Lingkungan Hidup
( 5781 )Impor Jagung Pakan Belum Diperlukan
Percepatan Transisi Energi, RI Libatkan AIIB
Cara Halus Menaikkan Harga BBM
Beras, Gula, dan BBM Bakal Picu Inflasi September Ini
Pengendalian inflasi pada bulan ini hingga akhir tahun bakal
semakin menantang. Kenaikan harga beras dan gula pasir, serta penyesuaian harga
BBM nonsubsidi, diperkirakan bakal memicu inflasi pada September 2023. Di sisi
lain, defisit beras masih mengintai hingga November 2023. Plt Kepala BPS Amalia
Adininggar Widyasanti, Senin (25/9) mengatakan, pada pekan ketiga September 2023,
harga beras masih naik dan belum ada tanda-tanda bergerak mendatar atau turun. Harga
rata-ratanya mencapai Rp 13.477 per kg. Jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan
harga beras semakin banyak. Pada pekan pertama September 2023, jumlahnya
sebanyak 230 daerah, kemudian pada pekan ketiga 2023 bertambah menjadi 284
daerah.
”Bahkan, Purwakarta yang merupakan daerah produsen beras
besar di Jabar menempati urutan keempat dari 10 kabupaten/kota dengan kenaikan
indeks perkembangan harga (IPH) tertinggi. Beras menjadi komoditas utama yang memengaruhi
kenaikan IPH itu,” ujarnya dalam Rapat Pengendalian Inflasi yang digelar
Kemendagri secara daring di Jakarta. BPS mencatat, IPH komoditas pangan
Purwakarta pada pekan ketiga September 2023 sebesar 3,41 %. Dari IPH itu, 3,21 %
berasal dari kenaikan harga beras, selain itu harga gula pasir juga meroket, pada
pekan ketiga September 2023 mencapai Rp 15.134 per kg, yang terjadi di 236 kabupaten/kota.
”Kenaikan harga beras dan gula akan berkontribusi terhadap inflasi September
2023. Selain itu, inflasi juga berpotensi disumbang bensin dan solar nonsubsidi.
Namun, inflasinya tidak akan setinggi sebelumnya,” katanya. (Yoga)
Ancaman Antraks di Luar Rumah Potong Hewan
TARGET PRODUKSI MIGAS : MERINGKAS PROSES PANJANG HULU MIGAS
Beragam pemanis dan janji perbaikan iklim investasi di industri hulu minyak dan gas bumi atau migas tidak langsung membuat kontraktor kontrak kerja sama memacu kegiatannya di Tanah Air. Setelah mempersoalkan keekonomian dan skema kontrak, kini investor juga meminta penyederhanaan syarat dan alur yang harus ditempuh untuk menggarap lapangan migas. Sterlalu panjang, sehingga memperlambat kepastian produksi. Padahal, kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) menginginkan investasi yang dikeluarkannya bisa segera kembali melalui bagian produksi yang diperolehnya. Permintaan itu pun sebenarnya sudah disampaikan oleh KKKS kepada pemerintah, karena di sejumlah negara lain sudah menerapkan penyederhanaan proses setelah plan of development (PoD) disetujui guna mempercepat realisasi produksi. Pemerintah pun menjanjikan Peraturan Presiden (Perpres) yang secara khusus mengatur percepatan perizinan pengusahaan industri hulu migas akan terbit dalam waktu dekat. Finalisasi beberapa ketentuan penting dalam beleid tersebut pun akan dituntaskan pada pekan ini. Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi Jodi Mahardi mengatakan bahwa rancangan Perpres itu diharapkan dapat memangkas, serta menyederhanakan alur perizinan, pengadaan, hingga investasi hulu migas di dalam negeri yang saat ini dinilai terlalu panjang. Penyederhanaan alur itu sekaligus bakal menjadi instrumen non-fiskal yang ditempuh pemerintah untuk menarik minat investor di sisi industri hulu migas. Rencananya, kata Jodi, beberapa perizinan selepas penandatanganan kontrak bagi hasil atau production cost sharing (PSC) akan dipangkas. Misalnya pemerintah bakal menghapus perizinan untuk melakukan kegiatan eksplorasi selepas penandatanganan PSC atau sebelum PoD.
