”Sek-sek”... Kami Hidup dan Berguru dari Tenun
Tenun tidak hanya menopang ekonomi, tetapi juga jadi
pegangan hidup warga Pringgasela Selatan. Pada motif indahnya tersirat pesan
kehidupan yang berharga. Tonggak budaya itu terus diwariskan secara
turun-temurun dan dijaga bersama-sama. Kalimat ”Mun Ndek Ta Belajar Lekan
Nengka, Punah Tenun Ta” (jika tidak belajar dari sekarang, punah tenun kita)
tertulis pada spanduk di dinding rumah di Dusun Gubuk Lauk, Desa Pringgasela
Selatan, Kabupaten Lombok Timur, NTB, Minggu (17/12). Di bawahnya, Halwa (10) dan
belasan anak perempuan antusias belajar menenun. Suara ”sek-sek” yang terdengar
saat Halwa mengentakkan belida bercampur riuh suara anak-anak. Ada yang
berdiskusi dengan teman, bertanya kepada guru, hingga mencoba berbagai proses
menenun. Para guru yang juga petenun senior dengan sabar mendampingi, jika ada
kesalahan, mereka memberi solusi dan menunjukkan teknik yang benar. Sekolah
tenun itu diinisiasi oleh Kelompok Nina Penenun (perempuan petenun) sejak 2017.
”Tak mungkin orang-orang tua yang umurnya sudah 60-70 tahun
terus kita harapkan untuk menenun. Jadi, kalau bukan dari kita yang regenerasi,
tenun ini tidak ada yang meneruskan, pasti akan punah,” kata Sri Hartini (45),
Kepala Sekolah sekaligus Ketua Kelompok Nina Penenun Pringgasela Selatan. Saat ini,
sudah ada 25 siswa di Sekolah Tenun Kelompok Nina Penenun. Mereka adalah
anak-anak Pringgasela Selatan yang rata-rata masih duduk di bangku SD hingga
SMP. Sekolah tenun berlangsung dua kali seminggu dari pukul 14.00 sampai 17.00.
Saat ini, ada 700 petenun di desa yang berada 40 km timur Mataram, ibu kota
NTB, itu. ”Saya sedang menenun ragi (motif) Bayanan,” kata Raehan (48), warga
Gubuk Lauk, Pringgasela Selatan, Selasa siang.
Selain menenun sendiri, petenun di Pringgasela Selatan mulai
tergabung dalam Kelompok Nina Penenun yang dibentuk sejak 2017. Berkat kelompok
ini, mereka semakin mendapat akses ke pasar sehingga produk mereka semakin
bernilai. Sebelumnya, mereka harus melepas tenunnya dengan harga murah karena
kebutuhan hidup. Bahkan sampai terjerat rentenir. Harga tenun bisa jatuh hingga
Rp 150.000 per lembar. Kini, tenun mereka bernilai Rp 400.000 hingga jutaan
rupiah per lembar. Pesan kehidupan yang tergambar di motif tenun Pringgasela
Selatan adalah warisan berharga yang harus dijaga, sama seperti menjaga tenun
itu sendiri. Ini adalah ikhtiar agar tenun Pringgasela Selatan yang menjadi
sumber ekonomi dan pegangan hidup tidak punah. Dari tenun, mereka hidup dan
berguru. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023