Lingkungan Hidup
( 5820 )Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Di tengah eskalasi konflik antara Israel dan Iran, harga komoditas unggulan Indonesia seperti batu bara dan crude palm oil (CPO) menunjukkan tren kenaikan signifikan. Dalam sebulan terakhir, harga batu bara di ICE Newcastle naik 6,42% menjadi US$106,85/ton, sedangkan CPO meningkat 8,06% menjadi 4.129 ringgit/ton.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai bahwa fluktuasi harga kedua komoditas ini berdampak besar pada stabilitas makroekonomi dan fiskal negara, mengingat kontribusinya yang mencapai 20–25% dari total ekspor nasional. Kenaikan 10% harga komoditas bahkan bisa mengurangi defisit transaksi berjalan hingga 0,13% dari PDB. Namun, ketergantungan ekspor terhadap batu bara dan CPO juga berisiko jika terjadi penurunan harga. Oleh karena itu, Josua mendorong diversifikasi ekspor dan penguatan industri manufaktur bernilai tambah.
Sementara itu, Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, memperingatkan bahwa lonjakan harga ini bisa bersifat sementara. Jika perang terus berlanjut, ekonomi global bisa melambat, yang justru menurunkan permintaan terhadap komoditas. Untuk mengantisipasi hal ini, ia mendorong hilirisasi industri berbasis prinsip ESG agar menciptakan nilai tambah ekonomi jangka panjang.
Dari sisi pelaku industri, Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani mengonfirmasi bahwa kenaikan harga batu bara didorong oleh permintaan dari Vietnam dan gangguan pengiriman dari Australia, bukan semata dampak konflik. Namun, ia mewaspadai tekanan harga di masa depan akibat naiknya biaya logistik seiring lonjakan harga minyak.
Senada, Ketua Umum Gapki Eddy Martono juga mengkhawatirkan penurunan permintaan CPO jika konflik berkepanjangan. Ia menekankan pentingnya efisiensi biaya dan peningkatan produktivitas untuk mempertahankan daya saing industri sawit nasional.
Dengan demikian, meskipun kondisi geopolitik saat ini memberikan peluang sementara bagi ekspor, berbagai tokoh dan pelaku industri menegaskan perlunya strategi jangka panjang yang adaptif, khususnya melalui diversifikasi, hilirisasi, dan efisiensi operasional.
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Pelaku Usaha di Bandung Menjerit, Harga Elpiji 3 Kg Melejit
Harga elpiji 3 kg di Kota Bandung, Jabar, melonjak di atas Rp 20.000 per tabung ditingkat eceran. Kondisi yang terjadi sepekan terakhir ini sangat memukul para pelaku usaha kecil di bidang kuliner. Beberapa hari terakhir, harga elpiji 3 kg di tingkat eceran di Bandung melebihi harga eceran tertinggi (HET) yang baru ditetapkan pemerintah pada 16 Juni 2025, yakni Rp 19.000 per tabung. Salah seorang pelaku usaha yang terdampak kenaikan harga itu adalah Samsuddin (55) penjual gorengan di Jalan Terusan Jakarta, Kecamatan Antapani, Bandung. Dia mengaku membeli elpiji 3 kg dengan harga Rp 22.000 hingga Rp 24.000 pe rtabung. Padahal, dia membutuhkan satu tabung elpiji 3 kg per hari untuk berjualan. Ia pun mengaku takmengetahui adanya kenaikan HET elpiji 3 kg di Bandung dari Rp 16.600 menjadi Rp 19.000 per tabung pada bulan ini.
”Kondisi ini sangat memberatkan pedagang kecil seperti kami. Apalagi, pemasukan harian saya tidak mencapai Rp100.000,” ungkap Samsuddin. Dia pun berharap ada solusi dari pemda dan pusat agar kenaikan harga elpiji 3 kg tak berdampak besar bagi pelaku UMKM di Bandung. ”Kami juga berharap harga elpiji 3 kg di tingkat pedagang eceran tidak terlalu mahal seperti saat ini,” tuturnya. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyatakan, meskipun terjadi kenaikan harga elpiji, masyarakat tak perlu panik. Berdasarkan data Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Bandung, stok elpiji dipastikan aman dan distribusi masih terkendali. Farhan menyebut, penyebab utama kenaikan itu adalah berkurangnya subsidi pemerintah pusat. ”Subsidi berkurang. Ini bagian dari upaya mengendalikan inflasi. Yang penting bukan harga, melainkan distribusi barangnya tetap ada,” ujar Farhan. (Yoga)
Perang Memanas, Saham Energi Kian Mendidih
Antisipasi Penutupan Selat Hormuz
Walau cenderung turun, Harga Minyakita Masih di Atas HET
Pasokan Minyakita turun dalam tiga bulan terakhir sehingga berpotensi menghambat tren penurunan harganya. Hingga pekan III Juni 2025, harga Minyakita di 440 kabupaten/kota masih di atas harga eceran tertinggi (HET) di tingkat konsumen Rp 15.700 per liter. Kemendag diminta memperkuat pasokan Minyakita dan mencari solusi baru, juga memeratakan pendistribusian Minyakita. Hal itu mengemuka dalam Rakor Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kemendari secara hibrida di Jakarta, Senin (23/6). Rapat yang dihadiri perwakilan kementerian/lembaga sektor pangan dan pemda itu dipimpin Sekjen Kemendagri, TomsiTohir Balaw. Minyakita merupakan minyak goreng kemasan sederhana program Minyak Goreng Rakyat (MGR) yang pasokannya berasal dari pemenuhan kewajiban memasok kebutuhan domestik (DMO) MGR eksportir minyak sawit mentah dan sejumlah produk turunannya.
Harga Minyakita mulai turun, namun masih d atas HET. Per pekan III Juni 2025, harga Minyakita di 90 % kabupaten / kota di Indonesia masih di atas HET. Pasokan Minyakita juga cenderung turun. ”Negara kita adalah produsen terbesar minyak sawit dunia. Seharusnya mudah mengatasi masalahMinyakita. Namun, sudah tiga tahun dibahas di rapat ini, masalah itu belum jugatuntas,” ujarnya. Berdasar data Kemendag, per 20 Juni 2025, harga rerata nasional Minyakita ditingkat konsumen Rp16.702 per liter atau turun 0,6 % secara bulanan dan 1,76 % secara tahunan. Namun, harga Minyakita berada 6,73 % di atas HET. Kemendag juga mencatat, per pekan III Juni 2025, realisasi DMO MGR dalam bentuk Minyakita sebanyak 98.269 liter, yang terus turun sejak April2025. Pada April dan Mei 2025, realisasinya 149.181 ton dan 142.353 ton. BPS menunjukkan, per pekan III Juni 2024, harga Minyakita di 440 kabupaten/kota dari total 514 kabupaten/kota di Indonesia masih di atas HET. (Yoga)
Konflik Timur Tengah membuat Harga Minyak Dunia Menuju 80 USD
Eskalasi konflik Iran-Israel yang belakangan melibatkan AS, menyebabkan lonjakan harga di pasar minyak dunia. Harga minyak diprediksi akan mencapai 80 USD per barel dalam jangka pendek. Eskalasi konflik juga membuat pasar finansial dunia bergejolak. Minyak mentah WTI pada Senin (23/6) pukul 14.00 mencapai 74,87 USD per barel, naik 1,03 % sejak pembukaan pasar. Harga minyak mentah Brent sudah menyentuh 78 USD per barel, bahkan sempat menyentuh 79 USD per barel, tertinggi sejak Januari 2025. Pengamat komoditas, Sutopo Widodo mengatakan, pemicu utama lonjakan harga minyak mentah dunia adalah serangan AS terhadap tiga fasilitas nuklir Iran pada akhir pekan. Pergerakan harga ini merupakan reaksi langsungpasar yang cukup agresif terhadap kian panasnya ketegangangeopolitik di Timur Tengah.
Kekhawatiran yang lebih besar muncul terkait ancaman Iran menutup Selat Hormuz. ”Harga minyak akan melonjak ekstrem, berpotensi menembus 100 dollar per barel, bahkan lebih tinggi, memicu inflasi di seluruh dunia dan menyeret ekonomi global dalam resesi,” ungkapnya. Pengamat komoditas, Ibrahim Assuaibi menjelaskan, dalam jangka pendek, harga minyak mentah bisa naik kelevel 80 USD per barel. Jika Iran menutup Selat Hormuz, harga minyak bisa terus meningkat. Analisis Oxford Economics memperkirakan harga minyak dunia bisa meroket sampai 130 USD per barel dalam situasi itu, jauh di atas asumsi harga minyak mentah di APBN 2025 sebesar 82 USD per barel, yang berdampak pada stabilitas fiskal Indonesia sebagai importir neto minyak. Setiap kenaikan 1 USD harga minyak mengakibatkan pembengkakan belanja negara Rp 10 triliun dan harga minyak 130 USD/barel akan memicu defisit fiskal hingga Rp 330 triliun. (Yoga)
Hingga Juni, Penerima Manfaat MBG Mencapai 5,2 Juta Orang
Kenaikan Harga Minyak Dongkrak Saham Energi
Krusialnya Perluasan Jangkauan dan Stabilitas Listrik
Peningkatan rasio elektrifikasi, yang masih dibawah 100 %, penurunan susut jaringan dalam kelistrikan demi stabilitas pasokan listrik dinilai krusial. Selain mendukung ketahanan energi nasional, hal itu juga bagian dari pemanfaatan energi terbarukan. PLN berupaya meningkatkan keandalan pasokan dengan digitalisasi. Peneliti Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep), Akmaluddin Rachim, Jumat (20/6) mengatakan, tak dimungkiri kondisi Indonesia yang merupakan negara kepulauan menjadi tantangan perluasan jangkauan elektrifikasi. Namun, bukan berarti tidak bisa di-akukan akselerasi. ”Selain rasio elektrifikasi, juga terkait keandalan listrik ke masyarakat yang perlu terus ditingkatkan. Pemerintah (pusat dan daerah), perlu terus mendorong PLN untuk itu, dengan memanfaatkan sumber-sumber energi terbarukan di daerah,” kata Akmaluddin. Di tengah isu perubahan iklim, transisi dari fosil ke energi bersih menjadi keniscayaan, maka pengembangan energi terbarukan perlu terus dipacu.
Pemanfaatan energi terbarukan oleh kelompok-kelompok masyarakat lokal perlu didukung, bahkan diajak berkolaborasi. Sejatinya tiap daerah di Indonesia memiliki potensi sumber energi terbarukan, termasuk hidro (air) dan surya, yang perlu dipetakan serta dimanfaatkan lebih lanjut untuk meningkatkan jangkauan serta keandalan listrik di daerah tersebut. Menurut data Laporan Kinerja Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM 2024, rasio elektrifikasi nasional pada 2024 adalah 99,83 % atau meningkat dari tahun sebelumnya, di 99,79 %. Upaya Kementerian ESDM untuk meningkatkan rasio elektrifikasi 100 %, berupa perluasan jaringan (grid extension), pembangunan minigrid, pembangunan pembangkit energi baru dan terbarukan, serta stasiun pengisian energi listrik dan alat penyalur daya listrik. Digitalisasi PLN meningkatkan keandalan pasokan listrik pada 2024 seiring transformasi digital dan pemeliharaan intensif. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









