Lingkungan Hidup
( 5820 )PENSIUN DINI PLTU : Pemerintah Cari Pembiayaan Alternatif
Ada Potensi Konsumen Pertamax Beralih ke Pertalite
Setelah PT Pertamina (Persero) menaikkan harga BBM nonsubidi
jenis pertamax dari Rp 13.300 per liter menjadi Rp 14.000 per liter mulai
Minggu (1/10) ada kekhawatiran konsumen pertamax beralih ke pertalite.
Pertalite adalah BBM bersubsidi yang dijual Rp 10.000 per liter. Regulasi
penggunaan BBM bersubsidi mendesak segera dikeluarkan. Berdasarkan catatan Kompas,
harga pertamax Rp 14.000 per liter menjadi yang tertinggi dalam setahun
terakhir. Pada 3 September 2022, Pertamina juga menaikkan harga pertamax dari
Rp 12.500 per liter menjadi Rp 14.500 per liter. Bertahan hingga 30 September
2022, harga pertamax lalu turun menjadi Rp 13.900 per liter per 1 Oktober 2022.
Sekretaris Perusahaan PT Pertamina Patra Niaga Irto Ginting, Minggu, membenarkan
bahwa setidaknya dalam setahun terakhir harga pertamax sudah lebih intens mengikuti
dinamika harga minyak mentah global. Oleh karena itu, penyesuaian harga per 1
Oktober 2023 juga mengikuti perkembangan yang terjadi.
Dengan adanya selisih Rp 4.000 per liter antara pertalite dan
pertamax, ada potensi migrasi pengguna dari pertamax ke pertalite yang lebih
murah. Pertamina berharap hal itu tidak terjadi. Di sisi lain, menurut Irto,
para pengguna pertamax umumnya sudah memahami jenis BBM yang sesuai untuk kendaraannya.
”Harapannya konsumen pengguna BBM nonsubsidi tidak migrasi ke pertalite. Segmen
ini umumnya memahami perlunya BBM yang sesuai dengan spesifikasi kendaraannya,”
ujar Irto. Pengamat ekonomi energi yang juga dosen Departemen Ekonomika dan
Bisnis Sekolah Vokasi UGM, Yogyakarta, Fahmy Radhi, yang dihubungi dari
Jakarta, mengatakan, ”Karena selisih harga itu, konsumen rasional akan pindah
ke pertalite. Apabila itu terjadi, akan memperbesar porsi subsidi salah sasaran
pertalite dan membebani APBN, mengingat pembatasan (pembelian BBM bersubsidi)
saatini belum dilakukan,” ucapnya. (Yoga)
Pukulan Bertubi-Tubi Harga Beras Hingga BBM
Gejolak Harga Pangan & Komoditas Kerek Inflasi
Emiten Migas Tersulut Harga Minyak
Mewujudkan Kemandirian Energi
Makanan Terbuang Akan Dicegah
Pemerintah berencana menyusun regulasi untuk mencegah
makanan terbuang, baik sebelum maupun setelah diolah. Kerugian ekonomi akibat
fenomena ini mencapai triliunan rupiah per tahun. Indonesia dapat berkaca pada negara
lain dalam menyusun dan menerapkan regulasi itu. Laporan Kementerian PPN / Bappenas
menyebut, kehilangan dan pemborosan makanan (food loss and waste/FLW)
mengakibatkan kerugian ekonomi pada setiap tahap rantai pasok makanan. Dalam
rentang tahun 2000-2019, FLW mencapai 23-48 juta ton per tahun. Kerugian
ekonominya Rp 213 triliun-Rp 551 triliun per tahun atau 4-5 % PDB Indonesia per
tahun.
