Irfania Ramadhani Lubis Melestarikan Songket Melayi Deli
Beberapa tahun lalu, kebudayaan songket Melayu Deli mati suri. Tak ada lagi yang menenun, menjual, atau memakai songket Deli. Irfania Ramadhani Lubis (31) tak tinggal diam. Dia melatih orang menenun, menggali motif, membangun pasar, dan menghidupkan lagi budaya memakai songket Deli di tengah masyarakat. Irfania, Jumat (25/10) memakai Songket Melayu Deli berwarna emas dengan motif daun tembakau Deli di bahu. ”Motif tembakau Deli ini digali kembali oleh ibu saya, lalu kami kembangkan melalui desain digital. Ini salah satu motif songket Deli yang sangat disukai,” kata Irfania, lulusan Jurusan Animasi Universitas Binus, Jakarta, pada 2014. Irfania awalnya ragu menuruti permintaan ibunya, menghidupkan songket Deli. Namun, setelah mendengar songket Deli mati suri, dia berkomitmen ikut merevitalisasinya, terlebih, Ia keturunan Kesultanan Deli dari garis ibu.
Irfania dan sang ibu awalnya kesulitan karena tak ada lagi petenun songket Deli. Mereka lalu mulai mengumpulkan apa pun yang tersisa dari kebudayaan songket Deli. Mereka menemukan foto-foto sultan terdahulu mengenakan songket Deli, yang penting untuk menggali motif klasik. Irfania juga menemukan literatur tentang tenun di Kesultanan Deli dalam buku Mission to The East Coast of Sumatra karya John Anderson pada 1826. ”Dari sejarah itu, kami percaya, dulu Kesultanan Deli mempunyai kebudayaan tenun kain songket yang maju,” kata Irfania. Irfania lalu membangun IR Songket. Dia berhasil mengumpulkan beberapa motif klasik songket Deli dan mengembangkannya menjadi motif-motif baru yang lebih modern melalui ilmu animasi digital yang diperolehnya dari kuliah. Dia juga merekrut dan melatih beberapa orang untuk bertenun. Banyak yang mengikuti pelatihan, tetapi sedikit yang bertahan.
Irfania pun membangun pasar songket yang menghargai petenun dengan upah lebih layak. Dengan memanfaatkan teknologi digital media sosial, pemasarannya berkembang pesat. Irfania mengembangkan songket Deli setelah mendapat dukungan pemerintah, BI dan PT Astra Internasional. Dia mendapat penghargaan Satu Indonesia Awards dari Astra pada 2017. Pengembangan songket Deli juga mendapat dukungan dari program Desa Sejahtera Astra pada 2019 sampai 2022. Dengan itu, dia mengembangkan rumah produksi serta mendirikan lembaga kursus dan pelatihan menenun di Desa Bandar Khalipah, Percut Sei Tuan, Deli Serdang. Di rumah produksi IR Songket di Bandar Khalipah, Kamis (24/10) para petenun songket Deli sudah sibuk sejak pagi. Suasana ramai dengan suara kletak-kletuk alat tenun bukan mesin (ATBM) yang sedang digunakan untuk membuat songket Deli motif batik kotak catur.
Ada pula yang masih memakai gedokan, alat tenun yang lebih konvensional. Di rumah produksi itu juga dipajang beberapa pakaian siap pakai berbahan kain songket Deli, khususnya busana luaran (outer). Irfania menyebut, hal yang paling penting dalam menghidupkan kembali songket Deli adalah melatih dan meregenerasi petenun. Mereka harus menempatkan petenun sebagai artisan, yakni sebagai pekerja seni dengan upah yang layak. IR Songket membangun pasar yang bisa menghargai songket Deli sebagai karya seni. Mereka menjual kain songket Deli dengan harga Rp 800.000 hingga Rp 7 juta per lembar. Ia yakin, songket Deli akan terus berkembang dan kembali dihidupi masyarakatnya. Kini, sedikitnya 12 petenun di Deli Serdang dan 10 petenun di Kabupaten Batubara memproduksi songket Melayu Deli setiap hari. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023