Bansos
( 266 )Dana Bansos Harus Bebas Kepentingan Politik
Bansos Oke, Coblos Mah Bebas Saja
Keluh kesah dan harapan mengemuka dalam obrolan sejumlah pengojek
daring yang tengah menunggu penumpang tak jauh dari Stasiun Rawabuntu, Tangsel,
Banten. Kamis (1/2). ”Tenang, bro. Bentar juga dapat bantuan langsung tunai
(BLT). Lumayanlah. Soal coblos siapa nanti mah bebas-bebas aja,” ujar Triyanto
(35), pengojek daring disambung tawa rekan-rekan mengobrolnya. Triyanto mengaku
penghasilannya rata-rata Rp 3,5 juta perbulan. Pengeluaran bulanan diupayakan
tidak lebih dari penghasilan meski harga berbagai kebutuhan hidup makin mahal. Triyanto
juga mengaku senang bakal ada guliran BLT Rp 600.000 pada Februari 2024., yang
bisa digunakan mengganjal pengeluarannya yang semakin membesar. ”Ya, saya terbantu dengan BLT. Tetangga juga ada yang dapat
beras. Soal mau pilih siapa saat coblosan, bebas-bebas aja,” ujarnya sembari
menaikkan kaca helm.
Pada tahun politik ini, pemerintah menggelontorkan bantuan
sosial secara besar-besaran. Di luar sejumlah program rutin jaring perlindungan
sosial, pemerintah menggulirkan bantuan beras, BLT mitigasi risiko pangan (pengganti
BLT El Nino), dan BLT petani yang gagal panen atau puso. Bantuan beras akan
diberikan kepada 22 juta keluarga penerima manfaat (KPM) dalam dua tahap, yakni
Januari-Maret dan April-Juni 2024. Setiap KPM akan mendapatkan 10 kg beras per
bulan. BLT mitigasi pangan senilai total Rp 11 triliun menyasar 18,8 juta KPM
selama tiga bulan, yakni Januari-Maret 2024. Setiap KPM akan mendapat Rp
200.000 per bulan. Namun, pemerintah akan menyalurkannya tiga bulan sekaligus
sebesar Rp 600.000 per KPM pada Februari 2024.
Kedua bansos terebut diberikan untuk meringankan beban
pengeluaran keluarga berpenghasilan rendah atas kenaikan harga sejumlah pangan
pokok. Khusus bantuan beras, penyalurannya juga dalam rangka menstabilkan harga
dan mengendalikan inflasi beras. Direktur Eksekutif Center of Reform on
Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal berpendapat, pada dasarnya, bansos,
termasuk bantuan pangan, bisa menjadi salah satu alat untuk menekan inflasi dan
menjaga daya beli, terutama saat krisis ekonomi terjadi. Memasuki tahun 2024,
risiko ekonomi tidak sebesar saat pandemi Covid-19 merebak serta ketika harga
pangan dan energi melonjak tinggi. ”Di sinilah jorjoran bansos, baik berupa
pangan maupun uang tunai, berperan menekan inflasi sekaligus menjaga daya beli.
Kebijakan itu menguntungkan rakyat. Kendati, tetap ada kepentingan politik yang
menungganginya,” katanya. (Yoga)
Belum Jelas, Sumber Dana BLT Mitigasi Risiko Pangan
Keputusan pemerintah menggelontorkan bantuan langsung tunai
atau BLT mitigasi risiko pangan pada Februari 2024, yang merupakan bulan
dilakukannya pemungutan suara Pemilu 2024, berpotensi membuat tata kelola kas
negara menjadi tidak sehat. Apalagi, asal-usul sumber anggaran program bantuan
sosial itu sampai sekarang belum jelas. UU No 19 Tahun 2023 tentang APBN (UU
APBN) Tahun Anggaran 2024 sebenarnya sudah menganggarkan sejumlah program
bantuan sosial (bansos) rutin yang selama ini dikucurkan pemerintah. Anggaran
yang dialokasikan dalam UU APBN untuk kebutuhan perlindungan sosial (perlinsos)
adalah Rp 496,8 triliun, tapi dalam rincian bansos yang sudah dianggarkan dalam
UU APBN 2024, tidak ada nomenklatur bansos berupa BLT mitigasi risiko pangan.
