;
Tags

Bansos

( 266 )

SIDANG SENGKETA PILPRES 2024 : 4 MENTERI SENADA SOAL BANSOS

HR1 06 Apr 2024 Bisnis Indonesia

Empat menteri Kabinet Indonesia Maju (KIM) menegaskan bahwa program bantuan sosial (bansos) yang dijalankan pemerintah tidak ditujukan untuk memenangkan salah satu pasangan calon pada Pilpres 2024. Hal itu terungkap dalam lanjutan sidang perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) Pilpres 2024 yang digelar Mahkamah Konstitusi pada, Jumat (5/4). Keempat sosok pembantu Presiden Joko Widodo itu yakni Menko PMK Muhadjir Effendy, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Menteri Sosial Tri Rismaharini. Majelis Hakim MK mendalami keterangan dari keempat menteri itu lantaran salah satu dalil yang diajukan pemohon dalam sengketa hasil Pilpres 2024, terkait pemanfaatan bansos. Program itu dituding membantu pemenangan pasangan calon Prabowo Subianto yang juga masih berstatus Menteri Pertahanan dan Gibran Rakabuming Raka, anak sulung Presiden Jokowi. 

Menko PMK Muhadjir Effendy menegaskan program bansos pemerintah tidak terkait kontestasi pemilu. Dia memahami bahwa tugas dan fungsi Kemenko PMK untuk mengkoordinasikan, mensinkronkan, dan mengendalikan pelaksanaan program di lapangan dikaitkaitkan dengan Pemilu. Menurutnya, bansos adalah bagian yang tak terpisahkan dari tugas pokok dan fungsi instansinya. Dia mengeklaim bahwa pemerintah melakukan berbagai kunjungan kerja demi memastikan penyaluran bansos berlangsung sesuai harapan. Pada kesempatan yang sama, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan anggaran perlindungan sosial 2024 sebesar Rp496,8 triliun sebagaimana dalam APBN 2024, naik dibanding 2023 sebesar Rp476 triliun. Adapun realisasi pagu anggaran perlinsos 2023 terbaru mencapai Rp443,4 triliun. 

Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga mengalami kenaikan rata-rata Rp15.230 menjadi rerata Rp15.664 pada 2024. Menurutnya, kenaikan harga dan nilai tukar itu berimplikasi pada kenaikan subsidi energi di 2024 dari tahun sebelumnya. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani membandingkan lini masa (timeline)penyusunan APBN 2024 dengan lini masa pemilu. “Kami menjelaskan ini untuk kemudian disandingkan dengan proses lini masa penyusunan APBN tahun anggaran 2024 yang telah selesai pada 21 September 2023 dan diundangkan 16 Oktober 2023,” katanya. Sementara itu Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini mengatakan bahwa anggaran Kemensos turun sebanyak Rp8 triliun pada 2024. “Kalau kita bandingkan anggaran 2023 dan 2024, anggaran kami turun, dari Rp87.275.374.140.000 menjadi Rp79.214.083.464.000. Hal ini karena belanja BLT El nino keluar dari bantuan di 2024,” katanya.

Indonesia Salurkan Bantuan Rp 6,5 Miliar Untuk Laos

KT1 05 Apr 2024 Investor Daily
Lambaga Dana Kerja Sama Pembangunan Internasional (LDKPI) atau Indonesia AID menyalurkan bantuan senilai Rp 6,5 miliar untuk mendukung Pemerintah Laos sebagai Keketuaan Asean 2024, khususnya pada Asean Finance Process. Program hibah tersebut ditujukan untuk memberikan bantuan teknis  kepada Kementerian Keuangan Laos  dalam mempersiapkan agenda penyelenggaraan pertemuan Asean 2024 diantaranya melalui serangkaian kegiatan sharing session, peningkatan kapasitas, dan penyelenggaraan pertemuan. "Dukungan ini tidak hanya menunjukkan komitmen kerja sama  yang erat antara  pemerintah Indonesia dan Laos, namun juga menekankan bagaimana pentingnya melanjutkan  kemitraan," jelas Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam keterangan resminya. (Yetede)

Pembangunan Huntap Sulsel Serap Anggaran Rp 1,05 Triliun

KT1 04 Apr 2024 Investor Daily
Pembangunan 3.724 unit hunian tetap (huntap) dan infrastruktur pemukimannya di Sulawesi Tengah (Sulteng) menyerap anggaran Rp1,05 triliun. Huntap itu diperuntukkan bagi korban gempa bumi dan tsunami di Kota Palu pada 2018. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PURP) menyatakan bahwa dari unit yang terbangun dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo Selasa (26/3/2024), sebanyak 3.195 unit telah dihuni oleh warga. Jokowi berharap komplek huntap itu  dapat dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat dan korban terdampak bencana bisa kembali bangkit menjalani kehidupan bersama keluarganya di rumah yang dibangun dengan teknologi rumah tahan gempa tersebut. "Semua huntapnya sudah selesai dan tadi kita sudah meresmikan secara simbolik. Alhamdulillah ada fasum, Fasos, dan Faskesnya juga. Kita harap nanti akan menjadi tempat membangun kehidupan yang baru disana," terang Presiden. (Yetede)

Ahli: Bansos Pengaruhi Pilihan Pemilih

KT3 03 Apr 2024 Kompas (H)

Meski petahana tak maju dalam pemilihan, angka kepuasan terhadap petahana sebagai imbas penyaluran bansos terkonversi ke anak petahana yang maju dalam kontestasi. Ahli psikologi politik UI, Hamdi Muluk, yang dihadirkan sebagai ahli dari capres-cawapres Ganjar Pranowo-Mahfud MD, saat menyampaikan penjelasan dalam sidang lanjutan perkara perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) presiden dan wakil presiden di MK, Jakarta, Selasa (2/4) mengungkapkan, pengaruh dari faktor bansos terhadap pilihan para pemilih di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 sekitar 29 %. Sementara 71 % lainnya dipengaruhi faktor lain, seperti ketokohan, ideologi, preferensi, sosiologi, agama, dipengaruhi teman, analisis kemampuan, dan kampanye.

Kuasa hukum Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, Yusril Ihza Mahendra, mempertanyakan alasan ahli hanya fokus pada penyaluran bansos. Padahal, ada dana desa yang disalurkan, bahkan besarnya Rp 1 miliar per desa. Hamdi menuturkan, angka besaran pengaruh bansos atau bantuan sejenis tersebut di- hasilkan dari studi/metaanalisis yang dilakukan terhadap literatur mengenai topik serupa di seluruh dunia. Ia mengumpulkan 1.081 literatur dari berbagai belahan dunia, kemudian dikerucutkan menjadi 734 studi. Hamdi menemukan, pemberian bansos di Nigeria memberikan efek 92 % dalam memengaruhi pilihan politik para pemilih. Petahana dianggap semacam sinterklas sehingga kembali terpilih.

Menurut Hamdi, politisasi bansos menjadi problematic dalam konteks demokrasi saat ini. Bansos hanya bisa dikendalikan oleh pemegang otoritas, yaitu petahana. Dalam konteks Indonesia, banyak orang akan mengatakan bahwa petahana tidak mencalonkan diri dalam Pemilu 2024. ”Tapi, istilah teman saya, setengah petahana. Anaknya yang maju. Tinggal bagaimana persepsi publik dibentuk bahwa setengah petahana ini mewakili petahana. Di situ mekanisme psikologisnya berlangsung. Kalau ini berhasil, kepuasan terhadap petahana terkonversi ke kepuasan terhadap setengah petahana ini,” ujarnya. (Yoga) 

Bantuan Sosial Menciptakan Ketimpangan Ekonomi

KT1 28 Mar 2024 Tempo

Pemerintah tak kunjung memahami pepatah lama “beri kail, jangan ikan” kepada pemancing jika ingin mereka mandiri. Setiap tahun, pemerintah makin menaikkan nilai bansos, tapi tak kunjung memberantas kemiskinan. Dalam sepuluh tahun terakhir, pemerintahan Joko Widodo menggelontorkan tak kurang Rp 3.663 triliun untuk bansos. Namun angka kemiskinan tahun lalu masih 9,6 %, lebih tinggi dari target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional sebesar 8 %. Meski begitu, untuk tahun ini, pemerintah malah menaikkan anggaran bansos sebesar Rp 22,5 triliun, naik 135,1 % dibanding tahun lalu. Menkeu Sri Mulyani memaparkan proposal kenaikan itu di depan Komisi Keuangan DPR pada 19 Maret 2024. Alasan kenaikan mengkonfirmasi masih tingginya tingkat kemiskinan: jumlah penerima yang bertambah dan jenis bantuan yang kian beragam.

Klaim pemerintah memberikan jaring pengaman kepada masyarakat paling miskin agar tak terimpit oleh kelesuan ekonomi akibat gejolak ekonomi global juga terdengar seperti mencari-cari alasan. Faktanya, pertumbuhan ekonomi pada periode kedua pemerintahan Jokowi tak dinikmati oleh mayoritas kelompok masyarakat. Buku putih Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI, Agenda Ekonomi Masyarakat 2024-2029, menyimpulkan kebijakan atau program pemerintah terfokus pada 20 % kelompok terbawah melalui pelbagai bantuan perlindungan sosial dan 10 % kelompok teratas melalui pelbagai insentif usaha. Kebijakan pemerintah melupakan 40-80 % kelas menengah yang mengalami pertumbuhan negatif pada 2019-2024.

Akibatnya malah timbul ketimpangan ekonomi yang semakin tajam akibat pemberian bansos yang kurang tepat sasaran dimana kelas menengah bawah rentan menjadi miskin tanpa perhatian dan uluran tangan pemerintah, sedang 10 % kelompok teratas malah semakin kaya akibat insentif usaha yang diberikan pemerintah. Solusi yang ditawarkan LPEM adalah memperkuat kelas menengah Indonesia dengan menciptakan kail berupa layanan pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, dan layanan perawatan untuk mendorong sumber daya manusia unggul. Bansos jelas bukan solusi menuju cita-cita itu. Bansos merupakan solusi jangka pendek mencegah keterpurukan ekonomi. Apalagi jika bansos dibuat untuk tujuan elektoral pemilihan umum lima tahunan. (Yetede)

Obat Jangka Pendek Bernama Bansos

KT1 27 Mar 2024 Tempo
INDONESIA PUNYA beragam program bantuan sosial untuk masyarakat miskin. Sebut saja Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan bahan pokok, Kartu Indonesia Pintar, bantuan iuran Jaminan Kesehatan Nasional, bantuan langsung tunai desa, dan subsidi energi. 

Daftarnya makin mengular jika bantuan insidental pada beberapa tahun terakhir ikut dihitung. Seperti saat muncul pandemi, pemerintah memberikan bantuan sosial tunai serta beras 10 kilogram. Tahun lalu, muncul jenis bantuan baru: antisipasi dampak El Nino berupa bantuan tunai. Program ini berlanjut sampai 2024. Ditambah lagi, pemerintah memberikan bantuan beras 10 kg dengan dalih menekan dampak kenaikan harga beras.

Penerima bantuan juga makin banyak. PKH, misalnya, hanya memiliki 2,7 juta keluarga penerima hingga akhir periode kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2014. Empat tahun kemudian, jumlah penerima PKH berlipat menjadi 10 juta keluarga penerima dan tak berubah sampai sekarang. Jumlah penerima bantuan pangan nontunai, yang sekarang berganti nama menjadi bantuan bahan pokok, naik dari 15 juta keluarga menjadi 22 juta keluarga. Itu sebabnya anggaran bantuan sosial melonjak signifikan, bahkan setelah pandemi usai. Pada akhir 2019, alokasinya sebesar Rp 112,5 triliun. Tapi tahun ini proyeksinya sebesar Rp 152,3 triliun. (Yetede)

Bantuan Sosial dalam Perlindungan Sosial

KT1 27 Mar 2024 Tempo
Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024, anggaran perlindungan sosial mencapai Rp 496,8 triliun atau naik lebih dari Rp 20 triliun dibanding pada tahun lalu. Anggaran tersebut terbagi lintas kementerian hingga non-kementerian dan lembaga. Dari total anggaran tahun ini, sebanyak Rp 75,6 triliun dialokasikan ke Kementerian Sosial, di antaranya bantuan sosial. Angka yang menjadi sorotan saat Menteri Sosial Tri Rismaharini membandingkan jumlah yang didapat kementeriannya dibanding keseluruhan anggaran perlindungan sosial. 

