Menjaga Pangan, Harga, dan Bumi
Tahun ini, Hari Tani Nasional Ke-63 yang diperingati setiap
24 September sejak 1960 hadir di tengah El Nino. Fenomena iklim gelombang panas
yang menyebabkan kekeringan panjang itu mengirimkan pesan bahwa pertanian di
Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Persoalan yang muncul tak sekadar
menjaga stabilitas stok dan harga, juga menjaga bumi yang melahirkan pangan. Kekeringan
panjang menyebabkan produksi gabah dan beras turun. Kementerian Pertanian
memperkirakan produksi beras pada tahun ini bisa turun 1,2 juta ton jika El Nino
kuat melanda. Indikasinya sudah terlihat sejak Juli 2023, seperti menyusutnya
sumber-sumber utama irigasi, gagal panen di sejumlah lumbung pangan, dan mundurnya
musim tanam I. Selain itu, harga gabah dan beras juga melambung tinggi.
Berdasarkan Panel Harga Pangan Bapanas (NFA), per 24
September 2023, harga rata-rata nasional gabah kering panen (GKP) di tingkat
petani dan beras medium di tingkat eceran masing-masing Rp 6.610 per kg dan Rp
13.090 per kg, naik 28,55 % secara tahunan dan 32,2 % di atas harga pembelian
pemerintah (HPP) Rp 5.000 per kg untuk GKP di tingkat petani. Harga beras juga
naik 19,54 % secara tahunan dan berada 20,09 % di atas HET beras medium
berdasarkan zonasi, yakni Rp 10.900-Rp 11.800 per kg. Petani diuntungkan dengan
harga GKP yang tinggi. Namun, tidak semua petani merasakan. Mereka yang
kehabisan simpanan gabah mau tidak mau harus membeli beras dengan harga lebih
mahal.
Semua itu berujung pada persoalan utama, yakni produksi
beras. Food estate atau lumbung pangan yang dikembangkan di sejumlah daerah di
Indonesia masih belum optimal. Begitu juga dengan pengembangan padi lahan rawa dan
benih padi yang lebih tahan terhadap perubahan iklim masih setengah hati
dijalankan.Menjaga bumi, termasuk tanah dan air, di tengah era perubahan iklim
sangat penting. Sindhunata dalam bukunya, Ana Dino Ono Upo (Bentara Budaya
Yogyakarta, 2008), menuliskan, perubahan iklim akibat pemanasan global telah meniadakan
pranata mangsa, pedoman petani Jawa mengolah tanaman. Di tengah perubahan iklim,
ketahanan pangan yang ditopang produksi sangat penting, namun, tantangannya berat.
Tak cukup dengan memacu produksi pangan terusenerus, tetapi perlu diimbangi
dengan menjaga bumi, tanah, dan air yang melahirkan pangan. (Yoga)
Postingan Terkait
Bulog Ajukan Tambahan Modal Rp 6 Triliun
Politik Pangan Indonesia Picu Optimisme
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023