;

Industri Tekstil Makin Tertekan Geopolitik dan Impor Ilegal

Ekonomi Yoga 24 Nov 2023 Kompas
Industri Tekstil Makin Tertekan Geopolitik dan Impor Ilegal

Beberapa perusahaan tekstil dalam negeri yang terdaftar di pasar modal kritis. Kondisi keuangan membuat mereka tersegel, bahkan nyaris didepak dari daftar perusahaan terbuka. Fundamental industri tekstil tertekan ketidakpastian global dan banjirnya produk impor ilegal. Menjelang akhir 2023, beberapa perusahaan tekstil masuk dalam papan pemantauan khusus. Salah satunya PT Sri Rejeki Isman Tbk. Emiten berkode SRIL itu masuk dalam kategori ekuitas negatif dan likuiditas rendah. Efek SRIL sudah disuspensi atau tidak diperdagangkan selama 30 bulan sejak 18 Mei 2021. Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna, dalam keterangannya yang dikutip Kamis (23/11) mengatakan, dalam melakukan pemantauan atas perusahaan tercatat, bursa melakukan beberapa upaya perlindungan investor ritel, salah satunya melalui pengenaan notasi khusus dan penempatan pada papan pemantauan khusus.

Dalam laporan keuangan SRIL periode sembilan bulan pada 2023, penjualan neto perusahaan merosot 47,6 % dibandingkan penjualan per September 2022, dari angka 474,17 juta USD menjadi 248,50 juta USD. Perusahaan itu menanggung rugi operasional senilai 105,14 juta USD. Kerugian itu menurun 27,39 % dari kerugian tahun lalu 144,80 juta USD. PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk (SBAT) juga masuk pemantauan khusus karena tidak ada pendapatan usaha dalam laporan keuangan terakhir. Efek SBAT tidak lagi ditransak- sikan sejak pertengahan 2021. Melihat laporan keuangan terakhir mereka di semester I-2023, keuntungan anjlok 82,25 % secara tahunan menjadi Rp 11,09 miliar. Penurunan kinerja juga dialami PT Asia Pacific Fibers Tbk. Emiten berkode POLY itu kini dipantau khusus karena laporan keuangan terakhirnya menunjukkan ekuitas negatif.

Sampai 30 September 2023, pendapatan POLY turun 27,72 % secara tahunan ke angka 228,49 juta USD, dibandingkan dengan 316,14 juta USD pada tahun lalu. Mereka juga mengalami kerugian komprehensif tahun berjalan sebesar 16,05 juta USD dan defisiensi modal sebesar 960,49 juta USD. ”Industri poliester terus menghadapi ketidakpastian dan volatilitas selama Januari hing ga 23 September karena ketegangan geopolitik yang berkepanjangan, perang Rusia dan Ukraina, perlambatan pertumbuhan ekonomi global, inflasi yang tinggi, dan kenaikan biaya bunga,” kata perusahaan dalam laporan keuangannya. Seluruh rantai poliester berada di bawah tekanan berat dengan permintaan yang lesu dan tantangan pasokan yang berlebihan. Banyak produsen yang mengurangi produksi dan beberapa di antaranya tutup karena tren penurunan ini. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :