;

INDUSTRI TEKSTIL, Membangkitkan Raksasa yang Tertidur

Ekonomi Yoga 28 Nov 2023 Kompas
INDUSTRI TEKSTIL,
Membangkitkan
Raksasa yang Tertidur

Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) pernah begitu berjaya karena menjadi salah satu kontributor terbesar ekspor Indonesia dan mampu menyerap tenaga kerja jutaan orang. Hanya saja, kini terus merosot dan tertekan. TPT, ibarat raksasa yang tersungkur dan kelimpungan. Pada dekade 80-an dan 90-an, industri tekstil Tanah Air sedang jaya-jayanya. Ekspor TPT Tanah Air melanglang buana ke seluruh dunia. Saking melimpahnya omzet, bahkan salah satu sentra TPT, yakni Majalaya, Kabupaten Bandung, dijuluki sebagai kota dollar. Namun, kini industri TPT tengah terpuruk. Berita pabrik tekstil tutup dan merumahkan karyawannya silih berganti mewarnai media masa. Pudar sudah kejayaan kota dollar. Mengutip data BPS, produk industri tekstil dan pakaian jadi triwulan III-2023 mencapai Rp 33,9 triliun, turun 2,69 % dari periode sama pada 2022. Kontribusinya industri terhadap PDB nasional pada triwulan ketiga 2023 sebesar 1,08 %, menurun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu di 1,17 %.

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) memperkirakan jumlah serapan tenaga kerja di industri ini terus menurun. Saat ini jumlahnya mendekati 3 juta orang, menurun dibandingkan dengan 2019 yang menyerap hingga 3,5 juta orang. Melambatnya industri ini juga tecermin dari kinerja perusahaan tekstil yang juga tengah tertekan. Salah satu raksasa perusahaan TPT, misalnya PT Sri Rejeki Isman Tbk atau biasa dikenal Sritex, pun tengah tertekan. Pada Sembilan bulan 2023, penjualan neto perusahaan merosot 47,6 % dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Akhirnya, perusahaan pun menanggung kerugian operasional 105,14 juta USD. Emiten berkode saham SRIL itu bahkan masuk dalam papan pemantauan khusus lantaran berkategori ekuitas negatif dan likuiditas rendah. Efek SRIL itu sudah disuspensi atau tidak diperdagangkan selama 30 bulan sejak 18 Mei 2021 (Kompas, 24/11).

Sejatinya, industri TPT ini sangat strategis dan punya potensi yang sangat besar. Di tengah cita-cita Indonesia menjadi negara maju pada 2045, industrialisasi harus bisa bertumbuh dan menyerap banyak tenaga kerja. Inilah peran yang bisa dimainkan oleh industri TPT yang memang memiliki karakter padat karya sehingga menyerap secara luas tenaga kerja. Untuk mendongkrak industri ini, banyak yang perlu dibenahi. Pemerintah perlu melindungi pasar dalam negeri dari gempuran impor. Pelaku industri mendambakan adanya proteksi pasar dengan pagar tarif bea masuk impor. Tak hanya itu, aparatur juga perlu memperketat pengawasan pelabuhan-pelabuhan tikus dari penyelundupan produk tekstil ilegal. Pemerintah juga perlu aktif membuka pasar baru tujuan ekspor. Ini supaya ada alternatif negara tujuan  ekspor ketika permintaan dari negara mitra dagang tradisional tengah melambat. Sudah saatnya industri TPT ini direvitalisasi.  (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :