Bansos
( 266 )Kisah ”Bangsawan” di NTT yang Mengandalkan Bansos
Umbu Nai Igoh (56), warga Desa Lenang Selatan, Kabupaten
Sumba Tengah, NTT, mendatangi kantor desa setempat, Kamis (7/3/2024). Ia
menanyakan bantuan beras untuk rakyat miskin sejumlah 10 kg per bulan dan
bantuan langsung tunai (BLT) senilai Rp 600.000 per tiga bulan yang belum diterimanya.
Dia belum menerima bantuan periode Februari-Maret 2024. Sejak Juni 2023 hingga Januari
2024, bantuan itu datang setiap akhir bulan atau awal bulan. Sudah lebih dari
10 tahun terakhir, ia menerima bantuan sosial (bansos). ”Saya bersama ratusan
warga di Desa Lenang Selatan se dang menunggu bantuan berasdan uang, tetapi
tidak datang-datang. Harga beras melonjak sampai Rp 18.000 per kg. Jagung pun
gagal panen karena serangan ulat grayak dan curah hujan tidak merata,” kata
Umbu Nai Igoh. Dengan kondisi itu, bansos beras dan uang itu menjadi andalan.
Menyandang gelar umbu, Nai Igoh adalah kaum priayi atau bangsawan di Pulau Sumba.
Menarik dicermati manakala Nai Igoh dengan gelar kebangsawanannya
bergantung pada bansos untuk mencukupi kebutuhan hidup. Gelar umbu sudah ada sebelum
kemerdekaan. Kala itu, mereka menguasai tanah luas yang digarap para hamba.
Semua hasil jerih payah para hamba jadi milik bangsawan. Budayawan Sumba,
Fransiskus Wora Hebi, menjelaskan, gelar itu hanya berlaku bagi kaum bangsawan
Sumba. Namun, kini kelompok masyarakat yang dekat dengan keluarga umbu dan
masyarakat biasa pun mengenakan gelar untuk mendapatkan status sosial tinggi.
Padahal, sesuai runutan sejarah dan silsilah, mereka bukan bangsawan. ”Ada
tren, laki-laki Sumba menggunakan gelar umbu, sedang perempuan Sumba
menggunakan nama rambu sebagai bangsawan perempuan,” kata Fransiskus. Di
sejumlah daerah di Pulau Sumba, seperti Kodi, Sumba Barat Daya, gelar itu sudah
punah.
Para hamba menolak mengabdi kepada para bangsawan. Gelar umbu
pun jarang digunakan. Penggunaan gelar umbu masih kuat di Sumba Timur, Sumba
Tengah, dan sebagian Sumba Barat. Dosen sosiologi Universitas Nusa Cendana,
Kupang, Lasarus Jehamat, mengatakan, Sejak tahun 1980-an, sebagian kelompok
bangsawan NTT justru masuk kategori masyarakat miskin dan terbelakang dari sisi
SDM dan ekonomi, karena mereka terbiasa hidup dari hasil kerja para hamba,
sedangkan para hamba tak mau lagi mengabdi. Dengan kondisi seperti ini, sebagian
dari mereka yang dulu bangsawan pada akhirnya sangat mengharapkan bansos dari
pemerintah. Ironisnya, pemberian bansos dari pemerintah pada kelompok ini,
menurut Jehamat, semakin menenggelamkan daya juang kemandirian mereka. (Yoga)
Bantu Pendidikan Mahasiswa
Sebagian mahasiswa penerima program Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul
(KJMU) terancam putus kuliah karena dikeluarkan dari daftar penerima bantuan
pendidikan itu. Kondisi ini terjadi seiring penurunan alokasi anggaran program KJMU.
Selama ini bantuan pendidikan bagi mahasiswa dari keluarga miskin itu menjadi
salah satu cara memutus rantai kemiskinan di DKI. Data BPS tahun 2023
menunjukkan, angka partisipasi kasar (APK) perguruan tinggi 31,45 %. Di Provinsi
DKI Jakarta, APK perguruan tinggi terus naik dari 33,5 % pada 2016 menjadi
40,05 % pada 2021. Artinya 40 dari 100 warga di usia 18-25 tahun sedang kuliah.
