;
Kategori

Lingkungan Hidup

( 5820 )

Energi Bersih Indonesia Akan Segera diekspor ke Singapura

16 Jun 2025

Indonesia menjajaki peluang pengembangan energi terbarukan dengan Singa-pura, melalui kerja sama perdagangan listrik lintas batas. Strategi ini tidak semata mencari keuntungan ekonomi, tapi juga meningkatkan pembangunan energi terbarukan yang esensial bagi transisi energi. Pemerintah Indonesia dan Singapura baru saja menandatangani memorandum of understanding/MoU terkait pengembangan energi ramah lingkungan, yang dilakukan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia dan Menteri Energi dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Singapura, Tan See Leng di Kantor Kementerian ESDM pada Jumat (13/6). Tiga MoU disepakati, yakni perdagangan listrik energi yang bersih, penangkapan dan penyimpanan karbon atau carbon capture storage (CCS) lintas batas dan pembangunan kawasan industri hijau bersama di Provinsi Kepri.

Nilai investasi awal untuk tiga kerjasama itu diperkirakan di atas 10 miliar USD atau Rp 163 triliun (kurs Rp 16.300). ”Saudara-saudara kita di Singapura akan kita kirim energi terbarukan. Karena esensi kekeluargaan, kita membuka diri untuk menerima program dan kerja sama CCS. Di dunia, saat ini, mustahil suatu produk industri bisa bersaing dengan produk lain jika tidak menggunakan energi terbarukan atau prosesnya tidak mendekati industri hijau yang baik,” tutur Bahlil. Kerja sama ini dilatarbelakangi keinginan Singapura untuk mendapat pasokan listrik bersih dari Indonesia, yang akan mendukung industri hijau di kedua negara dan secara signifikan menurunkan emisi karbon. Keinginan ini sebelumnya ditunjukkan lewat penandatanganan MoU yang dilakukan Menteri ESDM sebelumnya, Arifin Tasrif, dengan Tan See Leng pada 8 September 2023. (Yoga)


Ekonomi terpukul akibat Perang Iran-Israel

16 Jun 2025

Iran-Israel fokus menyerang infrastruktur ekonomi masing-masing. Rudal-rudal Iran dilaporkan menyasar sejumlah infrastruktur energi Israel di Haifa danTamra. Analis menyebut serangan itu pembalasan Iran karena militer Israel mengincar infrastruktur energi Iran. Depo Shahran dekat ibu kota Iran, Teheran, membara pada Minggu (15/6). Depo itu tulang punggung utama pasokan energi Teheran dan kota sekitarnya. Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan Iran memutuskan menghentikan sebagian produksi energinya di Ladang South Pars. Ladang gas terbesar Iran ini berada di Provinsi Bushehr, yang juga diserang Israel. Konflik terbuka Iran-Israel menyebabkan kekhawatiran terhadap perekonomian global. Harga minyak naik 9 % pada perdagangan Jumat (13/6) dan berpotensi terus meroket. Potensi guncangan ini kembali muncul setelah militer Iran menyebut pemerintah tengah mempertimbangkan untuk menutup Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dari dan keluar Teluk Persia.

”Arab Saudi, Kuwait, Irak dan Iran sepenuhnya terkunci dalam satu jalur kecil untuk ekspor,” kata Rabobank dalam catatannya. Iran memproduksi 3,3 juta barel per hari minyak dan produk lain. Hingga 2,2 juta barel produk migas Iran diekspor setiap hari. Produksi Iran menyumbang 20 % dari 19 juta barel minyak, kondensat dan bahan bakar yang dikirim ke pasar internasional melalui Selat Hormuz, setara 20 % total konsumsi dunia. Penutupan Selat Hormuz akan mendorong harga minyak lebih tinggi, berkisar 90-100 USD per barel. Menurut Dana Moneter Internasional (IMF) kenaikan harga minyak 10 % akan meningkatkan inflasi 0,4 %. Dampak serangan Israel ke Iran telah dirasakan Mesir, yang terpaksa menghentikan operasionalisasi pabrik pupuk karena menurunnya pasokan gas alam dari Israel. Bahkan, pembangkit listrik dibatasi pasokan gasnya. Pembangkit diminta memakai minyak saja. (Yoga)


Ketidakpastian Baru Akibat Serangan Israel ke Iran

14 Jun 2025

Israel melancarkan serangan ke Iran, Jumat (13/6). Iran pun membalas serangan Israel. Dunia terjerumus dalam perang baru yang memperburuk ketidakpastian perekonomian global. Seusai serangan itu, harga minyak dunia sontak melejit. Bursa Asia langsung melemah dan harga emas meningkat. Mengacu data Market Insider, harga minyak dunia melesat di atas 8 % pada Jumat pagi. Pada Kamis, pergerakan harga sempat melandai dan ditutup di rentang 69 USD per barel. Harga minyak dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik 10,17 % pada level 75,84 USD per barel menjelang Jumat tengah hari WIB. Sementara harga minyak dunia jenis Brent naik 9,51 % pada level 77,03 USD per barel.

JP Morgan memperkirakan, jika ada eskalasi tensi, harga minyak dunia bisa melonjak hingga 120 USD per barel. Dengan harga minyak yang meningkat, ada potensi kenaikan inflasi konsumen (CPI) di AS, yang berdampak terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve. Serangan militer Israel ke Iran mendorong kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah sebagai pusat produksi minyak dunia. ”Serangan Israel terhadap Iran merupakan salah satu dari 10 risiko global teratas, tapi pasar Asia diperkirakan pulih dengan cepat karena paparan terhadap konflik tersebut relatif terbatas dan hubungan yang semakin erat dengan Arab Saudi dan UEA yang tidak terpengaruh,” kata Xu Tiachen dari The Economist Intelligence. (Yoga)


Tarif Trump dan Naiknya Biaya Impor Pangan Dunia

14 Jun 2025

Dalam dua tahun terakhir, import bill atau tagihan impor pangan global kian membengkak. Kedepan, tagihan yang mencerminkan biaya impor itu bakal semakin bengkak akibat tarif tambahan dasar dan resiprokal yang digulirkan Presiden AS, Donald Trump. Pada 12 Juni 2025, Organisasi Pangan dan Pertanian(FAO) merilis ”Food Out-look” edisi Juni 2025 di Roma, Italia, yang memuat perkembangan, tinjauan dan prospek berbagai komoditas pangan dunia berikut isu khusus penyertanya, diantaranya tagihan pembayaran impor pangan dunia. FAO menyebut tagihan impor pangan global melonjak ke rekor tertinggi baru dalam sejarah perdagangan pangan dunia, mencapai 2,1 triliun USD pada 2024, melonjak 71,4 miliar USD atau 3,6 % dari tahun 2023, terutama didorong kenaikan biaya impor sebesar 29,3 % untuk kopi, teh, kakao dan rempah-rempah; 8,1 % untuk buah-buahan dan sayuran; serta 5,6 % untuk daging. Sejumlah faktor memengaruhi kenaikan harga berbagai komoditas pangan yang memicu lonjakan tagihan impor.

Pada 2023-2024, panas ekstrem, hujan ekstrem dan banjir menjadi penyebab utamanya. Penyebab lainnya adalah gangguan rantai pasok akibat konflik geopolitik, seperti di Terusan Suez dan Laut Hitam, serta penurunan sumber air Terusan Panama. Kenaikan harga komoditas juga dipicu kenaikan tarif impor serta pembatasan ekspor dan impor. Kepala Ekonom FAO Maximo Torero berkata, pada 2025, ketegangan dan ketidakpastian kebijakan perdagangan menurunkan volume impor pangan dan mendongkrak harga pangan dunia, yang membuat tagihan impor pangan dunia kian melambung. Pada 2 April 2025, Trump mengumumkan tambahan tarif atau bea masuk dasar sebesar 10 % untuk semua barang dari sejumlah negara dan mengenakan tarif resiprokral pada sejumlah negara yang menjadi penyebab defisit neraca dagang AS. Pada 6 Juni 2025, Indeks Harga Beras Dunia pada Mei 2025 sebesar 106,3. Walau lebih rendah 22,6 % secara tahunan, indeks itu naik 1,4 % secara bulanan. (Yoga)


Pengurangan Impor Elpiji Menjadi Fokus Pertamina

14 Jun 2025

PT Pertamina (Persero) akan fokus meningkatkan produksi gas yang bisa diolah menjadi elpiji untuk mengurangi impor elpiji yang signifikan. Dari total kebutuhan elpiji dalam negeri sebanyak 8 juta ton per tahun, 80 % diimpor sebab produksi dalam negeri tak mencukupi. Pengembangan dimetil eter sebagai pengganti elpiji akan dilanjutkan. ”Masih ada potensi yang bisa dimaksimalkan untuk menaikkan produksi elpiji nasional dari 1,6 juta ton per tahun menjadi 2,6 juta ton per tahun. Kami berkoordinasi dengan Kementerian ESDM untuk menaikkan potensi produksi tersebut sehingga porsi impor elpiji bisa berkurang,” ujar Dirut Pertamina, Simon Aloysius Mantiri dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (13/6).

Selain mengoptimalkan potensi yang ada, pihaknya akan mendorong pengembangan dimetil eter (DME) sebagai pengganti elpiji. Infrastruktur jaringan gas rumah tangga juga perlu dioptimalkan untuk utilisasi gas alam yang berfungsi layaknya elpiji. ”Dari target 200.000 jaringan gas rumah tangga, realisasinya baru 60.000 jaringan. Masih jadi PR kami ke depan. Dengan dukungan pemerintah, kami terus meningkatkan infrastruktur gas ini agar semakin maksimal,” katanya. Pertamina juga akan meningkatkan kemitraan dengan perusahaan minyak dan gas bumi (migas) global dan domestik dalam kegiatan eksplorasi untuk menemukan cadangan migas baru. (Yoga)


Sektor Migas Dapat Angin Segar dari Pasar Global

14 Jun 2025

Optimisme baru tengah menguat di sektor industri minyak dan gas (migas) Indonesia, menyusul kemajuan sejumlah proyek strategis nasional yang berpotensi mengangkat kinerja lifting minyak dan gas secara signifikan pada tahun 2025. Proyek-proyek seperti Lapangan Asap, Kido, dan Merah di Blok Kasuri yang dikelola oleh Genting Oil Kasuri Pte. Ltd. serta proyek Tangguh Ubadari, CCUS, Compression (UCC) milik BP di Papua Barat, menandai kebangkitan produksi gas dalam negeri. Ditargetkan, proyek-proyek tersebut akan menyumbang ratusan juta hingga triliunan kaki kubik gas dalam beberapa tahun ke depan.

Kabar baik juga datang dari Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu yang dikelola oleh ExxonMobil, dengan tambahan lifting minyak sebesar 30.000 barel per hari, yang memungkinkan pencapaian target nasional lifting minyak 605.000 barel per hari. Padahal sebelumnya, pencapaian lifting baru mencapai sekitar 587.084 barel per hari.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyatakan keyakinannya bahwa dengan tren positif ini, target lifting migas dalam APBN 2025 bisa tercapai. Lebih lanjut, peningkatan produksi gas domestik juga menjadi langkah penting dalam mengantisipasi potensi defisit pasokan gas di masa mendatang, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Selama ini, Indonesia masih mengimpor minyak mentah dari Arab Saudi, Afrika, dan negara Timur Tengah, serta BBM dari Singapura, India, dan Malaysia, dengan total impor mencapai sekitar 40% kebutuhan nasional. Oleh karena itu, keberhasilan pemerintah dalam mengawal proyek migas agar onstream tepat waktu dinilai sangat strategis untuk mengurangi beban impor dan memperkuat ketahanan energi nasional.