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan sebagian besar anggaran perlindungan sosial dalam bentuk subsidi dan kompensasi yang sebesar Rp 330 triliun. Jumlah tersebut untuk membiayai subsidi bahan bakar minyak, elpiji, dan listrik. Ada pula anggaran program non-subsidi energi, seperti subsidi pupuk, public service obligation atau kewajiban pelayanan publik, bunga kredit usaha rakyat, serta bunga kredit perumahan. Berikut ini rincian anggaran perlindungan sosial dan bantuan sosial. (Yetede)

Polemik Anggaran Bantuan Sosial

KT1 27 Mar 2024 Tempo
POLEMIK DANA bantuan sosial (bansos) bermula di gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Pada 19 Maret 2024, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati rapat dengan Komisi XI DPR. Rapat itu membahas evaluasi fiskal kuartal I 2024, termasuk menjawab anggaran bansos. Pada saat hampir bersamaan, Menteri Sosial Tri Rismaharini rapat dengan Komisi VIII DPR mengevaluasi pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2023.

Saat rapat dengan Komisi XI DPR, Sri Mulyani membeberkan realisasi anggaran program bantuan sosial yang melesat mencapai Rp 22,5 triliun per 29 Februari 2024. “Anggaran bansos kita melonjak tajam dari Rp 9,6 triliun tahun lalu ke Rp 22,5 triliun, atau naik 135,1 persen dibanding tahun sebelumnya,” katanya.

Menurut Sri Mulyani, peningkatan realisasi belanja bantuan sosial dipengaruhi penyaluran Program Keluarga Harapan (PKH) tahap I pada Januari dan penyaluran program Kartu Sembako pada Februari. Kementerian Sosial menyalurkan sebesar Rp 12,8 triliun untuk kedua program yang diterima oleh 10 juta keluarga penerima manfaat (KPM) untuk PKH dan 18,7 juta KPM untuk program Kartu Sembako. (Yetede)

Pemilu dan Bansos Kerek Belanja Pemerintah Pusat

HR1 22 Mar 2024 Kontan

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan, realisasi ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode sama tahun 2023 yang mencapai Rp 83,2 triliun, atau bahkan setara dengan kondisi 2021 saat pandemic Covid-19 yang juga mencapai Rp 94,6 triliun.  “Belanja ini relatif sama dengan situasi 2021. Karena ini tahun pemilu memang dipengaruhi oleh akselerasi belanja yang berhubungan dengan pemilu,” tutur Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KITA, Kamis (22/2). Adapun realisasi belanja pemerintah pusat ini terdiri dari belanja kementerian/Lembaga (K/L) yang mencapai Rp 44,8 triliun atau 4,1% dari pagu. Belanja K/L ini juga lebih besar jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 28,7 triliun. Lebih tingginya belanja K/L ini dipengaruhi oleh dukungan persiapan pelaksanaan pemilihan umum (pemilu). Kemudian untuk belanja non K/L realisasinya mencapai Rp 51,6 triliun atau mencapai 3,8% dari pagu. Namun realisasi ini lebih rendah jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 54,5 triliun.

Pemerintah Menyalurkan Bansos Rp 16,62 Triliun

HR1 15 Mar 2024 Kontan
Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemkeu) telah menyalurkan anggaran sebesar Rp 16,62 triliun untuk bantuan sosial (bansos) hingga kuartal I-2024. Bansos yang dimaksud terdiri dari Program Keluarga Harapan (PKH) dan Sembako. Direktorat Jenderal (Ditjen) Perbendaharaan Kemkeu memerinci, realisasi bansos PKH mencapai Rp 5,34 triliun hingga Maret 2024. Bansos ini telah disalurkan kepada 9,9 juta keluarga penerima manfaat (KPM). Dikutip dari akun media sosial Ditjen Perbendaharaan Kemkeu, Kamis (14/3), pemerintah telah menjalani Bansos PKH sejak tahun 2007 sebagai bagian dari upaya mempercepat penanggulangan kemiskinan. Sementara itu, Bansos Sembako telah terealisasi sebesar Rp 11,28 triliun. Bansos ini telah tersalurkan kepada 18,4 juta KPM. Kemkeu menyebutkan, meski bernama Bansos Sembako, masyarakat tetap bisa mendapatkan bantuan dalam bentuk uang sebesar Rp 200.000 per bulan dan dibagikan dua bulan sekali. Alhasil, dalam satu tahun ada enam tahap penyaluran dan KPM akan menerima Rp 400.000 dalam sekali pencairan. Adapun program Bansos Sembako sebagai pengembangan dari Progran Bantuan Pangan Nontunai (BPNT) yang telah ada sebelumnya, menurut Ditjen Perbendaharaan, mulai dilaksanakan tahun 2020.