Membaiknya APK perguruan tinggi di DKI Jakarta tak lepas dari adanya bantuan
pendidikan.
Pemprov DKI Jakarta
memiliki program KJMU sejak 2016, yakni bantuan pendidikan bagi mahasiswa
berupa dana Rp 1,5 juta per bulan atau Rp 9 juta per semester. Sasarannya
adalah pelajar DKI Jakarta dari keluarga miskin yang terdaftar dalam Data
Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Pada 2023 tercatat 23.958 penerima. Namun, tahun ini Pemprov DKI Jakarta hanya menganggarkan
KJMU Rp 180 miliar atau setengah dari anggaran tahun lalu yang mencapai Rp 360
miliar (Kompas, 7/3/2024). Meski demikian, Pemprov DKI Jakarta memastikan tak mencabut
penerima KJMU yang sudah berjalan.
Kebijakan yang ditetapkan adalah pemadanan data kesejahteraan
sosial agar penerima manfaat tepat sasaran, tapi, validasi data itu menimbulkan
keluhan karena sebagian mahasiswa dikeluarkan dari daftar penerima program. Saat
ini bantuan pendidikan di Indonesia oleh pemerintah menjadi harapan bagi para mahasiswa dari keluarga kurang mampu untuk dapat mengakses layanan pendidikan
tinggi. Mengingat, meningkatnya biaya pendidikan tinggi makin memberatkan
warga, bahkan tak terjangkau keluarga miskin, juga sebagian masyarakat dari
kelas menengah. Namun, mereka kesulitan mengakses berbagai skema beasiswa atau
bantuan pendidikan dari pemerintah karena dinilai tidak memenuhi syarat. (Yoga)
Mahasiswa dari Keluarga Miskin Terancam Putus Kuliah
Sebagian mahasiswa dari keluarga miskin penerima bantuan
pendidikan Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU) terancam putus kuliah. Sebab,
mereka dicoret dari daftar penerima dana bantuan seiring berkurangnya anggaran bansos
pendidikan tersebut. Tahun ini, Pemprov DKI Jakarta hanya menganggarkan Rp 180
miliar atau setengah dari anggaran tahun lalu yang mencapai Rp 360 miliar. Pemprov
DKI Jakarta mencabut nama sebagian mahasiswa dari keluarga miskin penerima KJMU.
Mereka yang tidak lagi menerima KJMU terancam putus kuliah. Bagi warga miskin
Jakarta, tingginya biaya pendidikan sedikit teratasi dengan bantuan tersebut.
KJMU merupakan bantuan dana pendidikan bagi mahasiswa Rp 1,5 juta
per bulan atau Rp 9 juta per semester sebagaimana diatur dalam Pergub DKI
Jakarta Nomor 91 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Gubernur Nomor 97 Tahun
2019 tentang Bantuan Biaya Peningkatan Mutu Pendidikan bagi Mahasiswa dari Keluarga
Tidak Mampu. KJMU diberikan Pemprov DKI Jakarta sejak awal September 2016.
Program ini digagas Basuki Tjahaja Purnama yang kemudian dilanjutkan Anies
Baswedan saat keduanya menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Sasaran utamanya
pelajar DKI Jakarta dari keluarga miskin. Selama ini, mahasiswa asal Jakarta
dari keluarga miskin sangat mengandalkan dana bantuan pendidikan seperti KJMU
agar dapat melanjutkan pendidikan. Harapan mengubah nasib lewat pendidikan terancam
hancur jika namanya dicoret dari daftar penerima.
Hal itu di dirasakan Iema (19), mahasiswa asal Jaktim, yang
kuliah di UNS di Surakarta, Jateng. Iema bersyukur dapat melanjutkan
pendidikannya di jenjang perguruan tinggi berkat KJMU, bantuan dana pendidikan
yang diharapkan dapat membantu pelajar pemegang Kartu Jakarta Pintar (KPJ) yang
hendak melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi. Program inilah yang
membuat Iema berangan dapat menggapai mimpi sekolah hingga perguruan tinggi.
Namun, sejak mendapat pemberitahuan tidak terdaftar di sistem KJMU beberapa
hari lalu, ia mendadak khawatir. ”Aku terancam putus kuliah. Buat gaji ayahku
yang belum UMR, benar-benar berat. Apalagi UKT (uang kuliah tunggal)-ku lumayan
gede, belum biaya kos dan kebutuhan sehari-hari di perantauan,” kata Iema. (Yoga)
Didorong Sentimen Bansos dan Ramadan
Saham-saham emiten poultry berpeluang mendapat beberapa sentimen positif dalam jangka pendek ini. Pemerintah akan memberikan bantuan sosial (bansos) berupa daging ayam sebagai tambahan untuk keluarga penerima manfaat (KPM) yang memiliki balita stunting. Bansos beras, daging ayam, dan telur disalurkan kepada 18,8 juta KPM. Nilai anggarannya mencapai Rp 17,5 triliun hingga Juni 2024 mendatang. Pemerintah masih akan menambah program bansos tambahan untuk memitigasi risiko pangan pada 2024, di luar bansos yang rutin setiap tahun disalurkan. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menilai, program bansos tersebut bisa berdampak positif terhadap emiten saham unggas atau poultry. Terutama para pemain besar di bisnis ini, seperti PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA).
Senior Investment Information
Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama menambahkan, bansos tersebut bakal mendorong permintaan terhadap sektor
poultry
secara keseluruhan, sehingga berpeluang mendorong harga sahamnya.
Sentimen positif lainnya adalah datangnya bulan Ramadan dan Lebaran dalam waktu dekat. Biasanya, di momentum ini permintaan unggas bakal melejit sejalan dengan kenaikan tingkat konsumsi masyarakat.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Andreas Saragih melihat harga rata-rata
day old chick
(DOC) bulanan di Jawa Barat kembali naik menjadi Rp 3.140 per ekor pada Januari 2024, naik 79% secara bulanan dan naik 66,1% secara tahunan atau
year on year
(yoy). Harga rata-rata bulanan broiler pun pulih menjadi Rp17.601 per kilogram (kg), naik 6,2% yoy.
Andreas memproyeksikan pemulihan harga DOC dan broiler akan terus berlanjut dalam beberapa bulan ke depan, didorong oleh beberapa faktor penting, seperti bulan Ramadan, bansos pemerintah dan dampak dari program
culling
yang dilakukan pada tahun 2023.
Menurutnya, valuasi saham
poultry
saat ini menawarkan penurunan yang terbatas dan memberikan titik masuk yang menarik. Andreas merekomendasikan beli saham CPIN dengan target harga Rp 6.150 per saham. Dia juga merekomendasikan beli saham JPFA dengan target harga Rp 1.380 per saham.
Menjaga Kesejahteraan dan Mengurangi Tingkat Kemiskinan
Blokir Anggaran demi Bansos
Efek Candu Bantuan Sosial
Menjaga Keyakinan dan Daya Beli Masyarakat
Bansos, dari Rakyat untuk Rakyat
Akhir-akhir ini, wajah cemberut Menkeu Sri Mulyani viral di
media sosial. Ia tampak berdiri di samping Menko Bidang
Perekonomian Airlangga Hartarto yang mengumumkan penyaluran Bantuan Langsung
Tunai atau BLT Mitigasi Risiko Pangan, program bantuan sosial yang mendadak
muncul menjelang pemilu. Airlangga, yang juga Ketum Partai Golkar, pendukung
pasangan calon presiden-wakil presiden Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka,
menjelaskan, bansos baru itu akan dibagikan untuk tiga bulan selama
Januari-Maret 2024. Namun, penyalurannya akan ”dirapel” sekaligus pada bulan
Februari. Besarannya Rp 600.000 per keluarga penerima manfaat (KPM). Selama
Airlangga berbicara, raut wajah Sri Mulyani tampak kesal. Berbeda dari menteri
dan pimpinan lembaga negara lain yang hadir dalam konferensi pers bansos, 29
Januari 2024, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu tidak tersenyum atau
”manggut-manggut” menganggukkan kepala tanda setuju.
Ekspresi Sri Mulyani dapat dipahami, ia adalah sosok yang
paling pusing saat ini. Selaku bendahara negara, ia tiba-tiba harus
”mencarikan” sumber anggaran untuk mendanai BLT Pangan. Pasalnya, sampai
sekarang, asal-usul anggaran untuk program bansos baru itu tidak jelas karena
belum direncanakan dalam APBN 2024. Bukan
hanya sumber anggaran yang penuh tanda tanya, momentum pembagian bansos BLT
Pangan yang direncanakan disalurkan sekaligus menjelang hari pemungutan suara
14 Februari 2024 itu juga memancing curiga. Bansos itu sebenarnya bantuan dari
siapa dan dari mana sumber dananya. Ditengah hiruk-pikuk politisasi bansos,
penting untuk menyadari asal-usul anggaran bansos agar publik tidak mudah terkesima
oleh akrobat politik para elite.
Pendanaan bansos pada dasarnya berasal dari APBN, yang
didapat dari pajak. Pendapatan dari pajak kemudian disalurkan ke rakyat tak
mampu melalui program-program bansos di bawah anggaran perlindungan sosial
(perlinsos). Di APBN 2024, anggaran perlinsos sudah dialokasikan Rp 496,8
triliun. BLT Pangan tak masuk rincian bansos yang sudah dianggarkan itu. Sebab,
APBN hanya menganggarkan program bansos rutin yang selama ini dikucurkan pemerintah,
seperti Program Keluarga Harapan, Program Kartu Sembako, dan BLT Desa. Mengutip
kata-kata Sri Mulyani belakangan ini, rakyat perlu tahu dari mana asal-usul
uang yang dipakai untuk menyalurkan bansos. Dengan demikian, rakyat tak perlu
terus-menerus tertipu oleh pertunjukan politik dan populisme yang muncul sesaat
setiap lima tahun sekali. (Yoga)
Bansos di Tahun Politik
Serangan kritis publik terhadap penggelontoran program
bantuan sosial atau bansos skala masif oleh pemerintah di tahun politik terus bergulir
beberapa pekan terakhir. Isu bansos di tahun politik sangat seksi karena
melibatkan jumlah dana yang sangat besar, yakni Rp 496,8 triliun, dan rawan
konflik kepentingan atau disalah gunakan. Salah satu yang disoroti adalah
munculnya tiba-tiba nomenklatur bansos baru, bantuan langsung tunai (BLT)
mitigasi risiko pangan yang sebelumnya tak masuk dalam penganggaran. Selain
pengucurannya dicurigai diboncengi kepentingan elektoral karena dilakukan pada
bulan pemungutan suara, kemunculan tiba-tiba bansos baru ini dinilai berpotensi
membuat tata kelola kas negara menjadi tidak sehat (Kompas, 3/2). Para pengamat
mempertanyakan pendanaan program BLT baru yang dikhawatirkan mengor bankan
anggaran kementerian/lembaga (K/L).
Dalam situasi normal, bansos, sebagai bagian dari program
perlindungan sosial, sebenarnya merupakan program rutin, instrumen APBN, dan
wujud kehadiran negara untuk melindungi kelompok rentan, dimana semestinya program
bansos steril dari kepentingan elektoral. Dalam kenyataan di lapangan, hal itu
tak selalu terjadi. Meski tudingan pemanfaatan program bansos untuk mendulang
suara dibantah Presiden dan sejumlah menterinya, kita melihat praktik
penyimpangan masih banyak terjadi di lapangan. Selain buruk bagi pendidikan
politik, praktik ini juga mencederai tujuan dari program bansos. Menkeu Sri
Mulyani mengatakan, program BLT dalam APBN 2024 sudah melalui persetujuan DPR.
Mengenai munculnya pos baru bansos mitigasi risiko pangan, Menkeu mengatakan,
meski bansos telah dibagi dalam pos-pos, realisasinya bisa disesuaikan dengan
kondisi di lapangan. Dalam hal ini, dimungkinkan ada tambahan atau modifikasi dari
program-program itu, menyesuaikan dengan kebutuhan yang ada, contohntya BLT El
Nino pada 2023. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Evaluasi Bantuan Langsung Tunai BBM
11 Oct 2022 -
Alarm Inflasi Mengancam Sektor Retail
11 Oct 2022 -
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut Sepekan Lagi
10 Oct 2022









