Lingkungan Hidup
( 5781 )Reformasi Mendorong Industri Migas Kembali Panas Membara
BNPB Peringatkan Sejumlah Daerah Berisiko Banjir dan Karthula di Wilayah Indonesia
RI Bersiap Ekspor Mobil Listrik
Investasi Emas Diuji Momentum
Kilau Emas di Palembang
Toko emas hingga pegadaian di Kota Palembang ramai disambangi warga yang berburu emas. Mulai perhiasan emas hingga emas batangan larismanis. Di tengah ketidakpastian ekonomi nasional, perdagangan emas diserbu warga Kota Palembang, Sumsel, demi meraup margin keuntungan jual beli. Pekan-pekan ini, toko emas hingga pegadaian ramai disambangi warga yang berburu emas. Harga emas yang sempat di harga puncak berangsur turun. Momen penurunan harga itulah yang dimanfaatkan warga untuk berinvestasi emas. Mereka berharap harga emas bakal naik kembali sehingga bisa menarik keuntungan. Feri Rusdiansyah (25) langsung memilih tiga jenis perhiasan emas, terdiri dari 2 cincin dan 1 gelang dengan bobot mencapai 3,5 suku atau 23,45 gr (1 suku = 6,7 gr). Harga sesuku emas Rp 10,1 juta. Uang tunai Rp 35,35 juta langsung dikeluarkan untuk melunasi transaksi singkat selama 10 menit tersebut.
”Dapat diskon dari Rp 10,2 juta per suku menjadi Rp 10,1 juta per suku,” ujar Feri yang tampak berseri-seri seusai menyelesaikan transaksi pembelian emas di Toko Emas Lemabang Jaya, kawasan Ilir Timur Dua, Palembang, Rabu (21/5) pagi. Feri mengatakan, perhiasanitu tidak untuk dipakai, tetapi disimpan sebagai investasi. ”Kalau uang yang disimpan, lama-lama nilainya akan turun. Kalau emas, semakin lama, nilainya naik terus,” ujarnya. Fera Susanti (46), warga Sukabangun, Palembang, pegawai di Kes-dam II/Sriwijaya, memilih beli emas logam mulia di Toko Emas Galeri 24 Palembang, Selasa (20/5) sore. Meski hanya 1 gr, ia yakin nilai logam mulia lebih stabil dibanding perhiasan emas. Emas perhiasan biasanya nilai jualnya menyusut karena ada potongan biaya jasa pembuatan Rp 100.000 per gr, yang tidak berlaku pada emas logam mulia.
Kebiasaan berinvestasi emas dilakukan Fera untuk menyiapkan kebutuhan sekolah anaknya. Ia berusaha sebisa mungkin menyisihkan uang yang tidak digunakan untuk kebutuhan pokok guna membeli emas, terutama saat harga emas turun. Fera percaya, emas adalah aset investasi yang paling ideal. Untuk jangka panjang, harga emas diyakini terus meningkat. Selain itu, emas relatif mudah dicairkan atau dijual kembali. Berbeda dengan aset lain seperti tanah atau rumah. Tumbuhnya minat terhadap investasi emas tak lagi didominasi masyarakat usia matang, tapi sudah timbul di kalangan generasi muda atau generasi Z. Warga kawasan Sako, Palembang, Salsabillah (20), mahasiswa Poltekes Kemenkes Palembang, menyisihkan uang jajannya untuk membeli emas perhiasan. Kini, dia sudah mengumpulkan emas perhiasan 5 gr. Kesadaran berinvestasi emas didapat Salsabillah dari anjuran orangtua dan pengaruh teman-temannya. (Yoga)
Risiko Baru timbul akibat Impor Energi dari AS
Negosiasi tarif dengan AS yang diupayakan Indonesia berpotensi menimbulkan risiko baru bagi operasionalisasi BUMN energi. Pemerintah diharapkan turut melakukan kajian dan membangun kerjasama strategis atas hasil negosiasi tersebut. Hal ini terungkap dalam rapat dengar pendapat PT Pertamina Persero dan PT PLN Persero bersama DPR Komisi VI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (22/5). Dirut PT Perta-mina (Persero) Simon Aloysius Mantiri, menyampaikan, tarif resiprokal yang diterapkan AS menjadi tantangan bagi perusahaan, selain penguatan nilai tukar USD dan fluktuasi harga komoditas energi global., langkah Pemerintah Indonesia merespons kebijakan tarif AS melalui negosiasi impor di sektor energi merupakan strategi yang mereka dukung. Sebelumnya, pemerintah mengumumkan, negosiasi Indonesia dengan AS dilakukan untuk menekan defisit neraca perdagangan AS sehingga tariff ekspor Indonesia yang ditetapkan 32 % dapat di-turunkan, terkait dengan peningkatan impor energi.
