Industri Tekstil Makin Tertekan Geopolitik dan Impor Ilegal
Beberapa perusahaan tekstil dalam negeri yang terdaftar di pasar
modal kritis. Kondisi keuangan membuat mereka tersegel, bahkan nyaris didepak
dari daftar perusahaan terbuka. Fundamental industri tekstil tertekan ketidakpastian
global dan banjirnya produk impor ilegal. Menjelang akhir 2023, beberapa
perusahaan tekstil masuk dalam papan pemantauan khusus. Salah satunya PT Sri
Rejeki Isman Tbk. Emiten berkode SRIL itu masuk dalam kategori ekuitas negatif
dan likuiditas rendah. Efek SRIL sudah disuspensi atau tidak diperdagangkan
selama 30 bulan sejak 18 Mei 2021. Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek
Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna, dalam keterangannya yang dikutip Kamis
(23/11) mengatakan, dalam melakukan pemantauan atas perusahaan tercatat, bursa melakukan
beberapa upaya perlindungan investor ritel, salah satunya melalui pengenaan notasi
khusus dan penempatan pada papan pemantauan khusus.
Dalam laporan keuangan SRIL periode sembilan bulan pada
2023, penjualan neto perusahaan merosot 47,6 % dibandingkan penjualan per
September 2022, dari angka 474,17 juta USD menjadi 248,50 juta USD. Perusahaan
itu menanggung rugi operasional senilai 105,14 juta USD. Kerugian itu menurun
27,39 % dari kerugian tahun lalu 144,80 juta USD. PT Sejahtera Bintang Abadi Textile
Tbk (SBAT) juga masuk pemantauan khusus karena tidak ada pendapatan usaha dalam
laporan keuangan terakhir. Efek SBAT tidak lagi ditransak- sikan sejak
pertengahan 2021. Melihat laporan keuangan terakhir mereka di semester I-2023,
keuntungan anjlok 82,25 % secara tahunan menjadi Rp 11,09 miliar. Penurunan
kinerja juga dialami PT Asia Pacific Fibers Tbk. Emiten berkode POLY itu kini
dipantau khusus karena laporan keuangan terakhirnya menunjukkan ekuitas
negatif.
Sampai 30 September 2023, pendapatan POLY turun 27,72 %
secara tahunan ke angka 228,49 juta USD, dibandingkan dengan 316,14 juta USD
pada tahun lalu. Mereka juga mengalami kerugian komprehensif tahun berjalan
sebesar 16,05 juta USD dan defisiensi modal sebesar 960,49 juta USD. ”Industri
poliester terus menghadapi ketidakpastian dan volatilitas selama Januari hing
ga 23 September karena ketegangan geopolitik yang berkepanjangan, perang Rusia
dan Ukraina, perlambatan pertumbuhan ekonomi global, inflasi yang tinggi, dan
kenaikan biaya bunga,” kata perusahaan dalam laporan keuangannya. Seluruh
rantai poliester berada di bawah tekanan berat dengan permintaan yang lesu dan
tantangan pasokan yang berlebihan. Banyak produsen yang mengurangi produksi dan
beberapa di antaranya tutup karena tren penurunan ini. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023