;
Kategori

Lingkungan Hidup

( 5820 )

ESDM Dorong Pembukaan Lahan Perkebunan, Kejar Impelemtasi E20

30 Apr 2026
Menyusul dorongan dari Kementerian ESDM, pembukaan lahan perkebunan kini dipercepat untuk mencapai target E20 pada tahun 2028. Kolaborasi lintas sektor dan pembangunan pabrik bioetanol baru menjadi fokus utama dalam implementasi ini. Di sisi lain, tantangan seperti ketersediaan bahan baku juga perlu diselesaikan. Dalam upaya menjaga keberlanjutan, pertumbuhan hulu di luar Jawa menjadi prioritas untuk memenuhi kebutuhan bahan baku bioetanol. Implementasi E20 yang dilakukan merupakan bagian dari strategi menghadapi krisis energi global. Langkah progresif ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk perusahaan-perusahaan besar seperti PT Pertamina (Persero) dan PT Medco Energi Internasional Tbk.

Harga Emas Antam Anjlok Lagi!

30 Apr 2026
Harga emas Antam kembali turun hari ini, dengan harga emas Antam 24 karat turun Rp 15.000 per gram menjadi Rp 2.769.000 per gram. Harga emas terkecil 0,5 gram dijual seharga Rp 1.434.500, sementara emas 10 gram dijual dengan harga Rp 27.185.000 dan emas 1 kg dibandrol Rp 2.709.600.000. Harga emas Antam juga turun dalam sepekan terakhir, dengan rentang harga Rp 2.805.000 - Rp 2.769.000 per gram. Buyback harga emas juga turun Rp 24.000 per gram menjadi Rp 2.549.000 per gram.

Menakar Dampak Formula Baru HPM Nikel Terhadap Ekosistem Hulu dan Hilir

30 Apr 2026

Jakarta. Wajah industri nikel tanah air resmi mengalami perubahan per 15 April 2026. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi memberlakukan Keputusan Menteri Nomor 144.K/2026 tentang Pedoman Penetapan Harga Patokan untuk Penjualan Komoditas Mineral Logam dan Batubara. Aturan ini mengubah formula Harga Patokan Mineral (HPM) yang selama ini menjadi acuan transaksi bijih nikel di Indonesia. Namun, perubahan ini membawa dampak yang berbeda, perubahan ini seperti angin segar bagi penambang sekaligus awan mendung bagi para pengelola smelter.

Perubahan paling fundamental dalam beleid baru ini adalah dimasukkannya nilai mineral ikutan seperti kobalt (Co) dan besi (Fe) ke dalam rumus perhitungan HPM. Selama ini, unsur-unsur bernilai ekonomi tinggi tersebut seolah menjadi bonus bagi pembeli karena belum dihargai secara optimal dalam formula lama yang hanya berbasis kadar nikel (Ni).

Keuntungan di Sektor Hulu

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI), Sudirman Widhy Hartono, melihat revisi ini sebagai kemenangan bagi pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP). Dengan formula baru, harga jual bijih nikel, baik tipe saprolit maupun limonit, dipastikan terkerek naik.

Khusus untuk bijih nikel kadar rendah atau limonit, kenaikannya diprediksi sangat fantastis, bahkan bisa melampaui 100%. Penyebab utamanya adalah kandungan kobalt dalam limonit yang kini mulai diperhitungkan secara nyata, sehingga keuntungan yang diperoleh penambang akan mengalami kenaikan yang signifikan.

Smelter Dalam Tekanan Besar

Namun, kegembiraan di hulu berbanding terbalik dengan kondisi di hilir. Bagi industri pengolahan (smelter), kenaikan HPM adalah tambahan beban biaya produksi (COGS) yang signifikan di tengah tren harga nikel global yang masih fluktuatif.

Smelter berbasis Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) yang menghasilkan Nickel Pig Iron (NPI) kini terjepit. Di satu sisi, mereka harus membayar bahan baku lebih mahal, sementara di sisi lain, mereka menghadapi lonjakan harga energi (batu bara dan BBM) serta kondisi pasar global yang mengalami overproduksi NPI.

Kondisi lebih kritis dialami oleh smelter berbasis High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang mengolah limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). Industri ini sudah lebih dulu tertekan oleh lonjakan harga asam sulfat (bahan baku utama pelindian) yang naik tinggi dari di bawah US$ 100 per ton menjadi US$ 250 per ton dalam tiga tahun terakhir.

Berdasarkan hitungan PERHAPI, kombinasi kenaikan harga limonit dan asam sulfat bisa mendorong biaya produksi MHP hingga menembus angka US$ 17.000 per ton. Angka ini sangat riskan karena sudah mendekati harga pasar nikel di London Metal Exchange (LME).

Dilema Penerimaan Negara dan Keberlanjutan

Pemerintah, melalui Dirjen Minerba Tri Winarno, menegaskan bahwa perubahan formula ini adalah langkah optimalisasi pendapatan negara dari sumber daya alam, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Dengan harga acuan yang lebih tinggi, otomatis royalti yang masuk ke kas negara juga akan meningkat.

Meski demikian, PERHAPI mengingatkan pemerintah agar tidak menutup mata terhadap daya tahan industri hilir. Jika keekonomian pabrik pengolahan sudah tidak lagi menarik, ancaman penghentian operasi smelter bisa menjadi kenyataan. Jika ini terjadi, efek dominonya akan sangat panjang, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga target hilirisasi nasional yang terancam mandek.

Kini, bola panas ada di tangan para pelaku industri. Bagaimana mereka melakukan efisiensi operasional akan menjadi penentu: apakah formula baru ini menjadi momentum kejayaan mineral Indonesia, atau justru menjadi titik balik lesunya investasi di sektor hilir.(Zain)

Biodiesel Menguat, Pasokan Jadi Kunci: Roadmap Sawit untuk Ketahanan Energi

29 Apr 2026
Pasokan TBS dan CPO menjadi kunci dalam penguatan biodiesel sebagai strategi ketahanan energi. Diperlukan intensifikasi dan peningkatan produktivitas kebun sawit, serta tata kelola data yang kuat untuk memastikan pasokan yang berkelanjutan tanpa mengorbankan kebutuhan pangan dan lingkungan. Implementasi B40 untuk solar merupakan langkah awal, dengan rencana meningkatkan porsi campuran biodiesel menuju B50. Uji B50 lintas sektor telah dilakukan untuk memastikan kompatibilitas dan keamanan teknis. Namun, masih terdapat tantangan terkait kesiapan pasokan bahan baku sawit mengikuti kenaikan kebutuhan biodiesel. Oleh karena itu, pasokan sawit perlu dijadikan prioritas dalam kebijakan energi untuk memastikan ketahanan energi nasional yang berkelanjutan.

Kenaikan BBM Hantam Logistik Batam, Harga Barang Terancam Naik

21 Apr 2026
dampak ganda dari kenaikan harga BBM nonsubsidi di Batam. Mereka tidak hanya harus menanggung biaya produksi yang lebih tinggi, tetapi juga harus menghadapi kenaikan biaya logistik akibat kebijakan tersebut. APINDO dan ALFI Batam menekankan pentingnya solusi dari pemerintah, seperti memberikan insentif dan akses BBM subsidi untuk meringankan beban pelaku usaha dan menjaga stabilitas harga barang. Situation ini menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM dapat memiliki dampak yang luas, baik bagi industri maupun masyarakat secara umum. Oleh karena itu, perlu adanya langkah konkret untuk mengatasi masalah ini sebelum lebih lanjut merugikan perekonomian dan keberlangsungan bisnis di Batam.

Maskapai Terancam Kehabisan Avtur Imbas Perang AS-Iran

21 Apr 2026
Pesawat ke destinasi lainnya juga mengalami kenaikan yang signifikan. Para analis memperkirakan bahwa krisis pasokan avtur ini akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan, yang berpotensi membuat harga tiket pesawat semakin melonjak. Maskapai penerbangan di seluruh dunia harus bersiap menghadapi konsekuensi dari perang AS-Iran ini, yang dapat mengancam kelangsungan operasional mereka. Untuk sementara, mereka diharapkan dapat menyesuaikan jadwal penerbangan dan menetapkan strategi untuk mengatasi krisis ini. Semua pihak berharap agar situasi ini segera mereda dan pasokan avtur dapat segera pulih.

Pemerintah Matangkan Rencana Pajak Ekspor Nikel untuk Menggenjot Penerimaan Negara

31 Mar 2026

JAKARTA – Pemerintah Indonesia tengah bersiap mengambil langkah strategis baru di sektor pertambangan. Setelah sukses dengan kebijakan larangan ekspor bijih nikel mentah, kini giliran produk turunan nikel tingkat rendah, seperti Nickel Pig Iron (NPI) dan feronikel, yang masuk dalam radar kebijakan fiskal. Pemerintah berencana mengenakan bea keluar atau pajak ekspor terhadap komoditas tersebut guna memperkuat penerimaan negara dan mendorong hilirisasi yang lebih berkualitas.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, baru-baru ini mengungkapkan bahwa kajian mengenai pengenaan pajak ekspor ini sedang dimatangkan. Menurutnya, nikel merupakan komoditas strategis yang permintaannya terus meningkat di pasar global, terutama untuk kebutuhan baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Oleh karena itu, pemerintah merasa perlu mengatur arus keluar produk turunannya agar memberikan nilai tambah yang optimal bagi ekonomi domestik.

Bukan Sekadar Mengejar Target Fiskal

Rencana pengenaan pajak ekspor nikel ini bukan sekadar upaya menutup defisit anggaran atau sekadar mengejar target penerimaan negara. Fokus utama pemerintah adalah mendorong industri hilirisasi untuk "naik kelas". Saat ini, sebagian besar olahan nikel di Indonesia masih berupa NPI yang memiliki nilai tambah relatif rendah dibandingkan produk olahan lebih lanjut seperti nikel sulfat atau baja tahan karat (stainless steel).

Dengan adanya pajak ekspor, diharapkan para pelaku industri akan lebih terdorong untuk membangun fasilitas pemurnian yang menghasilkan produk akhir yang lebih bernilai tinggi di dalam negeri. Selain itu, kebijakan ini juga berfungsi sebagai instrumen untuk menjaga keseimbangan stok nikel domestik agar kebutuhan industri dalam negeri tetap terjamin.

Kepastian Waktu dan Formulasi

Meski rencana ini sudah mencuat ke publik, Bahlil menegaskan bahwa implementasinya tidak akan dilakukan secara terburu-buru. Berbeda dengan isu bea keluar batu bara yang sempat disebut akan berlaku per 1 April, pemerintah memastikan bahwa kebijakan untuk nikel masih dalam tahap penghitungan formulasi yang presisi.

Kementerian ESDM bersama kementerian terkait tengah menghitung besaran tarif yang ideal. Tujuannya agar pajak ini tidak membebani pelaku usaha secara berlebihan, tetapi tetap efektif dalam memberikan kontribusi terhadap kas negara. Formulasi ini sangat krusial agar daya saing nikel Indonesia di pasar internasional tidak tergerus oleh kebijakan fiskal dalam negeri.

Sentimen Pasar dan Harapan Industri

Rencana kebijakan ini tentu menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar modal dan investor. Isu pajak ekspor, bersama dengan sentimen terkait Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) serta Harga Patokan Mineral (HPM), menjadi faktor penentu pergerakan saham emiten pertambangan nikel dalam beberapa waktu terakhir.

Para pelaku industri berharap pemerintah dapat memberikan masa transisi yang cukup jika kebijakan ini resmi diberlakukan. Transparansi mengenai dasar penghitungan dan mekanisme pemungutan menjadi kunci agar iklim investasi di sektor pertambangan tetap kondusif.

Jika dikelola dengan tepat, pajak ekspor nikel ini berpotensi menjadi "senjata" baru Indonesia dalam memperkuat kedaulatan ekonomi berbasis sumber daya alam. Kini, publik dan pelaku usaha menanti detail regulasi yang diharapkan mampu menyeimbangkan antara kepentingan fiskal negara dan keberlanjutan industri pertambangan nasional.

Tok! Pemerintah Putuskan Akan Naikkan Harga Mineral Acuan Nikel

27 Mar 2026
Pemerintah telah memutuskan akan menaikkan Harga Mineral Acuan (HMA) nikel untuk mendukung penerimaan negara dari sektor mineral. Keputusan ini diambil setelah Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan untuk meningkatkan penerimaan negara dari sumber daya alam, terutama mineral. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, juga menjelaskan bahwa kebijakan pemangkasan produksi nikel tidak akan diubah agar produksi dan kebutuhan industri dalam negeri seimbang, serta harga stabil di pasar. Langkah ini adalah bagian dari upaya untuk menjaga kepentingan negara dan sumber daya alam sebagai aset strategis.

Ironi Sektor Sawit: Laba Emiten Melejit di Tengah Skandal Kerugian Negara

26 Mar 2026

Ironi Sektor Sawit: Laba Emiten Melejit di Tengah Skandal Kerugian Negara

Sektor kelapa sawit Indonesia menunjukkan anomali yang tajam sepanjang tahun 2025. Di satu sisi, kenaikan harga referensi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) global memicu lonjakan kinerja keuangan emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun di sisi lain, integritas sektor ini kembali tercoreng oleh ulah pelaku usaha nakal. Kejaksaan Agung mengungkap adanya kasus korupsi rekayasa ekspor limbah CPO yang ditaksir merugikan negara hingga Rp 14,3 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan hingga 2 Maret 2026, sebanyak 23 emiten sawit yang tercatat di bursa mencatatkan rapor hijau yang impresif. Lonjakan nilai peredaran usaha dan laba bersih ini mengonfirmasi bahwa sektor perkebunan telah memasuki fase ekspansi signifikan. Seluruh emiten melaporkan pertumbuhan pendapatan dua digit dibandingkan periode yang sama pada 2024, dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 44 persen.

Kilau Laba Korporasi

Dari data yang dihimpun, sebanyak 21 emiten melaporkan kenaikan laba bersih yang signifikan di rentang 17 persen hingga 579 persen. PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMART) tampil menonjol dengan pertumbuhan laba bersih 102 persen dan total penjualan mencapai Rp 86,94 triliun. Secara kolektif, lima emiten besar yang telah merilis laporan full year 2025 mencatatkan total penjualan Rp 147,92 triliun dengan laba bersih Rp 8,03 triliun.

Kondisi ini secara teoretis memberikan dampak positif bagi postur APBN melalui setoran Pajak Penghasilan (PPh) Badan dan pungutan ekspor. Dana sawit yang dikelola negara seharusnya menjadi instrumen vital untuk mendanai program hilirisasi dan kesejahteraan petani plasma. Namun, di tengah kemilau angka-angka triliunan rupiah tersebut, muncul lubang besar dalam tata kelola ekspor yang mencederai keadilan ekonomi.

Skandal Rekayasa Ekspor

Optimisme pasar terusik oleh fakta hukum yang diungkap Kejaksaan Agung terkait rekayasa ekspor limbah CPO atau Palm Oil Mill Effluent (POME). Kasus yang mencuat pada Februari 2026 ini mengungkap praktik lancung manipulasi dokumen ekspor, di mana produk yang dikirimkan keluar negeri diklaim sebagai limbah untuk menghindari bea keluar dan pungutan ekspor yang tinggi, padahal fisik barang ditengarai merupakan produk turunan CPO bernilai tinggi.

Kerugian negara yang mencapai Rp 14,3 triliun ini merupakan tamparan keras bagi sektor yang sedang menikmati masa jaya. Nilai kerugian tersebut hampir setara dengan gabungan laba bersih belasan emiten sawit menengah dalam satu tahun. Praktik ini menunjukkan bahwa di balik performa keuangan yang mengkilap, masih terdapat celah pengawasan administratif yang sangat lebar pada rantai pasok dan pintu ekspor.

Tantangan bagi Pemerintah

Keberhasilan emiten mencetak laba besar pada 2025 seharusnya menjadi modalitas nasional, bukan justru menjadi tabir untuk menutupi praktik korporasi yang tidak sehat. Pemerintah kini menghadapi tantangan berat untuk menyeimbangkan antara pemberian insentif pertumbuhan dengan penegakan hukum yang tanpa pandang bulu.

Pertama, pemerintah perlu melakukan audit menyeluruh terhadap sistem pelaporan ekspor komoditas. Digitalisasi melalui sistem kementerian terkait harus dipastikan terintegrasi secara real-time dengan kondisi fisik di lapangan untuk mencegah rekayasa dokumen serupa di masa depan.

Kedua, transparansi tata kelola limbah. Status POME yang seringkali menjadi "celah abu-abu" dalam perpajakan harus diperjelas standarisasinya. Tanpa regulasi yang ketat, potensi penerimaan negara dari hilirisasi akan terus bocor melalui modus-modus teknis yang merugikan keuangan negara.

Ketiga, konsistensi penegakan hukum. Langkah Kejaksaan Agung dalam menyita aset-aset terkait kasus POME ini harus dikawal hingga tuntas. Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan investor di pasar modal agar mereka dapat membedakan mana emiten yang tumbuh karena fundamental bisnis yang jujur dan mana yang tumbuh melalui praktik culas.

Dengan sinergi antara performa pasar yang kuat dan pengawasan yang ketat, sektor sawit diharapkan tidak hanya menjadi penggerak ekonomi secara angka, tetapi juga bersih secara etika. Momentum laba 2025 jangan sampai hilang ditelan oleh kebocoran sistemik yang menghambat kemandirian fiskal bangsa.

Efek Substitusi Energi dan Berkah Keuntungan Sektor Batu Bara Indonesia

26 Mar 2026

JAKARTA - Lonjakan drastis harga minyak mentah dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah rupanya kembali membawa berkah keuntungan luar biasa bagi industri batu bara nasional. Fenomena peralihan bahan bakar membuat permintaan komoditas energi padat di pasar global, khususnya dari kawasan manufaktur Asia, melonjak ke level yang tidak terprediksi sebelumnya.

Banyak industri raksasa dan fasilitas pembangkit listrik di negara konsumen utama seperti China dan India terpaksa memutar haluan. Mereka kembali mengandalkan batu bara yang secara keekonomian dinilai jauh lebih murah dibandingkan harus menanggung beban biaya minyak bumi atau gas alam cair yang harganya sedang tidak terkendali. Permintaan global yang melambung ini membuat harga acuan komoditas batu bara termal Newcastle meroket secara agresif. Dari yang sebelumnya cukup stabil di kisaran USD 120 per ton pada awal tahun, harganya kini melonjak tajam menembus kisaran USD 146 per ton pada akhir Maret 2026.

Kondisi fundamental ini menciptakan fenomena keuntungan nomplok bagi perusahaan tambang batu bara di Indonesia. Respons pasar modal domestik terhadap rezeki tak terduga ini pun sangat instan dan masif. Pada penutupan perdagangan hari Rabu tanggal 25 Maret lalu, Indeks Harga Saham Gabungan melesat tajam 2,75 persen menuju level 7.302. Sektor energi, secara spesifik emiten pertambangan batu bara, menjadi motor penggerak utama penguatan indeks kebanggaan nasional tersebut.

Para investor asing terpantau sangat agresif memborong saham perusahaan tambang kakap. Data perdagangan bursa mencatat saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk atau AADI membukukan nilai beli bersih dari pemodal asing dengan angka fantastis yang menembus Rp 335 miliar hanya dalam satu hari perdagangan. Langkah serupa juga terlihat pada pergerakan saham PT Bukit Asam Tbk atau PTBA yang mencatatkan akumulasi beli mendekati angka Rp 200 miliar.

Meskipun demikian, momentum emas jangka pendek ini menuntut kebijaksanaan strategis dari para eksekutif industri terkait. Keuntungan melimpah yang diraup saat ini idealnya dialokasikan secara proporsional untuk investasi pada teknologi ramah lingkungan atau mempercepat diversifikasi portofolio bisnis. Hal ini sangat krusial mengingat peta jalan masa depan dunia tetap mengarah pada transisi menuju energi bersih yang berkelanjutan. Oleh karena itu, rezeki melimpah hari ini wajib dipandang sebagai modal transisi jangka panjang, bukan sekadar pijakan utama yang bisa diandalkan secara abadi.