karena pemerintah akan memberikan solusi yang terbaik buat mereka. (Yoga)
Bergegas untuk Selamatkan Sritex
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan menyiapkan beberapa opsi penyelamatan terhadap PT Sri Rezeki Isman Tbk atau Sritex (SRIL) dari kondisi pailit seperti yang ditetapkan oleh Pengadilan Negeri (PN) Semarang. Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita menerangkan, pihaknya sudah melakukan pertemuan dengan Sritex dan menyiapkan dua strategis guna menyelamatkan raksasa tekstil tersebut. Pemerintah berkomitman untuk menjaga keberlangsungan operasional Sritex serta memastikan tidak ada PHK. "Kami membahas dua kemungkinan: jika kasasi Sritex menang atau kalah.
Pemerintah memiliki komitmen yang sama dalam dua skenario, yaitu menyelamatkan tenaga kerja dan menjaga agar perusahaan tetap produksi tanpa ada PHK. Jika kasasi kalah, Sritex masih memiliki opsi hukum lanjutan berupa Peninjauan Kembali (PK)," ucap dia. Adapun langkah yang harus segera dilakukan yaitu memastikan perusahaan tekstil tersebut tetap dapat mengirimkan barangnya ke konsumen di luar negeri. "Merekakan tetap berproduksi, tapi barang tidak bisa keluar dari pabrik, tidak bisa keluar dari kawasan berikat. Itu bagaimana pemerintah bisa memastikan dalam hal ini. Bea Cukai bahwa barang-barang yang diproduksi oleh mereka itu bisa keluar, bisa diekspor" ujar Agus. (Yetede)
Industri Tekstil: Misi Penyelamatan Sritex
Langkah pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk menyelamatkan PT Sritex yang mengalami kebangkrutan. Presiden telah memerintahkan beberapa kementerian, termasuk Kementerian Perindustrian dan Kementerian Keuangan, untuk mengkaji opsi bailout, termasuk kemungkinan pemberian dana talangan dan insentif untuk mendukung perusahaan dan industri tekstil secara keseluruhan. Tujuan utama dari intervensi ini adalah untuk melindungi karyawan Sritex dari pemutusan hubungan kerja (PHK).
Pemerintah, melalui Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, fokus pada penjaminan tenaga kerja dan mendorong ekspor tekstil. Utilitas produksi Sritex kini meningkat, sehingga diharapkan langkah-langkah penyelamatan dapat mencegah terulangnya kasus serupa di masa depan, yang dapat mengakibatkan hilangnya lapangan pekerjaan.
Sritex juga berencana membentuk tim untuk merancang strategi penyelamatan perusahaan, dengan menekankan kebutuhan insentif untuk industri tekstil yang saat ini terpuruk akibat regulasi yang merelaksasi impor. Hal ini berdampak signifikan pada operasional industri tekstil nasional. Meskipun ada tekanan untuk merevisi kebijakan impor, koordinasi antarkementerian diharapkan dapat memperbaiki situasi.
Secara keseluruhan, upaya bailout ini mencerminkan komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas sektor industri dan perlindungan lapangan kerja, serta pentingnya regulasi yang mendukung pertumbuhan industri di Indonesia. Jika berhasil, ini akan menjadi langkah penting dalam memperkuat industri tekstil nasional dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih luas.
Tercatat 30 Perusahaan TPT Skala Menengah Bangkrut Selama 2023-2024
Pailitnya Grup Sritex ibarat fenomena gunung es. Betapa tidak, selain Sritex, tercatat 30 perusahaan tekstil dan produk tekstil (TPT) skala menengah bangkrut selama 2023-2024, dengan jumlah PHK mencapai 150 ribu orang. Jika ditambah dengan perusahaan TPT skala industri kecil dan menengah (IKM), total perusahaan yang tutup bisa mencapai 100 lebih. Tak ayal lagi, sektor TPT harus segera diselamatkan, dengan memberantas impor ilegal yang selama ini menjadi biang keladi keterpurukan industri TPT. Banjir impor ilegal membuat sektor TPT saat ini mengalami krisis yang demikian parah, bahkan lebih parah dibanding saat pandemi Covid-19 atau awal 2000-an.
Saat ini sektor TPT benar-benar terpuruk, dengan utilasi berkisar 40-50% baik di subsektor hulu, antara dan hilir, Impor ilegal juga diduga menjadi salah satu pemicu krisis Sritex. Salah satu memberantas TPT ilegal membentuk satuan tugas (satgas) pengendalian impor yang dipimpin langsung oleh Presiden, posisi satgas ini sangat kuat dan bisa menindak siapa saja yang melindungi impor TPT ilegal. Adapun jika satgas hanya dibentuk oleh lembaga sekelas menteri, efektivitasnya diragukan, karena harus berhadapan dengan pejabat yang diduga mem-back-ing importir TPT ilegal. Pelaku industri TPT percaya, jika impor ilegal diberangus, sektor TPT bisa tumbuh, minimal 8% per tahun depan. Sebaliknya, jika impor TPT ilegal dibiarkan merajalela, sektor ini dipercaya akan terus kontraksi dan melanjutkan PHK massal. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Credit Suisse Tepis Krisis Perbankan
17 Mar 2023 -
PARIWISATA, Visa Kedatangan Perlu Diperketat
15 Mar 2023 -
Ratusan Ribu Pekerja Inggris Mogok
17 Mar 2023









