;

Bansos Oke, Coblos Mah Bebas Saja

Bansos Oke, Coblos
Mah Bebas Saja

Keluh kesah dan harapan mengemuka dalam obrolan sejumlah pengojek daring yang tengah menunggu penumpang tak jauh dari Stasiun Rawabuntu, Tangsel, Banten. Kamis (1/2). ”Tenang, bro. Bentar juga dapat bantuan langsung tunai (BLT). Lumayanlah. Soal coblos siapa nanti mah bebas-bebas aja,” ujar Triyanto (35), pengojek daring disambung tawa rekan-rekan mengobrolnya. Triyanto mengaku penghasilannya rata-rata Rp 3,5 juta perbulan. Pengeluaran bulanan diupayakan tidak lebih dari penghasilan meski harga berbagai kebutuhan hidup makin mahal. Triyanto juga mengaku senang bakal ada guliran BLT Rp 600.000 pada Februari 2024., yang bisa digunakan mengganjal pengeluarannya yang semakin membesar. ”Ya, saya  terbantu dengan BLT. Tetangga juga ada yang dapat beras. Soal mau pilih siapa saat coblosan, bebas-bebas aja,” ujarnya sembari menaikkan kaca helm.

Pada tahun politik ini, pemerintah menggelontorkan bantuan sosial secara besar-besaran. Di luar sejumlah program rutin jaring perlindungan sosial, pemerintah menggulirkan bantuan beras, BLT mitigasi risiko pangan (pengganti BLT El Nino), dan BLT petani yang gagal panen atau puso. Bantuan beras akan diberikan kepada 22 juta keluarga penerima manfaat (KPM) dalam dua tahap, yakni Januari-Maret dan April-Juni 2024. Setiap KPM akan mendapatkan 10 kg beras per bulan. BLT mitigasi pangan senilai total Rp 11 triliun menyasar 18,8 juta KPM selama tiga bulan, yakni Januari-Maret 2024. Setiap KPM akan mendapat Rp 200.000 per bulan. Namun, pemerintah akan menyalurkannya tiga bulan sekaligus sebesar Rp 600.000 per KPM pada Februari 2024.

Kedua bansos terebut diberikan untuk meringankan beban pengeluaran keluarga berpenghasilan rendah atas kenaikan harga sejumlah pangan pokok. Khusus bantuan beras, penyalurannya juga dalam rangka menstabilkan harga dan mengendalikan inflasi beras. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal berpendapat, pada dasarnya, bansos, termasuk bantuan pangan, bisa menjadi salah satu alat untuk menekan inflasi dan menjaga daya beli, terutama saat krisis ekonomi terjadi. Memasuki tahun 2024, risiko ekonomi tidak sebesar saat pandemi Covid-19 merebak serta ketika harga pangan dan energi melonjak tinggi. ”Di sinilah jorjoran bansos, baik berupa pangan maupun uang tunai, berperan menekan inflasi sekaligus menjaga daya beli. Kebijakan itu menguntungkan rakyat. Kendati, tetap ada kepentingan politik yang menungganginya,” katanya. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :