HARGA PANGAN : SAATNYA TURUN TANGAN DEMI BERAS MURAH
Pemerintah diminta turun tangan untuk menstabilkan harga beras di sejumlah daerah yang terus bergejolak, setelah produksi padi menurun sebagai dampak fenomena El Nino. Kebijakan pemerintah menggelar operasi pasar beras di sejumlah lokasi belum efektif menahan laju kenaikan harga komoditas pangan utama tersebut. Program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) terus dikucurkan ke berbagai saluran pasar. Sepanjang Januari hingga 23 September 2023, total beras yang digelontorkan Perum Bulog untuk SPHP mencapai 784.000 ton. Sebanyak 4.500 ton beras dijatahkan untuk stabilisasi harga beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC). Berdasarkan data Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada Senin (25/9), harga beras medium menunjukkan tren peningkatan. Tercatat harga beras medium pada Senin menjadi Rp13.140 per kilogram (kg) atau naik 0,08% dibandingkan sehari sebelumnya. Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan bahwa harga beras terus mengalami tren kenaikan hingga pekan ketiga September 2023. Dalam acara itu, dia memberikan peringatan bahwa tren kenaikan harga itu berisiko pada inflasi. Menurutnya, mayoritas kabupaten dan kota yang mengalami kenaikan indeks perkembangan harga (IPH) di pekan ketiga disumbang oleh kenaikan harga beras. Jumlah daerah yang mengalami kenaikan IPH juga bertambah dibandingkan pekan sebelumnya. Amalia melanjutkan tren harga beras kini belum menunjukkan tanda-tanda menurun ataupun stagnan. Oleh karena itu, BPS telah memberikan ancang-ancang bahwa beras akan menjadi komoditas utama penyumbang inflasi September 2023. Catatan BPS menyebutkan bahwa inflasi harga beras secara tahunan pada Agustus 2023 sebesar 13,76% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi yang tertinggi sejak Oktober 2015. Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan harga beras yang tinggi disebabkan masih tingginya harga gabah kering panen (GKP) di petani. Berdasarkan pantauan Bapanas, rata-rata harga GKP sudah berada di kisaran Rp6.580 per kg—Rp7.200 per kg. “Kami ke Sukoharjo pun harga GKP sudah Rp7.200 dan GKG sudah mencapai Rp8.200 per kilogram,” ujar Ketut. Di tengah upaya pemerintah mengulirkan bansos pangan dan SPHP, Serikat Petani Indonesia (SPI) cuma bisa gigit jari karena tidak merasakan dampak positif saat harga beras meroket selama beberapa hari terakhir. Sekretaris Umum SPI Agus Ruli Ardiansyah menegaskan terdapat sejumlah alasan pemicu petani tidak menikmati kenaikan harga beras yakni biaya produksi yang cukup tinggi dan produksi gabah yang sangat rendah. Ketua Bidang Infokom dan Propaganda Partai Buruh Kahar S. Cahyono meminta pemerintah melakukan penyelidikan kepada perusahaan besar yang diduga melakukan penimbunan beras. Alasannya, tindakan tersebut memicu terjadinya lonjakan harga di pasar rakyat. “Ini menjadi hal yang krusial,” katanya.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023