Di sisi lain, Perpres itu juga bakal mengamanatkan pengadaan barang dan jasa hulu migas melalui platform digital atau marketplace yang telah dibangun oleh SKK Migas. “Tujuan utama kami adalah agar melalui Perpres ini, kita dapat membangun iklim investasi di sektor hulu migas Indonesia yang lebih attractive dan competitive,” ucapnya. Deputi Dukungan Bisnis SKK Migas Rudi Satwiko mengatakan bahwa lembaganya telah menjalin nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan kementerian atau badan usaha terkait lainnya untuk mempercepat proses perizinan dan pengadaan di beberapa blok migas. Sementara itu, Pri Agung Rakhmanto, Founder & Advisor ReforMiner Institute, mengatakan bahwa beberapa kali pembahasan teknologi dan keekonomian dari sebuah PoD yang diajukan terlalu detail dan sangat teknis, sehingga membuat prosesnya membutuhkan waktu panjang. Pri Agung juga melihat Hal yang sama juga terjadi dalam proses pengadaan hulu migas, di mana verifikasi teknis dan proses pengecekan sebelum persetujuan terkait dengan pengadaan membutuhkan waktu yang lama. Akibatnya, KKKS merasa alur investasi di Tanah Air masih terlalu panjang dan berliku. ExxonMobil, salah satu KKKS yang mengelola blok migas di Tanah Air pun sudah secara terbuka meminta pemerintah untuk menyederhanakan syarat serta alur pengadaan barang dan jasa setelah persetujuan PoD lapangan migas diperoleh.
HARGA PANGAN : SAATNYA TURUN TANGAN DEMI BERAS MURAH
Pemerintah diminta turun tangan untuk menstabilkan harga beras di sejumlah daerah yang terus bergejolak, setelah produksi padi menurun sebagai dampak fenomena El Nino. Kebijakan pemerintah menggelar operasi pasar beras di sejumlah lokasi belum efektif menahan laju kenaikan harga komoditas pangan utama tersebut. Program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) terus dikucurkan ke berbagai saluran pasar. Sepanjang Januari hingga 23 September 2023, total beras yang digelontorkan Perum Bulog untuk SPHP mencapai 784.000 ton. Sebanyak 4.500 ton beras dijatahkan untuk stabilisasi harga beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC). Berdasarkan data Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada Senin (25/9), harga beras medium menunjukkan tren peningkatan. Tercatat harga beras medium pada Senin menjadi Rp13.140 per kilogram (kg) atau naik 0,08% dibandingkan sehari sebelumnya. Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan bahwa harga beras terus mengalami tren kenaikan hingga pekan ketiga September 2023. Dalam acara itu, dia memberikan peringatan bahwa tren kenaikan harga itu berisiko pada inflasi. Menurutnya, mayoritas kabupaten dan kota yang mengalami kenaikan indeks perkembangan harga (IPH) di pekan ketiga disumbang oleh kenaikan harga beras. Jumlah daerah yang mengalami kenaikan IPH juga bertambah dibandingkan pekan sebelumnya. Amalia melanjutkan tren harga beras kini belum menunjukkan tanda-tanda menurun ataupun stagnan. Oleh karena itu, BPS telah memberikan ancang-ancang bahwa beras akan menjadi komoditas utama penyumbang inflasi September 2023. Catatan BPS menyebutkan bahwa inflasi harga beras secara tahunan pada Agustus 2023 sebesar 13,76% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi yang tertinggi sejak Oktober 2015. Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan harga beras yang tinggi disebabkan masih tingginya harga gabah kering panen (GKP) di petani. Berdasarkan pantauan Bapanas, rata-rata harga GKP sudah berada di kisaran Rp6.580 per kg—Rp7.200 per kg. “Kami ke Sukoharjo pun harga GKP sudah Rp7.200 dan GKG sudah mencapai Rp8.200 per kilogram,” ujar Ketut. Di tengah upaya pemerintah mengulirkan bansos pangan dan SPHP, Serikat Petani Indonesia (SPI) cuma bisa gigit jari karena tidak merasakan dampak positif saat harga beras meroket selama beberapa hari terakhir. Sekretaris Umum SPI Agus Ruli Ardiansyah menegaskan terdapat sejumlah alasan pemicu petani tidak menikmati kenaikan harga beras yakni biaya produksi yang cukup tinggi dan produksi gabah yang sangat rendah. Ketua Bidang Infokom dan Propaganda Partai Buruh Kahar S. Cahyono meminta pemerintah melakukan penyelidikan kepada perusahaan besar yang diduga melakukan penimbunan beras. Alasannya, tindakan tersebut memicu terjadinya lonjakan harga di pasar rakyat. “Ini menjadi hal yang krusial,” katanya.