Kepala Bapanas Arief Prasetyo mengatakan, besaran tumpukan
FWL setara dengan 115-184 kg per kapita per tahun. Padahal, makanan-makanan itu
jika dapat dimaksimalkan penggunaannya berpotensi dikonsumsi 61-125 juta orang
atau 29-47 % populasi Indonesia. ”Dalam hal ini, pemerintah, kemudian DPR,
menginisiasi (masalah) ini perlu diregulasi,” ujar Arief dalam seminar
”Komitmen dan Aksi Bersama Transformasi Sistem Pangan Melalui Upaya Pencegahan
Food Waste di Indonesia”, di Jakarta, Jumat (29/9). (Yoga)
Saat Nadi Ekonomi Leuwiliang Terbakar
Rulan (54) bergegas setelah mendapat kabar Pasar Leuwiliang,
Kabupaten Bogor, Jabar, terbakar, Rabu (27/9) sekitar pukul 20.00. Ia tidak
bisa menyelamatkan barang dagangannya di kios Blok A. Ia dan pedagang lain tidak
berdaya saat api cepat menyebar dan membesar. ”Habis semua, tidak ada satu pun
dagangan pakaian terselamatkan. Saya datang sudah gede apinya. Hanya bisa pasrah,”
kata Rulan, Jumat (29/9) di lokasi pasar. Akibat kebakaran itu, Rulan mengalami
kerugian Rp 700 juta. ”Mungkin lebih. Yang pasti ini saya rugi besar,” katanya.
Hingga Kamis (28/9) pukul 13.30, asap pekat masih menyelimuti gedung utama di Blok
A dan B Pasar Leuwiliang. Sejumlah pedagang tampak mengais-ngais barang
dagangannya di tengah hawa panas. Setidaknya 66 petugas dan 16 mobil pemadam kebakaran
dikerahkan untuk memadamkan api.
Ujang (68), pedagang pakaian di Blok A, hanya bisa berdiri
menatap lapaknya yang hangus terbakar. Tidak banyak barang yang bisa ia
selamatkan karena api cepat menyebar. Ia hanya berharap, pascakebakaran bisa
segera berjualan kembali sehingga tak terus merugi. Pemerintah diharapkan juga bisa
memberikan bantuan ke pada pedagang yang terdampak agar bisa melanjutkan roda
ekonomi. Akibat kebakaran itu, dari total 590 kios, sebanyak 550 kios terbakar.
Selanjutnya, dari 641 los, 580 los terbakar. Sementara dari total 835 lapak tenda,
yang terbakar sebanyak 450 lapak. Di luar itu, ada total 1.619 lapak yang
terbakar dan 2.066 pedagang terdampak. Bupati Bogor Iwan Setiawan menyadari
kebakaran Pasar Leuwiliang merugikan pedagang. Insiden itu juga berdampak pada
warga yang hendak membeli barang untuk memenuhi kebutuhan hariannya. Pasar yang
berdiri tahun 2004 itu merupakan pasar terbesar di Kabupaten Bogor selatan. Karena
dinilai penting dan roda ekonomi harus terus berputar, menurut Iwan, Pasar Leuwiliang
perlu segera direvitalisasi. Pasar sementara juga perlu disiapkan agar para pedagang
bisa segera berjualan. (Yoga)
Sulit Maju Tanpa Industri Baterai
Barang Impor di Mana-mana
Embel-embel impor membuat barang dinilai lebih berkelas. Di sisi
lain, barang impor produksi massal berharga murah sehingga menekan produk dalam
negeri. Topik perihal social commerce mencuat, yang dipicu, antara lain, barang
impor yang dijual lewat platform digital dan kios-kios di Pasar Tanah Abang
yang sepi. Pemerintah, melalui Permendag, lantas menegaskan, e-commerce tidak
boleh menyatu dengan medial sosial dalam satu platform. Hal lain, kedua
platform itu tak boleh menjual produknya sendiri, tetapi menjual UMKM
(Kompas.id, 27/9). Kedua hal itu disebutkan dalam Permendag No 31 Tahun 2023
tentang Perizinan Berusaha, Periklanan, Pembinaan, dan Pengawasan Pelaku Usaha
dalam Perdagangan melalui Sistem Elektronik. Permendag itu merupakan revisi
atas Permendag No 50/2020.
Di balik riuh rendah pembahasan soal social commerce, ada persoalan
lain yang tak kalah mendesak untuk
dituntaskan. Persoalan itu berupa kekuatan industri di dalam negeri untuk menghasilkan
produk yang diperlukan masyarakat. Produk berkualitas dengan harga murah dan
mudah diperoleh akan membuat masyarakat berpaling dari barang impor. Berdasarkan
data BPS, impor pada Januari-Agustus 2023 senilai 147,178 miliar USD. Dari
jumlah itu, 72,92 % berupa bahan baku/penolong, 17,57 % barang modal, dan 9,51 %
berupa barang konsumsi. Barang impor, yang dijual melalui berbagai platform,
ada di mana-mana. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