Indonesia mengusulkan peningkatan impor minyak mentah dan gas minyak cair (LPG/el-piji) senilai 10 miliar USD. Sejauh ini Pertamina mengimpor minyak mentah dari AS dengan porsi 4 % dari total volume impor dan elpiji sebanyak 57 % dari total volume impor. Impor migas dari AS itu bernilai 3 miliar USD per tahun. ”Pertamina diminta mengkaji portofolio impor migas saat ini dengan skenario peningkatan porsi impor dari AS dengan pengalihan dari negara lain. Pengalihan bersifat shifting sumber pasokan, bukan penambahan volume impor. Kami berkomitmen menjaga efisiensi volume impor dan memastikan ketahanan nasional jadi prioritas utama,” tuturnya dalam rapat secara hibrida.
Setelah berkoordinasi dengan tim perunding kebijakan tarif di bawah Kemenko Perekonomian, Pertamina mulai menjajaki ketersediaan suplai migas dari AS yang sesuai dari sisi kualitas, volume, hingga aspek komersial yang kompetitif. Simon mengakui, mereka menemukan tantangan teknis dan risiko yang harus dipertimbangkan matang, antara lain, aspek logistik dan distribusi, kesiapan infrastruktur,hingga aspek keekonomian yang dapat mengganggu ketahanan energi nasional. ”Risiko utama datang dari jadwal dan waktu pengiriman yang lebih panjang, 40hari, dibanding pasokan dari Arab dan negara Asia lainnya. Kalau ada badai dan kabut, itu bisa mengganggu ketahanan stok nasional. Karena itu, Pertamina harus melakukan kajian komprehensif untuk memastikan skenario impor dari AS bisa efektif,” tuturnya. (Yoga)
Ambisi Industri Nikel
Indonesia saat ini menghadapi dua pilihan kritis, antara
mengejar ambisi industrialisasi-khususnya sebagai produsen dan pusat manufaktur
baterai kendaraan listrik (lectric vehicle atau EV) di pasar dunia. Sebagai
produsen nikel terbesar dengan cadangan mencapai 55 juta metrik ton, posisi
Indonesia memang sangat strategis dalam rantai pasok baterai EV global.
Pemerintah menargetkan untuk menjadi salah satu dari tiga produsen baterai EV
terbesar di dunia pada tahun 2027, dengan kapasitas produksi mencapai 2030 guna
memenuhi hingga 9% dari permintaan global. Langkah strategis seperti larangan
ekspor bijih nikel sejak 2020 bertujuan untuk mendorong hilirisasi dan menarik
investasi asing guna mewujudkan ambisi ini. Oleh karena itu, pemerintah aktif
mengundang masuknya perusahaan-perusahaan besar seperti Hyundai-LG, CATL,
Faxconn, Ford, BASF, dan LG Solution. Kawasan industri seperti Indonesia Morowali
Industrial Park (IMIP) di Sulawesi Tenggara juga berkembang pesat sebagai pusat
pengolahan nikel. (Yetede)
Emiten Emas Terus Menggeliat
Emiten emas terus bergeliat memperkuat bisnis aset lindungi
nilai (safe haven) tersebut dengan menggenjot produksi dan melipatgandakan nilai tambah dari segmen emas
perhiasan. Daya tarik aset defensif itu dinilai masih akan cukup tinggi apalagi
di tengah ketidakpastian kebijakan fiskal AS dan memanasnya eskalasi geopolitik
Israel dan Iran seperti sekarang. Di pasar spot, harga emas terakhir kali dilihat
mengalami depresiasi sebesar US$ 18,60 (0,56%) ke level US$ 3.296 per troy
ounce. Pelemahan tersebut menunjukkan tanda-tanda kelelahan setelah emas reli
berkali-kali dan sekarang mulai mengarah pada tren konsolidasi. Namun begitu,
potensi emas untuk bullish tetap terbuka
lebar paling tidak dalam jangka pendek bilaman misalnya pelemahan dolar
AS berlanjut dan tensi global tak kunjung mereda. Sementara dalam jangka
panjang, paradigma emas sebagai pilihan intrusmen investasi yang dipandang
stabil belum tergantikan. Trading economics memproyeksikan, harga emas akan
mampu kembali ke level US$ 3.390 per troy ounce dalam 12 bulan ke depan. Atau
dengan kata lain, mendekati harga historis emas yang sempat menyentuh level US$
3.340 per troy ounce pada April lalu. (Yetede)
Pertamina Waspadai Fluktuasi Global
Harga Emas Cemerlang, Komoditas Bersinar Lagi
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









