Mengapa Industri Tekstil Ambruk
KABAR tak sedap terus merebak dari industri tekstil dan produk tekstil. Iklim investasi yang buruk berujung pada pemutusan hubungan kerja atau PHK karyawan hingga penutupan pabrik yang makin masif. Sejak dua tahun terakhir, Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia Redma Gita Wirawasta mencatat setidaknya sudah ada 50 perusahaan anggotanya yang gulung tikar. Kondisi tersebut telah merenggut pekerjaan dari sekitar 150 ribu orang. Masalahnya, perusahaan yang bertahan juga tidak dalam kondisi prima. Utilitas pabrik terus turun sejak 2022.
Pada 2022, utilitas pabrik hanya sekitar 72 persen. Kini rata-rata pabrik hanya beroperasi 45 persen dari kapasitasnya. Di tengah kondisi ini, perusahaan harus mengatur waktu produksi. Sementara biasanya tiap hari produksi, Redma mengatakan bisa saja menjadi hanya tiga hari kerja. "Meski tidak di-PHK, pekerja di perusahaan ini jadi tidak bekerja full dan jumlah bayarannya juga berkurang," kata Redma kepada Tempo, kemarin. Jika kondisi tak bertambah baik, utilitas pabrik bakal terus turun hingga akhirnya tutup. Sayangnya, belum ada tanda-tanda datangnya angin segar buat industri tekstil dan produk tekstil.
Dari sisi produksi, ongkosnya makin hari makin mahal. Redma menyebutkan salah satunya karena pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Biaya belanja bahan baku menjadi lebih mahal lantaran sebagian besar masih harus impor. Padahal arus kas perusahaan sedang ketat. Pada awal tahun ini, nilai tukar rupiah masih berada di level 15.495 per dolar AS. Namun, pada penutupan perdagangan kemarin, kurs rupiah melemah di level 16.450 per dolar. (Yetede)
Tags :
#TekstilPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023