perikanan
( 525 )Harga Tongkol Turun
PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK : KKP Nilai Pelaku Usaha Perikanan Tak Jujur
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan sistem pelaporan mandiri pelaku usaha penangkapan perikanan menyebabkan realisasi pendapatan negara bukan pajak pada 2023 merosot 9,1% secara tahunan menjadi Rp1,69 triliun.Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) khususnya PNBP perikanan tangkap mengalami penurunan yang cukup tajam, tetapi masih di atas Rp600 miliar. Menurutnya, susutnya PNBP perikanan tangkap lantaran banyak pelaku usaha yang tidak jujur dalam melapor besaran nilai pungutan hasil perikanan pascaproduksi.
Mekanisme kutipan PNBP di sektor perikanan mengacu Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 2/2023 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pengenaan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kementerian Kelautan dan Perikanan yang Berasal dari Pemanfaatan Sumber Daya Alam Perikanan mengubah mekanisme PNBP pungutan hasil perikanan (PHP). Awalnya, PNBP PHP ditarik saat praproduksi, atau pada saat surat izin penangkapan ikan (SIPI) dikeluarkan.
Besaran nilai pungutan dihitung secara mandiri oleh pelaku usaha perikanan tangkap, melalui aplikasi yang disediakan oleh kementerian dengan formula: indeks tarif x nilai produksi ikan pada saat didaratkan.Di sisi lain, dia membantah bahwa merosotnya jumlah realisasi PNBP di 2023 disebabkan oleh Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 11/2023 tentang Penangkapan Ikan Terukur. Mengingat, aturan ini belum diberlakukan.
Teknologi Efisienkan Budidaya Perikanan di Maluku
Teknologi digital dinilai mampu mengefisienkan produksi
sektor perikanan budidaya. Pemilihan lokasi dan pemberian pakan berlebih
menjadi permasalahan utamanya. Namun, sektor ini berpotensi tumbuh dengan bantuan
teknologi digital. Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon Sarwono
menjelaskan, potensi perikanan budidaya di Maluku, khususnya Ambon, masih terbuka
lebar. Minat masyarakat mulai meningkat. Namun, mayoritas masyarakat masih
memilih bidang perikanan tangkap karena faktor kebiasaan dan teknik budidaya yang
dinilai sulit. Budidaya ikan yang dilakukan di Maluku pun masih didominasi di
air laut. Padahal, khusus di Ambon, potensi budidaya ikan air tawar relatif
besar. Total potensi lahan budidaya air tawar mencapai 17 hektar. Namun, luas
lahan yang dimanfaatkan kurang dari 10 %. Teknologi di sektor budidaya, sudah
berkembang sehingga budidaya ikan seharusnya menjadi lebih mudah.
Teknologi membantu digitalisasi rantai produksi, mulai dari
pemilihan lokasi budidaya menggunakan satelit, penghitungan benih yang ditebar,
serta pemberian pakan otomatis. Optimalisasi produksi penting agar ukuran ikan
seragam. Keseragaman hasil produksi membantu pembudidaya memasarkan produknya
di pasar. ”Kerja sama dengan pihak swasta pengembang teknologi budidaya perlu
ditingkatkan, sementara BPBL fokus mengembangkan benihnya. Rantai produksi yang
efisien membuat harga ikan juga bisa lebih optimal sehingga menguntungkan konsumen
dan produsen,” kata Sarwono di Ambon, Maluku, Selasa (12/3). Vice President
Public Affairs eFishery Muhammad Chairil mengatakan, teknologi di bidang
budidaya yang dimiliki perusahaannya mencoba menjawab permasalahan-permasalahan
tersebut. ”Pembudidaya di Ambon belum ada yang menggunakan teknologi ini. Kami
berharap digitalisasi ini bisa masuk dan membantu,” ujarnya. (Yoga)
Beban Hidup Nelayan Semakin Berat
Kondisi nelayan di Indonesia kian sulit, terutama nelayan
kecil dan tradisional. Biaya kebutuhan hidup yang meningkat semakin timpang
dengan pendapatan nelayan yang kian menyusut. Data BPS memaparkan, nilai tukar
nelayan (NTN) terus melandai dalam enam bulan terakhir. Pada Februari 2024 NTN
tercatat sebesar 101,59 atau turun 0,15 % dibandingkan dengan Januari 2024 yang
101,74. Tren penurunan NTN mulai terlihat sejak September 2023 yang tercatat
105,64, pada Oktober 2023 sebesar 104,84, kemudian pada November turun ke
103,52, dan di Desember 2023 menjadi 102,46.
Sekjen Serikat Nelayan Indonesia Budi Laksana mengungkapkan,
terdapat sejumlah faktor yang membebani penghidupan nelayan, antara lain harga
bahan kebutuhan pokok yang terus meningkat serta biaya melaut yang tinggi
karena sulitnya mendapatkan BBM bersubsidi. Nelayan kecil terpaksa membeli BBM
secara eceran dengan harga lebih tinggi. Sementara harga jual ikan dari hasil
melaut justru menurun. ”Pengeluaran tidak sebanding dengan pemasukan. Kebutuhan
biaya nelayan semakin tinggi, sedangkan pendapatan berkurang karena harga jual ikan
turun. Ini membuat beban nelayan bertambah,” ujar Budi saat dihubungi, Senin
(4/3). (Yoga)
Mimpi Pulau Pasaran Mengekspor Teri
Pulau Pasaran yang terletak di pesisir Bandar Lampung,
Lampung, tepatnya di Kelurahan Kota Karang, Kecamatan Teluk Betung Timur,
selama ini dikenal sebagai sentra produksi ikan teri. Saat ini, pulau seluas 12
hektar itu bertransformasi menjadi kampung nelayan modern dengan berbagai
fasilitas. Mimpi ekspor ikan teri dari Lampung dimulai dari sana. Di bawah
terik matahari, puluhan ibu sibuk memilah ikan teri yang dijemur di atas papan
anyaman bambu, Rabu (7/2). Mereka dengan cekatan mengumpulkan ikan teri
berdasarkan ukurannya. Teri-teri berukuran besar dikumpulkan dalam keranjang
khusus sebelum dikemas dalam plastik. Kesibukan para buruh harian lepas dan
aktivitas pengolahan ikan teri yang dilakukan para nelayan membuat perekonomian
di Pulau Pasaran terus bergerak. Setiap hari, berton-ton ikan teri yang diolah
di pulau tersebut dikirim ke Jakarta untuk selanjutnya dikirim ke daerah lain
di Jawa. Sisanya dipasarkan ke beberapa daerah di Lampung.
Dalam sehari, Pulau Pasaran bisa menghasilkan 6 ton hingga 8 ton
ikan teri. Denyut perekonomian di sentra pengolahan ikan teri terbesar di
Lampung itu semakin terasa dengan berdirinya Sentra Pengolahan Ikan Pulau Pasaran
dengan fasilitas unit pengolahan ikan untuk mendukung peningkatan kualitas dan
hilirisasi produk ikan teri. Di dalamnya terdapat ruang pendingin, rumah pengeringan
ikan, dan alat uji mutu ikan. Semua sistem pengolahan ikan menggunakan standar
ekspor. Selain itu, terdapat juga sentra kuliner yang menjual berbagai produk
ikan teri kemasan dan berbagai produk olahannya, seperti keripik teri, peyek
teri, sambal teri, atau teri goreng. Saat meresmikan Sentra Pengolahan Ikan
Pulau Pasaran sebagai kampung nelayan modern pada 7 Februari 2024,
Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP
Budi Sulistyo mengatakan, pembangunan fasilitas unit pengolahan ikan diharapkan
dapat mendorong kegiatan ekspor ikan teri dari Pulau Pasaran. Selain membangun
infrastruktur, pemerintah juga telah memberikan pendampingan untuk meningkatkan
kompetensi masyarakat. Pemerintah juga telah membantu untuk melakukan pengujian
sampel ikan teri hingga sesuai dengan standar untuk bisa diekspor. Ketua
Koperasi Produsen Nelayan Kalaju Pulau Pasaran Said menuturkan, saat ini pihaknya
dibantu pemerintah sedang menjajaki kerja sama untuk bisa mengekspor ikan teri
langsung dari Lampung. Selama ini, sebagian besar ikan teri dari Pulau Pasaran
hanya dikirim ke Jakarta. Ke depan, ia berharap Pulau Pasaran tidak hanya
dikenal sebagai sentra ikan teri di Lampung, tetapi juga dikenal sebagai daerah
pengekspor ikan teri dengan kualitas terbaik. ”Kami sedang mencari pembeli dari
beberapa negara tetangga, seperti Malaysia,” kata Said. (Yoga)
Nelayan Kecil Tolak Wacana Larang Subsidi
Kelompok nelayan kecil Indonesia menolak usulan Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO soal rencana membatasi dan melarang subsidi perikanan bagi nelayan, yang menjadi agenda utama pembahasan Konferensi Tingkat Menteri ke-13 WTO yang berlangsung di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 26-29 Februari 2024. ”Jika negosiasi ini disepakati, nelayan kecil di Indonesia tidak akan lagi mendapat subsidi. Hal ini jelas akan makin membebani nelayan kita,” ujar Direktur Eksekutif Indonesia for Global Justice (IGJ) Rahmat Maulana Sidik saat dihubungi pada Kamis (29/2). Dalam rancangan teks subsidi perikanan yang dibahas pada konferensi tersebut, WTO berencana melarang delapan jenis subsidi yang dinilai berkontribusi pada kegiatan penangkapan ikan berlebih dan melewati kapasitas secara ilegal, tidak terlaporkan, dan tidak teregulasi (illegal, unreported, and unregulated/IUU overcapacity & overfishing).
Subsidi yang dilarang antara lain subsidi dalam bentuk BBM, asuransi, biaya pegawai, dan teknologi pencarian ikan. Dalam keterangan resminya, alasan WTO mendorong pengaturan subsidi itu, agar bisa menciptakan kegiatan ekonomi kelautan yang berkelanjutan. Rahmat menjelaskan, dalam negosiasi tersebut, WTO mengharuskan perubahan regulasi subsidi di negara anggota,termasuk Indonesia. Jika perjanjian WTO itu disahkan dan Indonesia ikut meratifikasi, UU No 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan, dan Petambak Garam berpotensi berubah.
UU ini menyebut pemberian subsidi langsung bagi nelayan. Intervensi oleh WTO ini, imbuh Rahmat, dapat mengancam kedaulatan nelayan kecil dan tradisional. Oleh karena itu, IGJ bersama Kelompok Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) dan Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) menyuarakan penolakan terkait rencana WTO tersebut. Ia mengatakan, aspirasi dan rekomendasi ini sudah disampaikan kepada delegasi Indonesia pada 25 Februari 2024 atau sehari sebelum KTM ke-13 WTO dilaksanakan. Harapannya, delegasi Indonesia punya kesempatan menyampaikannya pada pembahasan dalam KTM. (Yoga)
WTO Bahas Subsidi Perikanan, Penyelesaian Sengketa, dan Netflix
Pembahasan mengenai pembatasan subsidi perikanan dan isu
ketahanan pangan berjalan alot dalam Konferensi Tingkat Menteri Ke-13
Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Penyegaran fungsi-fungsi organisasiini, utamanya
dalam penyelesaian sengketa, diperlukan di tengah kondisi perdagangan internasional
yang penuh gejolak. WTO menggelar KTM ke-13 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab
(UEA), 26-29 Februari. Acara dibuka pada Senin (26/2) petang WIB. Pada hari
kedua, Selasa, para menteri perdagangan dunia memasuki agenda pembahasan
negosiasi terkait sector perikanan dan pertanian. Dilansir dari AFP, Selasa, pembicaraan
tertutup akan berlangsung pada hari kedua konferensi yang dijadwalkan berlangsung
hingga Kamis.
Namun, pembahasan bisa molor karena tak kunjung ada konsensus
di antara 163 negara anggota dan anggota baru, yakni Komoros dan Timor Leste. Kesepakatan
penghapusan subsidi yang mendorong penangkapan ikan berlebihan (overfishing)
dan mengancam keberlanjutan stok ikan belum mencapai konsensus pada KTM ke-12,
Juni 2022. Implementasi Kesepakatan Subsidi Perikanan (Fisheries Subsidies
Agreement/FSA) baru dilakukan apabila sudah diratifikasi dua pertiga dari
seluruh anggota WTO. Selain isu subsidi perikanan, isu pertanian yang berkaitan
dengan program kepemilikan saham publik untuk tujuan ketahanan pangan menjadi
tema perundingan hari kedua.
Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Djatmiko Bris
Witjaksono mengatakan, terkait isu pertanian, Indonesia bersama negara anggota
G33, kelompok negara Afrika, Karibia, dan Pasifik, kelompok negara Afrika,
serta negara-negara kurang berkembang mendorong adanya kesepakatan mengenai
Pemilikan Saham Publik untuk ketahanan pangan. Mengenai isu subsidi perikanan,
lanjut Djatmiko, Indonesia akan memperjuangkan di fase perundingan tahap ke-2
ini agar tercipta kesepakatan yang seimbang dan efektif, khususnya, terkait
permasalahan yang belum terselesaikan, yakni overfishing overcapacity (OFOC) serta
perlakuan khusus dan berbeda (special and differential treatment/SDT) di pilar
OFOC.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies
(Celios), Nailul Huda, menjelaskan, moratorium menyebabkan hingga saat ini perusahaan
luar negeri penyedia layanan streaming musik, video, dan komutasi awan di Indonesia
tidak dibebankan tarif impor data untuk aktivitas layanan mereka. Dari sisi
pendapatan negara, kebijakan itu merugikan sejumlah negara,termasuk Indonesia, karena
menghilangkan potensi pendapatan. Secara rinci, kata Nailul, harga berlangganan
layanan streaming digital, seperti Netflix, Spotify, dan Vidio, saat ini tak menghitung
biaya impor jasa ”data” dari luar negeri. Penghentian moratorium akan menyebabkan
biaya berlangganan Netflix lebih mahal karena ada biaya bea masuk layanan data
dari luar negeri. (Yoga)
Bencana Perikanan Industrial
Menjaga Jejak Kejayaan Pertanian dan Kelautan di Pulau Obi
Hilirisasi nikel mengubah lanskap kehidupan warga Pulau Obi,
Halmahera Selatan, Maluku Utara. Daerah yang semula bergantung pada perkebunan
kelapa, rempah-rempah, dan hasil laut kini berkembang menjadi sentra hilirisasi
nikel. Namun, pertanian dan kelautan tetaplah sektor menjanjikan bagi masa
depan warga Pulau Obi yang harus dipertahankan. Jejak-jejak kejayaan komoditas
kelapa di pulau itu nyata terlihat di Desa Buton, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera
Selatan, Maluku Utara. Di sepanjang jalan, barisan pohon kelapa mendominasi. Umumnya,
pohon-pohonnya sudah tua, tak terawat, daunnya banyak yang kering, dan buahnya
dibiarkan jatuh berserakan. Dulunya, kelapa menjadi tumpuan kehidupan warga
Desa Buton. Daging kelapa dikeringkan menjadi kopra dikirim ke Makassar, Sulsel,
sebelum diekspor ke berbagai negara tujuan.
Sayang, harga kopra jatuh dalam dua tahun terakhir dari Rp
7.000 per kg menjadi Rp 5.000-Rp 6.500 per kg. Situasi ini, menurut Ketua
BUMDes Batu Putih, Mahfud Lohor (42), membuat banyak warga tidak lagi
bergantung pada kopra. Anjloknya harga kopra dari Rp 7.000 per kilogram (kg) menjadi
Rp 5.000-Rp 6.500 per Pada 2022, keadaan mulai berubah saat ia dan beberapa petani
lain diajak Harita Nickel mengembangkan komoditas pertanian, seperti semangka dan
padi lewat program Sentra Ketahanan Pangan Obi (Sentani). Kelapa yang
berserakan di bawah pohon dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk organik,
khususnya untuk semangka. Mahfud tidak menyangka, air kelapa yang selama ini
untuk melepas dahaga bisa pula menyuburkan tanaman.
Mahfud dan petani lain membuka lahan semangka seluas 3
hektar. Dalam meracik pupuk organik, para petani menggunakan air kelapa sebagai
bahan dasar, dicampur krimer kental manis, air tempe, dan gula pasir. Hasilnya,
semangka terasa manis. Dari lahan 3 hektar, para petani di BUMDes Batu Putih
bisa menghasilkan satu ton semangka. Hasilnya dijual ke Harita Nickel untuk dikonsumsi
para karyawan. Selain semangka, Program Sentani Harita Nickel juga membina
warga menanam padi, yang menghasilkan gabah kering panen (KGP) hingga 4,5 ton
per hektar setiap musim panen dari 10 hektar sawah. Peningkatan produktivitas
ini juga membuat jumlah petani di BUMDes Batu Putih bertambah, dari 10 petani
menjadi 30 petani. Beras hasil panen nantinya juga dijual ke perusahaan sebagai
konsumsi karyawan.
Di Desa Kawasi, yang berbatasan dengan kawasan pertambangan
Harita Nickel, kelompok perempuan juga dibantu mengembangkan usaha keripik
pisang dan umbi-umbian. Mereka juga memproduksi abon ikan tuna, minyak kelapa,
dan sambal roa dalam kemasan. ”Produk yang paling dicari adalah keripik pisang.
Kami awalnya tidak mengira kalau keripik pisang dikemas dan dipasarkan seperti
ini,” ujar Suryani, yang akrab dipanggil Mama Cahya, penggerak kelompok perempuan
di Kawasi. Anggota kelompoknya pun berkembang dari Sembilan orangmenjadi 19
orang. Usaha kelompok keripik ini beromzet hingga Rp 24 juta per bulan sehingga
sangat membantu menambah penghasilan anggotanya, yang sebagian besar keluarga
nelayan. Selain nikel, sektor pertanian dan perikanan yang menghidupi warga
dapat kembali menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan ekonomi Maluku Utara. (Yoga)
Sistem Rantai Dingin Jadi Hambatan
Minimnya efektivitas program tol laut menjadi salah satu
sumber tidak optimalnya pemanfaatan sektor perikanan laut. Upaya mengoptimalkan
sektor perikanan terganjal oleh masalah sistem rantai dingin hingga logistik. Deputi
I Kantor Staf Presiden (KSP) Bidang Infrastruktur, Energi, dan Investasi Febry
Calvin Tetelepta mengemukakan, tidak optimalnya ekonomi perikanan laut
disebabkan lemahnya infrastruktur logistik dan ekonomi antarpulau. Kesimpulan itu
diperoleh dari penelusuran tim KSP di pulau-pulau kecil dan terluar Indonesia tahun
2023. Dari hasil pantauan trayek transportasi laut barang, trayek barang dari
Indonesia bagian barat ke timur umumnya penuh, tetapi sebaliknya trayek dari
timur ke barat minim muatan bahkan kosong. Pemda dinilai belum memaksimalkan tol
laut untuk mendukung keunggulan komparatif daerah sehingga kapal bisa kembali
ke barat membawa penuh angkutan.
”Kita lihat tol laut itu jaringannya ke timur sangat baik, tetapi
kapal kembali (ke barat) dalam kondisi kosong. Muatan balik tidak imbang. Pemda
tidak memaksimalkan fasilitas tol laut dengan baik sehingga harga-harga tetap
semakin mahal,” ujarnya dalam Forum Hukum Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)
yang digelar KKP secara hibrida, Selasa (20/2). Febry menambahkan, ketimpangan
bongkar dan muatan balik tol laut membuat subsidi besar yang digelontorkan
pemerintah menjadi tidak efektif. Kondisi itu diperparah dengan minimnya
ketersediaan kontainer berpendingin (reefer container). Data kontainer berpendingin
milik Pelni tahun 2022, menunjukkan, total produksi perikanan yang mencapai
16.920 ton hanya ditangani kapal tol laut berkapasitas 846 TEUs.1TEUs setara
dengan 10-12 ton barang. Hambatan logistik itu dinilai mengganggu pengembangan
usaha perikanan nasional. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Alarm Inflasi Mengancam Sektor Retail
11 Oct 2022









