Penggiat Kreatif Bandung, Beraksi dengan Digitalisasi
Kawasan Tekstil Cigondewah Bandung, Jabar, Kamis (29/2) siang
itu sepi. Hanya ada beberapa pekerja yang mengangkat gulungan kain, sisanya duduk
menunggu pembeli di Kampung Wisata Kreatif atau KWK itu. Namun, di sudut pasar
terdengar riuh suara karyawan menjajakan dagangan. Bukan karena ada pembeli, dua
pegawai Toko Queen Textile itu tengah memamerkan produk yang dijual melalui media
sosial. ”Ayo kakak silakan di check out keranjang kuningnya. Kita mau tutup
empat menit lagi!” teriak pegawai toko yang bertugas menjajakan barang, sementara
satu petugas lain mengarahkan kamera ponselnya ke kain yang dijajakan untuk
melihat detailnya.
Irwan Harifullah (23) karyawan toko, mengamati kedua rekannya
siaran langsung di salah satu aplikasi jual beli. Dari toko virtual itu ribuan
pesanan datang dan memberi keuntungan hingga separuh pemasukan toko. ”Rata-rata
sebulan pendapatan kotor ratusan juta (rupiah). Hampir setengahnya dari online
(daring),” ujar Irwan. Toko ini mulai aktif berjualan daring sejak setahun
lalu. Berkreasi dengan membuat video dan siaran adalah cara toko ini bertahan
ketika kondisi Pasar Kreatif Cigondewah cenderung sepi. Dian (50) pedagang yang
memiliki toko di dekat pintu masuk pasar, hanya bisa bertopang dagu menatap
area parkir yang sepi.
”Dulu, parkiran ini penuh mobil pembeli. Sekarang, sebagian
besar ini mobil penjual,” ujarnya. Padahal, Kawasan Tekstil Cigondewah (KTC)
didapuk menjadi kawasan wisata. Dekat dengan pabrik tekstil dan garmen yang
tumbuh di selatan Bandung, pasar ini menjajakan berbagai jenis kain berkualitas
dengan harga bersaing. KTC dibangun tahun 2007 dan diisi 110 toko. Selain kain
dan produk tekstil lain, pasar ini juga menyediakan potongan sisa produksi yang
layak jual dan berkualitas. Pada 2022 Pemkot Bandung memasukkan KTC menjadi kampung
wisata kelima di Kota Bandung.
Masuknya sejumlah sentra produksi UMKM untuk meramaikan KWK
ini dinilai mampu menggerakkan perekonomian masyarakat. Tapi, saat dihantam
pandemi tahun 2020, penjualan kain brokat miliknya belum pernah menyamai
tahun-tahun sebelumnya. ”Semenjak pandemi, pendapatan sebulan hanya Rp 15 juta.
Dulu, saya bisa dapat berpuluh-puluh juta, terutama sebelum Natal dan Lebaran,”
kenangnya. Seperti di KTC, pelaku usaha di Kampoeng Radjoet dan KWK lain di
Bandung terus berinovasi dan beradaptasi dengan digitalisasi agar bertahan. (Yoga)
Postingan Terkait
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023