BLT ini dianggarkan senilai total Rp 11 triliun untuk 18,8
juta keluarga penerima manfaat (KPM) selama tiga bulan, yakni Januari-Maret
2024.Setiap KPM akan mendapat Rp 200.000 per bulan. Namun, pemerintah akan
menyalurkannya tiga bulan sekaligus sebesar Rp 600.000 per KPM pada Februari
2024. Adapun bansos yang sudah dianggarkan adalah program rutin yang selama ini
disalurkan pemerintah, yaitu Program Keluarga Harapan (PKH) untuk 10 juta KPM,
Program Kartu Sembako untuk 18,8 juta KPM, dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Desa
untuk 2,96 juta KPM. Di tengah tanda tanya seputar anggaran bansos BLT pangan
itu, Kemenkeu mengeluarkan surat edaran No S-1082/MK.02/2023 pada 29 Desember
2023 yang bersifat sangat segera.
Surat perihal ”Automatic Adjustment Belanja Kementerian /
Lembaga TA 2024” ditujukan ke semua menteri Kabinet Indonesia Maju, Jaksa Agung
Republik Indonesia, Kapolri, serta kepala lembaga pemerintahan nonkementerian /
lembaga (K/L) dan pimpinan kesekretariatan lembaga negar, yang menyatakan sesuai
arahan Presiden Jokowi, kebijakan automatic adjustment perlu dilanjutkan dalam
pelaksanaan APBN 2024, dengan mempertimbangkan kondisi geopolitik global.
Besaran automatic adjustment belanja K/L yang ditetapkan untuk tahun ini Rp
50,14 triliun. Automatic adjustment adalah kebijakan pemblokiran anggaran K/L.
Setiap K/L diminta untuk memilah anggaran belanja yang bukan prioritas untuk
disisihkan sebagai dana ”cadangan”. Kepala Biro Komunikasi dan Layanan
Informasi Kemenkeu Deni Surjantoro, Jumat (2/2) mengatakan, setiap K/L terkena
automatic adjustment sesuai pos anggaran masing-masing. Besarannya 5 % dari
total pagu belanja setiap K/L. (Yoga)
Jorjoran Bansos, Saat Uang Rakyat Dipolitisasi
Menuju hari pemungutan suara 14 Februari 2024, pemerintah
semakin semangat menyalurkan bantuan sosial atau bansos kepada rakyat kecil. Setelah
membagikan bantuan langsung tunai atau BLT El Nino pada November-Desember 2023
di awal masa kampanye pemilu, pada Februari ini pemerintah akan membagikan
bansos baru, yaitu BLT mitigasi risiko pangan, sebesar Rp 200.000 per bulan
yang sebenarnya dijadwalkan diberikan pada periode Januari-Maret 2024. Namun,
alih-alih menyalurkannya satu per satu setiap bulan, pencairan BLT untuk tiga
bulan itu akan diberikan sekaligus sebesar Rp 600.000 pada Februari. Tak heran,
momen penyaluran bansos tepat pada bulan pemungutan suara Pemilu 2024 ini
dipertanyakan publik. Banyak pihak khawatir bansos dipakai sebagai alat
kampanye guna memenangkan putra Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, yang
maju sebagai calon wakil presiden dari Prabowo Subianto.
Apalagi, pembagian program bansos baru secara jorjoran pada
Februari sebenarnya tidak mendesak. Menurut Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
UI Teguh Dartanto, Kamis (1/2) BLT pangan tidak tepat waktu karena dampak dari
El Nino sudah lewat. Momentum penyaluran bansos yang dirapel pada Februari
secara sekaligus tanpa urgensi itu pun memunculkan kecurigaan bahwa pengelolaan
APBN dimanfaatkan untuk kepentingan pemilu. Teguh menilai, harusnya BLT El Nino
dan BLT pangan dikucurkan pada Juli-September 2023 ketika dampak El Nino sangat
membebani masyarakat. Bukan pada November-Desember 2023 saat kampanye pemilihan
presiden baru dimulai dan Februari 2024 menjelang hari pemungutan suara. ”Saat
ini, Pulau Jawa dan Indonesia sudah masuk musim tanam dan tidak ada isu besar
dengan isu pangan karena harga pangan relatif stabil. Semestinya pemerintah
fokus saja ke bansos yang sudah ada dan sudah dianggarkan, tidak ada urgensi memberikan
bansos baru,” kata Teguh saat dihubungi dari Jakarta. (Yoga)
Efek Elektoral Bantuan Langsung Tunai
Mitigasi Risiko Pangan, Meredam Inflasi
Mitigasi Risiko Pangan dengan Kucuran Dana Bansos
Pekerja Rentan Belum Masuk Kriteria Bansos
Fenomena pekerja prekariat yang rentan miskin terus menguat.
Kelompok ini belum semuanya masuk kriteria layak menerima bantuan sosial. Pekerja
prekariat adalah pekerja yang tidak menentu jam kerja, kontrak, dan lingkup
kerjanya. Contohnya, pekerja informal, pekerja rumah tangga, pekerja rumah
tangga migran, spekerja mitra platform digital, dan pekerja sektor perawatan. Mereka
tergolong tidak layak sebagai penerima
bansos untuk pekerja seperti bantuan subsidi upah (BSU) dan Kartu Prakerja. Direktur
Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo mengatakan, sejak pandemi Covid-19, pekerja
prekariat semakin banyak. ”Salah satu problem bansos untuk pekerja adalah
persyaratan penerimanya tercatat sebagai peserta jaminan sosial ketenagakerjaan.
Padahal, tingkat kepesertaan jaminan sosial ketenagakerjaan belum merata,” ujar
Wahyu saat menghadiri peluncuran buku Dilema Bansos, Rabu (24/1) di Jakarta.
Berdasarkan riset Migrant Care di tujuh kabupaten, selama pandemiCovid-19,
tingkat penerimaan bansos ubsidi listrik di kalangan pekerja migran Indonesia
mencapai 78 %. Berdasarkan survei Migrant Care tahun 2022, program Kartu
Prakerja hanya bisa diakses oleh pekerja di daerah urban. Pelatihan
keterampilan yang diberikan program itu memakai saluran internet sehingga hanya
pekerja yang tinggal di perkotaan dengan akses internet lancar yang bisa
mengikuti pelatihan. ”Indonesia mempunyai sejarah panjang penyaluran bansos yang
lebih banyak untuk mengantisipasi situasi krisis. Namun, desain program bansos
belum inklusif kepada kelompok pekerja, terutama pekerja prekariat yang rentan
miskin,” kata Wahyu. Peneliti Pusat Penelitian Populasi BRIN, Yanu Endar
Prasetyo, menemukan, sebanyak 23 program bansos yang dia teliti cenderung hanya diperuntukkan bagi rumah
tangga miskin dan belum semuanya menyentuh individu kelas pekerja, seperti
pekerja rentan. (Yoga)
BLT Puso untuk Naikkan Produksi
Presiden Jokowi berjanji segera merealisasikan penyaluran
bantuan langsung tunai atau BLT puso bagi petani yang gagal panen di Jateng.
Presiden meminta agar bantuan tersebut segera digunakan untuk biaya tanam padi
agar dalam waktu tiga-empat bulan ke depan panen sehingga produksi padi
meningkat. Sehingga, Indonesia tak lagi bergantung pada impor beras. Apalagi,
kata Presiden, saat ini 22 negara di dunia masih mengerem untuk ekspor beras. ”Moga-moga
dalam waktu sangat dekat uangnya bisa segera diterima petani dan langsung bisa
dipakai untuk tandur, tanam, tandur, tanam, dan segera panen. Kalau sudah
panen, kita tidak usah banyak impor lagi dari negara lain,” ujar Presiden
Jokowi di Kabupaten Grobogan, Jateng, Selasa (23/1).
Bantuan yang akan diberikan, menurut rencana, sebesar Rp 8
juta per 1 hektar lahan pertanian. Setiap kelompok tani bisa menerima bantuan
gagal panen yang beragam, mulai dari Rp 122 juta, Rp 180 juta, hingga Rp 200
juta. Di Jateng, Presiden mencatat terdapat 16.000 hektar lahan yang terdampak
El Nino, banjir dan kekeringan panjang. Penerima bantuan puso kali ini adalah
petani dari Kabupaten Grobogan, Kudus, Jepara, Demak, dan Pati. Di sisi lain,
harga gabah di tingkat petani saat ini cukup menggembirakan. Tiga tahun lalu,
harga gabah masih berkisar Rp 4.200-Rp 4.300 per kg. ”Sekarang (harga gabah) Rp
7.800, Rp 7.600.” ucap Presiden. Pemerintah akan terus berupaya menjaga agar
harga gabah di tingkat petani seimbang dengan harga beras di tingkat konsumen.
Petani harus puas dengan harga gabah, sedangkan masyarakat tak terbebani ketika
membeli beras. (Yoga)
Program Kartu Prakerja Berlanjut, Bidik 1,2 Juta Peserta
Pilihan Editor
-
Alarm Inflasi Mengancam Sektor Retail
11 Oct 2022