Dengan kerja sama antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat, cita-cita swasembada energi bukanlah hal mustahil. Upaya kolektif ini mencerminkan langkah nyata untuk menjadikan sektor energi sebagai fondasi kesejahteraan rakyat Indonesia di masa depan.


Harga Minyak Melonjak, Emas Diburu

14 Jun 2025
Dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada Jumat (13/06/2025) menyusul para investor yang berbondong-bondong beralih ke aset-aset safe haven, pascarentetan serangan udara Israel ke Iran. Pada saat yang sama, harga minyak melonjak bersamaan dengan emas, yang diburu investor demi mengamankan aset. Jumat malam (13/06/2025), harga emas di pasar spot naik 1,46% menjadi US$ 3.433 per oz, sedangkan harga emas kontrak berjangka di Comex naik 1,58% menjadi US$ 3.456 per oz. Besarnya skala serangan di wilayah tersebut mengejutkan pasar sehingga mendorong harga dolar dan aset-aset lain, yang dianggap menawarkan perlindungan pada saat volatilitas meningkat. Indeks dolar terakhir terlihat naik 0,5% pada Jumat pagi menjadi 98,41. Peran dolar AS sebagai aset safe haven ditegaskan kembali oleh kenaikannya terhadap mata uang franc Swiss dan  yen Jepang. Masing-masing 0,33% dan 05,% pada Jumat pagi menjadi 98,41. Peran dolar AS sebagai aset safe haven ditegaskan kembali oleh kenaikannya terhadap mata uang franc swiss dan yen Jepang.  Para investor dikabarkan beralih ke aset-aset safe haven selama masa ketidakpastian demi melindungi uang mereka dari volatilitas dan mengupayakan stabilitas di saat aset-aset berisiko jatuh. (Yetede)                                                                                                

Titik Kritis Perundingan berada pada Minyak Sawit

13 Jun 2025

Sejumlah kalangan menilai, minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya bakal menjadi titik kritis perundingan Perjanjian Kerja Sama Ekonomi Komprehensif Indonesia dan Uni Eropa (UE) atau IEU CEPA. Apa-lagi, IEU CEPA juga memuat kesepakatan perdagangan dan pembangunan minyak nabati berkelanjutan. Selain itu, bea masuk nol % dinilai tak akan mendongkrak ekspor sawit RI ke UE, mengingat masih ada hambatan perdagangan terkait kebijakan energi terbarukan dan antideforestasi UE. Pada 7 Juni 2025, Menko Bidang Perekomomian, Airlangga Hartarto menyatakan, perundingan IEU CEPA telah memasuki babak akhir dan tanpa ganjalan yang tersisa. Pada 10 Juni 2025, Mendag, Budi Santoso menyebutkan, IEU CEPA ditargetkan kelar 2025. Keduanya menyatakan IEU CEPA akan menurunkan hambatan tarif dan nontarif sejumlah produk ekspor Indonesia, seperti kelapa sawit, hasil pertanian, alas kaki, tekstil, dan elektronik, untuk dapat memasuki pasar UE dengan tarif nol %.

Dalam draf IEU CEPA, RI dan UE juga mencantumkan kesepakatan tentang perdagangan dan pembangunan minyak nabati berkelanjutan. Pasal 14 draf itu menyebutkan, RI dan UE berkomitmen bekerja sama di bidang minyak dan lemak nabati, bahkan mengakui peran penting minyak nabati, terutama dari kelapa sawit, dalam konteks pertanian, ekonomi, lingkungan, gizi, kesehatan, dan energi. Kedua negara juga sepakat menerima kriteria dan standar keberlanjutan minyak nabati yang ditetapkan secara independen oleh setiap negara. Anggota Dewan Nasional Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Mansuetus Darto, Kamis (12/6) menilai, kesepakatan antara RI dan UE terkait IEU CEPA masih belum final. Dalam perundingan babak akhir nanti, pembahasan mengenai minyak sawit diperkirakan bakal berlangsung alot. ”Minyak sawit bakal jadi titik kritis di perundingan akhir IEU CEPA karena menyangkut tiga isu fundamental, yaitu lingkungan hidup, terutama perihal deforestasi dan emisi karbon; keadilan sosial terkait masyarakat adat dan petani kecil; serta perdagangan global yang adil versus diskriminatif,” kataDarto. (Yoga)


Indonesia Segera Miliki FLNG Terbesar

13 Jun 2025
Indonesia akan memiliki kilang gas alam cair terapung atau floating Liquefied Natural Gas (FLNG) di Papua Barat. Fasilitas dengan kapasitas 2,3 juta ton per tahun ini bakal tercatat sebagai FLNG terbesar di Indonesia. Pembangunan proyek ini berlangsung di galangan kapal Shanghai, China dengan progres mencapai 55,3%. Target keberangkatan (sail away) dari galangan dijadwalkan pada kuartal kedua tahun 2026. Pasokan gas untuk fasilitas FLNG akan berasal dari struktur Asap, Merah, dan Kido yang berada dalam wilayah konsesi Blok Kasuri di Papua Barat. Adapun Blok Kasuri dioperasikan oleh Genting Oil Kasuri Pte Ltd. Asap, Merah, dan Kido ditargetkan mampu memproduksi mencapai 300 Million Standard Cubic Feet per Day (MMMSCFD) mulai tahun 2027. Proyek ini diharapkan menjadi salah satu penopang pasokan gas nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadahlia mengatakan progres pengembangan larangan gas sudah menunjukkan kemajuan signifikan. "Di Genting Oil Kasuri, dari 5 sumur yang sudah dibuka, 4 diantaranya sudah 100% selesai, sisanya lagi on going 30%," kata Bahlil. Bahlil menuturkan Kabupaten Teluk Bintuni dikenal  sebagai lumbung energi nasional karena memasok lebih dari sepertiga kebutuhan gas Indonesia. Kabupaten ini akan menerima penambahan dana bagi hasil (DBH) migas mulai. (Yetede)

Sektor Tambang Hadapi Banyak Tantangan Tahun Ini

13 Jun 2025

Meski diterpa tantangan global seperti pembatasan impor oleh China dan penolakan tambang di kawasan konservasi, emiten-emiten sektor pertambangan di Indonesia tetap menunjukkan optimisme dan strategi adaptif untuk mempertahankan kinerja bisnisnya.

Tokoh-tokoh penting dalam artikel ini adalah para direktur utama dari emiten pertambangan besar:

  • Arsal Ismail, Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), menyatakan bahwa perusahaan tetap mempertahankan target produksi dan penjualan batu bara sebesar 50 juta metrik ton pada 2025. Untuk mengantisipasi penurunan permintaan dari China, PTBA memperluas pasar ke negara-negara seperti Vietnam, Thailand, Korea, dan Jepang.

  • Arianto Sabtonugroho Rudjito, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), optimistis terhadap penjualan emas tahun ini dan telah menyiapkan anggaran investasi sebesar Rp7 triliun untuk proyek pengembangan, termasuk peningkatan produksi nikel.

  • Restu Widiyantoro, Direktur Utama PT Timah Tbk. (TINS), menekankan perbaikan tata kelola, pengamanan wilayah tambang, serta peningkatan cadangan sebagai strategi menjaga pertumbuhan produksi hingga 12% tahun ini.

  • Herwin Hidayat, Direktur PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), menyebut rampungnya pabrik heap leach milik anak usaha PT Citra Palu Minerals pada kuartal III/2025 sebagai "game changer". Target produksi emas BRMS tahun ini dipatok 70.000–75.000 troy ounce, naik signifikan dari tahun lalu.

Keseluruhan strategi perusahaan-perusahaan ini menunjukkan bahwa meskipun tekanan jangka pendek tak terelakkan, visi jangka panjang tetap dijaga melalui ekspansi pasar, pembangunan fasilitas pengolahan, serta investasi besar-besaran. Hal ini mencerminkan bahwa sektor pertambangan nasional masih menjadi pilar penting dalam perekonomian Indonesia, selama dijalankan dengan tata kelola yang baik dan adaptif terhadap tantangan global.