Menjaga Pangan, Harga, dan Bumi
Tahun ini, Hari Tani Nasional Ke-63 yang diperingati setiap
24 September sejak 1960 hadir di tengah El Nino. Fenomena iklim gelombang panas
yang menyebabkan kekeringan panjang itu mengirimkan pesan bahwa pertanian di
Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Persoalan yang muncul tak sekadar
menjaga stabilitas stok dan harga, juga menjaga bumi yang melahirkan pangan. Kekeringan
panjang menyebabkan produksi gabah dan beras turun. Kementerian Pertanian
memperkirakan produksi beras pada tahun ini bisa turun 1,2 juta ton jika El Nino
kuat melanda. Indikasinya sudah terlihat sejak Juli 2023, seperti menyusutnya
sumber-sumber utama irigasi, gagal panen di sejumlah lumbung pangan, dan mundurnya
musim tanam I. Selain itu, harga gabah dan beras juga melambung tinggi.
Berdasarkan Panel Harga Pangan Bapanas (NFA), per 24
September 2023, harga rata-rata nasional gabah kering panen (GKP) di tingkat
petani dan beras medium di tingkat eceran masing-masing Rp 6.610 per kg dan Rp
13.090 per kg, naik 28,55 % secara tahunan dan 32,2 % di atas harga pembelian
pemerintah (HPP) Rp 5.000 per kg untuk GKP di tingkat petani. Harga beras juga
naik 19,54 % secara tahunan dan berada 20,09 % di atas HET beras medium
berdasarkan zonasi, yakni Rp 10.900-Rp 11.800 per kg. Petani diuntungkan dengan
harga GKP yang tinggi. Namun, tidak semua petani merasakan. Mereka yang
kehabisan simpanan gabah mau tidak mau harus membeli beras dengan harga lebih
mahal.
Semua itu berujung pada persoalan utama, yakni produksi
beras. Food estate atau lumbung pangan yang dikembangkan di sejumlah daerah di
Indonesia masih belum optimal. Begitu juga dengan pengembangan padi lahan rawa dan
benih padi yang lebih tahan terhadap perubahan iklim masih setengah hati
dijalankan.Menjaga bumi, termasuk tanah dan air, di tengah era perubahan iklim
sangat penting. Sindhunata dalam bukunya, Ana Dino Ono Upo (Bentara Budaya
Yogyakarta, 2008), menuliskan, perubahan iklim akibat pemanasan global telah meniadakan
pranata mangsa, pedoman petani Jawa mengolah tanaman. Di tengah perubahan iklim,
ketahanan pangan yang ditopang produksi sangat penting, namun, tantangannya berat.
Tak cukup dengan memacu produksi pangan terusenerus, tetapi perlu diimbangi
dengan menjaga bumi, tanah, dan air yang melahirkan pangan. (Yoga)
Pemerintah Perkuat Ketahanan Pangan
Pemerintah Upayakan Tambahan Impor Beras
Pemerintah akan mengupayakan tambahan impor beras, untuk
mengamankan cadangan beras pemerintah atau CBP. Berbarengan dengan itu, pemanfaatan
CBP untuk menstabilkan harga beras melalui operasi pasar dan program bantuan
pangan terus dioptimalkan. Kepala Bapanas (NFA) Arief Prasetyo Adi mengatakan,
NFA melalui Perum Bulog akan mengupayakan menambah beras impor dari sejumlah
negara, termasuk China. Namun, saat ini, prioritasnya adalah menyelesaikan kuota
impor beras tahun ini yang sebanyak 2 juta ton terlebih dahulu.
”Semua sedang diupayakan. Akan sangat mudah jika sudah siap
semua dengan semua negara, termasuk China,” ujarnya ketika dihubungi, Jumat
(22/9). Arief menjelaskan, pemerintah membutuhkan tambahan beras karena CBP pemerintah di Bulog akan
terus berkurang. Bulog akan mengeluarkan 640.000 ton beras untuk bantuan pangan
bagi 21,35 juta keluarga berpenghasilan rendah pada September, Oktober, dan
November 2023. Dari target tersebut, Bulog sudah menyalurkan sekitar 50.000 ton.
Bulog juga Menyiapkan 300.000 ton beras dalam program Stabilisasi Pasokan dan Harga
Pangan (SPHP). Sebagian beras tersebut
telah digelontorkan ke ritel modern, pasar tradisional di sejumlah daerah, dan
Pasar Beras Induk Cipinang (PIBC), Jakarta. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









