Muhammad Redho, Komitmen Perajin Sasirangan
Muhammad Redho (62) konsisten mengembangkan wastra sasirangan
dengan pewarna alami. Tumbuhan untuk bahan pewarna alami kain khas suku Banjar
itu juga ia budidayakan. Satu demi satu perajin sasirangan mengikuti jejaknya. Aneka
tanaman menghijaukan Kampung Biru di tepian Sungai Martapura, Kota Banjarmasin,
Kalsel, Kamis (22/2). Redho menghijaukan lingkungan sekitar Pojok Kreatif
Wisata Kampung Biru di Kelurahan Melayu, sejak dipercaya sebagai Sekretaris Kelompok
Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Biru pada 2018. Di Kampung Biru semua rumah
bercat biru. ”Semua tanaman yang ada di sini adalah bahan pewarna alami kain
sasirangan,” katanya. Sasirangan berasal dari kata menyirang yang berarti
’menjelujur’ atau menjahit jarang-jarang.
Prosesnya dimulai dari pembuatan motif pada kain, dijelujur,
diikat dengan tali, dan dicelupkan ke pewarna. Setelah itu, ikatan dan jahitan
dilepas, dicuci, lalu dikeringkan.”Di Kampung Biru, pengunjung bisa belajar
membuat kain sasirangan pewarna alami dan belajar berkebun tanaman yang menghasilkan
pewarna alami,” kata Redho. Sejak 2009, ia konsisten memproduksi dan menjual
kain sasirangan berpewarna alami dengan jenama Assalam Sasirangan. Berbekal
ilmu dari pelatihan batik di Pulau Jawa oleh mentor dari Yogyakarta, ia
berupaya mengembangkan sasirangan berpewarna alami yang saat itu pangsa
pasarnya kurang menjanjikan. Waktu itu harga kain sasirangan berpewarna alami
minimal Rp 150.000 per potong, sedangkan sasirangan berpewarna sintetis seharga
Rp 100.000 per potong.
Dengan harga lebih murah dan warna lebih cerah, permintaan
pasar lokal untuk kain sasirangan berpewarna sintetis lebih besar. Bekerja sama
dengan Museum Lambung Mangkurat, Redho mendapat kesempatan mengikuti pameran dan
peragaan busana sasirangan berpewarna alami di Museum Serawak, Kuching,
Sarawak, Malaysia, pada 2011. Setelah itu, ia langsung memproduksi sasirangan
berpewarna alami dalam jumlah banyak untuk seragam para guru SMA Negeri 2
Banjarmasin. Lambatlaun, pesanan hampir tak pernah putus. ”Saya pernah dapat order
300 lembar sasirangan warna alam dan mengerjakannya dalam waktu tiga bulan.” Redho
rutin menjadi narasumber pelatihan sasirangan berpewarna alami di lingkungan
Dinas P&K Kalsel dan Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin. Ia juga beberapa kali
diminta menjadi instruktur pelatihan sasirangan berpewarna alam di sejumlah
kabupaten atau kota. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023