;

Penggiat Kreatif Bandung, Beraksi dengan Digitalisasi

Ekonomi Yoga 01 Mar 2024 Kompas (H)
Penggiat Kreatif Bandung,
Beraksi dengan Digitalisasi

Kawasan Tekstil Cigondewah Bandung, Jabar, Kamis (29/2) siang itu sepi. Hanya ada beberapa pekerja yang mengangkat gulungan kain, sisanya duduk menunggu pembeli di Kampung Wisata Kreatif atau KWK itu. Namun, di sudut pasar terdengar riuh suara karyawan menjajakan dagangan. Bukan karena ada pembeli, dua pegawai Toko Queen Textile itu tengah memamerkan produk yang dijual melalui media sosial. ”Ayo kakak silakan di check out keranjang kuningnya. Kita mau tutup empat menit lagi!” teriak pegawai toko yang bertugas menjajakan barang, sementara satu petugas lain mengarahkan kamera ponselnya ke kain yang dijajakan untuk melihat detailnya.

Irwan Harifullah (23) karyawan toko, mengamati kedua rekannya siaran langsung di salah satu aplikasi jual beli. Dari toko virtual itu ribuan pesanan datang dan memberi keuntungan hingga separuh pemasukan toko. ”Rata-rata sebulan pendapatan kotor ratusan juta (rupiah). Hampir setengahnya dari online (daring),” ujar Irwan. Toko ini mulai aktif berjualan daring sejak setahun lalu. Berkreasi dengan membuat video dan siaran adalah cara toko ini bertahan ketika kondisi Pasar Kreatif Cigondewah cenderung sepi. Dian (50) pedagang yang memiliki toko di dekat pintu masuk pasar, hanya bisa bertopang dagu menatap area parkir yang sepi.

”Dulu, parkiran ini penuh mobil pembeli. Sekarang, sebagian besar ini mobil penjual,” ujarnya. Padahal, Kawasan Tekstil Cigondewah (KTC) didapuk menjadi kawasan wisata. Dekat dengan pabrik tekstil dan garmen yang tumbuh di selatan Bandung, pasar ini menjajakan berbagai jenis kain berkualitas dengan harga bersaing. KTC dibangun tahun 2007 dan diisi 110 toko. Selain kain dan produk tekstil lain, pasar ini juga menyediakan potongan sisa produksi yang layak jual dan berkualitas. Pada 2022 Pemkot Bandung memasukkan KTC menjadi kampung wisata kelima di Kota Bandung.

Masuknya sejumlah sentra produksi UMKM untuk meramaikan KWK ini dinilai mampu menggerakkan perekonomian masyarakat. Tapi, saat dihantam pandemi tahun 2020, penjualan kain brokat miliknya belum pernah menyamai tahun-tahun sebelumnya. ”Semenjak pandemi, pendapatan sebulan hanya Rp 15 juta. Dulu, saya bisa dapat berpuluh-puluh juta, terutama sebelum Natal dan Lebaran,” kenangnya. Seperti di KTC, pelaku usaha di Kampoeng Radjoet dan KWK lain di Bandung terus berinovasi dan beradaptasi dengan digitalisasi agar bertahan. (Yoga) 

Download Aplikasi Labirin :